
...Hai,...
...Bagaimana kabarnya hari ini? Aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga puasanya lancar ya......
...Ivory hadir untuk menemani waktu senggang kalian....
...Happy Reading....
...•...
Sepanjang lorong temaram yang menggemakan langkah kaki, setiap udara yang menyapa paru-paru terasa begitu pengab. Satu-satunya sumber cahaya hanya obor yang dibakar dan beberapa lampu minyak yang ditempel didinding yang begitu dingin dan terlihat berkilat. Ivory sempat menyentuh dinding yang terlihat berkilat seperti terguyur air dan lembab itu, dan ternyata memang seperti yang ia lihat. Ruangan ini benar-benar tidak nyaman.
Dalam benaknya, ia bertanya-tanya kemana pangeran Grey akan membawanya, namun ia hanya bisa menyimpan itu dalam hati. Ia mengekor pada punggung gagah sang suami dan berjalan kemanapun pangeran Grey akan membawanya.
Hingga diujung sana, ada sebuah pintu yang terbuat dari besi, jeruji-jerujinya berjarak rapat, dijaga oleh dua orang prajurit disisi kanan dan kiri. Lalu, mereka bergegas membuka pintu itu ketika melihat Grey berjalan ke arah tersebut.
Ivory semakin tidak paham. Namun otaknya dapat mengetahui dengan mudah setelah melihat sel-sel tahanan yang berjejer, dan hanya beberapa yang dihuni. Ini adalah tahanan bawah tanah. Ivory mengangguk membenarkan terkaannya. Lantas di paling ujung, ada sebuah pintu lagi, dan Grey membawanya kesana.
Ruangan ini lebih gelap dan lebih mencekam. Sesekali telinga Ivory menangkap bunyi tetesan air yang entah dlberasal dari arah mana. Ada tiga sel. Sel tahanan yang pertama kosong, begitu pula dengan yang kedua. Grey masih memacu langkah, hingga kini kakinya berhenti pada sel tahanan ketiga. Ivory turut berhenti disana, mengikuti arah pandang Grey.
Bagai dihantam gada tepat di ulu hati, Ivory tanpa berfikir panjang menggapai jeruji besi itu, meremasnya kuat dengan air mata menganak sungai. Ivory menggeleng tidak percaya melihat keadaan sang ayah dan ibu. Kedua presensi tersebut berjalan mendekat dengan langkah terseok dengan wajah lebam yang membuat perasaan hancur. Sang ibu meraih wajah cantik Ivory dengan telapak tangan, menatapnya sendu hingga derai airmatanya turut menyusul membasahi fitur wajahnya.
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi, bu? Mengapa wajah ibu dan ayah lebam begitu?” tanya Ivory, meraih wajah lebam ibu dan ayahnya secara bergantian.
Tidak ada jawaban. Sunyi sesaat, hingga Grey bersuara. “Ibu dan ayahmu menjadi sasaran kesalah pahaman raja Aruchi.”
“Raja Aruchi? Siapa dia? Mengapa mereka membuat kedua orang tuaku menjadi seperti ini.”
Grey menatap manik berair milik Ivory. Lantas mengusap airmata wanita yang sangat ia cintai itu dengan gerakan lembut penuh kasih sayang. “Raja dari kerajaan Amber. Dan besok pagi, aku akan pergi kesana bersama Junot untuk memberitahu jika semuanya hanya kesalah pahaman.”
“Kesalah pahaman?” tanya Rose, yang ditanggapi Grey dengan sebuah anggukan mantap.
“Orangku sudah menemukan bukti jika kalian tidak bersalah. Dua puluh tahun lalu, apa kalian menerima tamu asing?”
Rose dan Rontge saling menatap. Terlihat Rose sedang mengingat-ingat sesuatu, dan ia membelalak ketika mengingat hari itu. Hari dimana sepasang laki-laki bersama wanita datang dan memintanya untuk menyusui seorang bayi.
“Ah, ya. Aku ingat.” sahut Rose dengan manik antusias.
“Sayangnya, dua orang itu sudah menghilang bagai ditelan bumi. Mereka tidak bisa ditemukan di manapun.” terang Grey, lalu dia kembali memandang pada wajah sendu Ivory yang masih terpaku pada kedua orang tuanya. Dalam hati Grey turut merasa bagaimana sakitnya, ketika melihat wanita yang sangat ia cintai itu menangis. “Aku akan menemui raja Aruchi. Bahkan, jika perlu memohon agar kalian berdua dilepaskan.” lanjut Grey tanpa memutus dan mengalihkan pandangan sedikitpun dari fitur Ivory. Hingga gadis itu tersadar dan memeluk Grey.
