
"Aku nggak sedang becanda sama kamu Zoy, aku serius dengan perkataan aku barusan, serius banget malah!" Kata Zaki dengan raut wajah yang sangat serius mencoba meyakinkan Zoya.
"Ki! Lo apaan sih?!" Kata Zoya mulai gugup karena salah tingkah.
"Zoy, Zaki itu sebanar nya emang uda lama banget suka sama lo! Dari waktu kita masi sekolah dulu!" Tutur Zora ikut coba meyakinkan Zoya.
"Apaan sih Ki?! Jangan aneh-aneh deh! Gue nggak punya sahabat lain selain lo Ki! Gue nggak mau kehilangan sahabat terbaik gue hanya gara-gara cinta-cintaan!" Kata Zoya sedikit menipis.
"Tapi bagi aku kamu cinta pertama dan satu-satu nya wanita yang special dalam hidup aku Zoy! kamu nggak akan kehilangan aku kok, kita akan tetap bisa terus jadi teman atau sahabat kok meskipun kamu terima perasaan aku, aku janji sama kamu kalau kamu nggak akan ada yang berubah diantara kita, hanya beda nya kita akan saling memiliki satu sama lain Zoy" kata Zaki terus berusaha meyakinkan Zoya untuk menerima perasaan nya.
Zoya terdiam dan terduduk di kursi kayu yang ada di teras rumah nya. Zoya bingung harus memberikan jawaban apa atas pernyataan cinta yang dilakukan oleh Zaki sahabat nya itu.
"Zoy, kamu nggak harus kasi jawaban kamu sekarang kok, aku nggak mau kamu terpaksa nerima aku hanya karena kamu ngerasa kalau aku ngedesak kamu buat nerima perasaan aku ini, jadi aku balik dulu sekarang, dan kalau kamu bersedia nerima aku, kamu boleh hubungi aku kapanpun itu, nggak masalah, aku akan selalu nunggu kamu!" Kata Zaki.
"Satu lagi Zoy, kalaupun nanti kamu nggak bisa nerima perasaan aku ini, aku harap kita akan tetap jadi sahabat baik ya Zoy! Karena aku tau kok, aku akan tetap bisa bebas mencintai kamu sampai kapanpu meski kita bukan sepasang kekasih! Karena cinta tulusku ini tak mengharapkan balasan Zoy!" sambung Zaki sebelum ia melangkah pergi.
Zaki melangkah pergi meninggalkan rumah Zoya dan Zora. Mobil hitam milik nya perlahan berjalan meninggalkan pekarangan rumah Zoya dan perlahan hilang tak lagi terlihat.
Zoya langsung masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar nya. Zoya duduk di kursi yang ada di meja belajar di kamar nya menatapi ikan-ikan kecil yang sedang menari-nari didalam akuarium kecil yang ada di meja belajar nya.
Sepasang ikan yang menghuni akuarium itu merupakan hadiah ulang tahun Zoya yang di berikan oleh Zaki ditahun lalu. Kini Zoya menatapi ikan-ikan itu untuk merenungkan tentang jawaban apa yang harus ia berikan kepada Zaki.
Jika mengikuti kenyataan, sesungguh nya hati Zoya masih menyukai Faaz. Namun Zoya sadar jika perasaan itu salah dan tidak mungkin terwujud. Faaz begitu mencintai Zora dan begitu pula sebalik nya.
Tapi bagi Zoya jika harus menerima Zaki hanya untuk melupakan perasaan nya terhadap Faaz, itu tidaklah adil bagi Zaki. Cinta dan perasaan yang tulus dari Zaki tidak pantas jika hanya dijadikan sebagai pelarian saja.
"Tok...tok....tok...." pintu kamar Zoya diketuk oleh seseorang.
"Masuk...." Zoya mempesilahkan masuk.
"Lagi apa lu?" Kata Zora.
"Nggak ada, gue nggak lagi ngapa-ngapain, ada apa?" Tanya Zoya.
"Gue mau ngobrol aja sama lu, boleh?" Jawab Zora.
"Mau ngobrol apa? Tumben banget! Pasti lu mau bahas tentang Zakikan? Mau yakinin gue untuk terima Zaki?!" Kata Zoya langsung mencecar Zora.
"Zoy! Apa lu masih ragu nerima Zaki karena perasaan lu masih untuk Faaz?" Tanya Zora tiba-tiba sacara gamblang.
