
Masalah baru yang muncul ketika mereka sampai didepan pintu perbatasan Geogini adalah, pagar baja itu dijaga ketat oleh prajurit berpakaian lengkap dengan busur panah, pedang, dan juga tombak.
“Kamu tidak mengingat wajahku? Aku Ivory, istri pangeran Grey.” ketus Ivory ketika tiga prajurit perbatasan itu menahannya untuk memasuki wilayahnya sendiri.
Green mendengus malas. Wajahnya menatap jengah dan bola matanya berputar sekilas ketika tau jika Ivory itu, selain sering bertingkah konyol, gadis itu memang terlalu sempit pemikirannya. “Hei, mereka menahan kita bukan karena tidak mengingat wajahmu. Tapi karena kamu membawaku.”
Seketika itu Ivory memutar tubuh, menilik wajah Green yang sedang menatapnya lurus.
“Oh, ya. Kamu ada benarnya.”
Dan ya, Green tetap mengikuti Ivory sampai ke Geogini, meski sempat berdebat dan terjadi pertengkaran sengit dihutan, namun pada akhirnya Green ikut karena Ivory tetap memaksanya.
“Kalau begitu, panggil pangeran Grey kesini.” teriak Ivory tak kenal lelah.
Seorang penjaga lain muncul tiba-tiba, dan satu penjaga yang sedari tadi getol menahan Ivory, akhirnya membuka pintu baja itu setelah mendapat bisikan dari kawan seperjuangannya.
Untung saja mereka muncul di gerbang Utara, jadi jarak antara perbatasan dan istana tidak terlalu jauh.
“Pangeran memberi kalian izin.”
Ivory melompat senang. Ia menggandeng lengan Green dan menarik paksa agar kembali ikut bersamanya memasuki kawasan Geogini. Akan tetapi, belum genap langkah mereka meninggalkan pintu gerbang baja itu, sebuah suara baritone menghentikan langkah Ivory dan Green.
“Tolong berhenti sebentar. Aku hanya ingin memastikan dia bersih.” ucap Junot, membuat wajah kaku Green kembali.
Laki-laki berpawakan tinggi tegap itu turun dari punggung kuda, lantas ia berjalan mendekati Green dengan tatapan penuh telisik dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Berbalik.” titahnya, memaksa Green untuk memunggungi presensi tersebut.
Telapak tangan Junot mendarat di bahu Green, lantas turun menyusuri lekuk pinggang dan melewati area pinggul. Berlanjut menyusuri kedua kaki jenjang Green yang memang membawa beberapa benda tajam untuk pertahanan diri dihutan.
Junot mendongak, menyuguhkan seringai sembari menarik satu persatu pisau kecil yang terselip dibalik celana dan sepatu usang yang dikenakan Green. “Gadis berbahaya.” kelakar Junot, masih dengan seringai dibibirnya, yang entah mengapa mematik debar didada Green.
“Panglima Jun, kami dari—”
Ucapan Ivory terpenggal oleh suara Green yang tak kalah dingin ketika menjawab kelakar Junot.
“Aku butuh itu untuk melindungi diriku.”
“Oh ya?” tanya Junot sembari berdiri sedikit demi sedikit sembari menyusuri kaki Green semakin keatas.
Green hanya mampu menyembunyikan debaran berantakan jantungnya. Ini pertama kali dirinya di sentuh seorang laki-laki. Dan perlu dia tegaskan pada dirinya sendiri, jika pria yang sedang berdiri didepannya itu memang tampan.
“Apa yang dia katakan itu benar, Panglima Jun. Kami melewati hutan yang begitu berbahaya dan tidak tau kapan akan muncul hewan buas yang ingin memangsa kami.”
Junot memicing ketika mengingat sesuatu. “Dimana dayangmu, putri?”
Raut Ivory berubah sendu. Lalu dengan suara serak, penuh penyesalan dan manik berkabut, Ivory menjawab. “Dia tidak selamat. Maafkan aku.”
Seketika Junot sadar jika hutan itu benar-benar berbahaya. Dia memutar arah pandang ke arah Green, yang kemudian diberi tatapan sengit dengan seringai tidak kalah mendominasi.
“P-pangeran menunggu kalian.” lanjut Junot gugup ketika menyadari gadis bernama Green itu memiliki aura yang begitu kuat. Matanya yang indah membuat Junot sempat terpanah.
Ivory kembali meraih pergelangan tangan Green dan mengajaknya bergegas.
Dan sesampainya didepan gerbang istana, pangeran Grey berlari menyambut Ivory dalam pelukan. Ia hampir saja menitihkan airmata jika Ivory tidak mengatakan jika dia baik-baik saja. Grey tau keputusannya salah telah membuat Ivory harus pergi dari sisinya.
“Bodoh!”
Lihat. Dia tetap saja berprilaku sok tidak perhatian. Padahal pada kenyataannya, dia sangat mengkhawatirkan Ivory dan tidak bisa tidur lelap dua hari ini.
