
"Hari ini adalah hari paling buruk dalam hidup kita ya Ra?! Gue nggak pernah nyangka sama sekali jika mami akan pergi secepat ini ninggalin lu dan gue! Sekarang kita cuma memiliki satu sama lain Ra, gue nggak punya siapa-siapa lagi dalam hidup gue selain lu!" Kata Zoya sambil menggenggam erat tangan Zora.
" Ra kenapa tangan lu dingin banget si Ra? Lu nggak apa-apakan?" tanya Zoya lagi karena khawatir.
Tidak menjawab pertanyaan Zoya, Zora berdiri dan langsung membuka lemari pakaian nya. Zora mengambil stelan serba putih lengkap dengan sebuah selendang berwarna putih polos tanpa corak.
Zoya sedih dan khawatir melihat keadaan Zora yang seperti saat ini. Zora belum ada berbicara sama sekali semenjak ia siuman dari pingsan nya tadi.
Setelah selesai berganti pakaian Zora langsung ke luar kamar dan berjalan ke arah ruang tamu tempat jenazah ibu nya di semayamkan.
Zora duduk tepat di sebelah tubuh sang ibu yang kini di tutupi dengan kain panjang bermotif batik berwarna coklat keemasan.
Sedangkan bagian wajah nya ditutupi dengan sehelai kain tipis berwarna putih, sehingga wajah pucat Marni samar-samar terlihat.
Semua mata memandangi Zora yang duduk dengan tatapan mata yang kosong serta wajah nya terlihat sangat pucat dengan kantung mata yang membengkak dan sedikit menghitam karena ia belum ada tidur sejak tadi malam.
Tidak lama berselang Zoya keluar dari kamar menyusul Zora dan duduk tepat di samping Zora. Meski air mata masih terlihat terus membasahi pipi Zoya, namun keadaan Zoya masih terlihat lebih baik dari pada Zora.
Ustazah yang dinantikan untuk memimpin prosesi memandikan jenazah akhir nya tiba. Segara yang bertugas memandikan jenazah bergagas mengangkat tubuh Marni.
Prosesi pemandian jenazah Marni hanya disaksikan oleh Zoya, karena Zoya lebih tegar dibandingkan Zora.
Dan keadaan Zora yang begitu lemah tak berdaya saat ini tak memungkin nya untuk ikut serta memandikan jenazah, sehingga Zora hanya menunggu prosesi pemandian selesai di temani oleh kedua adik nya Faaz.
Setalah prosesi pemandian jenazah selesai dilaksanakan, maka selanjut nya adalah mengkafani jenazah, lalu menyolatkan dan terakhir menguburkan janazah.
Kini jenazah yang sudah seleai di solatkan dimasukan kembali ke dalam mobil ambulance yang akan mengantarkan jenazah dan rombongan menuju TPU terdekat.
Seperti wasiat Marni jauh-jauh hari saat ia masih sehat, liang lahat kuburan Marni berada tepat di samping kuburan alm.suami nya.
Ditengah-tengah prosesi pemakaman yang sedang berlangsung dari kejauhan di bawah sebuah pohon yang rindang terlihat seorang wanita yang berpakaian serba rapi dan serba hitam lengkap dengan memakai kaca mata hitam dan sebuah payung hitam yang di gunakan nya sedang memperhatikan pemakaman Marni sari tempat nya berdiri.
Zoya heran dan berfikir sejenak tentang "siapa wanita itu? Mengapa ia hanya memperhatikan prosesi pemakaman ini dari kejauhan? Mengapa dia tidak menyampaikan ucapan bela sungkawa nya kepada ku atau Zora? Dan kenapa ia baru terlihat saat di TPU saja? Apa mungkin dia teman lama mami dan tidak tahu alamat mami? Tapi dia tau dari mana jika mami telah meninggal?" Itulah rentetan pertanyaan yang saat ini tengah menghujani fikiran Zoya.
Prosesi pemakamanpun akhir nya selesai dilakukan dengan baik dan lancar tanpa ada halangan. Setelah selesai menyiram kuburan dengan bunga dan air mawar, satu persatu orang berpamitan untuk pulang, begitu pula ibu Faaz dan keluarga.
Hingga kini hanya tersisan Zora, Zoya, Zaki dan Faaz yang masih tinggal karena Zora masih duduk di samping kuburan ibu nya sambil memegangi nisan sang ibu.
"Ra sudah yuk, kita pulang dulu ya Ra! Nanti kita ke sini lagi untuk mengunjungi mami" kata Zoya sambil memegang pundak Zora.
Seperti mayat hidup, Zora hanya diam dan berdiri dari duduk nya menuruti perkataan Zoya. Zoya, Zaki, Faaz dan Zora pulang ke rumah dengan menggunakan mobil Zaki.
Selama dalam perjalanan menuju rumah suasana di dalam mobil begitu hening. Tidak ada percakapan sama sekali. Zora hanya duduk diam sambil menyandarkan kepala nya di bahu Zoya.
Hingga akhir nya mereka tiba di rumah Zora masih tetap diam tak ingin berbicara dengan siapapun dan langsung masuk ke dalam kamar nya.
Zaki meminta Zoya untuk beristirahat karena sejak kemarin malam Zoya belum ada memejamkan mata nya meski untuk satu jam.
Zoya pun meminta Zaki dan Faaz untuk pulang ke rumah mereka sejenak agar mereka bisa beristirahat juga. Karena memang pada dasar nya dari mereka berempat belum ada yang beritirahat sejak semalam.
Faaz dan Zakipun setuju untuk pulang dan beristirahat sejenak dan mereka mengatakan pada Zoya bahwa mereka akan kembali malam nanti sebelum tahlilan dimulai.
Setelah melepas kepulangan Zaki dan Faaz, Zoya langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamar nya. Namun langkah kaki nya tiba-tiba terhenti sejenak dan ia menuju ke kamar Zora untuk memastikan keadaan Zora terlebih dahulu.
Terlihat di dalam kamar Zora sedang berbaring di atas kasur nya. Zoyapun merasa lega karena setidaknya Zora dapat beristirahat setelah bertahan melewati hari yang tidak mudah untuk di lewati hari ini.
Dan Zoya berharap semoga setelah beristirahat, keadaan Zora bisa sedikit membaik. Karena Zoya tak tenang melihat kondisi Zora setelah terguncang dengan kenyataan kehilangan sang Mami dalam waktu yang sangat singkat.
Zoya kembali menuju kamar nya, namun ia kembali berubah arah saat melintasi kamar mami nya. Zoya memutuskan akan beristirahat di kamar sang mami saja.
Karena pasti aroma sang mami yang masih tertinggal di kamar itu akan membuat Zoya merasa seakan Mami nya masih berada di sana bersama nya.