Izora

Izora
episode 37. Menuju Day nya Zora dan Zoya



Hari-hari semakin terasa singkat karena kesibukan menyiapkan segala persiapan dan kebutuhan untuk pernikahan si kembar Zora dan Zoya.


Dari semua yang terlibat dalam melakukan persiapan, namun Nurma adalah sosok yang terlihat paling sibuk dan bahagia dalam melakukan persiapan ini.


"Bund udah siang nih. Bunda istirahatlah dulu biar kami yang gantiin bunda untuk memantau semua pekerjaan di sini" kata Zora yang mulai khawatir dengan keadaan Nurma yang sangat kurang sekali waktu beristirahat sejak kemarin.


"Bunda nggak apa-apa sayang. Bunda nggak lelah sama sekali. Kalian kan calon pengantin jadi istirahat sajalah. Nanti kalau kalian kelelahan aura cantiknya nggak keluar loh" Nurma malah balik menggoda dua calon mempelai wanita kesayangannya ini.


"Yauda deh kalau gitu. Tapi kalo bunda lelah istirahat ya bund jangan dipaksain"


"Iya sayang"


"Eh bund pernikahan kita kan besok. Jadi aku dan Zoya mau izin pergi sebentar untuk mencoba pakaian pernikahan kami besok bund. Boleh nggak?" tanya Zora.


"Oh begitu. Tentu boleh banget. Tapi kalian jangan pergi berdua saja bawalah supir bunda dan mintalah dia mengantarkan kalian kemana pun kalian perlu" jawab Nurma dengan penuh kasih sayang.


"Enggak bund aku dan Zoya nggak akan kemana-mana karena pakaian yang akan kita berdua pakai sudah ada di rumah ini bund" Zora menjawab sambil tersenyum.


"Oh begitu? Apa sudah digojek?" Nurma bertanya bingung.


"Bukan bund. Kita berdua sudah buat keputusan kalau kita berdua mau pakai baju yang udah bunda siapkan aja untuk pernikahan kita besok. Gimana bund? Masih boleh nggak bund?" tanya Zora dengan semangat.


Nurma terdiam dalam sesaat mendengar perkataan Zora. Berkaca-kaca mata nya "Tentu saja boleh sayang"


"Terimakasih bund" si kembar memeluk erat Nurma dengan penuh haru.


Nurma langsung membawa Zora dan Zoya ke kamar untuk menunjukan baju pernikahan untuk keduanya yang telah disiapkannya sejak jauh-jauh hari begitu ia mengetahui rencana pernikahan Zora dan Zoya dari alm.Marni.


"Ini dia" Nurma memberikan baju-baju itu kepada Zora dannZoya langsung.


Mata Zora dan Zoya langsung terlihat berninar memandangi baju indah berwarna putih bersih itu. Senyum manis tipis-tipis langsung menghiasi wajah si kembar yang tengah berbahagia itu.


"Syukurlah jika kalian berdua menyukai baju-baju ini. Bunda membuatkan ini tanpa berfikir kalian akan menyukai baju ini atau tidak. Yang ada dalam benak bunda ketika membuat desain, memilih bahan, hingga turun tangan mejahit nya sendiri hanyalah tentang betapa cantik nya baju ini ketika kalian pakai" tutur Nurma dengan haru dan tetesan air mata haru bahagia.


*


Di rumah Zaki. Karisma bersama beberapa orang asisten rumah tangganya terlihat tengah di sibukan dengan pekerjaan masing-masing. Semua orang masing-masing terlihat sibuk mengisi dan menghiasi keranjang-keranjang seserahan yang akan di bawa besok.


"Waww. Sibuk banget ni kayaknya?! Mau ada acara apaan?!" celetuk Faro tiba-tiba menyaksikan kesibukan semua orang di rumahnya.


"Faro! Kamu kok baru ke sini sekarang sih nak?! Besok itukan hari pernikahan abang kamu" jawab Karisam sambil menyentuh bahu Faro.


Mendengar kata pernikahan Faro terkejut "Hah? Pernikahan? Nggak salah? Kok cepet banget? Jangan-jangan uda bunting ya mam?!" Faro asal celetuk dihadapan semua orang.


