
Raja Harllotte Geogini berdiri dengan kedua lengan tertaut dibalik punggung, memandang bebas kearah bentangan luas Padang rumput yang ada dibelakang istana utama. Balkon luas berubin marmer itu terasa begitu menyenangkan untuk dijadikan tempat berbincang-bincang sore sembari diterpa angin berhembus sedikit dingin yang berasal dari pegunungan gletser.
“Nyonya Maria memberitahuku, jika putri Ivory sudah hampir menyelesaikan pelajarannya.”
Pangeran Grey diam tidak memberi tanggapan. Dia lebih memilih menatap lurus kearah beberapa ekor sapi yang dibiarkan bebas memakan rerumputan disana.
“Bagaimana hubungan kalian? Sudah ada perkembangan?” tanya Raja, yang kali ini berhasil menarik atensi Cucunya yang memang memiliki watak sedikit dingin. Sama seperti mendiang putra semata wayangnya dulu. “Aku sudah tidak sabar menyematkan mahkota di kepalanya, dan dia menjadi putri dari pangeran Grey Yohansen Geogini.” kelakarnya, mencoba membuat lelucon kaku, agar wajah datar Grey berubah ekspresi menjadi lebih menyenangkan, tidak dingin atau bahkan lebih terlihat, masam.
“Kami baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir.”
Sang raja tersenyum tulus. Dia pikir, Ivory memang pandai membawa diri. Terbukti, akhir-akhir ini suasana istana menjadi lebih hidup karena tingkahnya yang kadang membuat beberapa penjaga atau dayang istana kerepotan. Mengingat itu, raja jadi kembali tersedot pada kenangan lamanya bersama sang istri dulu. Walaupun Ivory terbilang jauh lebih aktif, dan caranya yang unik. Raja senang, dia malah berharap suasana istana tidak membosankan seperti sebelumnya.
“Dia gadis baik. Kakek jadi ingat mendiang nenekmu dulu.” lanjut Raja Harllotte dengan senyuman mengembang lebih lebar di wajahnya yang berkerut. “Dulu, nenekmu juga membuat suasana istana menjadi menyenangkan. Meskipun caranya berbeda dengan putri Ivory.”
Grey hanya diam memperhatikan wajah berseri sang kakek ketika mengingat masa lalu yang sepertinya menyenangkan.
“Dulu, kakek juga sama sekali tidak mencintai nenekmu.” Grey tercenung. Biasanya sang kakek akan mengajaknya membicarakan tentang politik, hubungan bilateral, atau beberapa trik peperangan jika tiba-tiba kerajaan mereka di sabotase oleh musuh. Tapi hari ini, dia dipanggil untuk mendengarkan cerita masa lalu yang menurut kakeknya pasti sangat menyenangkan untuk dikenang. Grey benar-benar bisa melihat binar bahagia itu diraut sang kakek. “Sama juga seperti dirimu yang tidak mencintai putri Ivory.”
Jika sudah terjerembab seperti ini, yang bisa Grey lakukan hanya menikmati setiap rasa sakit, atau bahkan luka yang tanpa sengaja menggores satu bagian dirinya.
“Kakek bisa melihat dari caramu memandang putri. Kamu sangat tidak menyukai kehadirannya bukan?”
Iya. Kakeknya tidak salah sama sekali. Tapi, sedikit demi sedikit, perasaan itu seperti berubah karena kebiasaan. Kebiasaan Ivory yang membuatnya jengah, kebiasaan Ivory yang sering membuatnya nyaris menderita sakit jantung karena tekanan darah yang selalu meningkat, dan satu kebiasaan lain, Ivory selalu menyuguhkan senyuman tulus yang khas, murni seperti anak kecil yang tidak pernah bisa berbohong. Grey menyukai cara Ivory tersenyum. Begitu indah.
“Kakek tidak salah dalam hal ini.” jawab Grey, menutupi dan menyangkal apapun yang akhir-akhir ini selalu ia tepis. Tentang dirinya yang perlahan bisa menerima kehadiran Ivory, meskipun sedikit terpaksa.
