
Hari mulai menyentuh senja di ufuk barat. Setelah mendapatkan kesepakatan dan melepas Green untuk ikut ke Amber, Grey dan Ivory datang ke istana utama untuk menjenguk raja Harllotte yang sedang kurang sehat.
Begitu daun pintu kamar sang raja terbuka, Grey dan Ivory disambut oleh senyuman hangat dari wajah berkerut yang terlihat pucat itu. Grey memacu langkah mendekat. Hatinya terluka mendapati keadaan Harllotte yang terbaring lemah.
“Kemarilah, pangeran dan putri.”
Grey berjalan memimpin, ia merasa sesak ketika melihat satu-satunya keluarga yang ia miliki itu sedang terbaring lemah tidak berdaya diatas tempat tidur.
“Bagaimana keadaan anda, yang mulia?” sapa Grey santun.
Harllotte kembali menyuguhkan sebuah senyuman kepada cucunya yang tampan itu, lantas menepuk sisi tempat tidur agar Grey duduk disampingnya.
“Aku hanya kelelahan, pangeran. Tidak perlu khawatir.” jawabnya lemah, sesekali menarik nafas berat. “Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, pangeran ku.” lanjutnya, kemudian batuk terpingkal sampai-sampai Grey panik dan membantu dayang untuk mendudukkan raja Harllotte. “Tidak apa-apa.” katanya, sambil meminta Grey untuk melepaskan rengkuhan pada kedua lengan, dan juga tatapan khawatir yang ditujukan untuknya.
“Apa yang ingin kakek sampaikan kepadaku?” kali ini, Grey menyebutnya kakek. Sejak dulu, dia selalu ingin memanggil raja dengan sebutan kakek, akan tetapi tidak pernah terwujud karena status dan citra mereka didepan rakyat sebagai seorang raja dan pangeran.
“Aku, ingin segera menobatkanmu menjadi raja.”
Grey mengerutkan dahi. Rasa takut yang coba ia sembunyikan, kini muncul ke permukaan. Ketakutan itu merayap perlahan dan semakin menguasai benak Grey ketika raja menatapnya dengan tatapan nyaris kosong.
“Tapi anda masih bisa memerintah di kerajaan Geogini, yang mulia.”
“Tidak. Aku tidak ingin semuanya terlambat. Aku ingin melihat dirimu menjadi raja menggantikan aku.”
Seketika itu, Grey sadar jika keadaan Harllotte memang sedang buruk, tidak baik-baik saja. Dan tanggung jawab Geogini masihlah panjang.
“Anda akan sembuh, yang mulia. Anda juga akan melihat cicit anda lahir, lalu bermain bersamanya, dan juga—”
“Yohan, maafkan kakek untuk semua itu. Kakek akan sangat senang jika memang umur kakek sampai di sana, sesuai apa yang kamu dan kakek, atau bahkan putri Ivory inginkan. Tapi umur bukan kakek yang menentukan. Kakek hanya ingin yang terbaik untuk kalian, untuk Geogini.” seru Harllotte dengan suara bergetar dan tersengal.
“Kakek...” panggil Grey sendu dalam tunduk. Dan tanpa terasa air matanya jatuh.
Apakah memang ia harus kehilangan orang tersayang yang ia miliki sekali lagi? Grey hanya memiliki Harllotte yang selalu memberinya kekuatan, yang selalu memperhatikan dan memastikan kehidupannya tercukupi. Harllotte lah satu-satunya orang yang menyayangi dia dalam kehidupan Grey yang terasa hampa, kosong tanpa warna, sebelum Ivory hadir.
“Persiapkan dirimu. Kakek juga sudah memerintahkan mereka untuk mempersiapkan semua hal yang diperlukan untuk menobatkan dirimu menjadi raja hari ini.”
Grey tergugu diatas telapak tangan Harllotte yang berkerut, dan semakin larut dalam tangis ketika kepalanya di sambut sebuah usapan lembut oleh sang raja yang juga berperan sebagai kakek dan orang tua baginya.
Ivory pun merasakan hal yang sama. Ia menangis tak tertahan saat melihat Grey dan Harllotte yang berada dalam kesedihan. Ivory merasa sakit di dadanya melihat bagaimana pria tua itu terlihat lemah.
“Putri Ivory,”
Mendengar namanya disebut, Ivory berjalan mendekat. Ia mengusap air mata di pipinya kemudian duduk bertumpu lutut disisi raja Harllotte yang kini menatapnya lembut.
“Tolong jaga pangeran Grey. Buat dia bahagia, dan jangan pernah tinggalkan dia apapun yang terjadi.”
Ivory mengangguk. Ia memang tidak ada niat sedikitpun untuk berpaling, apalagi meninggalkan Grey.
“Jadilah teman hidup Grey untuk selamanya, tegur dia jika dia melakukan kesalahan. Jadilah penasehat terbaik untuk Grey. Dan jadilah panutan yang baik dan bersahaja untuk rakyat kalian nanti.”
Sekali lagi Green mengangguk. Ia meletakkan kepalanya di atas telapak tangan Grey dan menangis disana.
“Dan, maafkan aku sudah membuatmu terkurung di istana.”
