
...Hai, How's your day?...
...Happy Reading....
...•...
Keadaan Ivory sudah membaik. Setelah sempat tidak bisa berjalan dengan baik karena rasa sakit di area pribadinya akibat ulah pangeran Grey yang tidak ingin menyudahi malam pertama mereka hanya dengan satu kali permainan, kini rasa tidak nyaman itu sudah sedikit menghilang.
Grey sibuk memakai pakaian kerajaan dan sesekali menoleh ke arah Ivory berada. Gadis itu bergerak lambat dan sesekali mendesis dan memicing.
Ah, aku terlalu berlebihan semalam.
Grey hanya mampu menggumam dalam hati. Hari ini adalah upacara penyambutan kembali untuk mereka yang akan dibawa kembali ke istana setelah sempat menundanya sehari karena keadaan Ivory yang tidak memungkinkan untuk berjalan dengan benar didepan umum.
“Kamu yakin bisa berjalan?”
Sialan. Siapa yang membuat aku jadi seperti ini? Ivory mengumpat keras dalam hati, menatap sengit ke arah Grey, lalu mengangkat gaunnya untuk memperlihatkan kaki indahnya.
“Cepat pakaikan sepatu untukku. Aku tidak bisa membungkuk. Punggungku sakit.”
Grey tersenyum, berjalan mendekat, kemudian membungkuk didepan Ivory untuk memakaikan sepatu sesuai yang diinginkan gadis tersebut. Aroma segar menguar dari Grey menyapa penghidu Ivory, seolah masih membekas disana.
“Apa sekarang pangeran kerajaan Geogini mempunyai pekerjaan baru?” kelakar Grey sambil meraih telapak kaki Ivory yang begitu indah.
Ivory mencebik, bibirnya maju kedepan karena merasa tersindir. “Kalau tidak ikhlas, tidak perlu dilakukan.” jawabnya sambil menarik telapak kaki yang sedang dalam cekalan telapak Grey.
Punggung lebar itu bergerak-gerak, Grey terkekeh dan gemas sendiri dengan kalimat yang diungkapkan oleh Ivory. Selama ini, dia hanya mengenal satu jenis wanita. Dayana. Ya, selama ini dia hanya mengenal Dayana yang tunduk dan selalu patuh terhadap semua perkataan yang ia ucapkan, lalu ia berbalas dengan hal yang sama. Membosankan, tapi selama itu dia cukup menyukai karena tidak ada orang lain yang bisa ia jadikan teman bicara.
Akan tetapi, setelah Ivory hadir, semuanya seperti lebih berwarna. Gadis itu mampu membangkitkan suasana dengan tingkah polahnya yang unik, dan bahkan bisa dikatakan aneh. Gadis itu semaunya sendiri, dan dia tidak sungkan untuk membalas ucapan Grey, alih-alih menjalankan perintahnya.
“Jangan menangis didepan raja.” godanya, yang berhasil mendapat pukulan telak dari Ivory tepat dibahu kanannya. Bahu kanan yang mempunyai luka cakar sedikit dalam karena drama malam penyatuan yang sempat menguras tenaga.
“Aku bukan anak kecil. Mana mungkin menangis didepan raja setelah ditiduri laki-laki yang tidak lain adalah cucunya sendiri.”
Grey meraih satu telapak kaki Ivory yang lainnya. “Jadi, kamu menyukai kegiatan semalam?”
Mendadak, dada Ivory seperti bergetar tanpa diperintah. Jantungnya berdebar dan darahnya berdesir cepat melewati setiap pembuluh darah. Pipinya merona, dan senyuman dibibirnya tidak bisa ia sembunyikan sama sekali.
“Aku anggap itu sebagai jawaban 'Ya'”
Pangeran Grey berdiri dan disusul Ivory yang berjalan mendekati kaca lebar dan tingginya lebih dari tinggi pangeran Grey. Berniat mengalihkan diri agar tidak semakin malu jika Grey menangkap basah dirinya sedang merona, Ivory malah dibuat terkejut oleh Grey yang tiba-tiba muncul dibalik punggung dan melingkarkan kedua lengan kekar di perutnya.
