
Tangis Zoya pecah setelah membaca isi surat yang ditulis alm.Marni. Zoya tidak menyangka jika karena kehadiran diri nya dan Zora ke dunia telah menggoreskan luka yang begitu dalam untuk alm.Marni.
Perasaan Zoya hancur seketika saat menelan kenyataan bahwa ternyata diri nya dan Zora adalah anak hasil dari sebuah penghianatan busuk dari seorang laki-laki yang tak pandai menjaga hati dan seorang wanita yang gelap mata dan hati karena kesepian.
Tidak terasa waktu terus bergerak hingga haripun kini mulai gelap. Lantunan adzan magrib mulai terdengar berkumandang diiringi dengan suara rintikan hujan yang mulai turun seakan ingin membasahi tumpukan tanah yang kini menutupi jasad alm.Marni.
Zoya menyimpan kembali semua surat-surat beserta kotak itu. Zoya tidak ingin Zora tahu tentang isi kotak itu saat ini, karena saat ini Zora masih terguncang dengan kenyataan kepergian Marni yang begitu cepat.
Belum lagi Zora terus menyalahkan diri nya sendiri atas apa yang terjadi kepada Marni hingga Marni meninggal Zora menganggap semua adalah kesalahan nya.
Melihat hari yang sudah mulai gelap, Zoya langsung bergegas untuk mandi dan bersiap untuk tahlilan alm.Marni mami nya tercinta.
Selesai mandi dan bersiap Zoya langsung menuju kamar Zora untuk melihat apakah Zora sudah bersiap-siap atau masih tertidur karena kelelahan.
Ternyata pintu kamar Zora terkunci rapat. Zoya mengetuk-ngetuk pintu kamar dengan keras untuk membangunkan Zora namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.
Zoya mulai panik saat ini, bayang-banyang akan apa yang terjadi pada alm.Marni langsung menghantui nya saat dan membuat Zoya gemetar ketakutan.
Ketika Zoya sibuk menggedor-gedor pintun kamar Zora, ternyata Faaz dan Zaki sudah sampai di rumah nya. Faaz dan Zaki yang mendengar suara Zoya yang sedang berteriak-teriak dari dalam rumah akhirnya langsung berlari masuk ke dalam rumah untuk melihat apa yang telah terjadi di dalam yang membuat Zoya berteriak-teriak.
"Ra...buka pintu nya Ra! Lu jangan buat gue takut Ra, please! Bukak atau jawab gue katakan sesuatu Ra!" Teriak Zoya sambil terus menggedor pintu kamar Zora tanpa henti nya.
"Zoy! Ada apa dengan Zora?" Tanya Faaz tiba-tiba dari arah belakang.
"Faaz gue nggak tahu sejak kapan Zora ngunci pintu kamar nya, tapi yang jelas saat ini pintu kamar nya terkunci rapat dan dia nggak ngerespons gue sama sekali saat gue gedor-gedor manggil dia berulang kali dari tadi" tutur Zoya dengan nada berbicara yang di penuhi kepanikan.
Zaki dan Faaz tidak menunggu lama lagi dan langsung mendobrak pintu kamar Zora dengan segala macam benda yang ada di sekitar mereka untuk membantu mereka membuk pintu itu secepat mungkin.
Setelah terus berusaha akhir nya pintu kamarpun berhasil terbuka. Namun Zora tidak terlihat ada di dalam kamar nya. Zoya langsung memeriksa ke kamar mandi, tapi Zora tidak ada di sana.
Faaz dan Zaki langsung berpencar dan mencari keliling rumah, namun Zora juga tidak ada di sana. Zoya menjadi semakin khawatir dan kalut karena Zora tidak ditemukan keberadaannya.
Dari arah depan rumah terdengar suara ibu nya Faaz yang baru tiba dan mencari keberadaan orang rumah. Zoya langsung menemui ibu Faaz dan menjelaskan semua yang terjadi saat ini.
"Yasudah kalau begitu kalian pergilah cari Zora, biar ibu yang mengurus segala nya di sini bersama adik-adik dan beberapa orang yang akan datang sebentar lagi" tutur ibu Faaz kepada Zoya dan yang lain.
Faaz,Zaki dan Zoya langsung bergegas pergi mencari Zora dengan mobil Zaki. Mereka terus mencari sepanjang jalan hingga ke tempat pemberhentian bus antar kota menurunkan dan menaikan penumpang nya, namun Zora tidak ada di sana juga.
"Eh, gue rasa Zora nggak akan ada di sini deh!" Kata Zoya tiba-tiba di tengah pencarian mereka.
"Terus kira-kira Zora kemana? Lu ada gambaran nggak tentang tempat-tempat yang biasa didatangi Zora kalau dia sedang dalam keadaan kacau begini Zoy?!" Cecar Faaz yang bertanya pehuh khawatir.
