
...Grey dan Ivory kembali....
...Momen bobrok dan manis mereka berdua akan banyak muncul mulai bab ini....
...Jadi, seberapa menyenangkan hari ini untuk kalian? Semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal buruk dan tetap berada dalam lindungan-Nya....
...Sebelum baca, jangan lupa luangkan waktu untuk memberi like dan juga komentar kalian ya......
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
Ivory berjalan tergesa-gesa. Berlarian kesana-kemari, memandang tak kuasa pada lautan manusia tanpa nyawa, dan anyir yang terus menyapa. Ia mencari satu presensi yang terus membuatnya tidak bisa berfikir tenang. Ivory menangis, memanggil nama Grey berulangkali namun tetap tidak ada sahutan.
Perang memang sudah berakhir, dan pasukan Amber juga mengangkut satu persatu jenazah pasukan mereka yang gugur untuk dibawa ke Amber dan diserahkan kepada keluarga masing-masing. Begitu juga Geogini. Mereka memberi pertolongan untuk prajurit yang terluka, dan akan mengantar jenazah prajurit yang gugur kepada keluarga beserta santunan serta kompensasi sebagai bentuk penghargaan karena mereka rela membela dan memperjuangkan Geogini.
Namun Ivory, masih berputar-putar tanpa berhenti mengusap airmata yang terus meleleh dipipi. Hari sudah semakin gelap, dan suara melody alam yang berbaur dengan rintik hujan yang mulai turun, seolah ingin menghapus jejak menyedihkan yang terjadi hari ini.
“Pangeran...” panggilnya serak, menoleh ke seluruh penjuru agar maniknya menemukan seseorang yang ia cari.
Entah mengapa sulit sekali menemukan Grey untuk hari ini, seperti kehilangan telepati. Biasanya, Ivory akan dengan sangat mudah menemukan presensi suaminya itu meskipun berada diantara lautan manusia yang berkerumun. Ivory juga yakin jika Grey berada disekitar sini, tapi dia tak kunjung menemukannya.
“Pangeran...” panggilnya sekali lagi dengan suara lemah penuh luka, lalu menjatuhkan diri di atas tanah kering yang terasa bertekstur padat dan langit yang sebentar lagi berubah gelap. Membawa ketakutan semakin menguasai segenap benak Ivory. “Dimana kamu?”
Ivory menepuk dadanya yang terasa ngilu. Ia tergugu sebab Grey belum juga ia temukan.
“Pangeran, dimana dia?” pilu nya. Ivory akan hancur jika tidak menemukan pujaan hatinya itu.
Lalu, pada detik berikutnya, Ivory harus jatuh tersungkur ketanah ketika menyadari sedang duduk diatas dada seseorang. Laki-laki itu batuk terpingkal hingga meringkuk seperti seekor pholidota.
“Kau duduk diatas dadaku yang terkena amukan kuda Aruchi, tuan putri.” ucap Grey, lalu kembali terbatuk karena dadanya memang benar-benar terasa nyeri dan paru-parunya terasa dihimpit benda berat. Ah, bukan sekedar benda. Ini masalah bobot tubuh, dan itu adalah Ivory.
“Oh astaga. Kau mengejutkan aku, pangeran.” keluh Ivory sambil bangkit dan berusaha menolong pangeran Grey, membangunkannya pada posisi duduk. “Kenapa kamu tidak menjawab saat aku berteriak memanggil namamu?”
“Aku haus. Tenggorokanku kering, bibirku terluka, dan aku malas berteriak.”
Bagaimana bisa laki-laki didepannya itu bercanda saat luka ditubuhnya terlihat begitu menyakitkan. Dan pada detik berikutnya, Ivory merasakan usapan telapak tangan Grey di pipinya. Ia lantas menangkup telapak itu dan memejam, bersyukur karena Grey masih bisa ia sentuh dan ajak bicara.
