
Zaki langsung membawa Zoya masuk ke dalam rumah nya untuk menemui mama nya yang sudsh menunggu kedatangan mereka sejak tadi dengan segudang-gudang sajian makanan lezat di atas meja makan.
Dari kejauhan mama Zaki yang sudah duduk di kursi pada meja makannya memperhatikam Zoya yang sedang berjalan perlahan mendekati meja makan. Zoya dibuat sedikit gugup dan salting dengan tatapan mata mama Zaki yang seakan tak berkedip menatap kearah nya.
"Ki itu mama kamu kenapa natap aku begitu banget? Udah kayak mau menerkam aku aja deh?!" Zoya berbisik-bisik kepada Zaki. "Udah tenang aja! Mama aku welcome banget kok orang nya" Zaki menjawab menenangkan Zoya yang kini tangan nya sudah sedingin es.
"Duh gini amat ya rasa nya mau ketemu camer! Gila lebih gugup dari pada sidang skripsi ni gue rasa nya!" Zoya menggumam sendiri.
Zaki dan Zoya duduk di kursi yang telah disiapkan. Ziya merasa terkesima melihat begitu banyak makanan yang tersaji di meja makan rumah Zaki. "Ini sih udah ukuran hidangan buat hajatan gedek nih" kata Zoya di dalam hati nya.
"kita mulai makan sekarang mam?" Zaki membalikan piring yang ada di hadapannya sembari bertanya kepada ibunya. "Sebentar lagi ya Ki" mama nya menjawab sembari melihat hpnya.
"Emang nya masih ada yang ditunggu ma?" tanya Zaki kepada mama nya. "Iya sayang. Faro sudah hampir sampai kata nya" jawab mama nya sambil tersenyum.
"Nggak apa-apa ya Zoya kita menunggu sebentar lagi?!" mama Zaki bertanya berbasa-basi kepada Zoya yang terlihat hanya terpaku diam membisu sejak tadi.
"Iya tante nggak masalah, aku santai kok tant!" Zoya menjawab dengan lemah lembut berbeda dengan gaya bicara nya yang biasa.
Mendengar nama Faro membuat mood dan ekspresi di wajah Zaki langsung berubah drastis. Mama Zaki yang menyadari ekspresi wajah Zaki yang berubah langsung mengalihkan suasana dengan mengajak Zoya berbincang-bincang ringan.
"Oh ya Zoy, kalau kamu nggak merasa keberatan saya mau kamu panggil saya dengan sebutan mama saja, bukan tante!" tutur mama Zaki dengan penuh kasih sayang. Zoya terkejut "Ha? kenapa gitu tan? Takutnya akan jadi aneh kalau orang lain dengar tan?!" kata Zoya.
"Kenapa harus memikirkan orang lain? Ini hubungan antara kamu dan Zaki, begitu juga antara kamu dan saya. Sudah menjadi prinsip saya bahwa ketika anak-anak saya menikah nanti saya akan menganggap istri-istri dari anak saya sebagai putri saya sendiri. Bukan sebagai menantu di rumah ini!" mama Zaki menjelaskan dengan penuh kasih sayang kepada Zoya sambil menyentuh lembut tangan Zoya.
"Iya mam tapi kan aku dan Zoya masih belum menikah mam! Jadi mungkin Zoya akan merasa kurang nyaman jika harus manggil mama langsung dengan sebutan mama" jelas Zaki membantu Zoya berbicara kepada mama nya.
pandangan mata mama Zaki langsung menuju ke arah Zoya "Bener Zoy? Kamu nggak nyaman jika harus manggil saya mama?" tanya nya kepada Zoya.