"Gue tahu kok kalau lu juga suka sama Faaz kan? Tapi lu lebih siap mundur hanya demi gue kan?" Kata Zora lagi.
"Enggak! Ngaco lu! Gue nggak pernah suka sama Faaz, kepikiran aja nggak pernah! Lagian Faaz itu bukan tipe gue!" Sangkal Zoya lagi.
"Lu nggak perlu bohong lagi sama gue Zoy! Gue tahu semua nya udah sejak lama kok! gue nggak sengaja liat buku diary lo" kata Zora lagi.
"Terus?! Kok lu nggak sopan sih baca-baca diary orang! Itukan privasi!" Kata Zoya sedikit gugup.
"Ya walaupun lu nggak nulis apa-apa tentang perasaan lu sama Zaki disitu, tapi gue nemuin foto kita berempat waktu acara perpisahan sekolah yang udah lu gunting berbentuk hati dan hanya menyisakan lu dan Faaz aja di foto itu! Apa gue masih salah? Apa lu masi mau nyangkal?" Cecar Zora kepada kembaran nya itu.
"Oh masalah foto itu! Gue buat itu bukan karena gue cinta sama Faaz, tapi itu hanya karna gue kagum aja waktu itu sama sifat dia, secara waktu itu dia itu yang selalu paling kalem dan dewasa diantara kita-kuta!" Pungkas Zoya.
"Oke. Tapi kalau emang semua yang lu bilang itu bener, kenapa lu nggak terima Zaki? Toh lu kenal Zaki udah lama, bukan baru sehari dua hari doangkan?!" Zora kembali mencecar Zoya.
"Kata siapa gue nggak bisa nerima Zaki? Gue cuma mau lihat aja sejauh mana usaha dia buat dapetin gue?! Dan gue merasa kurang nyaman aja, secara Zaki itu anak orang tajir melintir! Sedangkan gue? Gue cuma anak seorang janda penjahit kampung! Dan sekarang, ternyata gue cuma anak angkat yang nggak jelas asal usul nya!" Kata Zoya lagi dengan tegas kepada Zora.
Perkataan Zoya membuat Zora terdiam. Kali ini apa yang dikatakan Zoya sepenuh nya benar dan mendasar bukan hanya sekedar kata-kata pembelaan saja.
"Menurut lu gimana Ra? Apa gue masih pantes untuk Zaki?" Kata Zoya kembali bertanya kepada Zora.
"Ya kalau memang itu masalah nya, coba lu omongin dulu sama Zaki lah, gue juga nggak bisa bilang apa-apa kalu memang itu yang menjadi pertimbangan lu" kata Zora.
"Yauda deh, kita skip dulu tentang gue dan Zaki. Sekarang lu sama Faaz gimana? Jadi kapan kalian akan menikah?" Tanya Zoya mengalihkan percakapan nya dengan Zora.
"Tadi sih Faaz hubungi gue, kata nya akhir bulan ini keluarga nya bakal datang ngelamar gue, dan kita akan nikah di bulan depan nya" kata Zora.
"Oh bagus deh, lebih cepat lebih baikkan?" Kata Zora.
"Iya sih, tapi gue masih nggak enak hati deh sama sikap mami?!" Kata Zora lagi.
"Udah masalah mami ntar malam coba kita omongin lagi deh sama mami ya! Lu nggak usah mikirin itu lagi, sekarang lu fokus aja sama persiapan lu! Dan kalau butuh bantuan gue, lu langsung bilang ya! Karena saudari lu kan nggak banyak, cuma gue aja satu?!" Kata Zoya menghibur hati sang kembaran yang terlihat sedikit gundah gulana.
"Oke deh! Yauda deh kalau gitu, gue mau mandi dulu. Dan lu jangan lupa pikirin lagi tentang lamaran nya Zaki! Cinta nggak akan datang dua kali Zoy, jangan sampai hanya karena lu bisa selalu bareng dia terus setiap saat selama ini. Lu jadi mikir nya itulah rasa persahabatan lu dengan dia, karena rasa cinta juga nggak ada bau nya, dan nggak ada warna nya, jadi lu nggak akan pernah tau kapan persahabatan lu sama Zaki berubah jadi cinta! " Kata Zora sebelum meninggalkan kamar saudari kembar nya itu.
"Iye! Ah bawel lu!" Jawab Zoya.
Zoya kembali duduk termenung setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Zora.