
"Iya dok, kami adalah anak-anak dari pasien, jadi silahlan dokter sampaikan saja apa yang ingin dokter sampaikan" jawab Zaki.
"Pasien seperti nya sedang dalam keadaan depresi atau dalam tekanan yang tinggi, sehingga memicu serangan jantung tiba-tiba pada pasien, karena memang pasien sendiri memiliki riwayat penyakit jantung yang cukup serius jadi mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkan pasien dan kami permisi" tutur sang dokter kepada Zaki dan di dengarkan oleh semua orang yang ada di sana.
Zora terduduk lemas di lantai mendengar semua yang dikatakan dokter. Dilain sisi terlihat Faaz yang di bantu oleh seorang perawat masih terus berusaha untuk menyadarkan Zora yang jatuh pingsan.
Zaki berlutut di samping Zoya dan langsung menarik Zoya dan memeluk nya dengan erat. Selama Zaki mengenal sosok Zoya, hari ini adalah kali pertama ia melihat kerapuhan dari seorang Izoya yang ternyata ia bisa serapuh dan sehancur hari ini.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya Zoy, aku akan urus semua administrasi nya agar kita bisa langsung membawa mami pulang" kata Zaki kepada Zoya.
Zaki langsung bergegas menuju receptionis untuk mengurus segala nya. Zoya mencoba bangkit dari duduk nya, dan dengan langkah tertatih ia mendekati Zora yang terlihat masih tak sadarkan diri hingga saat ini.
"Zora Bangun! Lu jangan seperti ini! Lu jangan bikin gue takut! Kita sudah nggak punya siapa-siapa lagi sekarang Zor! Hanya ada lu dan gue yang tersisa di sini sekarang!" Bisik Zoya di telinga saudari kembar nya itu sembari menggenggam erat tangan nya.
Seperti kontak batin itu memang benar nyata adanya. Setelah Zoya menggenggam erat tangan Zora dan berbisik di telinga Zora kini perlahan terlihat ada respons pada tubuh Zora yang mulai sadar dari pingsan nya. Perlahan Zora membuka kedua mata nya. Linangan air mata terus mengalir tak terbendung.
Sepahit ini kenyataan yang harus di terima oleh si kembar dalam waktu yang sangat singkat. Tidak satupun dari mereka yang menyangka bahwa dalam hitungan jam saja takdir merubah mereka dari seorang anak yang terbuang menjadi sikembar yatim piatu yang malang.
Zaki sudag selesai mengurus segala administrasi nya. Kini petugas rumah sakit yang bertugas mulai membawa tubuh Marni yang sudah tidak bernyawa keluar ruangan dan menuju mobil ambulance yang akan menghantarkan jenazah nya pulang ke rumah duka.
Zaki, Zoya, Zora dan Faaz berjalan mengikuti jenazah Marni menuju ambulance. Zoya menolak untuk ikut bersama Zaki di mobil nya, Zoya akan pulang dengan ambulance mendampingi Marni di saat-saat terakhir nya ini.
Zora yang tak lagi berkata apapun sejak ia sadar dari pingsan nya langsung melangkah mesuk ke dalam ambulance dan duduk di samping kerenda yang berisikan jenazah Marni.
Sepanjang perjalanan menuju rumah tangisan kedua saudari kembar itu tak terbendung. Dibandingkan dengan Zoya, Zora terlihat jauh lebih hancur dan kacau.
Zora hanya diam saja dengan linangan air mata yang sudah membanjiri pipi nya. Tatapan mata nya yang kosong terus menatap ke arah jalan melalui kaca jendela mobil ambulance yang di tumpangi nya.
Seperti tidak mendengar pertanyaan dari Zoya, Zora hanya diam tak bergeming. Tak hanya mulut nya yang seakan terkunci rapat, kedua telinga nya seakan tak lagi bisa mendengar apapun yang dikatakan oleh orang lain saat itu.
Memang benar bahwa tidak ada duka yang lebih menyakitkan selain kematian. Terlebih lagi seorang anak perempuan yang harus kehilangan sosok ibu dalam hidupnya, sudah pasti yang dirasakan adalah seakan dunia ini hancur tak bersisa dalam sekejab.
Tak begitu lama ambulance yang menghantarkan merekapun akhirnya mencapai rumah duka. Di sudut pagar rumah terlihat sebuah bendera kuning yang sudah melambai-lambai menyambut kehadiran mereka.
Dibagian depan rumah terlihat ibu nya Faaz sebagai calon besan sudah langsung menyiapkan segala nya di rumah Zora dibantu oleh beberapa kerabat dan tetangga terdekat yang sudah di beri kabar melalui telepon.
Pintu mobil jenazah sudah dibuka oleh petugas. Zoya langsung menggandeng Zora untuk membantu nya turun bersama-sama dari ambulance dan masuk ke dalam rumah mereka.
Zaki dan Faaz langsung membantu petugas yang menghantarkan jenazah untuk membawa jenazah turun dari mobil untuk dibawa masuk ke dalam rumah dan melakukan segala persiapan untuk pemakaman jenazah yang akan di lakukan. Begitu hari sudah terang dan sebelum memasuki waktu dzuhur.
"Zora kamu gantilah dulu pakaian mu ya nak, tante akan menyiapkan segala persiapan yang diperlukan untuk kita memandikan janazah. Lagi pula saat ini kita masih menunggu kehadiran pak ustadz dan juga bu ustazah yang akan mebantu kita melakukan segala nya" tutur Ibu Faaz kepada Zora sang calon menantu yang kini tengah berduka.
Seakan tak mendengar apapun yang dikatakan sang calon mertua, Zora hanya berdiri diam dan tatapan mata nya begitu kosong seakan ia tak melihat suasana ramai yang kini menyelimuti rumah nya yang saat ini menjadi rumah duka nya.
"Tan terimakasih untuk semua bantuan tante, saat ini Zora sedang sangat terpukul jadi tante harap memaklumi nya, silahkan tante lakukan yang perlu dilakukan dan jika butuh sesuatu silahkan panggil aku aja. Sekarang aku permisi dulu untuk berganti pakaian bersama Zora" kata Zoya yang mewakili Zora merespon perkataan ibu nya Faaz.
Zoya langsung membawa Zora menuju kamar untuk berganti pakain yang lebih sopan untuk menghormati jenazah sang mami.
Dari kamar mereka terdengar sayup-sayup lantunan bacaan surah yasin yang dibacakan oleh kerabat dan tetangga yang datang melayat.
Zoya dan Zora terduduk lemas di tepi tempat tidur. Meski semua ini begitu nyata terjadi, namun baik Zora ataupun Zoya masih tetap berharap jika ini hanyalah sebuah mimpi atau ilusi dan mereka akan segera terbangun untuk mengakhiri mimpi buruk ini.