
Bagai memakan ratusan cabai yang pedasnya bisa membuat kepala berasap, Grey mencoba meyakinkan diri untuk tetap tenang dan sabar menghadapi Tarzan imigran yang lagi-lagi bermain didalam kamarnya. Entah sejak kapan, Tarzan wanita itu jadi sering sekali mengunjungi dia di kediamannya. Tapi Grey bisa bernafas sedikit lega, sebab dia tidak membuat onar. Tarzan itu sedang belajar, membaca buku dengan wajah serius minta di tenggelamkan kedalam kolam ikan. Menyebalkan sekali.
Ivory mengangguk-angguk seolah mengerti maksud dari kalimat didalam buku yang sedang ia baca. Sesekali Grey menangkap basah gadis itu sedang mencuri pandang kepadanya. Seperti sekarang, dan Grey tidak lagi bisa tinggal diam dan menahan diri untuk tidak menegur Ivory.
“Kenapa melihatku diam-diam begitu?” cerocosnya sebal dengan dahi mengerut tajam.
Ivory menusuk buah apel kupas yang tadi ia bawa saat mendatangi kamar Grey dengan dalih ingin belajar tanpa rasa bosan.
“Nanti, kalau aku melihat terang-terangan, pangeran marah.” jawab Ivory santai sembari mengunyah apel didalam mulutnya dan membalik buku kitab pada halaman selanjutnya. Dan seketika itu, Ivory tersedak hebat. Isi buku bacaan itu sangat memukau.
Tujuh tradisi yang harus dilakukan setelah pesta pernikahan usai.
1. Mengikuti upacara pemakaian mahkota dan pemberkatan oleh raja.
2. Upacara pemberian minuman ramuan khas untuk meningkatkan gairah.
3. Tinggal bersama dikediaman pangeran sebelum prosesi upacara selanjutnya dilakukan.
4. Ngarumi. Yakni, mandi di dalam bak mandi yang sama dan sudah diberi berbagai macam jenis bunga dan aroma theraphy.
5. Pengasingan semalam. Sepasang suami istri yang baru menikah dan sudah diberi minuman ramuan khusus, akan ditempatkan di salah satu tempat terjauh dari keramaian untuk saling mendekatkan diri.
6. Upacara pelepasan keperawanan dan keperjakaan. Mereka akan di tuntut untuk melakukan penyatuan di malam pertama sebagai pasangan suami-istri yang sah.
7. Upacara penyambutan kembalinya pasangan dari pengasingan menuju kediaman pangeran, setelah malam penyatuan berakhir.
Ivory mengerjap cepat, lantas merotasikan bola mata menatap Grey.
“Kamu sedang membaca bab tujuh tradisi aneh setelah menikah, 'kan?”
Ivory meneguk salivanya kasar. Ternyata pangeran Grey bisa membaca ekspresi yang sedang ia pendarkan dari wajahnya. Atau, laki-laki itu memang sudah hafal diluar kepala?
“Tidak perlu takut. Itu hal wajar.”
“Hal wajar?” pekik Ivory mengejutkan. “Aku masih sembilan belas tahun, dan pangeran benar-benar akan melakukan itu kepadaku?”
Grey mengedikkan bahu acuh. Dia hanya melakukan ketentuan yang sudah terjadi sejak kerajaan ini berdiri, ratusan tahun yang lalu.
“Tentu saja. Raja menginginkan keturunan dariku. Calon penerus setelahku nanti.”
Ivory menutup keras buku berwarna merah di depannya, lantas berdiri hendak pergi. Namun pangeran menahannya dengan sebuah pertanyaan.
“Apa kamu tidak ingin tau lebih banyak tentangku?”
Jantung Ivory seakan dipaksa berhenti berdetak untuk sesaat. Dia membeku ditempat yang belum terlalu jauh. Aroma khas dari Grey juga masih terjangkau dari penghidu. Tanpa berbalik, Ivory bertanya sok jual mahal.
“Memangnya apa yang ingin aku tau dan pangeran beritahu?”
Hening menjeda, hingga suara baritone itu kembali menyapa di udara.
“Terserah. Kita bisa bertukar informasi tentang diri kita masing-masing.”
Menarik. Ivory berbalik, melangkah kecil memangkas jarak sekali lagi untuk berhadapan dengan sang pangeran. Lantas kembali duduk ditempat semula dan menopang dagu penuh senyum yang, wow, Grey menjadi terpesona.
