
Zora langsung mendapat penangan cepat untuk keadaannya di ruang IGD. Seketika tubuh Zoya lemas tak mampu lagi berdiri karena mengkhawatirkan keadaan Zora.
Detik-detik waktu terasa berjalan lambat bagi Zoya. Baru 15menit Zora ditangani oleh dokter di dalam ruangan namun bagi Zoya rasa nya sudah terlalu lama Zora di dalam sana sehingga membuat nya sangat tidak tenang dan gundah gulana menunggu. Berkali-kali Zoya mengintip ke dalam ruangan dari kaca yang ada di pintu ruangan.
"Ki! Coba deh lo periksa apa yang sebenar nya di lakukan dokter-dokter itu di dalam? Kok lama banget sih?!" Kata Zoya kepada Zaki.
Zoya seakan dibuat kehilangan akal oleh keadaan yang dihadapi nya. Saat ini seakan Tuhan sedang memberikan kejutan demi kejutan dalam hidupnya yang datang terus menerus tanpa ia duga-duga.
Zoya tidak pernah menyangka jika Zora akan melakukan hal sekonyol ini. Zoya tidak pernah membayangkan jika hal konyol ini akan dilakukan oleh Zora hanya karena rasa bersalah nya yang tak menentu.
"Sssst! Tenang dulu Zoy! Kamu jangan panik, Zora pasti akan baik-baik aja" kata Zaki mencoba menenangkan Zoya yang sudah kalut dan dibuat hancur oleh keadaan.
"Kenapa kamu harus melakukan hal bodoh ini sayang? Apa kamu nggak bisa membagi luka dan duka mu dengan ku saja dari pada kamu harus lakuin ini?"
Kata Faaz di dalam hati nya sambil terus beridiri menatapi pintu ruang IGD menunggu ada seseorang yang keluar dari dalam ruangan itu untuk memberikan kabar baik kepada dirinya.
Setelah hampir satu jam menunggu, akhir nya pintu ruangan dibuka. Seorang dokter beserta tim kerja nya keluar dari dalam ruangan, dan itu artinya Zora sudah selesai ditangani. Namun bagaimana hasil dan keadaannya saat ini?
"Maaf siapa wali pasien?" Tanya dokter kepada Zaki, Faaz dan Zoya yang sedang berdiri di depan ruang dengan wajah yang dipenuhi kecemasan.
"Saya! Saya adalah adik nya" Zoya langsung sigap menjawab.
"Oke, boleh ikut sebentar dengan saya untuk membicarakan beberapa hal tentang pasien? Dan yang lain silahkan menunggu di sini hingga pasien selesai dan siap di pindahkan ke ruang rawat inap" tutur sang dokter.
"Baik dok" jawab Zoya.
Zoya berjalan megikuti langkah dokter cantik itu menuju ruangan nya. Saat ini jantung Zoya berdebar-debar tak menentu karena ia takut akan ada kabar buruk lagi yang akan didengar nya melalui sang dokter.
"Maaf dok, apa ada keadaan serius terhadap keadaan Zora?" Tanya Zoya kepada sang dokter begitu mereka sampai di ruangan sang dokter.
"Ya seperti nya begitu, maaf sebelum nya saya bertanya apakah akhir-akhir ini ada keadaan berat yang membuat pasien merasa tertekan yang sedang pasien hadapi?" Tanya dokter itu dengan lemah lembut kepada Zoya.
"Sebenarnya saat ini bukan hanya Zora, tapi memang kami sedang melewati masa terberat dalam hidup kami karena kepergian alm.mami kami yang terjadi begitu cepat dan tanpa kami sangka-sangka dok" jawab Zoya dengan deraian air mata nya.
"Kalau begitu sebaiknya lakukan pendekatan lebih kepada pasien dalam waktu dekat ini agar tindakan percobaan bunuh diri yang dilakukan pasien tidak terulang lagi" tutur dokter kepada Zoya.
"Percobaan bunuh diri dok?" Zoya merasa terkejut mendengar kalimat percobaan bunuh diri yang dikatan dokter.
"Iya, pasien sengaja meminum obat dengan dosis tinggi dalam jumlah yang banyak sekaligus, namun beruntung obat-obat itu belum di serap sempurna oleh tubuh pasien jadi kami masi bisa menyelamatkan pasien" dokter melanjutkan penjelasannya.