"Bukan gitu, bukan nggak nyaman tan! Tapi Zoya sedikit canggung rasa nya tan!" jawab Zoya lagi. Mama Zaki mengangguk dan berkata "Kalau begitu nggak masalah. Mama rasa itu hanya masalah waktu saja, lama laun kamu pasti terbiasa. Jadi mulai dari sekarang pelan-pelan biasakan kamu panggil saya dengan sebutan mama ya sayang" mama Zoya tetap meyakinkan Zoya untuk memanggilnya dengan sebutan mama.
Disela-sela percakapan hangat merek, akhir nya yang ditunggu-tunggu pun tiba, Faro sudah sampai. Fara datang dengan stelam santai nya seperti biasa.
Celana jeans hitam, kaos hitam dipadukan dengan jaket kulit berwrna hitam sudah menjadi ciri khas yang melekat pada Faro. Hanya saja apapun yang digunakan Faro tetap membuat nya terlihat tampan karena memang wajag nya yang berparas indo arab membuat wajah nya begitu sedap dipandang mata.
"Faro, akhir nya kamu sampai juga! Kenapa terlambat sayang?" mama Zaki langsung menyapa kehadiran putra bungsu nya itu. "Sory mam, tadi aku nggak sengaja ketemu teman waktu perjalanan ke sini. Jadi aku ngobrol sebentar" Faro menjawab sambil berjalan mendekati meja makan dan langung duduk di kursi yang tersedia.
"Oke kalau begitu, kita semua udah ngumpul dan pasti sudah pada laparkan? Jadi nggak usah bannyak basa basi lagi, ayo kita langsung makan saja" kata mama Zaki mempersilahkan semua orang untuk menyantap makan malam nya.
*
Di rumah Zora baru saja selesai memasak mie instan kesukaan nya seorang diri. Karena Zoya sedang tidak ada di rumah dan ia hanya akan makan seorang diri, jadi Zora memutuskan untuk memasak mie instan saja untuk santapan makan malam nya hari ini.
Selesai memasak Zora langsung menyantap makanan hasil dari masakannya itu dengan lahap sambil ia melihat-lihat ponsel nya untuk bermain sosmed.
"Ting nong....." suara bel rumah dibunyikan oleh seseorang. Zora heran siapa yang datang malam-malam begini "siapa ya? nggak mungkin itu Zoyakan? nggak mungkin dia balik secepat inika" Zora menggumam bertanya seorang diri sambil berjalan meninggalkan makanan nya di atas meja dan menuju pintu untuk melihat siapa yang mengunjungi nya di jam malam begini.
Zora membuka pintu rumah nya. Terlihat di depan pintu rumah nya berdiri seorang wanita paruh baya yang terlihat berpenampilan rapi dan elit dari ujung kepala hingga kaki nya. Dan tak hanya itu, wanita itu terlihat membawa dua buah koper dengan ukuran besar berwarna hitam dan merah.
Terlihat wanita itu berdiri membelakangi pintu rumah Zora dan langsung berbalik arah saat mendengar suara pintu rumah di buka. Wanita itu langsung tersenyum hangat ke pada Zora "Hay, apa kamu Zora?" kata nya langsung menyapa Zora seolah ia dan Zora memang sudah saling kenal.
Sejenak Zora terdiam menatap wanita itu dengan kerutan dikening nya. Zora tak merasa mengenal wanita itu sama sekali. Namun melihat wajah nya dan mendengar sapaan nya seakan wanita ini memang mengenal Zora.
"Maaf?! tante siapa ya? Maaf saya nggak bisa mengingat tante dengan jelas?!" kata Zora dengan sangat halus dan sopan agar tidak menyinggung wanita itu dengan perkataan nya.
Wanita itu tersenyum tipis menatap Zora "Benar kamu nggak mengenali saya Zora?" tanyanya dengan lembut sambil meraih kedua tangan Zora dan menenggenggam nya dengan erat.
Zora terdiam lagi menatap wanita itu dan melihat tangannya yang di genggam erat oleh wanit itu. Zora terus memperhatikan wajah cantik wanita itu untuk berusaha mengingat siapa wanita itu.