IVORY

IVORY
Akhir sebuah perjalanan.[End]



🔗Rokomendasi playlist yang bisa diputar ketika membaca bab ini—> Endless Story (Original Soundtrack The World Of The Married)


...🧄🧄🧄...


...Happy Reading......


...•...


Adakah setitik harapan untuk menggenggam indahnya masa mengandung?


Ivory mengatakan itu sebelum Grey mendengar semua hal menyakitkan sampai ditelinganya. Grey juga sempat mengharapkan semua bayangan itu menjadi nyata. Namun semua tidak seperti yang ia harapkan tentang sebuah kebahagiaan utuh, semua kesempurnaan itu harus Grey bayar mahal dengan sebuah pengorbanan lain yang siap menghancurkan harapan masa depan yang sempat terbesit begitu indah.


Ivory, wanita yang pernah berjanji untuk selalu berada disisinya sampai menua, harus memilih antara dirinya sendiri atau sang anak. Dan ya, ibu mana yang ingin anak mereka pergi bahkan sebelum sempat melihat gemerlapnya dunia? Ivory mengambil keputusan sepihak. Ia memilih bayinya, dan Grey mendiamkan Ivory selama berbulan-bulan atas keputusan itu.


Tabib istana menyarankan Ivory untuk meluruhkan bayi didalam perutnya, sebab kesehatan Ivory yang semakin buruk ketika mengandung. Tapi Ivory menolak. Ia memilih mempertahankan bayi itu dan merelakan dirinya menjalani kehamilan sulit itu meskipun berat—atau mungkin, sangat berat.


Hari ini, berkat pertolongan beberapa dayang yang bersedia mengantarnya ke tempat Grey berada, Ivory bisa menatap wajah yang sangat ia rindukan itu. Grey benar-benar mewujudkan sumpahnya untuk tidak lagi peduli kepada Ivory karena dia tidak mau mendengarkan pendapat Grey dan memilih keinginannya sendiri meski mengabaikan keselamatan.


Grey acuh, dia menganggap tidak ada siapapun dan tetap memeriksa beberapa surat pajak atau surat-surat penting lain yang perlu ia setujui. Lebih dari pada itu, Ivory tetap menatap wajah sang suami yang terlihat lelah, dan kini terlihat diselimuti ketidak nyamanan sejak kehadirannya disini.


Seulas senyum kembali terbit di wajahnya yang semakin tirus dan pucat itu ketika mendapati Grey tanpa sengaja melirik ke arahnya. Ia sangat bahagia Grey diam-diam memperhatikan dia disana. Ivory akan selalu tersenyum untuk Grey meskipun laki-laki itu tidak melihat.


“Pernah mendengar cerita tentang si beruntung dan si buntung?” tanya Ivory meskipun ia yakin akan tetap tidak didengar.


Grey acuh. Dia sibuk dengan dirinya sendiri tanpa peduli Ivory yang memulai percakapan dengannya.


“Si beruntung yang ternyata tidak mendapatkan apapun, dan si buntung yang menerima banyak keajaiban dari sebuah pengorbanan.”


Grey menghentikan jarinya ketika mendengar itu. Maniknya menyorot tajam ke arah Ivory yang kini disambut sebuah senyuman hangat dibibir yang masih terlihat menawan bagi Grey, meskipun pasi.


“Si buntung yang saat itu menyerahkan sebuah permata untuk si beruntung karena ia— merasa iba, mendapat balasan sebongkah berlian mahal yang bisa ia jadikan untuk menyambung hidupnya di masa depan.”


Grey menatap nyalang pada presensi Ivory. Ia pikir, wanita itu sudah gila hingga rela membuat dirinya sendiri terancam bahaya. Ia menebak maksud dan arah pembicaraan wanita ringkih yang duduk disudut ruangan kerjanya.


“Suamiku,”


Selama ini, Ivory belum pernah memanggilnya seperti itu. Sontak manik Grey berpusat pada wajah Ivory yang ternyata sangat ia rindukan, meskipun ia sangat membencinya. Ah, mungkin dia salah karena membenci wanita sebaik Ivory. Wanita yang rela menyerahkan hidupnya demi bayi yang dikandungnya.


“Jangan bicara berbelit-belit. Katakan apa tujuanmu datang kesini, setelah itu kembalilah ke tempatmu.” tukasnya tajam, penuh penekanan pada kalimat panjang yang melecut tanpa perasaan.


Ah, itu sudah biasa. Ivory bisa menahan kalimat itu dan membuang jauh-jauh pada tempat yang paling dalam dan juga kelam di dasar lubuk hatinya.


“Aku akan segera melahirkan anak kita,” Ivory sengaja menjeda, menunggu tanggapan Grey ketika ia menyebut bayi dalam kandungannya adalah anak mereka, yang biasanya disangkal terang-terangan oleh Grey. “Aku, aku ingin meminta maaf jika mengambil keputusan sesukaku. Maafkan aku.”


