IVORY

IVORY
Rengkuhan penyelamat.



Dia membenci tempat yang memiliki banyak air. Laut atau, sungai misalnya.


Ivory masih terus berjalan mengikuti Dayana menuju suatu tempat. Tempat yang tidak disebutkan oleh Dayana. Akan tetapi, pemandangan yang dapat dilihat begitu indah. Ivory sampai tidak sadar jika ia sudah mengikuti Dayana sampai di dekat sebuah sungai berukuran sangat besar, yang mendapat aliran air dari pegunungan di belakang istana.


Dayana berhenti di tepian sungai, lalu melambai meminta Ivory agar dia juga berdiri di tempat yang sama. Seketika itu juga Ivory menuruti, meskipun dalam lubuk hatinya dia menolak.


“Kami tumbuh besar bersama.” kenang Dayana. Ia memang berencana menemui Ivory dan menceritakan masa lalu indahnya ketika kanak-kanak bersama pangeran Grey. “Ibu dan ayahku pergi sejak aku bayi. Dan raja yang notabenenya adalah paman dalam silsilah kekeluargaan, membawaku ke istana Geogini dan membesarkan aku dengan gelar putri Geogini, bukan Neora.”


Ivory tercengang. Jadi Dayana terlahir di Neora? Kerajaan yang dibumi hanguskan oleh kerajaan Amber, rival terkuat Geogini.


“Namaku seharusnya berakhir dengan Neora, tapi raja Harllotte dengan baik hati menyematkan Geogini sebagai nama belakang untukku. beliau tidak ingin Amber menemukan aku, saat itu.”


Ivory mulai terbawa suasana cerita dari putri Dayana. Ia merasa kagum akan kelembutan tutur bahasa gadis disampingnya itu dalam menyampaikan cerita. Bibirnya yang merekah begitu indah ketika berbicara.


“Saat itu, pangeran Grey berusia tujuh tahun. Dan seiring waktu berjalan, kami besar menjadi anak-anak yang biasa bermain bahkan tidur di tempat yang sama, sampai pangeran Grey memasuki usia remaja. Kami mulai ditempatkan di tempat berbeda, Raja takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” tuturnya sembari tersenyum anggun.


“Ketika kecil dulu, apa pangeran Grey juga menyebalkan seperti sekarang?” cebik Ivory dengan nada jenaka, membuat tawa Dayana meledak begitu saja.


“Tidak, dia pemuda yang baik, tentu saja. Dia selalu bersikap sopan dan baik kepada setiap orang.”


“Tapi, itu tidak berlaku untukku.”


Dayana mencintai Grey. Semakin hari, rasa cintanya itu semakin tumbuh dan mengakar. Dayana juga tau bagaimana sisi diri Grey yang tidak diketahui oleh orang lain. Seulas senyuman hangat dan sorot yang lembut ia berikan kepada Ivory. Dayana tau maksud perkataan gadis tersebut.


“Benarkah? Tapi, aku merasa jika pangeran Grey sedang mencoba menerima kehadiranmu, putri Ivory.”


“Benarkah? Anda pasti salah lihat, putri Dayana.” tanya Ivory kembali. Pipinya menghangat. Tidak tau apa sebab dan alasannya.


Dayana mengangguk. Sebagai orang yang hidup bersama Grey selama lebih dari dua puluh tahun, Dayana jelas tau bagaimana peringai Pangeran Grey. Hanya saja, pangeran menunjukkan ketertarikannya kepada Ivory dengan cara yang berbeda. “Ya. Dia sepertinya tertarik padamu.”


Ivory tertunduk malu. Dia menahan senyuman dibibirnya hingga terlihat canggung. Ivory belum pernah merasa jatuh cinta atau dicintai oleh seseorang. Ini adalah pertama kalinya, Cinta pertamanya. Cinta pertama yang akan ia pupuk kepada pangeran yang akan menjadi pendamping hidupnya.


“Lihatlah air yang mengalir didepanmu.”


Ivory seolah kembali ditarik kembali oleh kesadaran. Tubuhnya sedikit bergetar, ia ketakutan.


Dayana yang melihat reaksi itu, tersenyum disudut bibirnya.


Ivory diam mematung. Ia bahkan tidak bersuara sama sekali, sebab jantungnya sedang berdebar mengerikan. Ia takut sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.


Tiba-tiba, seekor serangga berukuran besar terbang dan hinggap di depan dada Dayana. Karena terkejut, Dayana tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan jatuh tergelincir kedalam sungai. Ivory melihat Dayana bergerak-gerak naik turun dari dalam air untuk mencari sesuatu yang bisa ia gapai sebagai upaya menyelamatkan dirinya sendiri.