Mereka sama-sama memandangi pantulan diri pada cermin, lantas satu kecupan mendarat dipuncak kepala Ivory. Tinggi Ivory memang cukup ideal. Pucuk kepalanya berada tepat dibawah dagu pangeran Grey, dan sepertinya laki-laki itu menyukai perbandingan tinggi tubuh mereka. Terlihat sepadan.
“Terima kasih untuk semalam.” ucap Grey lembut. Ia menyarangkan dagunya diatas kepala Ivory yang sontak membuat gadis itu bersandar tepat didepan tulang rusuk milik laki-laki nya. “Maaf tidak bisa menahan diri.”
Ivory sedikit menoleh dan mendongak, memperhatikan fitur tegas yang begitu indah dipandang mata.
“Pangeran tidak perlu meminta maaf. Itu bukan sebuah kesalahan.”
Tubuh yang seolah canggung ketika memeluk, kini semakin intens. Grey tidak menyangka jika berdekatan dengan Ivory, akan mematik rasa penasarannya lebih dominan. Meskipun, ya...mereka sudah sama-sama saling tau dan merasakan.
Tiba-tiba saja wajah Grey condong mendekati Ivory, lalu mengecup singkat bibir peach wanitanya itu. Baiklah, katakan dia seorang wanita, karena dia bukan lagi seorang gadis. Dan entah sejak kapan, mencium Ivory harus dan wajib ia lakukan karena ia sangat menyukainya. Rasanya manis dan selalu membuatnya menginginkan lagi dan lagi.
“Ah, baiklah. Aku harus bergegas.” kata Ivory mengalihkan diri. Tidak ingin terpancing dengan perlakuan Grey seperti semalam yang meminta dirinya melakukan hubungan suami istri lagi setelah berciuman.
Sedangkan pribadi bertubuh tinggi tegap itu terkikik karena sikap salah tingkah yang ditunjukkan Ivory.
“Masih ada waktu sebentar untuk melakukannya, mau coba patas?” godanya, yang membuat kepala Ivory menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Pangeran yang terhormat, anda terlalu berlebihan ketika—”
Suara Ivory terputus oleh daun pintu yang tiba-tiba diketuk beberapa kali. Grey juga menunjukkan respons tidak nyaman karena gangguan mendadak itu. Akan tetapi, dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Sebab, tidak akan ada yang berani mengganggu dirinya jika keadaan tidak sedang dalam keadaan genting.
Pintu terayun membuka. Seorang prajurit berdiri dan membungkuk singkat, lantas mulai menyampaikan perihal yang harus diketahui oleh Grey.
Grey merenggangkan dahinya yang sempat mengerut. Jadi, situasinya memang sedang genting. Apa ada masalah?
“Katakan.”
“Seorang pengawal melihat raja Aru memasuki kawasan Geogini. Dia sempat mengirim pesan sehari yang lalu, akan tetapi raja Harllotte menolak permintaannya. Dan sekarang, dia memasuki kawasan kita tanpa izin dengan jumlah pasukan lumayan besar.”
Grey kembali mengerutkan dahi. Mengepalkan tangannya kuat-kuat karena merasa terhina.
“Raja Aru sedang mencari penyusup yang katanya sedang bersembunyi di kawasan Geogini.”
“Penyusup?”
“Ya. Raja Harllotte mengatakan jika raja Aru sempat menyebut penyusup yang mencuri putrinya dua puluh tahun lalu itu sedang bersembunyi di daerah geogini.”
“Baiklah. Aku akan segera menemui raja.”
Ivory yang mendengar Grey mengakhiri pembicaraan dengan orang suruhan raja, segera berlari menjauh dan berdiri di dekat ranjang. Dan disusul pemandangan Grey yang terlihat memasang wajah tidak bersahabat, dan terburu-buru mencari sesuatu.