Zoya terdiam mendengar pernyataan dokter. Zoya tidak menyangka jika Zora akan selemah ini dalam melewati masa-masa sulit ini.
"Baik dok, saya akan lebih memperhatikan Zora lagi kedepannya dok" jawab Zoya.
"Baiklah, kalau begitu karena tidak ada kondisi yang terlalu buruk terjadi pada pasien, maka besok pagi pasien sudah boleh pulang dan melanjutkan istirahat untuk pemulihannya di rumah saja" kata dokter.
Setelah selesai berbicara dan mendengarkan penjelasan dari dokter, Zoya langsung keluar meninggalkan ruangan dokter dan kembali menuju ruangan Zora di rawat.
Perasaan kecewa menyelimuti benak Zoya saat ini. Zoya tidak menyangka bahwa Zora begitu rapuh dan bodoh. Zoya tidak pernah berfikir jika Zora akan memilih kematian sebagai jalan keluar dari kondisi yang di hadapi nya saat ini.
Zoya sampai di depan pintu ruangan tempat Zora di rawat. Zoya menghapus air mata dari pipi nya dan ia menarik nafas dalam-dalam untuk sedikit menenangkan diri nya sebelum masuk ke dalam ruangan. Setelah merasa sedikit tenang Zoya langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan terlihat Faaz dan Zaki sedang duduk di sofa yang ada di sudut ruangan sambil memperhatikan Zora yang sedang tertidur dengan selang infus yang terpasang di tangan kanannya.
"Kalian balik aja, gue mau nemenin Zora sendiri malam ini" kata Zoya kepada Faaz dan Zaki.
"Nggak Zoy, gue nggak akan kemana-mana sampai Zora sadar dan membuka mata nya! Gue nggak bisa tenang sebelum gue memastikan kalau keadaan Zora baik-baik aja" jawab Faaz langsung menolak dengan tegas perkataan Zoya.
"Gue tahu Faaz, tapi please! Gue mohon! Kasi gue waktu untuk bisa berdua aja sama Zora, setidak nya untuk malam ini aja" kata Zoya lagi kepada Faaz.
"Tapi Zoy......"
"Faaz.... gue rasa nggak ada salah nya kita kasih waktu dulu buat dua kakak beradik ini untuk bisa lebih intens berdua aja. Lagi pula Zoya pasti akan ngabarin kita kok kalau terjadi apa-apa sama Zora" kata Zaki yang langsung memotong perkataan Faaz sebelum ia sempat menyelesaikannya.
"Okelah kalau begitu, gue sama Zaki balik. Tapi Zoy, kalau ada apa-apa dengan Zora tolong banget lo langsung kabarin gue ya Zoy?!!" Kata Faaz yang akhir nya pasrah menerima saran dari Zaki dan Zoya.
"Oke" kata Zoya sambil menganggukan kepala nya.
"Lo dari sini mau langsung balik atau gimana Faaz?" Tanya Zaki kepada Faaz sambil berjalan menuju mobil.
"Gue mau balik ke rumah Zora dululah, nyokap sama adik-adik guekan masih di sana tadi ngurusin tahlilannya alm tante Marni" kata Faaz.
"Oh gitu, oke berarti gue langsung antar lo ke sana aja ni?" Tanya Zaki lagi.
"Eh tapi Ki, kalau lo nggak sempat atau ada keperluan lain nggak masalah kok, gue bisa naik taxi atau gojek aja ntar" kata Faaz menjawab tawaran tumpangan dari Zaki.
"Gue free kok, santai aja! Udah masuk terus!" Kata Zaki lagi kepada Faaz.
Zaki dan Faaz perlahan meninggalkan perkarangan rumah sakit dengan mobil jazz berwarn merah milik Zaki.
Di dalam rumah sakit tepat nya di ruangan tempat Zora di rawat terlihat Zoya sedang duduk di sebuah kursi tepat di samping tempat tidur Zora terbaring. Terlihat Zoya hanya diam dan menatapi Zora yang masih tertidur.