“Kamu baik-baik saja kan, putri Ivory?” tanya Grey, memastikan jika sumber kebahagiaan hidupnya itu dalam keadaan baik.
Tanpa aba-aba, Ivory mendaratkan satu ciuman singkat di bibir Grey yang terlihat terluka. Grey mengaduh dalam ciuman tersebut, dan membuat panik Ivory.
“Maaf. Maafkan aku.”
“Tidak. Aku menyukainya.” Sahut Grey cepat, tersenyum tulus meskipun luka sobek dibibirnya harus kembali terasa perih. “Cepat cari pertolongan. Aku sekarat. Aughh...” pintanya manja dan nada mengaduh yang dibuat-buat, namun mampu membuat Ivory panik dan berdiri saat itu juga.
“Tunggu disini dan jangan terlalu banyak bergerak seperti kera yang—”
“Apa?”
...***...
Green duduk termenung sembari bersandar di balik salah satu pilar istana. Tatapannya lurus kearah dimana ia berjalan terseok dengan bantuan Junot tadi. Tatapan matanya juga tidak lelah untuk mendapati para pasukan yang berlalu lalang membawa tubuh teman-teman mereka yang telah gugur.
Apa ini karena dirinya?
Green mencoba mencari titik masalah yang timbul hari ini. Ia bahkan mulai menyalahkan dirinya sendiri melihat apa yang terjadi pada Geogini, kerajaan milik suami temannya.
Tapi semua kegelisahan itu tidak berlangsung lama. Seseorang menyodorkan segelas minuman kepadanya. Green mendongak, melihat Junot berdiri dengan gelas minuman dan beberapa perlengkapan untuk membersihkan luka di tubuhnya.
“Minumlah, lukamu akan cepat kering setelah meminum ramuan ini.” ucap Junot, masih dengan raut datar dan suara tanpa intonasi meyakinkan.
“Kenapa.” tanya Junot seperti tidak berdosa. Ia juga meminum ramuan itu tadi, semua prajurit meminumnya tadi, tapi reaksi mereka tidak berlebihan seperti yang dilakukan Green.
“Apa kamu ingin membunuhku dengan ramuan itu?”
“Memangnya kenapa? Kami semua meminumnya. Dan kami semua masih hidup.”
Astaga, Green salah mencari lawan. Laki-laki ini memang kaku dan tingkat ke-pekaannya berada di level yang mengenaskan. Green menggeleng, tersenyum diujung bibir dan mendesis samar karena luka robek ditangannya itu masih terasa begitu nyata.
Mendengar suara desisan dari bibir Green, Junot memutar arah pandangnya pada lengan Green yang terlihat membengkak dengan luka terbuka yang cukup dalam. Ia bergerak cepat untuk mendekat dan melihat luka tersebut. Awalnya, Green menolak disentuh Junot. Namun ketika manik mereka beradu dan Green mendapati tatapan tajam penuh dominasi milik Junot, tubuhnya sontak melembut, tidak lagi meronta dan memberi akses bagi Junot untuk memeriksa luka di lengannya.
“Lukanya cukup dalam. Kau membutuhkan tabib untuk mengobatinya.”
Sekali lagi dengan gerakan cepat, Junot berdiri dan menghilang dari pandangan Green. Lalu kembali dengan seorang berbaju besar seperti yang pernah ia lihat beberapa kali ketika datang ke pengobatan gratis yang diadakan kerajaan Denham. Laki-laki tua yang berjalan tergopoh-gopoh dibalik punggung lebar Junot adalah seorang tabib.
“Obati luka itu. Pastikan tertutup sempurna dan beri ramuan agar tidak meninggalkan bekas.”
“Serahkan semuanya kepada saya, panglima.”
Tabib itu segera bekerja, membuat jahitan dan juga meracik ramuan untuk diminum dan dibalurkan pada luka Green. Sedangkan Junot, menunggu dengan posisi berdiri di tempatnya semula sembari melipat kedua tangan didepan dada, memperhatikan setiap detail pekerjaan tabib istana yang dikenal handal itu.
