IVORY

IVORY
Dua sisi berbeda.



...Sudah siap membaca bab ini?...


...Selamat hari Minggu readers semuanya......


...Ivory hadir untuk menemani hari libur kalian. Sebelum mulai membaca, hayuk beri apresiasi penulis dengan cara like, komentar, vote, serta hadiah jika berkenan ya.....


...terima kasih......


...Happy Reading....


...•...


Grey memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan tabib istana. Raut khawatir belum surut dari wajah Grey. Bagaimana tidak terkejut dan panik, sepulang dari pemakaman sang kakek, Grey harus melihat Ivory yang terbaring lemah dengan wajah pucat diatas tempat tidur. Detik yang sama, Grey berlari mencari tabib dan memastikan kesehatan Ivory tidak buruk. Dia ingin Ivory baik-baik saja.


“Ratu harus banyak beristirahat dan tidak boleh kelelahan.”


“Memangnya dia kenapa? Ada masalah apa dengan kesehatannya?” tanya Grey beruntun. Ketakutan masih bergelayut di dalam pikirannya dan tidak mau beranjak sedikitpun.


Tabib perempuan berusia setengah abad lebih itu, tersenyum melihat ketakutan yang terpancar di wajah rajanya. Dia lantas mengusap lengan kanan Grey untuk membuat laki-laki itu sedikit tenang, meskipun ada secuil keraguan yang tersimpan dalam benak sang tabib untuk menyampaikan kabar menggembirakan yang dibawa oleh Ivory.


“Ratu akan baik-baik saja jika dia tidak kelelahan. Dia butuh istirahat cukup karena ada kehidupan baru didalam tubuh ratu Ivory.”


Butuh beberapa detik untuk Grey menyerap kalimat yang diutarakan sang tabib. Hingga akhirnya dia mengerti maksud ucapan itu, dan raut khawatirnya berubah menjadi raut antusias dan bahagia. “Jadi, aku akan menjadi seorang ayah?”


Tabib tersenyum dan mengangguk sebagai persetujuan akan pertanyaan Grey. “Ya. Ratu Ivory sedang mengandung penerus tahta kerajaan Geogini.”


Hati Grey yang semula tertutup kabut kesedihan dan rasa khawatir, kini berubah menghangat dan juga bahagia. Ia menatap Ivory yang tak kalah terkejut dari dirinya. Manik mereka bersitatap dan Grey dapat melihat lelehan airmata mengalir dari sudut mata Ivory.


Perlahan, Grey langkahkan kaki mendekati wanita yang telah menjadikan hidupnya sempurna. Ia duduk disisi tempat tidur dan mensejajarkan posisi dengan Ivory, mengusap surai dan mengecup keningnya lembut.


“Terima kasih, sudah menjadikan kerajaan ini menjadi sempurna.” bisiknya, lantas mengecup bibir Ivory dengan durasi cukup lama. Grey benar-benar bahagia setelah duka menyelimuti hatinya. Kepergian sang kakek, kini digantikan oleh calon kehidupan baru didalam rahim Ivory. Calon anaknya, calon penerus Geogini.


...***...


Hari ini begitu penting untuk Grey dan para rakyatnya, atau lebih pantas disebut hari membahagiakan untuk seluruh penjuru Geogini.


Di pusat pemerintahan, kereta uap pertama yang akan menjadi transportasi baru bagi seluruh penduduk Geogini yang ingin bepergian jauh, segera diresmikan. Raja Harllotte sudah mengerjakan proyek ini selama lebih dari dua belas tahun, dan lihatlah hasilnya sekarang? Sebuah kereta berkepala bulat dan besar yang mengepulkan asap dari cerobong karena bahan bakar yang digunakan adalah batu bara. Beberapa gerbong kereta yang terbuat dari besi dan kayu yang di padu padankan, serta satu gerbong khusus untuk mengangkut barang, kereta pertama itu siap untuk diresmikan.