“Jangan menangis lagi, eumm.”
Ivory mengangguk dengan manik basah. Kali ini, dia terasa berat melepaskan pelukannya, setelah mendengar Grey akan meninggalkannya untuk hal berbahaya yang bisa mengancam nyawa laki-laki itu.
“Berjanjilah lagi, jika kamu akan kembali padaku, pangeran.”
“Aku janji. Dan semoga, semuanya belum terlambat.”
...***...
Green berjalan seorang diri melewati lorong istana yang lengang. Dia menelisik setiap inci bangunan megah berornamen ukiran berbagai jenis bentuk itu. Mulai dari wajah seseorang, gambar dan simbol-simbol yang sama sekali tidak ia ketahui artinya, lalu bunga-bunga bermekaran, dan juga senjata yang digunakan untuk berperang.
Lampu minyak yang menempel di dindingnya menyala cukup terang, namun suasananya tidak begitu Green sukai. Disini terlalu panas, berbeda dengan rumahnya di tengah hutan yang terasa dingin.
Ketika Green hendak menyentuh salah satu ornamen wajah di dinding itu, sebuah suara mengejutkannya. Kedua bahunya terangkat bersamaan karena kejut. Ia terjingkat dan seketika menoleh ke sumber suara. Junot berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu berjalan mendekat sedetik kemudian setelah pupil mereka bertemu dalam kelamnya malam. Jantung Green mendadak berdebar seperti tadi sore, ketika pertama kali telapak tangan laki-laki itu menyusuri lekuk tubuhnya.
Semakin dekat, wajah Junot terlihat semakin jelas di mata Green meskipun pencahayaan oranye itu tidak begitu mendukung. Sebenarnya tidak perlu, sebab Green masih benar-benar mengingat wajah pria itu. Begitu tampan.
Teringat ucapan Ivory pagi hari ketika mereka berjalan dihutan.
Bagaimana jika kamu bertemu seorang laki-laki tampan di Geogini?
Green menarik nafas dan menahannya sejenak ketika tubuh mereka saling berhadapan. Pria itu terlalu tinggi, puncak kepala Green hanya mencapai bahu pria tersebut.
“Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah ini sudah waktunya tidur?” tanya Junot memastikan jika gadis dihadapannya itu tidak sedang meletakkan sesuatu yang bisa membahayakan istana. Ya, Junot tidak bisa percaya dan meremehkan begitu saja gadis ini. Dia membawa senjata tajam yang begitu banyak dibalik pakaiannya tadi sore, tidak menutup kemungkinan jika Green ini memang berbahaya atau mata-mata yang dikirim untuk mengintai dan mencari informasi tentang Geogini . Junot tidak bisa percaya begitu saja dengan alasan yang dibuat di gadis, ia juga tidak ingin gadis ini menambah keonaran saat situasi kerajaan sedang tidak kondusif.
Junot ingat, Grey membawa Ivory ke penjara bawah tanah untuk bertemu ibu dan ayahnya yang sedang ditahan sementara disana. Kepalanya mengangguk, lantas ia menurunkan lengannya yang tadi sempat ia tautkan dibalik punggung.
“Baiklah, lekas tidur setelah putri kembali.”
“Tentu. Tanpa disuruh pun, aku akan tidur.” ketus Green tanpa mau beramah tamah pada laki-laki yang membuat dirinya terasa aneh, tidak bisa tenang seperti biasanya.
Junot tertawa sedikit lebar, lalu berjalan hendak melewati Green. Namun, langkahnya malah berhenti tepat disisi gadis bergaun pink muda dan lembut yang—mungkin—dipinjamkan Ivory, kemudian lengan kekarnya terulur begitu saja meraih puncak kepala Green, lantas menepuknya tiga kali. “Dasar cerewet.”
...***...
Setelah mengetahui keadaan sebenarnya yang sedang terjadi, Ivory terlihat gundah. Ia sama sekali belum bisa menerima bagaimana bisa kedua orang tuanya itu harus menerima kekejaman seperti itu. Ivory seperti menghilang dari dunianya. Berubah murung tanpa senyuman ceria yang biasa ia tunjukkan kepada orang lain.
“Aku akan mencoba memperbaiki semuanya.” tutur Grey, memecah keheningan diantara pengabnya udara bawah tanah di sepanjang lorong, malam ini.