“Lilac tidak pernah mengurus Grey karena harus tinggal di Denham. Grey terkadang manja seperti anak-anak. Jadi, jangan marahi dia, ya?”
Ivory tertawa ditengah tangis ketika mendengar gurauan sang raja. “ Saya akan memukul pantatnya jika dia merengek seperti bayi.” jawaban Ivory sukses membuat ketiganya tertawa. Dan keadaan kembali sendu ketika raja Harllotte menyatukan telapak tangan Ivory dan Grey.
“Berjanjilah untuk setia sampai ajal menjemput kalian. Saling menjaga, saling mengerti, dan saling mengasihi.”
Grey membungkuk, mencium telapak tangan sang kakek. “Aku berjanji akan mencintai dan menjaga putri Ivory dengan seluruh jiwa ragaku, kakek.”
“Pergilah ke ruang utama istana. Aku akan menyusul.”
...***...
Disinilah mereka saat ini. Disaksikan oleh beberapa pejabat kerajaan yang sudah sangat mengenal sosok Grey. Mereka mengulas senyum bahagia ketika mahkota itu tersemat diatas kepala Grey. Sejak hari ini, Grey adalah raja. Semua tanggung jawab kerajaan dilimpahkan kepadanya. Dia pemilik Geogini.
Ivory, dia berdiri disisi Grey dengan gaun indah dan juga mahkota ratu yang selama ini disimpan sang raja, setelah ratu yang sangat ia cintai itu kembali kepada sang pencipta. Mereka berdua adalah raja dan ratu baru yang akan menjadi panutan di Geogini. Mereka yang akan menjadi nahkoda dan membawa Geogini menuju ke arah kemakmuran. Junot tertawa bangga, tepukan tangan darinya terdengar paling lantang, Junot adalah satu dari sekian banyak orang yang berharap Grey segera menjadi raja.
Acara berlanjut dengan menemui rakyat Geogini dari balkon kerajaan—tradisi yang sudah ada sejak dulu. Grey dan Ivory melambai kepada rakyat mereka. Dan sambutan bahagia begitu antusias diberikan untuk keduanya.
Ivory menoleh ke arah Grey yang sedang melambaikan tangan, menatap profil wajah itu lamat-lamat. Setelah menerima gelar menjadi seorang raja, suaminya itu akan mengemban tanggung jawab yang sangat berat di kedua bahu nya. Mempertaruhkan hidup dan mati untuk kemakmuran rakyat Geogini, serta menjaga Ivory dengan segenap jiwa dan raga. Ivory menatap sendu, dan menitihkan air mata tanpa sadar, kemudian mengucapkan, “Aku mencintaimu, pangeran.”
Pangeran Grey yang mendengar itu menoleh terkejut. Ia bahkan tidak peduli pada riuhnya tepuk tangan, dengan gerakan cepat meraih pinggang kecil Ivory, mematri manik mata wanitanya yang basah oleh air mata, lantas mengusap dengan hati-hati. “Kenapa menangis?”
Tidak ada kata-kata apapun yang mampu Ivory ucapkan. Mungkin menjadi raja adalah impian banyak orang diluar sana, yang tidak mengerti sepenuhnya makna menjadi seorang raja, makna menjadi seorang pemimpin. Namun disini, Ivory dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri, Grey harus rela jika harus menyerahkan hidupnya suatu saat nanti. “Apa aku membuat kesalahan?”
“Tidak. Aku hanya bangga memiliki suami seperti anda, raja.”
Grey tersenyum manis. Ia menarik Ivory kedalam pelukan dan mencium puncak kepalanya penuh cinta. “Terima kasih sudah hadir dalam hidupku.”
Ivory mengeratkan pelukan di pinggang Grey, membenamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.
Hingga sebuah kepanikan menghentikan segala riuh kegembiraan penyambutan status raja baru di Geogini.
“Maafkan saya, Raja.” ucap seorang penjaga istana dengan nafas terengah dan wajah pucat ketakutan. “Raja Harllotte—”
Belum selesai sang penjaga itu bicara, Grey sudah terlebih dahulu berlari meninggalkan balkon. Diikuti Ivory dan juga beberapa orang penting lainnya—termasuk Junot—untuk melihat kondisi Harllotte.
Betapa menyakitkannya pemandangan yang sampai pada penglihatan Grey ketika ia tiba dimana kakeknya berada. Sang kakek diam. Tanpa suara, tanpa nafas. Raja Harllotte telah tutup usia.
Grey jatuh terduduk di lantai kamar. Kedua matanya dipenuhi airmata yang menganak sungai. Semua kenangan bersama sang kakek terputar dalam benak Grey. Dia kehilangan pilar hidupnya. Kakeknya yang berharga telah pergi untuk selamanya.[]
Bersambung.
...______________...
...Penasaran dengan isi permintaan Green kepada raja Aruchi? Silahkan baca di kisah Green, nanti ya...🤭 Masih pending, sampai Ivory tamat....
...Terima kasih untuk yang sudah memberikan like, komentar serta hadiah untuk kisah Grey dan Ivory. Akan ada dua bab terakhir, dan satu bab Epilog. Jadi jangan sampai ketinggalan akhir cerita mereka....
...See You....