Grey yang datang bersama Ivory untuk memotong pita sebagai simbol pelepasan kereta akan beroperasi, terlihat begitu antusias. Raja dan Ratu baru itu tidak berhenti mengulas senyum ramah untuk rakyatnya yang juga terlihat begitu antusias dan berbahagia menyambut hadirnya alat transportasi baru yang diperuntukkan bagi mereka.


Ivory yang tengah hamil muda dan masih sering merasakan mual serta pusing hebat yang bisa datang secara tiba-tiba, mengamit lengan Grey dan berpegangan kuat disana. Ia hanya ber-antisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak ia harapkan.


Saat ini, keduanya berdiri didepan sebuah pita berwarna putih tulang yang membentang sepanjang jalanan lengang. Grey mengenggam alat pemotong untuk memutus tali dihadapannya. Beberapa petuah bijak juga sudah ia sampaikan untuk seluruh rakyat, agar menjaga dan menggunakan kereta api pertama itu dengan sebaik-baiknya.


Tepuk tangan riuh mengiringi gerakan Grey untuk melakukan tugasnya hari ini, meresmikan kereta api sebagai transportasi baru di Geogini yang sempat tertunda.


Pita panjang yang menggantung di udara itu putus, bersama Ivory yang tumbang diatas daratan berdebu tanpa alas. Dia pingsan setelah menahan mati-matian pusing yang tiba-tiba saja datang. Tidak ada yang menyadari Ivory tengah memucat.


Suasana gempita berubah riuh penuh kekhawatiran, terutama Grey yang berdiri di sisi Ivory. Dia sama sekali tidak menduga jika wanita yang tengah mengandung garis keturunannya itu sedang dalam kondisi tidak baik.


Grey memapah kepala Ivory dalam pangkuan dan menepuk-nepuk pipi Ivory sambil menyebut namanya. Ia berharap Ivory segera membuka mata, akan tetapi semua harapan itu pupus, tidak membuahkan hasil. Wanita itu masih nyaman dalam pejam hingga harus di bopong oleh Grey kesalah satu pemukiman warga untuk menerima pertolongan dari tabib yang bekerja di kawasan pusat kota.


Sepanjang tabib melakukan pemeriksaaan detail kepada Ivory, Grey terus menggenggam telapak tangan dingin Ivory tanpa mau melepas barang sejenak, mengusap keringat dingin yang bermunculan di wajah wanita cantik kesayangannya yang kini memucat.


Raut wajah tabib yang memeriksa Ivory terlihat cemas dan ragu untuk menyampaikan hasil pemeriksaan kesehatan yang telah ia lakukan terhadap Ivory.


“Bagaimana keadaan ratu Ivory?” tanya Grey menuntut tanpa ingin menutupi rasa khawatir terlalu membuat dirinya ketakutan.


“Denyut jantung ratu bergerak lebih cepat dari denyut normal, tubuhnya menggigil dan demam, kondisi tubuhnya lemah. Apa ratu melakukan kegiatan yang berat sebelumnya, raja?”


Grey tidak yakin, akan tetapi sejak pagi Ivory bersamanya. Melakukan perjalanan menuju tempat peresmian, dan berakhir pingsan.


“Tidak. Dia bersamaku sejak pagi.”


Tabib itu kembali memeriksa nadi Ivory yang terasa lemah. Dengan berat hati dia memberi penjelasan kepada Grey. “Kondisi kesehatan ratu Ivory, tidak memungkinkan untuk bisa terus mengandung, yang mulia.”


Grey menajamkan rungu dengan mata terbelalak penuh kejut. Ia bahkan tidak menduga jika Ivory sedang dalam kondisi buruk saat ini.


“Jika dipertahankan, Nyawa ratu Ivory akan menjadi taruhannya.”


Penjelasan selanjutnya dari tabib, membuat Grey membeku dengan tatapan nanar. Separah itu kah?