Faro langsung melengos pergi meninggalkan mama nya dengan segala kesibukannya. Faro langsung berjalan menuju kamarnya. Di tangga saat sedang menuju kamarnya Faro berpapasan dengan Zaki.


Faro berlalu begitu saja melewati Zaki tanpa menegur Zaki seakan dirinya tidak melihat sosok Zaki yang berada tepat dihadapan nya.


"Faro..."


Langkah Faro langsung terhenti begitu mendengar Zaki menyebut nama nya. Faro berbalik ke arah Zaki.


"Lo manggil gue?" tanya Faro dengan santai.


"Lo pasti sudah tau dari mama kan kalau besok adalah hari pernikahan gue" kata Zaki kepada Faro tanpa menatap nya sama sekali.


"Ya gue tau. Terus kenapa? Ada masalah? Atau lu mau gue gantiin buat akad besok?" tanya Faro membercandai perkataan Zaki abangnya.


"Sejak awal gue nggak berharap untuk lo hadiri pernikahan gue. Tapi kalau lo mau hadir setidaknya demi mama gue akan hargai. Tapi satu hal gue minta sama lo. Tolong jangan bikin ulah yang bisa membuat mama malu atau sedih" kata Zaki dengan tegas dan langsung berlalu pergi menuruni tangga meninggalkan Faro.


Faro hanya diam dengan senyuman tipis di bibirnya. Mengabaikan perkataan abangnya Faro langsung berjalan menuju kamarnya.


*


Dirumah Faaz. Ibu Faaz dan beberapa tetangga tengah asik sibuk memasak bersama beberapa makanan khas daerah mereka untuk hantaran yang akan di bawa pihak mempelai laki-laki besok.


Sedangkan kedua adik perempuan Faaz tengah sibuk mencoba baju mereka yang khusus dijahit untuk dipakai dihari istimewa abang mereka satu-satunya itu.


Dari semua orang yang terlihat begitu sibuk dan antusias dalam melakukan persiapan untuk besok, ayah Faaz terlihat hanya duduk santai membaca koran-korannya ditemani segelas kopi panas favoritnya.


"Pak kok bapak cuma duduk baca koran aka sih dari tadi? Memang nya bapak nggak ada yang mau di siapkan apa untuk besok?" ibu Faaz menghampiri suami nya dan bertanya kepada suaminya.


Ayah Faaz menghelan nafas yang panjanh "Apa yang harus bapak persiapkan? Yang mau menikah itu kan Faaz bukannya bapak?" jawab nya dengan santai sambil membolak balikan koranya.


Ibu Faaz terkejut mendengar jawaban suaminya. "Loh....loh.... Ada ini pak? Kenapa pertkataan bapak barusan terdengar seakan bapak tidak turut senang dengan pernikahan Faaz dan Zora besok pak?" tanya ibu Faaz dengan lembut kepada suaminya.


Ayah Faaz kembali menghelan nafas lagi. "Buk, awal nya aku tidak ada masalah dengan gadis itu. Tapi setelah kejadian kemarin kok rasa nya aku kurang srek sama dia?! Lagi pula dari awal jika mengikuti keinginan ku kan sudah pernah ku katakan bahwa aku lebih suka dan senang jika Faaz menikah dengan Dewi anaknya H.Faisal" ayah Faaz berbicara gamblang tanpa memikirkan ramai orang yang mendengar perkataannya.


Faaz ternyata sejak tadi mendengarkan percakapan antara ibu dan ayahnya. "Pak. Kenapa bapak jadi balik mengungkit masalah perjodohan ku dengan si Dewi sih? Bukannya Dewi sudah menikah dengan pria kota pilihannya sendiri?: Faaz langsung menyelah perkataan ayahnya.


"Hus Faaz kecilkam suara mu nak. Banyak orang! Atau kamu mau menjadi tontonan semua orang yang ada di sini nak?" ibu Faaz langsung berdiri menghampiri Faaz dan menangkan anaknya itu.


"Ya si Dewi jadi menikahi pria kota itu jugakan gara-gara kamu menolak dijodohkan dengan dirinya karena lebih memilih si Zora mu itu!" ayah Faaz kembali memperdebati anak nya itu.