Di dalam benak Zoya saat ini telah tersimpan ribuan bahkan jutaan kalimat demi kalimat dan pertanyaan demi pertanyaan yang ingin dikatakan dan ditanyakan kepada Zora.
Namun untuk hal itu, Zoya harus sedikit bersabar dan menunggu setidak nya hingga Zora tersadar dan kondisi nya sudah sedikit membaik.
Di tempat lain, di rumah Zoya dan Zora Faaz sudah bertemu dengan ibunya dan kedua adiknya yang sedari tadi menghandle segala urusan acara tahlilan alm.Marni.
Ibu Faaz langsung bertanya mengenai keadaan Zora dan apa yang terjadi kepada nya. Karena sejak tadi ibu Faaz sudah merasa tak tenang memikirkan tentang keberadaan dan keadaan Zora sang calon menantu.
Faazpun langsung menceritakan segala nya dari awal hingga akhir tanpa ada yang terlewatkan. Mendengar cerita Faaz ibu nya terduduk lemas tak berdaya. Rasa khawatir dalam benak ibu Faaz kini membuat nya sedikit gelisah.
Ibu Faaz meminta Faaz mengantarkannya ke rumah sakit tempat Zora di rawat karena ia merasa tak tenang jika belum memastikan keadaan Zora dengan melihatnya langsung sendiri.
"Buk sabar! Saat ini Zoya yang sedang menjaga Zora di rumah sakit, dan memang sudah menjadi keinginan Zoya untuk menjaga Zora sendiri malam ini. Karena Zoya ingin memiliki waktu yang lebih intens dengan Zora" kata Faaz memberikan penjelasan kepada sang ibu agar sang ibu dapat memahami situasi yang sedang terjadi saat ini.
Setelah mendengar penjelasan dari putra nya, kini ibu nya Faaz memahami situasi yang sedang terjadi.
Ibu Faaz pun akhir nya memutuskan untuk menginap di rumah Zora dan Zoya saja malamĀ ini, karena menurut ibu Faaz tidaklah baik jika rumah duka sebelum tujuh hari ditinggalkan kosong.
Faaz setuju saja dengan usulan sang ibu. Akhir nya Faaz pulang ke rumah nya seorang diri karena kedua adik perempuan nya menolak ikut pulang bersama nya dan lebih memilih ikut tinggal dan menginap menemani sang ibu di rumah Zoya dan Zora.
"Yasudah buk kalau begitu Faaz pamit pulang dulu sudah malam. Sekalian nanti Faaz akan jelaskan segala nya kepada bapak agar bapak tidak menunggu-nungu di rumah" kata Faaz berpamitan kepada ibu nya.
Di lain tempat, di sebuah komplek perumahan yang megah dan elit tepat nya di sebuah rumah paling megah yang berada tepat di ujung komplek adalah rumah Zaki.
Zaki adalah putra sulung dari seorang janda kolongmrat. Zaki hanya memiliki seorang adik laki-laki yang usia nya hanya terpaut satu tahun saja dengan nya.
Berbeda dengan Zaki, adik nya yang bernama Faro adalah seorang yang sangat slengekan. Faro bahkan tidak tertarik untuk ikut berkerja mengurus segala bisnis milik keluarga nya. Faro lebih tertarik kepada dunia malam, wanita dan juga balapan liar.
Perbedaan usia yang terlalu dekat dan perbedaan cara menjalani hidup diantara kedua nya membuat Zaki dan Faro tak pernah cocok dan sering terlibat perdebatan bahkan perkelahian tak dapat terelakkan lagi diantara kedua nya.
Faro sebenarnya merupkan anak yang pintar dan sopan. Namun sikap nya berubah sejak sang ayah menghembuskan nafas terakhir nya dalam sebuah kecelakaan mobil saat dalam perjelanan menuju bandara untuk urusan bisnis.
Karena tidak bisa menerima kepergian sang ayah yang begitu cepat dan tiba-tiba akhir nya Faro mencari hiburan dari dunia malam untuk bisa melupakan segala sakit dan duka yang di rasakan nya karena kehilangan sang ayah tercinta.
Dibalik segala pertikayan yang terjadi diantara Zaki dan Faro, sebenar nya mereka begitu saling menyayangi dan saling mengkhawatirkan satu sama lain.