“Ada apa, pangeran?”
Grey tidak menjawab. Memilih menatap Ivory dengan lembut, lantas mengusap Surai coklat madu itu penuh kasih.
“Tetaplah disini. Aku harus menemui raja dan melakukan sesuatu. Aku akan menyuruh dayang Fucia untuk menemanimu disini selama aku pergi.”
Perasaan khawatir muncul dalam benak Ivory. Grey terlihat tidak tenang dan kalut. Sedangkan dirinya, tidak bisa berbuat apapun selain mengangguk untuk menyanggupi, dan menunggu Grey kembali kepadanya.
“Aku akan segera kembali.”
Untuk beberapa saat, Ivory seperti membeku. Namun hanya bisa menepis satu ketakutan yang terbesit didalam benaknya. Kemudian tersenyum dan meraih lengan Grey untuk ia usap. “Eum. Cepat kembali. Aku menunggumu.”
Grey tersenyum dan menyarangkan satu ciuman di kening Ivory, lalu bergegas pergi dari sana.
Inilah salah satu hal yang ditakutkan Ivory. Kejadian seperti ini bisa terjadi kapanpun tanpa diduga. Dan dia harus rela melepas Grey pergi, entah itu berbahaya atau tidak, membutuhkan waktu lama atau tidak, dan yang lebih membuat Ivory takut ketika membayangkannya adalah, apakah Grey akan kembali kepadanya? atau tidak.
Ya. Dia tidak bisa egois, karena Grey adalah satu dari empat tiang penyangga kerajaan Geogini. Laki-laki itu mempunyai tanggung jawab besar terhadap rakyatnya. Mempunyai kewajiban melindungi, bahkan dengan nyawanya sekalipun.
Tak berselang lama, Fucia datang. Dia segera duduk disisi Ivory dan meraih telapak tangannya karena merasa khawatir dengan raut cemas yang ditunjukkan Ivory.
“Tuan putri kenapa?”
Ivory hanya menatap lurus pada pintu kamar yang sudah kembali ditutup oleh penjaga yang berdiri disana.
“Fu. Apa yang kamu lakukan jika kamu menjadi Ivory?”
Fucia tidak paham dengan maksud ucapan yang terdengar ambigu ditelinga Fucia. Namun gadis itu tidak ingin menutup-nutupi rasa tidak taunya, dan bertanya. “Apa maksud anda, tuan putri?”
Ivory melepas pandangannya dari pintu menuju Fucia. Lantas dengan manik yang mulai berembun, Ivory mengulangi pertanyaannya. “Bagaimana jika kamu jadi aku. Apa kamu akan menahan Pangeran pergi jika terjadi sesuatu yang sama sekali tidak kamu harapkan?”
Fucia terlihat berfikir dan mencari jawaban. Namun jangan remehkan gadis berkulit kuning Langsat itu. Fucia termasuk dayang yang memiliki otak encer dan bisa membuat teduh seseorang dengan kedewasaan yang dia miliki.
“Sekarang, saya ingin bertanya.” ucapnya sembari menautkan pupil matanya kepada mata bulat Ivory. “Jika terjadi sesuatu hal yang sangat genting, dan mengancam banyak nyawa orang lain, apa yang anda lakukan jika anda menjadi seorang pangeran?”
Benar. Seharusnya dia bisa lebih mengerti dan faham untuk satu hal itu. Grey adalah kehidupan Geogini.
“Dia adalah seorang pangeran tuan putri. Jadi, pangeran akan melakukan apapun untuk menyelamatkan banyak nyawa, dari pada mementingkan dirinya sendiri.”
Ivory mengangguk membenarkan. Dia bukanlah orang yang terlalu paham akan hal seperti ini, tapi dia tau, Grey mempunyai sisi kemanusiaan yang begitu kuat.
“Ya. Dia seorang pangeran, dan aku harus bersedia menerima konsekuensinya mulai dari sekarang.”[]
Bersambung.