Hingga tidak lama kemudian, tabib itu memberikan minuman kepada Green, dan berdiri setelahnya.
“Nona Green akan membaik setelah meminum ramuan ini. Dan saya berharap luka itu akan membaik dengan cepat tanpa meninggalkan bekas.”
Memang, tidak menutup kemungkinan luka itu akan membekas. Sebab, luka gores dari pedang itu terlalu dalam dan cukup panjang. Junot menatap lekat pada sosok Green.
“Ayahmu akan menyesal seumur hidup karena membuat luka itu pada putrinya sendiri.”
“Dia bukan ayahku.” potong Green penuh penekanan, sebab dia memang tidak mau mengakui itu. Semuanya pasti sebuah kesalahan, dan dirinya bukanlah putri dari raja sekejam Aruchi.
Junot tertawa membuang muka. “Hei, dia sudah memastikannya dengan benar, dan mengakui jika kamu adalah putrinya.”
Merasa terpojok dan tidak memiliki alasan untuk mengelak, Green membuang muka penuh perasaan jengkel. Ia tidak mau disebut sebagai putri seorang raja yang tidak berperasaan.
Setiap kejadian yang ia lihat beberapa saat lalu, satu persatu kembali muncul ke dalam ingatannya. Green mengutuk dalam hati jika sampai semua pernyataan pria tua kejam itu adalah kenyataan. Selama ini, Ia hidup dengan baik bersama Skiva, tumbuh besar dengan etika-etika beradab yang diajarkan dengan baik. Tapi mengapa ia lahir dan memiliki seorang ayah seperti Aruchi? Ya. Green belum bisa menerima kenyataan itu dan lebih memilih menolaknya.
Ayo kita pulang, kembali ke tempat dimana kamu berasal.
Bukankah itu konyol? Satu decihan lolos dari bibir Green. Ia tersenyum sarkas dan kembali memutar pandangan, menautkan pada manik Junot yang masih setia berdiri dan memperhatikan disana. “Lalu, apa itu artinya aku harus pulang?”
Pulang.
Mungkin sebagian orang akan merasa bahagia dengan kata itu. Bagi orang yang memiliki cinta dan kasih sayang, mereka akan bahagia disambut oleh sosok yang mereka sayangi ketika sampai di peraduan. Akan tetapi, apa arti sebuah kata pulang atau keluarga bagi Green?
Tidak ada. Tidak ada sama sekali. Rumahnya bukan di istana, rumahnya adalah tempat dimana dia tumbuh besar bersama seorang wanita baik bernama Skiva.
“Aku tidak ingin hidup dengan orang asing. Aku ingin kembali ke tempatku, dimana aku tumbuh besar bersama alam dan seorang ibu yang dengan sangat baik membesarkan aku.”
“Ya. Kau mungkin masih belum bisa menerima kenyataan ini. Aku tidak akan berpihak kepada siapapun. Tapi coba pikirkan, apakah ayah dan ibumu akan berbuat seperti ini jika kamu berada disana sejak saat itu? Mungkin ibu dan kakak keduamu masih hidup sampai sekarang, dan kalian menjadi keluarga utuh jika kejadian nahas itu tidak menimpa mereka.”
Bagaimanapun, orang tua akan melakukan apapun yang terbaik untuk anak-anaknya. Green tertunduk, mencerna ucapan Junot yang seperti sebuah tombak yang digunakan tepat dihatinya. Terlalu sakit untuk dijadikan sebuah kenyataan.
“Mungkin, mereka memang tidak membesarkan dirimu dengan etika sebaik yang kamu miliki saat ini. Tapi aku yakin, mereka akan menjaga dan membesarkan dirimu dengan kehidupan yang lebih layak dari hidupmu saat ini.”[]
Bersambung.
...🍃🍃🍃...
...Junot yang pengertian dan penyabar untuk Green. 😁...
...See You....