Izora

Izora
episode 10. Babak Baru



"Untuk apa kamu mikirin mami? Bukan nya sekarang ini harus nya kamu sudah bahagia karena pada akhir nya keinginan mu terpenuhi?" jawab Marni sangat ketus.


"Mami! Kok mami bicara seperti itu? Bukan nya tadi mami sendiri yang bilang ke semua orang kalau mami mengizinkan aku dan Faaz menikah? Aku nggak maksa mami sama sekali! Aku tau kemarin itu aku salah, tapi aku uda minta maafkan mi? Dan mami nggak perlu izinin pernikahan ini kalau memang mami nggak mau izinin! Aku nggak apa-apa mam!" kata Zora.


"Lalu? Apakah seorang ibu memiliki pilihan lain ketika anak perempuan nya ingin menghancurkan kehormatan nya sendiri?" Pungkas Marni.


Tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini, Marni memilih langsung meninggalkan Zora di dapur. Zora hanya terdiam melihat sikap ibu nya yang bisa berubah-ubah.


Di tempat yang berbeda Zoya sedang barada di sebuah cafe bersama seorang pria yang terlihat berpenampilan rapi dan sangat berwibawa. Laki-laki berparas tampan itu terus menatapi Zoya yang sedang berbicara dengan tatapan mata yang begitu hangat dan dalam.


"Woy Ki! Lo dengerin gue cerita nggak sih?!" Kata Zoya sambil menepuk meja mengejutkan laki-laki yang tengah asik memandangi diri nya sejak tadi.


"Iya iya! Aku dengerin kamu kok, dari tadi aku dengerin kamu Zoy!" Jawab nya sambil terus tersenyum manis kepada Zoya, namun Zoya tak memandang senyuman nya sama sekali.


Zaki adalah satu-satu nya sahabat laki-laki Zoya sejak mereka masih duduk di bangku SMP.  Bagi Zoya, Zaki adalah sosok sahabat sejati nya. Namun bagi Zaki, Zoya adalah cinta sejati nya. Bertahun-tahun lama nya Zaki memendam rasa nya terhadap Zoya.


Zaki terus menerus  menyimpan perasaan nya itu rapat-rapat karena Zaki takut akan kehilangan Zoya jika ternyata nanti Zoya tidak bisa menerima perasaan nya. Jadi bagi Zaki biarlah ia menyimpan rasa ini asalkan ia dapat selalu dekat dengan Zoya.


"Terus gue harus gimana sekarang menurut lo?" Zoya menyambung kembali pertanyaan nya.


"Ya kalau aku sih terserah gimana nya kamu, kalau kamu mau mencari tahu tentang orang tua kandung mu, aku pasti siap membantu kamu, tapi kalau kamu nggak mau mencari tahu, ya nggak ada masalah bagi aku!" Jawab Zaki yang selalu menjadi satau-satu nya suport sistem dan pendengar terbaik yang dimiliki Zoya.


"Oke! Kalau gitu gue akan cari tau siapa orang tua kandung gue! Tapi jangan sampai Zora tahu tentang ini" kata Zoya.


"Kenapa? Bukan nya Zora juga berhak tahu kan tetang siapa orang tua kandung kalian?" Tanya Zaki sedikit penasaran.


"Iya emang bener apa yang lo bilang! Tapi Zora itu anak nya baperan dan cengeng banget, gue nggak mau hal ini malah akan nambah beban pikiran nya dia, karena dia mikirin tentang pernikahan nya yang belum di restui sama mami gue aja udah kasian banget gue lihat nya!" Tutur Zoya menjelaskan kepada Zaki.


"Tuh kan emang nggak salah aku naksir kamu Zoy, hati kamu baik banget! Perduli banget sama orang yang kamu sayang! Coba aja ya kamu sayang sama aku seperti itu, pasti aku juga kamu perhatiin!" Zaki berbicara di dalam hati nya sambil tersenyum-senyum menatapi Zoya.


"Eh Ki! Lo kenapa senyum-senyum sendiri?! Kesambet lo ya??" Tanya Zoya sambil memukul pundak Zaki.


"Enggak! Aku cuma lucu aja kalo lihat kamu lagi mikir gini, makin cantik!" Kata Zaki memuji Zoya.


"Yeee emang gue mau gimana aja tetap cantik!" Kata Zoya yang lagi-lagi tak peka dan mengabaikan pujian dari Zaki begitu saja.


"Eh udah siang ni, gue balik duluan ya Ki?!"


"Hah? Yauda bareng gue aja biar gue anterin, lagian gue udah lama juga nggak ketemu mami lo dan si Zora"


Zaki yang seakan tak ingin cepat berpisah dengan gadis dambaan hati nya itu langsung menawarkan diri untuk mengantarkan Zoya pulang.


Tidak menolak tawaran dari Zaki, Zoyapun akhir nya pulang ke rumah diantarkan oleh Zaki. Ketika mereka tiba di rumah terlihat Zora sedang duduk sendirian di teras rumah.