“Coba terima dia apa adanya. Maka semua rasa tidak sukamu itu akan berubah menjadi rasa kagum.” ujar Raja memberi wejangan dari pengalaman masa lalu.
Grey menarik sudut bibirnya kaku. Ia bahkan menghela nafas samar ketika ingin sekali menolak saran yang diberikan sang kakek.
“Saya akan mencobanya, suatu saat nanti.”
Pernyataan itu sukses membuat raja Harllotte menoleh. Mencari-cari letak ke egoisan sang cucu.
“Mengapa suatu saat? Bukan sekarang?”
Grey kembali bungkam. Tidak ada alasan yang ingin ia perjelas yang mungkin akan jadi melebar dan tidak memiliki ujung hingga membawa-bawa nama lain didalam percakapan mereka.
Kemudian, pada detik berikutnya, raja Harllotte menemukan jawaban yang coba disembunyikan oleh sang cucu.
“Karena putri Dayana?”
Grey terpelatuk hingga nyaris menyangkal. Tapi ia tetap memilih diam sembari menunggu raja Harllotte kembali bersuara.
“Yohan, kakek sengaja mengadakan sayembara itu, agar kamu bisa melupakan Yana dengan bersama gadis lain yang bisa kamu jadikan istri. Bukan Dayana. Dia keluargamu.”
Baiklah. Ini memang sedikit menyakitkan, tapi Grey tidak menanggapi raja dan menunduk memperhatikan telapak tangannya yang sedang menggenggam erat pagar besi membentuk ornamen meliuk sebagai pembatas balkon.
“Kakek harap kamu melupakan Dayana.”
“Yohan tidak bisa, kek.”
“Kenapa?”
Raja Harllotte menahan buncahan amarah yang tiba-tiba saja menggelegak naik membakar ulu hati dan juga pikirannya.
“Yohan mencintai dia. Dia adalah cinta pertama Yohan dan masih menjadi yang pertama hingga hari ini. Yohan tidak ingin bergerak ke hati lain, apalagi putri Ivory.”
...***...
Ivory berjalan melewati lorong istana yang panjang dan seperti tidak memiliki ujung. Ia berniat pergi dari sini sebelum raja Harllotte melihat dan mengajaknya bergabung bersama untuk menikmati rasa sakit hati diantara bentangan pemandangan sore di balkon istana utama yang sangat indah.
Ivory bahkan tersenyum ketika tanpa sadar mendengar pembicaraan mereka. Pembicaraan raja Harllotte dan pangeran Grey. Pembicaraan mereka berdua yang seharusnya tidak pernah ia dengar.
Dia adalah cinta pertama Yohan dan masih menjadi yang pertama hingga hari ini. Yohan tidak ingin bergerak ke hati lain, apalagi putri Ivory.
Kata-kata itu, bak sebuah belati yang dilesatkan tepat di rongga dada. Ivory mengayunkan kakinya yang sedang berjalan itu membentuk sebuah gerakan memantul, kaki kanan dan kiri bergantian, ceria, seperti tanpa beban. Lebih baik begitu, maka ia akan sanggup bertahan lama disini. Hidup terjamin dan tidak kekurangan satu apapun, meskipun ia harus menebus semua itu dengan dirinya sendiri, kebahagiaan yang begitu ia inginkan meskipun tidak berada di istana.
Hingga dia sampai diujung lorong, lantas bersiap menuruni anak tangga satu persatu. Namun suara yang lebih ringan dan manis dari milik Grey menyapa hingga membuatnya terkejut dan menoleh ke arah sumber suara.
“Hai nona. Siapa dirimu?”
Ivory memicing. Wajah orang ini tidak asing. Dia sempat melihatnya, tapi entah dimana, ia tidak ingat.
