
"Jadi sebenarnya target balas dendam mami siapa? kalau memang mami ingin membalas dendam kepada kamu tapi kenapa dia harus membohongi aku dan Zoya sedalam ini?" kata Zora sambil tersedu-sedu sedih.
Nurma langsung meraih tubuh mungil Zora dan memeluk erat tubuh putri nya mungil itu. Rambut ikal Zora yang panjang dan terurai di belainya dengan lembut. Zora hanya diam menikmati hangat nya pelukan ibu kandungnya. Meski hatinya hancur mengetahui kebohongan yang dilakukan Marni.
Namun disisi lain Zora juga merasakan sedikit kelegaan bahwa sebebarnya ia dan Zoya bukan sengaja di buang begitu saja. Setidaknya saat ini Zora telah memahami alasan ibu kandungnya meninggalkannya. Namun begitu ibu kandungnya ternyata selama ini tidak pernah mengabaikan dirinya dan juga Zoya begitu saja. Meski dalam diam Nurma selalu memperhatikan dirinya dan juga Zora.
Dan tanpa mereka sadari Nurma pun telah melaksanakan tugas nya sebagai seorang ibu untuk menyekolahkan mereka agar mereka mendapat pendidikan yang layak sebagai bekal mereka dimasa depan seperti saat ini. Dengan pendidikan yang mereka peroleh Zora dan Zoya sudah memiliki perkerjaan nya sendiri untuk membiayai kehidupan mereka masing-masing.
Zora akhirnya memberanikan diri untuk menggerakan kedua tangannya dan membalas pelukan Nurma terhadap dirinya. Zora memeluk Nurma sekuat-kuatnya "Kenapa takdir harus berbuat sesakit ini kepada kita?!" kata Zora tersedu menangis dalam pelulam Nurma.
Kini keadaan mulai tenang. Zora membawa Nurma ke meja makan dan menyuguhkan Nurma segelas teh hangat dan beberapa potong kue kering yang memang selalu tersedia di dalam kulkas karena Zoya sangat suka memakan kue kering.
Nurma dengan hati yang sudah terasa sedikit ringan mengangkat gelas berisi teh hangat buatan anak nya dan menyeruputnya perlahan. Pertama kalinya Nurma merasakan nikmat nya di layani oleh seorang anak.
Meski hanya segelas teh hangat, tapi bagi Nurma ini adalah teh ternikmat karena langsung dibuatkan oleh anak tersayang setelah 25 tahun Nurma hanya bisa melihat mereka dari kejauhan dan membayangkan tumbuh kembang mereka melalui cerita-cerita alm.Marti tenyang kedua putri kembar nya ini melalui telfon saja.
Zora tak henti memandangi wajah Nurma yang terlihat ayu dan manis karena air wajah berdarah jawa sangat terlihat jelas di wajah Nurma. Entah perasaan apa ini, namun hanya dengan memandangi wajah Nurma saja Zora seperti mendapatkan perasaan tenang yang begitu mendalam.
"Hmmm...." Nurma meletakan gelas nya sambil mengehelan nafas.
"Kamu kenapa menatapi saya seperti itu sejak tadi?" tanya Nurma sambil menyentuh tangan Zora yang ada di atas meja.
"Kenapa saya? Kenapa nggak bilang bunda lagi? Kenapa kamu? Kenapa nggak langsung panggil aku dengan nama aku aka Zora?" celetuk Zora tiba-tiba.
Terasa semakin kuat genggaman tangan Nurma terhadap tangan Zora. Air mata dari rasa haru menetes dari mata Nurma. "Terimakasih Zora. Terimalasih karena kamu sudah bisa mengampuni segala salah silap bunda di masa lalu. Dan terimakasih kamu sudah bersedia menerima kehadiran bunda saat ini. Bunda bahkan nggak pernah membayangkan jika hari seperti ini akan tiba diantara kita. Bunda fikir selama ini bunda hanya akan bisa menjadi bayang-bayang kalian secara diam-diam dan hanya bisa memandangi kalian dari kejauhan saja hingga akhir hayat bunda".
Nurma berbicara panjang lebar untuk mengekspresikan perasaan bahagia nya di hadapan putri tersayangnya. Zora kembali memeluk Nurma erat-erat.
Seakan alampun ikut merasakan perasaan haru yang tercipta antara anak dan ibu ini. Langit yang tadinya bertabur bintang tiba-tiba saja meneteskam bulir-bulir germis kecil. Aroma tanah yang basah mulai tersebar memberikan hawa tenang dan damai dimalam itu.
Suara kodok bersautan menikmati rintikan hujan mulai terdengar. "Terus bunda mau kemana lagi?" tanya Zora kepada Nurma mengingat jika ia melihat ada koper-koper yang dibawa oleh Nurma tadi.
"Nggak ada, bunda nggak akan kemana-mana?!"
"Terus koper apa yang bunda bawa tadi?" tanya Zora lagi penasaran.