Ivory tertunduk. Kesepuluh jarinya saling meremat brukat yang menempel pada gaun berwarna putih tulang kesukaannya dan bergetar ketika menunggu tanggapan Grey. Ia hanya berharap Grey memaafkan dan menerima bayi yang ia lahirkan, sebagai anak.


“Sudah? Sekarang tinggalkan aku sendiri. Dayang...”


Teriakan Grey yang memanggil dayang itu terhenti ketika Ivory mengangkat lengannya yang kurus kering, memberi isyarat agar Grey memberinya waktu sedikit lebih lama untuk menyampaikan apa yang selama sembilan bulan ini ia simpan dalam hatinya. Terutama sebuah pemberian maaf tulus dari Grey.


Airmata yang sempat mengering, kini kembali membasahi pipinya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Grey yang ia kenal, yang begitu menyayanginya, berubah membencinya dalam sekejap mata.


“Aku ingin kau menjaga dan merawat anak yang aku lahirkan ini dengan baik, jika aku benar-benar tidak—”


“Cukup! Keluar dari tempat ini. Dayang! Cepat bawa ratu Ivory kembali ke kamarnya!” titahnya pada dua presensi dayang yang muncul begitu saja setelah ia berteriak keras.


“Aku mohon, berjanjilah untuk menyayanginya, tanpa melihat diriku padanya, jika kamu memang membenciku. Tolong, jangan samakan anak ini dengan aku.”


“APA KALIAN TULI? CEPAT BAWA DIA KELUAR DARI TEMPAT INI!” teriaknya menggelegar karena tidak kuasa melihat keadaan Ivory lebih lama dari saat ini. Ia ingin sekali berlari dan memeluknya, mengucapkan kata 'Ya. Tentu aku akan menyayangi bukan hanya anak kita, tapi juga dirimu, sepenuh hati. Selamanya.' di telinga Ivory. Namun, ego nyatanya lebih ia pertahankan. Dan ia berharap semua sikap mengecewakan ini tidak akan ia sesali nantinya.


Astaga, Grey ingin sekali berlari kearah Ivory dan memapahnya ketika tiga dayang itu membantu Ivory yang terhuyung tidak seimbang ketika membawa tubuh kurus itu untuk berdiri. Grey membuang muka saat manik mereka bersinggungan tanpa disangka, dan Ivory tersenyum jumawa ke arahnya. Pada kesempatan berikutnya, ia mendengar suara sayu dan sendu menyapa perungu Grey.


“Aku mencintaimu, suamiku.” Ivory mengatakan itu. Selalu mengungkapkan perasaan cintanya yang tak pernah pupus untuk Grey.


Setelah itu, Ivory menghilang di balik pintu jati tebal berwarna coklat yang terkatup rapat. Grey membabi buta. Ia melempar apapun yang ada diatas meja. Dadanya kembang kempis menghadapi gejolak yang menyakiti perasaan. Grey tidak ingin keadaan berubah seperti ini. Ia ingin siapapun bahagia bersamanya, termasuk Ivory.


...***...


Dan lihatlah betapa pecundang dirinya saat ini. Ia membiarkan Ivory berjuang seorang diri melewati hari-hari sulit mengandung calon anak mereka. Sedangkan dia sendiri lebih memilih meninjau lokasi pembuatan waduk di daerah Geolili, daerah yang letaknya paling ujung dari wilayah Geogini demi menghindari Ivory.


Ah, bagaimana dia bisa sebodoh ini? Bagaimana bisa dia berubah menjadi orang jahat? Menyakiti wanita yang sangat ia cintai hanya karena mengandung anak yang seharusnya tidak ia pertahankan dengan nyawanya.


Ada begitu besar bongkahan rasa bersalah yang bergelayut dan menguasai hati Grey ketika mengingat semua kejahatannya pada Ivory. Semua kebaikan, kebahagiaan, cinta, sayang yang ia dapatkan dari Ivory, harus ia balas sekeji ini.


Grey memijat pelipisnya yang berat. Menggigit bibir bawahnya agar tidak bergetar dan membuat pelupuk matanya basah. Ia memang egois, dan, jahat.


Sembilan bulan, bukan waktu yang sebentar. Dan ia membiarkan Ivory melewati kesulitan selama itu. Apa Grey pantas disebut manusia? Atau, dia memang manusia, tanpa perasaan.


Grey meletakkan kepalanya diatas meja, diantara lipatan lengan. Jantungnya berdebar kala membayangkan tangisan bayi. Entah mengapa dia tiba-tiba saja memikirkan hal itu. Bayi cantik nan mungil berada dalam dekapannya, menggeliat, tersenyum tanpa sebab, lalu menangis kehausan karena ia terlalu lama berada dalam timangannya. Ia melihat Ivory tersenyum, meminta bayi itu darinya agar bisa memberi air susu. Ivory yang begitu ia sayangi melambai kearahnya. Sebuah lambaian yang...terlihat seperti ucapan perpisahan.


