IVORY

IVORY
Sebuah permintaan.



...Hai readers baik hati semuanya......


...Mau nyapa pakai bahasa Inggris, tapi takut salah grammar. 😂...


...Jadi intinya, bagaimana kabar readers baik hati semuanya? Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa, serta dijauhkan dari hal-hal buruk....


...Terima kasih untuk dukungan readers sekalian yang masih setia membaca cerita IVORY. Semoga kebaikan menjadi balasan untuk readers semuanya....


...Double up. Mari ramaikan....


...Happy Reading....


...•...


“Mereka hampir sampai tuan putri.”


Ivory yang mendengar suara Fucia dari luar pintu, segera melompat turun dari ranjang dan berlari menuju sumber suara itu berasal.


Setelah merengek meminta pulang untuk bertemu orang tuanya, akhirnya Grey mengabulkan permintaan itu dengan mengundang kedua orang tua Ivory untuk datang berkunjung ke istana, sebab keluar istana di situasi seperti ini sangat tidak memungkinkan. Banyak yang akan memanfaatkan keadaan lengah semacam ini untuk meruntuhkan sebuah pemerintahan kerajaan. Seperti halnya penculikan, bahkan penyerangan yang berujung penghilangan nyawa.


“Benarkah? Ayo antar aku ke istana utama.” seru Ivory setelah berhasil membuka daun pintu kamarnya, lalu melewati dayang setianya itu sambil menarik lengan Fucia, tidak sabar ingin melepas rindu dengan kedua orang yang sangat ia rindukan itu.


Sedangkan diluar sana, di pintu gerbang utama istana, Junot memimpin penyambutan dan memastikan mereka 'bersih' dari segala bentuk benda yang memungkinkan bisa mengancam atau mencelakai raja dan pangeran.


Setelah pintu gerbang terbuka, dua orang muncul dengan sebuah kereta kuda yang terlihat sederhana, membawa beberapa ikat sayur mayur, buah-buahan serta beberapa benda yang menurut Junot seharusnya tidak perlu dibawa. Semuanya diletakkan di bagian belakang kereta.


Kening Junot berkerut ketika mendapati wajah orang tua Ivory. Rasa-rasanya tidak asing dan dia pernah melihatnya disuatu tempat. Tapi, Junot benar-benar tidak ingat dimana dia pernah melihat dua orang itu. Mengesampingkan terkaan di dalam kepala, Junot berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan kecurigaannya. Dia ingin mencari tau dulu siapa mereka berdua sebenarnya, sebelum menjatuhkan dugaan yang belum tentu benar. Junot juga tidak ingin menyakiti perasaan Ivory dengan tuduhan tidak masuk akal yang ia tujukan kepada orang tua gadis tersebut.


“Selamat datang tuan Rontge, nyonya Rose.” sapa Junot santun, membungkuk lima belas derajat dan tersenyum ramah.


“Selamat pagi, panglima.” sahut Rontge, menanggapi sapaan ramah tamah Junot, yang setaunya adalah panglima handal kerajaan Geogini.


“Kami akan memeriksa barang bawaan anda terlebih dahulu. Jadi mohon tunggu sebentar sampai prajurit kami selesai memeriksa.”


Rontge mengangguk, dan Rose membuang wajah congkak. Dari sini, Junot semakin penasaran dengan dua orang ini. Ia yakin pernah melihat mereka, tapi otaknya tidak mau diajak bekerja sama hari ini. Kemudian, Junot memerintahkan dua anak buahnya berjalan ke sisi berbeda dan mulai memeriksa setiap inci kereta kuda itu, tanpa terkecuali.


Sesaat setelah memastikan tidak ada sesuatu yang terlihat mencurigakan atau berbahaya, Junot memberi akses mereka untuk masuk kedalam istana. Menatap punggung kedua orang itu hingga tak lagi terlihat.


...***...


Tidak bisa dipungkiri, setidak menyenangkan perlakuan yang diterima oleh Ivory dari kedua orang tuanya, ia selalu merindukan dan ingin berada di sisi mereka. Bagaimanapun juga, orang tua adalah tempat seorang anak kembali, orang tua adalah rumah dari sekedar rumah bagi seorang anak.


Ivory berjalan cepat dengan manik berkaca-kaca ketika melihat kedua orang tuanya duduk menunggu diruang pertemuan keluarga bersama raja Harllotte, dan juga pangeran Grey. Ivory bahkan tidak menyangka jika diam-diam Grey mendatangkan mereka seperti ini.