“Bodoh?” tanya Ivory. Ia tidak menyangka, setelah perjuangannya melewati maut di hutan, ketika sampai disini, dia malah mendapat kalimat yang seharusnya tidak perlu ia dengar.
Grey kembali membawa tubuh Ivory dalam pelukan. Ia tidak bermaksud demikian. Dia hanya ingin merutuki dirinya sendiri yang terlalu bodoh sudah membiarkan Ivory meninggalkannya. Namun terlepas dari semua, ia merasa lega karena Ivory baik-baik saja.
“Tidak. Aku merindukanmu.” Grey memejam, menghirup aroma yang masih sama, lembut Vanilla yang bercampur harum bayi. Oh tunggu. Apa Ivory sudah mandi?
“Kamu sudah mandi?” tanya Grey penasaran sambil menjauhkan diri.
Ivory yang merasa tidak enak, mencium pakaian sekitar ketiak dan menarik keatas pakaiannya dari dada menuju hidung. “Apa aku bau?” tanyanya khawatir jika dia memang benar-benar menimbulkan bau tidak sedap. “Astaga, bagaimana ini?”
“Tidak, putri. Aku hanya bertanya asal.”
Ivory menatap datar suaminya. Ia hanya sia-sia sudah khawatir pada bau badannya. Ah, menyebalkan sekali.
Pemandangan lalu lalang para prajurit memang tidak bisa terhindarkan. Mereka sibuk berlarian kesana-kemari, membawa senjata ini dan itu, serta membawa seperti meriam, dan juga molotof. Memangnya ada apa?
“Mengapa mereka sibuk sekali, pangeran? Ada apa?”
Pertanyaan Ivory juga mampu mengembalikan kesadaran Green dan Junot. Dua presensi yang sempat menikmati drama nyata antara sang pangeran dan putri itu harus berakhir. Green juga penasaran, karena situasi seperti ini tidak pernah ia lihat sebelumnya.
“Aku akan membawamu kesuatu tempat.” suara Grey menarik atensi Ivory. Gadis itu menatap dengan binar yang berkelip bak isi galaksi ada didalam sana. Ini adalah pemandangan yang paling disukai Grey. Ivory adalah semestanya. “Tapi berjanjilah kepadaku, untuk tetap mengendalikan diri.”
Dahi Ivory berkerut. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Ivory semakin gusar karena pernyataan Grey yang tidak ia ketahui maksudnya.
“Dia, siapa?” tanya Grey, mengarahkan jari telunjuknya kearah dimana Green berdiri.
“Dia temanku.”
“Teman? Lalu dimana dayangmu?”
Sekali lagi pertanyaan itu membuat pilu dihari Ivory. Dia sudah tidak lagi bisa menahan tangis dan berusaha tegar ketika menyampaikan kabar duka dari Fucia. Ivory menangis didepan Grey. Hingga lengan kokoh Grey meraihnya, memeluk, dan mengusap surainya yang berantakan. “Dayang Fucia, tidak selamat.”
Tangisan Ivory semakin kencang, hingga Grey bingung harus melakukan apa. Dia hanya mengusap Surai dan punggung Ivory secara lembut, berusaha menyalurkan ketenangan dan kasih sayang yang ia miliki. “Tidak apa-apa. Dia orang baik, dia adalah orang yang berjasa dan akan selalu dikenang nantinya oleh rakyat Geogini karena telah menyelamatkan putri dari bahaya.”
Ivory semakin tergugu. Selama ia berada di istana, Fucia selalu menjadi teman baik yang selalu ada disaat dia senang atau susah. Jadi, kepergian Fucia adalah sebuah pukulan yang menyakitkan untuk Ivory.
“Coba katakan padaku, bagaimana kamu bisa bertemu dengan dia dihutan.”
Ivory menarik diri, mengusap air matanya, kemudian melihat Green yang berdiri disamping Junot.
“Dia juga orang yang berjasa menyelamatkan aku dari bahaya ketika di hutan.”
Grey menatap lurus pada manik Green yang kini menatap tak kalah tajam.
“Namanya Green. Honey Green.”[]
Bersambung.
...Hai,...
...Mau minta pendapat Readers sekalian nih....
...Vi's mau membuat cerita baru setelah Ivory tamat. Kira-kira, kalian lebih suka yang mana?...
...Rate masih sama 18—20+. Dan Untuk Jumlah bab nya, sama seperti ceritaku yang lain, tidak akan panjang seperti ular yang berbelit di pohon kesemek. 😂...
Tolong berikan masukan ya readers yang baik hati. Ketik sesuai warna mereka di kolom komentar, cerita mana yang kalian pilih.
Hijau Untuk GREEN.
Biru Untuk Romantic Couple.
Vi's ucapkan terima kasih jika kalian bersedia memberi vote/masukan untuk ceritanya.
See You.
—