
Jantung Zoya terasa seperti akan meledak saat itu sangking khawatir nya iya. Zoya terus menggigiti kuku jari jempol nya seperti yang selalu dilakukan nya ketika ia sedang gugup dan khawatir.
Zaki sendiri terus berdiri di depan pintu gerbang sambil mengintai pergerakan yang dilakukan oleh dokter di dalam ruangan Marni.
Mereka merasa khawatir dan penasaran akan apa yang terjadi kepada Marni sebenar nya karena mereka baru saja meninggalkan marni beberapa saat yang lalu dan Marni berada dalam keadaan baik stabil.
Saat Zaki bergeser posisi mendekati Zoya. Faaz langsung berjalan mendekati pintu untuk coba mengintai keadaan Marni dari kaca kecil yang ada di pintu.
Setelah melihat kearah dalam, tiba-tiba Faaz terlihat tercengang. Kaki nya terus melangkah mundur hingga ia menabrak dinding.
"Kamu kenapa Faaz?" Tanya Zora.
Zaki dan Zoya langsung ikut menatap ke arah Faaz yang terdiam membisu secara tiba-tiba. Zaki langsung melihat kearah dalam ruangan untuk melihat hal apa yang membuat Faaz jadi seperti itu.
"Innalillahiwainnalillahi roji'un" hanya kalimat itu yang langsung terucap dari mulut Zaki ketika ia melihat ke dalam ruangan.
Bagaikan tersambar petir, mendengar yang di ucapkan Zaki membuat Zora langsung lemas tak berdaya hingga ia terjatuh ke lantai. Zoya berlari melihat ke arah dalam.
Air mata langsung berderai bagaikan sunami. Kaki nya gemetar dan seakan dunia yang dipijaki nya runtuh seketika saat dia melihat segala alat bantu yang terpasang di tubuh Marni di lepas dan digantikan dengan selembar kain putih yang menutupi Marni.
Zoya tidak dapat menerima dengan benar apa yang dilihat nya saat itu. Zoya sulit mencerna apakah yang dilihat nya itu adalah nyata atau ilusi.
Otak nya terus berusaha menerima apa yang dilihat nya hingga membuat bibir nya kaku tak mampu berkata-kata.
Ketika Zora berada tepat di depan pintu, dari arah dalam dokter dan tim nya membuka pintu ruangan untuk menemui keluarga duka yang menunggu di luar ruangan.
Mata Zora yang langsung tertuju ke dalama ruangan tidak dapat melihat sosok mami nya dari sana. Merasa aneh karena tidak melihat sang ibu dari tempat nya berdiri.
Tanpa berkata sepatah kata apapun Zora langsung melewati dokter dan perawat menerobos masuk untuk menemui Marni mami nya.
"Aneh! Aku meninggalkan mami di sini, di tempat tidur ini tadi. Lalu dimana mami sekarang?! Apa yang sedang kalian tutupi dengan kain putih di atas tempat tidur mami ku?! Mengapa kalian meletakkan sesuatu di atas tempat tidur mami ku tanpa izin ku? Apakah seburuk ini pelayanan rumah sakit ini?!!"
Zora berbicara tepat disamping tempat tidur Marni dengan tatapan mata yang kosong dan kaki yang bergetar. Faaz langsung menghampiri Zora dan memeluk nya dengan erat dari arah belakang.
Faaz ikut menitihkan air mata melihat betapa hancurnya keadaan Zora yang harus menerima kenyataan kehilangan mami nya dalam waktu singkat.
Tidak mampu menerima kenyataan yang ada, Zora pun akhirnya pingsan di dalam dekapan Faaz. Zoya panik melihat keadaan Zora. Untuk pertama kali nya Zoya menangis hingga histeris.
"Zora lu kenapa? Lu nggak boleh seperti ini Zora, gue nggak punya siapa-siapa lagi selain lu Ra! Buka mata lu sekarang!" Teriak Zoya memekik sambil terus menepuk-nepuk pipi tembem Zora.
"Dokter apa yang terjadi kepada tante Marni? Mengapa tiba-tiba beliau dinyatakan meninggal? Baru saja kami berbincang-bincang bersama nya dan keadaan nya baik-baik saja dok, ada apa dok?!" Kata Zaki mencoba memperjelas semua yang terjadi ini.
"Maaf apa saya dapat berbicara langsung dengan wali atau anak nya?" Tanya sang dokter kepada Zaki dan yang lain.