“Ibu.” panggil Ivory, membuat semua yang ada disana berbalik menatap kepadanya. Ivory kembali melangkah, memeluk dan meletakkan satu sisi wajah di dada sang ibu. Dia sangat merindukan Rose. Lalu, setelah puas memeluk ibunya, ia berjalan menuju sang ayah dan memeluk tak kalah erat dari sang ibu. “Aku sangat merindukan kalian.”


Grey mengulum senyum dalam tundukan kepala. Sekarang, dia tau mengapa Ivory begitu merindukan orang tuanya. Karena orang tua adalah segalanya, tidak dapat digantikan oleh apapun, berlian mahal sekalipun.


“Padahal, besok kita bertemu. Mengapa pangeran memaksa kami untuk datang satu hari sebelum hari pernikahan diselenggarakan.” ucap Rontge, memulai topik pembicaraan.


Mendengar hal itu, Grey mengangkat wajah seketika, dia malu mengakuinya. Tapi dia memang terpaksa melakukan hal yang diinginkan Ivory, dengan cara memaksa mereka datang karena tidak tega kepada Ivory yang menangis dikamar setelah menemuinya. Fucia bilang, Ivory menangis karena benar-benar ingin bertemu dengan mereka.


Grey yang tidak mau harga dirinya jatuh, menjawab kaku. “Itu karena putri kalian merengek dan menangis semalaman karena aku melarangnya pulang.”


Bibir Ivory cemberut. Seharusnya, pangeran Grey tidak perlu mengatakan yang sebenarnya, dan merahasiakan hal itu.


“Benarkah?” Rontge bersuara sedikit keras, lalu menatap Ivory dengan wajah tidak percaya. Menurut cerita Ivory ketika terakhir kali berkunjung, pangeran Grey itu termasuk orang keras kepala dan tidak mau mengalah, dalam artian egois. Tapi, mengapa sekarang seolah semua yang dikatakan Ivory itu tidak benar. Pangeran Grey sangat pengertian.


“Ayah. Yang terpenting sekarang, ayah dan ibu sudah berada disini, jadi Ivo bisa melihat kalian berdua tanpa harus menahan rindu sampai besok.”


Raja Harllotte yang mendengar celetuk Ivory tertawa lantang. Begitu juga Grey, ada rasa bangga tersendiri dalam hatinya ketika dia melihat senyuman Ivory. Tarzan wanita itu memang memiliki pengaruh yang luar biasa baginya akhir-akhir ini.


“Besok, kalian harus menjadi saksi untuk putri kalian yang akan mengarungi kehidupan baru sebagai seorang putri kerajaan, dan menyandang nama Geogini dibelakang nama aslinya. Dia akan lepas dari tanggung jawab kalian, dan akan menjadi tanggung jawab pangeran Grey sepenuhnya.”


Mendengar itu, hati kecil Ivory menolak keras. Tapi tidak bisa berbuat apapun selain menerima takdirnya. Dia akan menjadi istri seorang calon raja, tidak boleh lagi manja, merengek, menangis, apalagi bergantung kepada orang tua. Dia harus menjadi gadis mandiri, bijaksana, berwibawa dan menjadi panutan rakyatnya setelah ini.


“Saya ada satu permintaan khusus kepada raja.” seru Rose, menarik atensi raja Harllotte dan pangeran Grey.


“Katakan saja nyonya. Kami akan berusaha menyanggupinya, jika memang tidak menyimpang dari ketentuan kami.” tandas raja Harllotte yang kemudian menarik sudut bibir Rose untuk tersenyum tanpa bisa dimengerti maksudnya.


“Beri kami kemudahan akses keluar masuk istana.”


Grey mengernyitkan dahi. Apa maksudnya?


Rose yang sadar sudah salah menata kalimat, segera meralat. “Maksud saya, akses untuk mengunjungi putri kami, karena dia tidak bisa meninggalkan istana hanya untuk mengunjungi kami, setelah menikah nanti. Jadi biarkan kami saja yang mengunjungi dia. Tanpa pemeriksaan.” []


Bersambung.


...🍃🍃🍃...


...Jangan lupa untuk terus mendukung cerita IVORY dengan memberi Like, dan komentar. Serta tekan gambar 💙 agar tidak ketinggalan update part terbaru....


...Ada yang seru-seru loh setelah pernikahan mereka digelar nanti. 🤭...


...Jadi ikuti terus cerita IVORY ya......


...See You Soon....