"Oh itu koper bunda. Yang satu berisi baju-baju bunda untuk bunda pakai. Dan yang satu lagi berisi baju-baju pernikahan untuk kamu dan Zoya pakai dihari pernikahan kalian nanti. Itupun jika kalian belum memiliki pilihan sendiri. Tapi jika kalian sudah ada pilihan sendiri, nggak masalah. Pakai saja punya kalian dan yang itu bisa kita simpan saja atau bunda akan jual di butik bunda" jawab Nurma dengan santai.
Zora terharu mendengar bahwa Nurma sudah memikirkan sejauh ini untuk hari pernikahan dirinya dan Zoya. Bahkan diirinya saja belum memikirkan tentang baju seperti apa yang akan ia gunakan nanti dihari pernikahannya.
Disela-sela suasana hangat antara Zora dan Nurma. Tiba-tiba pandangan mata Zora mengarah kepada jam dinding berbentuk bulat yang berukuran besar yang ada di dinding ruang makannya.
"Bund sudah hampir jam sebelas malam, mungkin sebentar lagi Zoya akan pulang kerumag" tutur Zora dengan lembut.
"Bund maaf. Bukan nya Zora nggak mau bunda ketemu dengan Zoya. Tapi Zora tau betul gimana reaksi Zoya jika dia melihat bunda nanti"
"Nggak masalah sayang. Bunda akan menghadapi nya. Bunda akan berusaha untuk membuat Zoya mengerti segala nya seperti kamu juga sayang" jawab Nurma dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Nggak bund. Nggak bisa. Bunda nggak akan bisa berbicara apapun ketika menghadapi emosi Zoya. Nggak akan ada penjelasan yang masuk ke otak nya dia kalau dia lagi marah bund" tutur Zora menjelaskan kepada Nurma.
"Lalu bunda harus gimana sayang? Apa bunda pergi sekarang?" kata Nurma. Zora terdiam melihat kearah jam yang sudah malam. Belum lagi rintik hujan yang turu terdengar mulai deras membuat Zora merasa tidak mungkin membiarkan Nurma pergi dari rumahnya.
"Gini aja bund. Bunda bawa koper-koper bunda masuk aja ke kamar mami dan istirahat disana jangan keluar lagi, setidak nya kita lewati malam ini dan kita hadapi Zoya bareng-bareng" kata Zora memberikan saran untuk keadaan ini.
Tanpa membantah atau mengulur waktu Nurma langsung berjalan cepat mengambil koper-kopernya dan langsung masuk ke dalam kamar alm.Marni untuk beristirahat di sana.
"Maaf ya bund. Bunda di sini dulu malam ini ya" kata Zora sambil memeluk Nurma.
Zoya menutup pintu kamar nya dan menguncinya dari luar. Setelah itu Zora langsung membereskan meja makan dan mencuci piring dan gelas-gelas kotor. Begitu Zora selesai mencuci pikringnya terdengar suara mobil sampai di depan rumah.
"Lah uda nyampek aja tuh orang!" Zora menggumam sendiri.
Tidak ingin bertemu dengan Zoya malam ini, Zora langsung berlari menuju kamarny dan mengunci pintu kamarnya seakan ia sudah tidur.
Setelah selesai berbincang dengan Zaki, Zoya langsung masuk ke dalam rumah. Di tangannya Zoya membawa seporsi sate madura favorit Zora.
"Raaaa....." teriak Zoya memanggil Zora dari meja makan.
Suara teriakam Zoya di dengar oleh Nurma dan Zora dari kamar mereka masing-masing. Namun baik Zora ataupun Nurma sama-sama tidak ada yang berani bersuara menjawab panggilan Zoya.
Karena tidak mendapat jawaban dari Zora akhirnya Zoya memutuskan untuk melihatnya ke kamar. Namun saat Zoya hendak membuka pintunya ternyata pintu nya terkunci dari dalam.
"Lah udah tidur ni orang?! Cepet banget?!" gumam Zoya di depan pintu kamarnya.
"Yauda deh sate madura nya gue simpan di kulkas aja. Kali aja besok bisa dipanasin" celetuk Zoya lagi seorang diri di depan pintu kamar Zora yang terkunci rapat.
Setelah meletakan sate di dalam kulkas. Zoya langsung berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. Zora menempelkan telinga nya kepintu untuk memastikan apakan masi ada suara Zoya atau tidak.
karena sudah tidak terngar lagi suara Zoya, Zora pun langsung membuka pintu kamar perlahan dan kleuar. Sebenarnya mendengar kata sate madura yang membuat Zora tidak bisa tidur dengan tenang sebelum memakan sate itu.
Zora mindik-mindik berjalan menuju kulkas. Zora langsung membuka kulkas dan mengeluarkan sate di dalam nya. Namun tiba-tiba saat Zora menutup kembali pintu kulkasnya "Baaaaa......" kata Zoya muncul tiba-tiba mengagetkan Zora.
"Aaaaaaaa......" Zora terkejut hingga menjatuhkan sate yang dipegangnya kelantai.
"Zora teriak?! Ada apa ya?!" kata Nurma yang merasa khawatir mendengar teriakan Zora. Namun mengingat pesan dari Zora tadi, Nurma menahan diri dan tetap tenang tak bersuara di dalam kamarnya.