“Jadi saya sarankan, kandungan yang mulia ratu sebaiknya di luruhkan sebelum janin tersebut memiliki nyawa dan membuat kesehatan ratu Ivory semakin menurun yang kemudian membahayakan keselamatannya.”


Grey hanya diam tidak bisa berkata-kata. Ia memutar arah pandang kearah Ivory terbaring. Menatapnya sendu dan cemas tiada tara.


“Keputusan ada ditangan yang mulia raja dan ratu. Dan saya berharap apapun keputusannya, akan berdampak baik untuk anda berdua.”


Tabib itu pergi setelah meracik ramuan herbal yang bisa dikonsumsi Ivory setelah sadar nanti.


Dalam kecamuk dilema yang belum mau mereda didalam kepala Grey, Ivory membuka mata, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan bias silau cahaya yang menyapa pupil matanya. Sebuah senyuman ia suguhkan sebagai sapaan kepada Grey yang terlihat gusar. Lalu mual kembali menyerang. Ivory sontak bangkit dan menutup mulut dengan kedua telapak tangan.


Setelah mual menyiksa itu mereda, Grey kembali membaringkan Ivory, memaksanya untuk kembali pada posisi nyaman saat Grey menyiapkan hati untuk menyampaikan pesan yang mungkin akan membuat Ivory menangis.


“Dimana ini, yang mulia?”


“Dirumah salah satu warga. Kamu pingsan.”


Ivory memutar kembali semua kejadian yang dia ingat. Kepalanya tiba-tiba berputar, hingga tubuhnya limbung, dan tidak mengingat apapun. Kira-kira seperti itu yang berhasil ia rekam dan ambil dari memori.


“Bagaimana perasaanmu, ratu?” tanya Grey mengejutkan lamunan, menyarangkan telapak tangan pada puncak kepala Ivory dan mengusapnya perlahan menuruni setiap helai rambut halus dan indah milik wanita tersebut.


“Aku baik-baik saja, yang mulia.”


Grey tersenyum, lantas mengecup singkat kening Ivory.


“Apa yang akan kamu lakukan jika kamu harus merelakan seseorang yang begitu berharga untukmu?”


Sengaja. Grey sengaja memancing pendapat Ivory dengan pembicaraan yang melibatkan emosi nantinya. Dia ingin mendengar kerelaan dan kebijaksanaan dari Ivory akan pesan yang hendak ia sampaikan.


“Kenapa bertanya seperti itu? Apa kamu berniat meninggalkan aku?” kelakar Ivory dengan mata memicing seolah-olah sedang menelisik memastikan sesuatu.


Grey meraup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya kasar. Ia mencoba membesarkan hati atas pilihan yang ia jatuhkan. Kemudian, dengan kedua manik berkabut, Grey berbicara. “Keadaanmu sedang tidak baik.”


Senyuman dibibir Ivory sirna. Kaki ini wajahnya memicing dengan sungguh. “Apa maksud anda, yang mulia?” tangan Ivory, kembali. Bangkit dari ranjang dan duduk bersandar.


Grey meraih telapak Ivory dan menggenggamnya erat. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun kecuali sebuah luka yang masih coba ia sembunyikan. “Kita pulang, dan bicarakan ini di istana.”


...***...


Para dayang sibuk merawat Ivory yang terlihat lemah, sampai semuanya sudah rampung, mereka keluar dan mempersilahkan Grey masuk ke kamar untuk bertemu Ivory yang terlihat lebih baik. Duduk di ranjang yang sama dengan Ivory, menarik wanita itu kedalam pelukan untuk menghirup aroma lembut dari rambut Ivory yang begitu ia sukai.


“Aku mencintaimu.” sebuah ungkapan rasa menjadi topik pembuka yang disuguhkan Grey. Dia sama sekali tidak ingin berkata apapun yang akan melukai perasaan Ivory, apalagi membuatnya menangis.