"Lu ngapain di sini? Keluarga Faaz udah balik? Mami mana?" Tanya Zoya kepada Zora.


"Keluarga Faaz uda pada balik dari tadi banget lah! Mami di kamar tuh!" Jawab Zora dengan tatapan mata yang kosong.


"Oh oke siap Zoya!" Zaki langsung menjawab dengan semringah.


Zoya langsung masuk ke dalam meninggalkan Zaki di teras rumah bersama Zora. Sedangkan Zora tersenyum melihat keriangan Zaki yang hanya karena mendapat tawaran minum dari Zoya.


"Eh Ki, sampai sekarang lo masih belum bilang ke Zoya tentang perasaan lo?" Tanya Zora kepada Zaki.


Sebenar nya Zora mengetahui tentang perasaan Zaki terhadap Zoya. Hal itu pun diketahui nya secara tidak sengaja. Saat mereka merayakan acara kelulusan SMA bersama-sama dulu, entah bagaimana Zaki salah mengenali Zora.


Mengira bahwa Zora adalah Zoya, Zaki langsung mengumpulkan segenap keberanian yang ia miliki dan langsung menyatakan semua perasaan nya kepada Zora.


Mendengar pernyataan cinta dari Zaki yang sedikit kolot, membuat Zora langsung tertawa terbahak-bahak saat itu. Dan Faaz pun langsung sadar jika ia sudah salah mengenali orang dan ia juga sudah menyatakan perasaan nya terhadap orang yang salah.


Setelah mengetahui hal itu, Zora sempat ingin memberitahukan semua nya kepada Zoya, namun Zaki melarang nya. Zaki merasa jika Zoya tidak akan menerima perasaan nya dan itu hanya akan menimbulkan jarak antara dirinnya dan juga Zoya. Dan Zaki tidak ingin kehilangan Zoya.


Sejak saat itu Zaki terbiasa mencintai Zoya dalam diam. Zaki terbiasa menyimpan segenap perasaan nya dibalik topeng yang diberi nya nama sahabat.


"Eh Ra! Mami kenapa sih? Kok gue mau lihat dia di kamat tapi kamar nya malah dikunci?! Tumben banget, nggak pernah-pernah deh!" Kata Zoya yang sudah kembali lagi dengan segelas air di tangan nya.


Mendengar pertanyaan Zoya, Zora menghelan nafas dalam-dalam. Zora langsung menceritakan yang terjadi saat keluarga Faaz tadi ada di rumah mereka.


"Setelah itu sikap mami malah berubah dingin gitu sama gue, nggak tahu deh kenapa?" Kata Zora.


"Emang nya lu atau Faaz dan ibu nya ada maksa mami tadi?" Tanya Zoya.


"Enggak, malah gue sama Faaz kaget banget waktu mami tiba-tiba ngebahas soal perinikahan kami dan dia langsung ngizinin kita nikah!" Kata Zora lagi.


"Sudahlah! Mungkin mami sedang banyak pikiran aja tuh! Kasih waktu mami sendiri dulu untuk dia bisa nenangin hati dan pikiran nya!" Kata Zaki tiba-tiba ikut nimbrung dalam percakapan Zora dam Zoya.


"Iya juga sih Ra, Zaki ada bener nya! Mungkin ini bukan salah siapa-siapa, tapi karena keadaan yang nggak terduga yang terjadi dengan tiba-tiba yang buat mami masih kaget dan butuh waktu untuk nenangin diri" sambung Zoya yang setuju dengan pemikiran Zaki.


"Iyah sih kalian bener! Mami udah nyimpan semua ini sendirian selama bertahun-tahun, nggak tahu gimana beban yang ada diperasaan dan pikiran mami selama inikan?" sambung Zora lagi sedikit melow.


"Eh udah-udah nggak usah mewek-mewek dramatis deh! Sebel banget gue! Apa-apa ditangisin ih!" Kata Zoya yang langsung menepis perasaan melow yang mulai melanda Zora.


"Iya-iya! Yauda deh kalo gitu gue masuk aja, mau istirahat! Eh tapi ngomong-ngomong, apa kalian nggak ada rencana untuk menikah aja ni berdua? Atau mau sahabatan sampe kriputan?" Kata Zora tiba-tiba kepada Zoya dan Zaki.


"Nikah sama siapa? Gue nikah sama Zaki? Ngadi-ngadi aja lu! Yaa kali Zaki mau sama cewek kayak gue?!" Kata Zoya menertawakan perkataan Zora.


"Kalau ternyata gue nya mau nikah sama kamu gimana Zoy? Kamu mau nikah sama aku?!" Kata Zaki tiba-tiba dengan wajah yang serius.


Perkataan Zaki membuat suasana tiba-tiba menjadi hening. Zoya dan Zora saling menatap satu sama lain.


"Nggak lucu becandaan lu Ki!" Zoya kembali menepis perasaan Zaki terhadap nya.