Ivory memutar pandangan ke sepanjang lorong , dan kembali melihat kearah seorang pemuda yang memiliki tubuh hampir sama tingginya dengan pangeran Grey. Wajah mereka juga ada sedikit kemiripan, dibagian bibir, mata, serta rahang. Ya. Kira-kira begitulah detailnya. Ivory tidak memungkiri jika dia mulai menghafal fitur wajah pangeran Grey selama hampir dua bulan tinggal di istana.
“Aku?” tanya Ivory, menunjuk dirinya sendiri dengan wajah terlampau polos dan konyol, membuat pemilik rambut ikal itu tertawa melihatnya.
“Ah, kamu sangat lucu.”
Baru sore ini dia mendengar satu pujian dari penghuni istana, tentu saja selain Fucia yang tidak pernah lelah memuji kecantikannya. Nama Fucia disebut, mendadak, Ivory jadi teringat kepada sahabatnya itu.
“Maaf.” ucap Ivory, kemudian berlari menuruni anak tangga tanpa berniat kembali menoleh kebelakang, dimana laki-laki yang tidak ia ketahui namanya itu berada.
Tidak mendapat jawaban, tapi semakin dibuat penasaran. Panglima Junot menggeleng beberapa kali dan tersenyum ketika mulai terbelenggu pesona gadis misterius tersebut.
“Siapa dia? Apa dia member baru istana?”
Junot sungguh tidak tau perihal Ivory. Dia baru saja kembali dari tugasnya membela kebenaran, mempersatukan wilayah yang sedang berseteru, serta menjaga perdamaian di kerajaan seberang laut, yang hampir setahun ini menyibukkan dirinya.
Sepatu boots kulit setinggi lutut yang membungkus kaki itu kembali melangkah. Ia menuju sebuah tempat yang sangat ia rindukan . Sosok yang akan menyambut dan memberikan dia rengkuhan hangat yang tidak pernah ia rasakan sejak membuka mata dan tiba-tiba membawanya untuk mengenal dunia.
Junot sendiri adalah panglima perang yang tidak pernah gagal membawa kemenangan. Ia begitu disegani dan ditakuti beberapa kerajaan besar diluar Geogini. Dan ya, dia juga berteman dengan pangeran Grey.
Pintu yang terbuka itu ia lewati begitu saja. Senyumannya melebar kala mendapati punggung yang dulunya begitu lebar dan terlihat kokoh ketika masih berusia setengah abad, sosok yang sangat ia hormati, dan sosok yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya.
“Selamat sore, yang mulia.” sapanya, bernada sedikit tinggi, dan membuat Grey juga menoleh, sama seperti yang dilakukan sang raja.
“Jun. Kamu sudah kembali?”
Junot mengangguk sebagai jawaban, kemudian ia mempercepat langkah dan memeluk penuh rasa rindu kepada raja. Lalu mengulurkan tangan ketika ia berdiri didepan pangeran Grey.
Jangan anggap hubungan mereka baik-baik saja. Grey dan Junot itu memiliki visi dan misi yang berbeda. Terutama dalam hal asmara.
“Lama tidak bertemu dengan anda, pangeran.”
Grey tidak membalas uluran tangan Junot. Ia muak sekali ketika mengetahui saingannya untuk memiliki Dayana itu sudah kembali dari tugasnya. Itu artinya, dia harus bekerja lebih ekstra untuk menjaga gadis yangbia anggap sebagai milinya mutlak. Akan tetapi, sebuah kalimat tanga yang di cetuskan oleh Junot setelah ia abaikan menjadi hal yang kini membuat Grey merasa tidak nyaman.
“Yang mulia, hamba bertemu dengan seorang gadis di lorong tadi.”
“Oh astaga. Bagaimana aku bisa melupakan putri Ivory? Padahal aku mengundangnya untuk datang dan bergabung disini.”
“Putri Ivory?” tanya Junot, masih belum bisa mencerna situasi dengan benar.
“Ya. Ivory. Calon istriku.” []
...Bersambung....
...🍃🍃🍃...
...Jangan lupa tinggalkan Like dan komentarnya. Tambahkan juga sebagai favorit, serta follow akun penulis....
...Thanks,...
...See You....