Takut. Trauma akan dirinya dulu terlihat jelas didepan mata, kembali berputar acak seperti kaset rusak yang tidak bisa dikendalikan. Tapi, Ivory tidak bisa hanya diam saja melihat Dayana berjuang sendirian. Ia rasa harus segera melakukan sesuatu agar bisa membuat Dayana keluar dengan selamat dari sungai. Ia berlari panik mencari apapun itu yang bisa ia pergunakan untuk menarik Dayana dari sana. Hingga akhirnya, dia membawa sebuah kayu panjang.


Sambil terus memanggil nama Dayana dengan suara keras, dan menjerit minta pertolongan, Ivory berusaha menyodorkan kayu panjang yang ia temukan, dan berpikir bisa ia pergunakan untuk menarik Dayana keluar dari sana. Tapi nihil, tidak ada hasil.


Berbuat baiklah meskipun kamu belum tentu mendapat balasan yang setimpal. Setidaknya, orang lain akan tau jika kamu adalah orang yang memiliki akal dan Budi pekerti.


Sekelebat petuah ayahnya terbesit.


Gerakkan kedua kakimu seperti menendang udara. Ayunkan lenganmu kedepan secara bergantian. dan jangan lupa, atur pernafasan. Itu adalah kunci.


Ivory memang sempat menguasai beberapa tehnik berenang yang pernah diajarkan oleh sang ayah. Akan tetapi, karena suatu hari kelam ia pernah tenggelam dan hampir tidak terselamatkan, ia tidak pernah lagi mencobanya. Jika melihat tempat luas dan penuh dengan air, Ivory ketakutan sendiri dan refleks menjauhi tempat tersebut.


Kali ini, tidak ada jalan lain selain hanya bermodal nekad. Ivory memberanikan diri untuk menyusul putri Dayana yang hampir terbawa arus. Ia menceburkan diri tanpa berpikir panjang, menyusul dimana putri Dayana berada. Sesekali Ivory juga hampir tenggelam karena sudah lama sekali dia tidak pernah lagi mencoba teknik berenang. Gerakan kakinya kaku, dan kedua tangannya juga tidak bisa bergerak dengan benar. Ivory terbatuk dan beberapa kali meminum air sungai, hingga akhirnya dia berada didekat Putri Dayana. Menariknya keatas sekuat tenaga meskipun itu sangat sulit, dan selalu gagal karena Dayana yang terus meronta. Dan disini lah sebuah pengorbanan sedang mengujinya.


Ivory memutuskan untuk menenggelamkan diri, mendorong Dayana dari dalam air, memberinya dorongan dari dalam agar bisa muncul ke permukaan, kemudian mengarahkan ketepian sungai agar Dayana bisa selamat. Semua Ivory lakukan tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Udara di paru-paru Ivory semakin menipis, ia perlu naik kepermukaan sebentar untuk mengambil udara. Namun nahas, kaki Dayana tiba-tiba menemukan pundak Ivory dan menginjaknya kuat hingga Ivory tidak sanggup lagi bergerak naik menuju permukaan.


Sesak. Paru-parunya sudah tidak ada lagi oksigen, dan kakinya masih kaku. Ivory semakin masuk kedalam air. Mulutnya terus terbuka dan hidungnya terus menghirup air. Ivory tau, ia tidak bisa lagi berharap dan berbuat banyak. Semua seolah berada diujung harapan, Ivory pasrah untuk yang akan terjadi kepadanya. Mungkin hari ini adalah waktu dimana takdir sempat membawanya kembali dari kematian.


Ivory menikmati segala prosesnya. Diam, memejam dalam sakit tanpa berbuat apapun, sampai sebuah rengkuhan kuat ia rasakan. Telapak tangan besar sedang menggenggam erat pergelangan tangannya. Saat itu, dengan sisa kesadaran dan sisa nafas yang ia punya, Ivory membuka mata. Ia melihat punggung lebar itu sedang membawanya menuju permukaan. Punggung yang sangat ia kenali. Punggung yang beberapa kali pernah ia lihat dengan sembunyi-sembunyi ketika sang pemilik berlalu. []


Bersambung.


...🍃🍃🍃...


...Tidak pernah lelah untuk selalu mengingatkan agar Reader baik hati sekalian meninggalkan Like dan juga komentar. tekan Love agar tidak ketinggalan update terbaru cerita IVORY....


...Thanks,...


...See You Soon....