
Perkataan Zoya membuat semua orang menatap kearah nya karena terkejut. Tidak ada yang menyangka jika Zoya akan sekeras itu menghadapi kenyataan ini.
Zoya langsung meninggalkan semua orang dan masuk ke dalam kamar nya. Faaz pun meminta Marni calon mertua nya untuk masuk ke dalam kamar nya dan beristirahat.
Begitu pula dengan Zora, Faaz meminta Zora untuk melupakan sejenak yang terjadi malam ini dan beristirahat. Besok ketika keadaan semua orang sudah membaik baru coba kita bahas masalah ini lagi untuk mencari titik terang nya.
Faaz meninggalkan rumah Zora dan pulang ke rumah nya. Zora memperhatikan dari jendela kamar nya perlahan mobil Faaz meninggalkan perkarangan rumah nya dan menghilang dalam kegelapan malam.
Kini di rumah Zora suasana terasa hening, suara rintik hujan dan alunan merdu suara jangkrik terdengar sayup-sayup dari kamar Zora. Mencoba melupakan sejenak yang terjadi malam itu, Zora merebahkan tubuh nya ke atas ranjang dan ia mematikan lampu kamar nya untuk tidur.
Sedangkan Marni sudah tertidur di kasur nya, mungkin karena ia terlalu lelah setelah menguras tenaga dan emosi nya tadi, hingga tubuh yang lelah membawa nya mudah terlelap.
Di kamar Zoya berbanding terbalik dengan yang lain, Zoya terlihat masih duduk dengan wajah kesal penuh amarah di depan jendela kamar nya. Tatapan mata nya begitu di penuhi amarah. Zoya masih belum bisa tidur, suasana hati nya masih dipenuhi amarah yang berapi-api.
******
Faaz kini sudah tiba kembali di rumah nya, namun hati dan pikiran nya masih ada di rumah Zora. Faaz terlalu mengkhawatirkan keadaan Zora karena Faaz tahu betul, dengan kepribadian Zora yang begitu penyayang, pasti mendengar apa yang dikatakan Marni mami nya tadi membuat Zora begitu terluka.
Setelah beberapa saat duduk di dalam mobil nya, Faaz memutuskan untuk masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Faaz membuka pintu rumah nya, dan ia langsung terkejut begitu melihat sang ibu yang masih terjaga karena masih menunggu diri nya.
Faaz bertanya kepada sang ibu, mengapa belum tidur dijam yang sudah mulai larut malam begini. Dan seperti biasa, ibu nya menjawab bahwa ia masih terjaga karna ia masih menunggu Faaz pulang ke rumah.
Faaz langsung tersenyum dan mencium hangat kening sang ibu sebagai ungkapan rasa terimakasih nya untuk kasih sayang dan perhatian yang berlimpah yang diberikan sang ibu.
Mengingat waktu sudah larut malam, Faaz meminta ibu nya untuk segera masuk ke kamar agar dapat istirahat. Namun sang ibu menolak, ia ingin tahu terlebih dahulu mengenai hasil yang di dapat Faaz setelah pergi ke rumah Zora.
Awal nya Faaz enggan bercerita karena sudah larut malam, Faaz mengatakan bahwa ia akan menceritakan segala nya esok hari, namun sang ibu menolak dan meminta untuk Faaz menceritakan segala nya malam juga.
Tak ingin berdebat karena memang Faaz tak pernah melawan apa lagi menolak perkataan sang ibu, akhir nya Faaz pun menceritakan segala hal yang terkadi di rumah Zora tadi secara detail tanpa melebih-lebihkan atau mengurangi satu kejadian apapun.
Faaz bercerita dengan nada bicara yang terdengar lirih sesekali karena ia menahan kesedihan. Ibu Faaz sangat terkejut ketika mendengar cerita Faaz tentang Zora.
Air mata sang ibu seketika jatuh tak terbendung. Sebagai sesama ibu, Ibunda Faaz memahami betul betapa berat beban dan rasa sedih yang harus di pikul sendiri oleh Marni mengingat kini dirinya hanyalah orang tua tunggal untuk kedua putri kembar nya setelah suami nya meninggal dua tahun yang lalu.
Dan sebagai sesama perempuan, ibu Faaz merasskan sedih nya Zora ketika tahu bahwa ia adalah putri kesayang seseorang setalah diri nya di buang begitu saja oleh orang tua kandung nya. Entah mereka masih hidup atau sudah tiada, namun kebenaran ini begitu melukai hati Zora dan Zoya.
Dengan rasa iba yang kini memenuhi benak nya, ibu Faaz mengajak Faaz untuk mengunjungi Zora ke rumah nya besok pagi sebagai bentuk dukungan agar Zora tidak terpuruk oleh kenyataan pahit yang baru saja di dengar nya.
Faaz tersenyum bahagia, Faaz yakin jika diri nya datang bersama sang ibu besok menemui Zora, itu akan menjadi sebuah dukungan untuk Zora karena ia tahu bahwa meski sudah mengetahui segala nya tentang diri nya, Faaz dan juga calon mertua nya tak goyah sama sekali dan tetap akan menyayangi dan menerima nya.