Seperti menjilat ludah sendiri, kini keadaan berbalik kepada Grey. Dia dengan malu-malu mencuri pandang kepada Ivory yang masih cengengesan tidak keruan bentuknya.
“Kamu dulu.” tegasnya, gugup sekali sampai-sampai hampir tersedak liurnya sendiri.
Mendengar hal itu, Ivory ingin sekali melayangkan protes keras kepada Grey. Bukan apa-apa, tapi Grey yang mengajaknya bertukar informasi, lalu mengapa dia yang harus memulai?
Suara desir angin dari luar ruangan terdengar lirih lantaran jendela kamar Grey terbuka. Satu yang terbesit dalam benak Ivory. Memangnya hal apa yang ingin diketahui seorang pangeran darinya? Dia tidak menarik, hanya beruntung karena memiliki kaki yang indah dan berakhir dipersunting oleh pihak kerajaan untuk dijadikan pendamping calon raja selanjutnya.
Merasa tidak percaya diri, mau tidak mau Ivory menguapkan satu helaan nafas besar, lantas mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika harus bertanya lebih dulu, terlebih kepada Grey untuk topik yang diinginkan laki-laki itu.
“Baiklah. Silahkan pangeran ajukan pertanyaan kepadaku. Hal apa yang ingin pangeran tau tentang seorang Ivory Stagen?”
Mendapat pernyataan seperti itu, tak lantas membuat Grey sebal. Dia menarik satu sudut bibirnya mencetak sebuah seringai.
“Apa yang kamu tidak suka, dan kamu takuti?!”
...***...
“Pangeran harus tau kelemahan gadis itu.”
“Bukan untuk apa-apa. Hanya untuk berjaga-jaga jika saja gadis itu mulai bersikap semena-mena kepada pangeran, atau penghuni istana.”
Grey mengangguk paham. Ucapan Dayana ada benarnya juga, dia paling tidak harus tau salah satu sisi yang bisa melemahkan gadis itu jika sewaktu-waktu bersikap semaunya sendiri.
“Jika pangeran tau kelemahannya, maka pangeran akan dengan mudah mengendalikan dia, atau paling tidak membuatnya merasa jera jika mulai bertingkah.”
Grey memandang kagum pada sosok Dayana dengan pemikiran logisnya. Yang padahal, gadis itu hanya ingin tau bagian terlemah dari Ivory untuk kembali memiliki Grey seorang diri.
Dayana lantas melingkarkan kedua lengannya di pinggang Grey, mempertemukan manik mereka lalu melanjutkan. “Biarkan dia dekat dengan pangeran terlebih dahulu. Merasa diperhatikan, dihargai, lalu pancing dia dengan pembicaraan ringan dan santai. Kemudian, setelah ia merasa nyaman, tanyakan perlahan padanya. Apapun tentang dirinya. Termasuk kelemahannya.”
...***...
Ivory mengetuk-ngetuk samar bibirnya. Ia kembali memutar dan membuka setiap laci memori yang ia bangun selama sembilan belas tahun lamanya. Mencari sebuah kotak dimana rasa takut yang menjadi trauma nya berada. Kemudian, dengan satu cengiran yang begitu menyebalkan dimata Grey, Ivory berkata, “Tidak ada. Aku tidak takut apapun.”
Sebenarnya, Grey sendiri adalah manusia biasa. Dia ingin sekali mengumpat kesal karena merasa dipermainkan oleh Ivory. Namun status bangsawannya tidak mengizinkan dia bertindak gegabah dan kasar yang bisa membuat nama baiknya jatuh dihempas ke dasar bumi dan hancur.
“Mengapa tidak mengatakannya dari tadi? Mengapa membuatku menunggu jawaban tidak bermanfaat itu?” celetuk Grey menahan emosi, sebab Tarzan imigran itu kini tertawa dengan suara dan wajah yang terlampau menyebalkan.
“Aku sedang berfikir pangeran. Lalu aku tidak menemukan jawaban yang pangeran inginkan.” celetuknya, tidak mau kalah bicara sedikitpun. Bagi Ivory, berargumen adalah hak. Dia akan rela berdebat sampai hari berlalu dan berganti hari berikutnya, jika sesuatu itu tidak sesuai dengan apa yang ia rasakan.
Sialan!
Masih berdalih manusia biasa, Grey akhirnya mengumpat dalam hati. Telapak tangannya sudah mengepal kuat, dan rahangnya hampir mengeras jika saja tidak menangkap suara Ivory yang menyapa perungunya.
