
"Kenapa harus isteri abang nya sih?! Padahal di luaran sana berjejer wanita cantik-cantik yang bisa ia temui! Tapi dari jutaan wanita kenapa harus Zoya?! jangan sampai Zaki tahu tentang ini. Atau segela nya akan jadi runyam! Aku harus memikirkan cara agar Faro tidak bisa sering bertemu dengan Zoya!" Karisma berjalan mondar mandir seorang diri di dalam kamar nya sambil terus menggrutui apa yang dilihatnya di kamar Faro tadi.
Zaki memang tidak banyak berbicara selama ini. Tapi Zaki akan sangat murka jika dia tahu adik nya sendiri telah berani mengincar wanita yang ia cintai, terlebih lagi wanita itu kini telah menjadi isterinya.
*
Di rumah Faaz.
"Buk, sudah malam begini kok kamu masih duduk di teras toh? Memang nya nggak dingin?" ayah Faaz menghampiri isterinya yang masih duduk seorang diri di teras rumah mereka.
"Lebih baik di sini saja pak. Enak. Tenang. Adem. Dari pada di dalam menghadapi kamu yang kerjaannya ngajakin ribut terus. Ngajakin debat terus!" tutur ibu Faaz langsung mencecar suami nya itu dengan luapan uneg-unegnya.
"Hmmmmmmm...... " Ayah Faaz menghelan nafas sambil ikut duduk di samping isterinya yang terlihat enggan menatap dirinya.
"Kamu kenapa toh buk? Kok sampai seperti ini kamu melawan suami cuma gara-gara menantu baru mu itu?! Apa kamu sudah ndak takut dosa kalau durhaka sama suami buk?" ayah Faaz melanjutkan celotehannya lebih jauh.
"Lalu kamu kenapa pak? Memang nya Zora itu salahnya apa sama bapak toh? Perasaan dulu bapak terima-terima saja Faaz bersama Zora?!" balas ibu Faaz untuk suaminya.
"Hmmmm...... Itu lagi itu lagi. Bosen aku dengernya" bantah ayah Faaz sambil melengos meninggalkan isterinya diteras rumahnya lagi.
*
Dirumah Zora dan Zoya.
"Zoy cukup nggak segini?" Zaki menunjuk kearah tumpukan bantal yang sengaja disusun nya ditengah-tengah kasur tempat tidur mereka.
"Itu maksud nya buat apa Ki?" kening Zoya berkerut heran melihat yang dilakukan oleh Zaki.
"Ya ini pembatas Zoy! Ya aku nggak mau ambil resiko. Saat tidur kita kan nggak sadar dan nggak bisa kontrol diri kita Zoy?!" tutur Zaki lagi dengan wajah seriusnya.
"Terus maksudnya gimana ni? Coba diperjelas deh! Kamu takut aku ngapa-ngapain kamu, atau kamu takut kamu yang akan secara nggak sadar bakal sentuh-sentuh aku?" Zoya langung memperjelas lagi maksud perkataan Zaki yang dianggapnya berbelit.
Zoya menggelengkan kepala merasa heran dengan tingkah laku Zaki yang dianggapnya konyol dan tidak wajar.
"Apaan sih! Ada-ada aja sih! uda kayak anak kecil aja deh!" kata Zoya lagi yang menyusul Zaki untuk berbaring ditempat tidurnya dan akhirnya pasangan suami istri baru ini tidur dengan gaya tidur yang tidak biasa karya pikir dari Zaki.
Berbeda halnya dengan Faaz dan Zora yang ternyata masih terjerat perang dingin perihal kejadian saat sebelum makan malam tadi.
"Faaz kamu kenapa diam aja?" tanya Zora dengan lembut kepada Faaz yang kini tidur membelakangi dirinya.
"Sudahlah tidur. Aku lelah" jawab Faaz begitu dingin dan datar tanpa memalingkan wajahnya kearah sang isteri yang sejak tadi menatapi punggungnya saja.
Zora yang merasa sikap Faaz ini terlalu berlebihan lantas bangun dari tidurnya dan duduk tepat disamping Faaz. "Faaz kamu ngerasa nggak sih kalau ini berlebihan?!" kata Zora dengan nada berbicara yang terdengar serius.
"So? Oke sorry deh! Aku memang suka berlebihankan membesar-besarkan masalah kan? Ya deh kamu yang terbaik!" jawab Faaz yang seakan sengaja memancing keributan.
"Ha? Kok kamu begini sih?! Gila ya! Ternyata emang bener ya yang dibilanh sama orang-orang. Pasangan bakal berubah nunjukin sikap aslinya setelah menikah! Dan itu kamu!" cecar Zora yang geram sambil langsung merebahkan lagi tubuh nya diatas kasur dan kini ia membalas dengab memunggungi Faaz juga.
Tiba-tiba sebuah senyuman tipis tersunggih diujung bibir Faaz saat mendengar betapa kesalnya Zora gara-gara sikapnya.
"Kesel yaaaaa?!" tiba-tiba Faaz memeluk hangat Zora dari belakang sambil berbisik ditelinga isterinya yang sedang kesal.
"Apaan sih Faaz! Nggak lucu deh!" Zora meremas ujung selimut nya dengan erat.
"Emang aku nggak sedang ngelucu, tapi aku mau ngajak kamu buat anak yang lucu-lucu! Mau nggak? Anggap saja ini permintaan maaf aku, karena aku sudah pernah lancang menolak kamu waktu itu sayang" semakin nakal Faaz berbicara ditelinga Zora yang sudah tidak berkutik didalam dekapan tubuh hangatnya yang berbidang dan kekar.
Zora tidak bisa menjawab perkataan Faaz lagi. Zora hanya memejamkan matanya, senyuman tersunggi dibibirnya yang berwarna pink merona dan tangan nya terus meremas ujung selimutnya dengan erat.
Faaz langsung menarik Zora kearahnya. Faaz mematikan lampu dikamar mereka untuk menyempurnakan malam pertamannya. Dengan penuh kasih sayang akhirnya Zora dan Faaz sudah menjalani kewajiban pertama mereka.