Ivory diam. Tidak ada jawaban yang Grey dengar, membuat langkah kakinya terhenti begitu saja. Ia berbalik, menatap Ivory yang masih menundukkan wajah. Kemudian, perlahan dia mendekat, meraih satu sisi wajah Ivory dan mengusapnya lembut. “Inilah alasanku mengirim mu ke Denham. Aku hanya tidak ingin kamu tau seperti apa kekacauan Geogini. Aku tidak ingin melihatmu seperti ini.”
Apa yang diucapkan Grey itu benar-benar tulus. Dia sama sekali tidak ingin melihat Ivory menjadi diam dan kecewa padanya. Namun berbeda pada sudut pandang Ivory yang merasa di bohongi. Ia marah namun hanya bisa memendam dan menahannya lamat-lamat.
“Tapi tidak dengan menyembunyikan keadaan orang tuaku.” dan semuanya meledak seperti bom waktu. Ivory mencurahkan isi hatinya kepada Grey, tentang kekecewaan karena Grey lebih memilih menutupi kenyataan itu darinya.
Jawaban Ivory menjadi pukulan telak untuk Grey. Memang benar, seharusnya dia tidak perlu menyimpan rahasia apapun yang bisa menjadi bumerang yang akan menyerangnya balik.
Dengan penuh penyesalan, ia meraih Ivory kedalam pelukan, menghadiahi sebuah kecupan dipucuk kepala, kemudian menyandarkan pada dada bidangnya.
“Maaf.”
Ivory masih diam. Dia marah sebab Grey tidak mengatakan semuanya sejak awal.
Mungkin keberuntungan belum berpihak pada keduanya. Grey dan Ivory harus mengakhiri semuanya ketika seorang prajurit terlihat lari tergopoh-gopoh dengan wajah panik yang terlihat begitu nyata. Grey yang melihat hal tersebut, melepas pelukannya dari Ivory, lantas memasang tubuh dan bersiap mendengar kabar apa yang dibawa prajuritnya itu.
Laki-laki bertubuh sedikit kurus itu membungkuk sekilas, nafasnya terengah. Grey memicing, menilik bahu kanan dan kiri si prajurit. Dua garis menyerupai busur panah tersemat di baju besi yang ia kenakan, dia seorang penjaga perbatasan utama yang menghubungkan Geogini dengan hutan selatan.
“Maafkan saya jika harus mengganggu pangeran.”
Grey mengangguk. “Katakan, berita apa yang kau bawa.”
“Saya melihat rombongan dengan jumlah besar dari arah selatan sedang bermalam di tengah hutan, pangeran. Mereka sepertinya hendak menuju ke Geogini.”
Kali ini, Grey mengerutkan dahi. Wajahnya berubah pias dan rahangnya mengerat sarat marah.
“Amber?”
“Belum pasti, tapi kemungkinan anda benar.”
Grey bergerak cepat tanpa membuang waktu, meninggalkan Ivory disana begitu saja. Suasana berada pada puncaknya. Grey tidak lagi bisa mencegah kemungkinan terburuk jika raja Aruchi tiba-tiba datang dan menyerang Geogini.
“Temui Junot. Katakan padanya, agar pasukan inti bersiaga di empat pintu masuk Geogini. Lalu, katakan juga kepadanya untuk mempersenjatai semua pasukan dan menuju pintu selatan. Aku harus menemui raja terlebih dahulu.”
“Baik, pangeran.”
Grey menghilang disudut ruangan, suara dan juga langkah kakinya juga sudah tidak lagi tertangkap Indra perungu Ivory. Gadis itu kembali menitihkan air mata. Kakinya seperti tidak lagi mampu menahan bobot tubuhnya sendiri. Raganya dipaksa menerima semua keadaan yang mungkin akan berakhir tidak seperti yang ia harapkan. Ivory jatuh meringkuk. Ia menyembunyikan wajahnya diantara lipatan lutut, dan menangis disana.
Akankah dia kehilangan Grey? Apakah dia akan kehilangan semuanya? Bahkan dirinya sendiri?
Semua bukti ketakutan yang selama ini menghantuinya berputar-putar didalam kepala. Alasan mengapa ia sama sekali tidak ingin menyentuh kehidupan megah istana yang berbanding terbalik dengan kenyataan. Dan ya, ini adalah konsekuensi. Konsekuensi yang harus ia terima dari sebuah keputusan. Mereka yang semula tidak ada, kemudian hadir, lalu kembali pulang kepada sang pemilik kehidupan. Begitulah sistem kerja kehidupan, bukan? []
Bersambung.
...Luangkan waktu untuk like, komentar, favorit, vote dan juga hadiah jika berkenan....
...Terima kasih....
...See You....