"Nggak! Zora belum pernah pergi dari rumah seperti ini apapun dan sebesar apapun masalah nya, ini pertama kali nya! Tapi gue rasa gue tau dia ada dimana sekarang!" Jelas Zoya lagi.
"Ayo kita kepemakaman!" Kata Zoya.
"Ha? Pemakaman di malam-malam dan hujan deras begini?" Kata Zaki merasa ide Zoya tidak masuk akal.
"Gue yakin Zora ke sana, karena Zora selalu merasa kalau mami sakit dan meninggal itu semua gara-gara dia dan dia masih terus nyalahin diri nya sendiri sampai saat ini! Jadi gue yakin banget kalau nggak ada tempat lain yang di datangi Zora selain kuburan alm.mami!" Kata Zoya menjelaskan pemikiran nya kepada Zaki dan Faaz.
Tanpa berkata apapun lagi Zaki langsung banting stir menuju ke arah TPU tempat alm.Marni dikebumikan. Mereka bergegas kesana dengan perasaan yang harap-harap cemas, berharap jika Zora memang ada di sana dan sedikit cemas dan khawatir jika ternyata Zora tidak ada di sana, maka kemana lagi mereka harus pergi mencarinya.
Hujan yang turun begitu deras ditambah lagi dengan gelap nya malam membuat jarak pandang mata memang sangat terbatas.
Bermodalkan cahaya penerang jalan yang ada di sekitar TPU di tambah dengan cahaya sorotan lampu mobil yang dibiarkan menyala Zaki, Zoya dan Faaz turun dari mobil dan berlarian menuju kuburan Marni.
Semakin dekat dengan kuburan Marni terlihat ada seseorang tangah duduk tepat di samping gundukan tanah makam yang menggunung dengan taburan bunga yang masih segar.
"Zora!!!!" Teriak Zoya begitu melihat Zora yang terduduk di tengah hujan dalam gelap nya malam seorang diri ditengah-tengah pemakaman.
"Ra! Apasih yang lu lakui disini? Kenapa lu jadi begini Ra?!" Kata Zoya yang langsung memeluk Zora erat-erat.
"Gue yang udah buat mami meninggal Zoy! Gue yang udah bunuh mami!" Kata Zora dengan suara yang terdengar begitu lemah di dalam pelukan Zoya.
"Gila lu ya! Lu pikir di dunia ini cuma lu aja anak yang di tinggal mati sama orang tua nya?! Lu pikir cuma lu aja anak yatim piatu di dunia yang begitu besar dan luas ini?" Kata Zoya lagi memekik ditengah guyuran hujan deras malam itu.
Zoya diam tak lagi menjawab perkataan Zoya. Tiba-tiba tubuh nya melunglai tak berdaya di dalam pelukan Zoya. Zoya terkejut dan melihat kewajah Zora yang ternyata dari mulut Zora telah mengalir darah segar.
"Zoraaaaaa!!!!" Teriak Zoya yang terkejut saat melihat darah segar keluar dari mulut Zora.
"Ya Tuhan Zora!" Faaz ikut terkejut dan kalut melihat keadaan calon istrin nya itu.
Tanpa berfikir lagi Zaki langsung membantu Faaz untuk menggotong tubuh Zora yang basah kuyup dan lunglai tak lagi berdaya itu menuju mobil dan langsung bergegas menuju rumah sakit.
Zaki langsung melajukan mobil nya secepat mungkin agar dapat mencapai rumah sakit sesegera mungkin.
"Ra! Kenapa lu lakuin ini Ra?! Kenapa si fikiran lu pendek banget Ra! Kalau sampai lu kenapa-kenapa terus gue harus apa tanpa lu Ra?!!" Tangisan Zoya pecah di dalam mobil sambil terus memeluk erat tubuh saudari kembar nya itu.
Air mata pun terlihat berlinangan di wajah Faaz saat ini. Mata nya kini terlihat sembab dan memerah karena terus meneteskan air mata tanpa henti sejak tadi. Tangan yang digenggam nya pun terlihat bergetar. Jantung nya berdebar tak karuan sangking takut nya ia akan terjadi sesuatu kepada pujaan hati nya itu.
"Ki lo tenang dulu! Gue paham saat ini lo khawatir banget sama Zora, tapi lo sabar dulu, kita akan segara sampai di rumah sakit kok! Kita yakin aja kalu Zora akan baik-baik aja! Zora pasti mempu bertahan!" Kata Zaki yang tak putus-putus memberi dukungan dan semangat bagi Zoya dan Faaz dalam menghadapi keadaan ini.
Mobil yang sudah sampai di depan pintu IGD rumah sakit langsung di sambut oleh para dokter dan tenaga medis lain, dan tubuh Zora langsung di bawa keruang penanganan untuk segera mendapat penanganan darurat.
Zoya tak terkendali kali ini. Sekujur tubuh nya gemetar sangking rasa takut yang begitu besar membelenggu nya saat ini.