Setelah selesai berbicara panjang lebar Faaz dan ibu nya pun langsung menuju kamar masing-masing untuk beristirahat dari segala rutinitas yang melelahkan mereka hari ini.
*****
Melalui kaca-kaca jendela kamar Zora, perlahan sinar hangat sang mentari menembus masuk ke dalam kamar Zora hingga menyentuh wajah Zora yang masih terlelap dalam tidur nya yang pulas.
Perlahan-lahan mata Zara mulai bergerak-gerak karena terusik oleh rasa hangat sinar matahari. Perlahan Zora mencoba membuka kedua mata sipit nya. Namun karena terlalu silau, Zora sedikit sulit untuk membuka kedua mata nya.
Zora bangun dan duduk di tepi kasur nya, mata nya menatap ke arah jendela kamar untuk menikmati pemandangan hiruk pikuk orang-orang di pagi hari. Ketika sedang asyik duduk bengong tiba-tiba lamunan Zora terhenti saat mendengar suara klakson mobil di depan rumah nya.
Zora langsung berdiri untuk melihat siapa yang datang ke rumah nya pagi-pagi begini. Ketika Zora melihat dari jendela kamar nya ternyata itu adalah mobil Faaz yang datang ke rumah nya bersama ibu dan kedua adik perempuan nya.
Terlihat kedatangan mereka di sambut hangat oleh Marni yang kebetulan sedang menyiram tanaman di depan rumah nya yang memang merupakan kerjaan rutin nya saat pagi dan sore hari.
Zora terkejut bukan main karena Faaz tak memberitahu nya sama sekali tentang kedatangan nya pagi ini. Sangking terkejut nya, Zora langsung memeriksa lagi hp nya untuk memastikan apakah ada panggilan ataupun pesan dari Faaz yang dilewatkan nya saat ia masih tertidur tadi.
Ternyata memang tidak ada panggilan ataupun pesan dari Faaz untuk memberi tahu nya. Mengabaikan semua itu Zora langsung berlari ke kemar mandi untuk mandi dan bersiap sebelum menemui sang pujaan hati dan calon mertua nya.
Marni menyambut hangat kedatang sang besan dengan sebuah pelukan yang begitu hangat dan erat. Marni seolah sudah mengetahui apa alasan yang membuat calon besan nya datang pagi-pagi ke rumah nya hingga ia begitu menikmati hangat nya pelukan kasih sayang dari calon besan nya.
Begitupula dengan ibu nya Faaz yang memeluk hangat Marni sambil terus menepuk lembut pundak Marni sebagai isyarat bahwa ia mengetahui segala nya dan ia berharap Marni akan kuat dan tegar.
Marni langsung membawa calon mantu dan calon besan nya masuk ke dalam rumah. Namun Lita dan Dita adik-adik nya Faaz meminta izin ingin duduk di ayunan besi yang ada di halaman rumah Zora untuk meniknati cahaya matahari pagi yang masih terasa hangat.
Ketika mereka memasuki pintu rumah, mereka langsung berpapasan dengan Zoya yang terlihat sudah rapi dan akan pergi ke suatu tempat.
"Zoy, kamu mau kemana pagi-pahi begini? Bukan nya ini hari libur?" Tanya Marni kepada Zoya.
"Iya mi, Zoya mau ke rumah teman ada janji mau bahas kerjaan mi" jawab Zoya.
"Faaz, tante maaf ya aku nggak bisa ikut ngobrol bareng kalian karena aku buru-buru banget, soal nya uda telat banget aku! Tapi Zora ada kok di dalam, paling-paling masi tidur dia kalau jam segini di hari libur" kata Zoya sesikit bercanda kepada Faaz dan ibu nya.
Namun ternyata semua perkataan Zoya di dengar langsung oleh Zora sendiri yang sudah berdiri di belakang Zoya sejak tadi.
"Ih enak aja! Aku uda bangun kok!" Sahut Zora dengan nada manja nya seperti biasa.
Zoya langsung bergegas pergi setalah sedikit berbasa-basi kepada tamu istimewa Zora. Ibu Faaz menyerahkan bungkusan berisikan bolu kepada Zora sebagai buah tangan kunjungan nya ke rumah calon mantu dan calon besan nya pagi itu.
Tujuan ibu Faaz datang ke rumah Zora adalah untuk berbicara langsung kepada Marni sebagai sesama wanita dan sebagai seorang ibu. Untuk mendapat waktu berbicara secara pribadi beruda, ibu Faaz meminta Zora untuk memotong kue yang ia bawa sekalian menyiapkan minuman.
Faaz yang memahami maksud sang ibu langsung menawarkan diri kepada Zora untuk membantu nya di dapur. Hingga akhir nya Ibu Faaz mendapatkan kesempatan hanya berdua saja dengan Marni untuk berbicara satu sama lain secara empat mata.