“Katakan sekarang, yang mulia.”


Grey menarik nafas, menahannya didada yang terasa begitu sesak untuk menerima kenyataan.


“Keadaanmu sedang tidak baik.”


“Aku tau. Kamu sudah mengatakannya tadi.”


Jantung Grey berdetak lebih kacau dari sebelumnya. Gumpalan awan kelabu mulai memenuhi kelopak mata, dan saat itulah Grey melepas pelukan untuk Ivory, mengambil kedua bahu kecil sang lawan bicara untuk ia kuatkan, dan menyorot sendu manik mata Ivory. Tidak ada kesedihan melebihi apa yang sedang ia rasakan kala kalimat itu melecut dari bibirnya.


“Bayi itu, kamu harus melepasnya.”


Seketika, perasaan Ivory seperti dihantam meteor dan mengenai tepat di ulu hatinya. Apa sebenarnya maksud ucapan suaminya itu? Mengapa tanpa ada hujan atau badai, Grey memintanya untuk melepas janin yang ada didalam kandungannya?


Ivory tertawa. Mungkin Grey sedang bercanda dan menguji humor miliknya. “Aku tau kamu bercanda—”


“Aku bicara sejujurnya. Kamu harus melepas bayi itu, atau...atau, hidupmu menjadi taruhannya.”


Coba berfikir? Bagian mana yang harus di percaya tentang ucapan Grey? Ivory yang merasa dirinya baik-baik saja, harus dikejutkan dengan penekanan untuk merelakan bayinya di ambil, bahkan sebelum lahir. Apa itu yang harus di terima oleh dan di lakukan Ivory?


“Oh. Aku akan memilih opsi lain. Aku rela menukar diriku dengan bayi yang ada dalam perutku.”


Grey melepas kedua cengkeraman dibahu Ivory. Ekspresinya berubah dingin. Ia tidak menyangka jawaban tersebut yang ia dengar. Padahal, Grey ingin melepas bayi itu, lalu mendapatkan lagi jika kesehatan Ivory sudah membaik dan memungkinkan untuk kembali mengandung.


Berbeda dengan presepsi Grey, Ivory lebih memilih bayi dalam kandungannya, meskipun ia harus mempertaruhkan seluruh hidupnya. Hal itulah yang memicu kemarahan Grey. Rahangnya mengeras, dia berdiri menjauh, membuat jarak dengan Ivory.


“Tidak. Lepaskan dia dan kita akan mendapatkannya lagi setelah kesehatanmu kembali.”


Oh tidak, ini tidak akan berujung baik. Grey terlihat sedang digelut emosi.


“Yang mulia. Aku menyayanginya, lebih dari diriku sendiri.”


”Keputusan ku masih sama.”


Mendengar ketegasan dari nada bicara Grey, Ivory tertunduk kecewa. Air matanya kembali jatuh dalam kubangan kesedihan yang sepertinya tidak memiliki ujung. Realita begitu menyakiti perasaan Ivory.


“Bukankah, aku juga memiliki hak atas diriku sendiri, yang mulia raja?” tanya Ivory tanpa respon apapun yang diberikan Grey. “Izinkan aku mengutamakan hak ku dan mengesampingkan yang lain. Aku tetap pada keputusanku, aku akan membiarkan dia hidup.”


Sebuah bongkahan batu besar seperti dilempar tepat kearah Grey dan membuat tubuhnya tidak berkutik.


“Baiklah. Terserah apa keputusanmu. Tapi perlu kau ingat satu hal,” Grey mengepal kuat, rahangnya mengeras. Ia memilih egois dengan mengutarakan sebuah ancaman, berharap besar Ivory mau mengubah keinginannya untuk membahayakan keselamatan dirinya sendiri. “Jangan pernah datang menemui ku, jika kamu tidak mengubah keputusan yang kau buat itu.”[]


Bersambung.