“Bagaimana dengan pangeran?Apa ada hal yang pangeran takuti didunia ini?”
“Tidak.” sahut Grey cepat, tanpa berfikir panjang seperti Ivory untuk mengambil kesimpulan dan mengatakannya secara gamblang.
Tidak kalah kesal, Ivory mencebikkan bibir kedepan. Kemudian, tanpa ia duga, satu kenangan buruk terlintas begitu saja dikepalanya. Kenangan yang membuatnya takut untuk kembali menginjakkan kaki disana. Laut. Ya, dia takut dengan semua hal yang berhubungan dengan kedalaman yang banyak mengandung air.
“Sebenarnya, ada satu hal yang sangat aku takuti.”
Grey terpatik semangat. Dia berdiri dari kursi, dan duduk bersimpuh didepan Ivory, dimeja yang sama dengan gadis yang kini terlihat sendu itu, kemudian melipat kedua lengan diatas bilah kayu yang menopangnya.
“Katakan.” sahut Grey terlampau antusias tanpa melihat perubahan ekspresi di wajah Ivory.
“Mengapa pangeran bersemangat sekali? Apa ini cara pangeran mengetahui kelemahan musuh, lalu melenyapkannya dari muka bumi?” cerocos Snow tidak kalah panjang seperti simpul tali yang digunakan Prajurit untuk membuat pembatas di tepian kebun teh. “Apa pangeran bertanya kelemahan ku, untuk melenyapkan aku?”
Pertanyaan Ivory sukses membuat Grey tertegun.
Melenyapkan musuh ya? Apa Ivory seorang musuh? Mengapa aku harus seingin tau ini tentang kelemahan Tarzan imigran ini?
Grey kembali mengingat percakapannya dengan Dayana beberapa waktu lalu, tentang mempertanyakan sebuah kelemahan. Namun, sebelum ia membatalkan rasa ingin tau itu, dan memberi instruksi agar Ivory menyimpannya sendiri saja, Ivory sudah terlebih dahulu mengatakan dengan nada yang cukup getir.
Ivory memusatkan perhatiannya pada Grey yang tengah melihat dirinya dengan sorot berbeda. Sorot mata yang terasa lembut penuh penyesalan yang belum pernah Ivory lihat selama hampir tiga Minggu berada di istana kerajaan Geogini. “Aku pernah hampir kehilangan nyawa karena terseret gulungan ombak laut.”
Mendengar cerita Ivory, Grey jadi ingat jika rumah Ivory berada tidak jauh dari pantai.
“Tapi ayah berhasil menyelamatkan aku yang sudah terseret arus dan terbawa ke area jauh dari tepi pantai.”
Grey memasang pendengarannya lamat-lamat, tidak mau sedikitpun melewatkan informasi yang disampaikan Ivory kepadanya.
“Aku sempat tidak sadarkan diri karena tenggelam dan meminum banyak air laut. Tapi aku kembali membuka mata dan melihat ayah dan ibu yang menangis diatas tubuhku yang masih kedinginan. Ya, mereka menangisiku meskipun mereka sering memukuliku ketika aku melakukan kesalahan, terutama ibu. Aku yakin ibu sangat menyayangiku, itulah sebabnya dia memukulku, dia tidak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk kepadaku.”
Grey tertohok akan kalimat terakhir yang dikatakan Ivory. Memang benar, orang tua mana yang ingin hal buruk terjadi kepada anaknya? Tentu hal itu adalah bagian paling tidak diinginkan oleh para orang tua.
Lamunan Grey buyar ketika suara Ivory kembali menginterupsi. “Sejak saat itu. Aku sangat takut dengan air dalam jumlah banyak dan dalam seperti laut. Aku benar-benar takut jika kejadian masa kecilku itu kembali terulang. Aku takut Laut, sungai atau apapun yang memiliki volume air terlalu banyak. Aku takut sekali.”
Grey turut iba akan memori menakutkan yang dialami Ivory. Namun Grey juga tidak ingin jika Ivory akan kembali terpuruk dan tertekan setelah mengatakan itu. Lalu, dengan berat hati Grey bertanya. “Kalau hal yang kamu sukai? Katakan saja, siapa tau akan diperlukan suatu saat nanti.” []
...Bersambung....
...🍃🍃🍃...
...Jangan lupa Like dan Komentarnya ya para readers yang baik hati......
...Follow dan tambah ke favorit jika kalian suka dengan cerita Ivory dan pangeran Grey....
...See You Soon....
...—...