Langkah kakinya berjalan mendekat, masih menatap lekat pada wanita yang duduk di salah satu sisi ranjang dengan senyuman lembut yang sangat ia sukai. Semakin dekat, senyuman itu semakin samar. Ivory berubah menjadi sebuah bayangan yang perlahan menghilang. Dan tepat sebelum bayangan itu benar-benar sirna, bibir pucat itu mengatakan 'maaf', berulang kali. Grey mencoba menahan bayangan Ivory agar tidak pergi dari pandangan, menggapai udara kosong, lantas membuat lututnya jatuh diatas lantai. Grey menangis tertahan tanpa suara. Sekali lagi menautkan pandangan tepat ditempat dimana Ivory duduk beberapa saat lalu. Dia...menyesal.


Hingga suara ketukan pintu membangunkannya dari tidur. Ah, rupanya dia tertidur setelah meletakkan kepala diatas meja. Dan mimpi itu.... semoga saja hanya mimpi kosong yang menjadi bunga tidur, mengisi lelap yang tanpa sengaja merenggut kesadaran ketika senja mulai berubah gelap.


Beruntung ada seseorang yang mengetuk pintu. Jadi, dia tidak perlu lagi melihat kelanjutan mimpi menyesakkan dada itu. Grey bangkit, berjalan memutari meja dan menuju pintu yang masih terkatup rapat.


Prajurit itu menggeleng mantap. Bibirnya bergetar ketika hendak bersuara, hingga suara yang ingin laki-laki itu sampaikan, kembali tertelan.


“Sa-saya baru saja menerima berita dari pihak istana.”


Grey memicing. Apa terjadi sesuatu di istana? Seharusnya tidak, semuanya kondusif.


“Ra-ratu Ivory, melahirkan putri anda.” lanjut sang prajurit terbata-bata.


Hati yang semula terasa dingin dan beku, terasa meleleh setelah mendengar berita itu. Ivory melahirkan, seorang bayi perempuan yang pasti sangat cantik seperti ibunya. Ternyata mimpi yang baru saja ia alami, menjadi nyata.


”Tapi—”


Tapi?


Jangan pernah mengatakan jika mimpi kosong itu benar-benar menjelma menjadi sebuah kenyataan mutlak yang tidak bisa ia hindari.


“Tapi apa?” sentak Grey, sudah tidak sabar menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh prajurit tersebut.


“Tapi...ratu Ivory, tidak dapat diselamatkan.”


Maaf...


Maaf...


Maaf...


Satu kalimat yang diucapkan Ivory beberapa kali dalam mimpinya itu menjadi momok mengerikan dalam hati kecil Grey yang saat ini didera sebuah rasa sakit menghujam.


Tubuhnya limbung kebelakang. Sebuah penyesalan yang pernah ia takutkan, kini menjadi nyata. Bibirnya menganga, paru-parunya sulit sekali meraup oksigen hingga membuatnya tercekat dalam sesak yang sangat menyakitkan.


Ivory yang ia kasihi dan cintai teramat sangat, meninggalkannya.


Ivory, yang begitu berharga dalam hidupnya, pergi tanpa persetujuannya. Lagi-lagi dia bersikap semaunya, pergi tanpa persetujuan dan memutuskan semua itu sepihak.


Sejak saat inilah, Grey tau jika sebuah keegoisan kalah telak akan makna sebuah pengorbanan dalam cinta. Pengorbanan yang akan membuat semua menyadari betapa besar arti kehadiran dan juga keikhlasan.


Ivory, yang mengorbankan diri demi sebuah kehidupan selanjutnya,


Ivory yang begitu berharga,


Ivory yang mencintainya,


Ivory yang menjadi sumber kebahagiaannya,


Ivory...


Pergi meninggalkan dirinya, selamanya. []



...🌼🌼🌼...


...Vi's yang menulis bab ini nangis lho Guys. coba deh, dengernya sambil muter lagu yang Vi's rekomendasikan. Dijamin, bawang....


...Ivory sudah tamat ya......


...Semoga puas sama endingnya....


...*yang nggak puas, silahkan komen.😂...


...Akan ada satu bab Epilog yang nggak kalah nyesek dan bikin mewek. (semoga feel-nya nyampe di kalian nanti saat membaca)....


...Vi's ucapkan terima kasih untuk yang setia membaca IVORY dari awal cerita ini dibuat hingga tamat. Terima kasih juga untuk semua like, komentar, hadiah, dan vote yang kalian berikan untuk IVORY. Vi's harap cerita ini memiliki beberapa pesan positif agar kita tidak menyia-nyiakan orang yang berada disekeliling kita, menyayangi kita, dan rela berkorban untuk kita....


...Maafkan Vi's jika ada salah kata, atau yang kurang berkenan di hati Readers sekalian....


...Dan jangan lupa untuk mampir di cerita Vi's yang lain ya......


—Vienna (fiksi)


—another Winter (fiksi)


—Adagio (fiksi)


—Dark Autumn (fantasi)


—Wedding Maze (fiksi)


...Semoga suka....


...Sampai jumpa di bab Epilog....


...👋👋👋...