IVORY

IVORY
Kenyataan.



...How's feeling today?...


...Siap baca part ini?...


...Happy Reading......


...•...


Jadi Ivory...


Jantung Grey semakin berdentum keras ketika Murdock mulai mengetuk pintu itu beberapa kali, dan tetap tidak ada jawaban. Lalu, dalam sekali terjang pintu yang terbuat dari kayu itu ambruk ketika tubuh kekar Murdock membuka paksa.


Sepi. Tidak ada orang didalam sana yang tentu saja membuat Murdock geram. Kedua telapak tangannya mengepal kuat, bibir dan rahangnya mengerat lalu berjalan cepat keluar menuju kuda mereka berada.


“Dia sudah pergi, dan seperti yang aku duga, kalian tidak becus mengurus masalah seperti ini.”


Grey terpatik. Dia menarik tubuh Murdock yang hendak naik ke atas punggung kuda hingga jatuh tersungkur ke tanah. Laki-laki yang sudah kepalang marah itu mengayunkan pedang ke arah Grey, yang kemudian ditepis kuat oleh pedang milik Junot yang bertugas menjadi perisai bagi Pangeran kerajaan Geogini.


“Apa yang kamu lakukan, Murdock? Kami sudah berbaik hati dan sekarang, kamu berani mengayunkan pedang ke wajah pangeran kami?” tegas Junot penuh intimidasi. Junot tak pernah takut pada kematiannya sendiri, sebab ia sudah merelakan hidupnya untuk Geogini.


Murdock yang terpojok akhirnya menurunkan pedang, dan memasukkan kembali kedalam selosong. Namun ia bergegas menaiki punggung kudanya tanpa berkata apapun kepada Grey maupun Junot. Dia pergi begitu saja bersama orang yang mendampinginya.


“Apa kita perlu mengejarnya, pangeran?”


“Ya. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Pastikan keberadaan mereka tetap menjadi rahasia.” jawab Grey sembari menaiki kuda dan bersiap memacu.


“Baik, pangeran.”


Keduanya mengejar Murdock, berharap laki-laki itu tidak membuat onar atau terlihat oleh mata sekutu kerajaan Geogini.


...***...


Tidak ada hasil. Grey membuka pintu tempat tinggalnya dan disambut oleh Ivory yang terlihat begitu cantik hari ini. Gaun berwarna sama dengan namanya—ivory—menyentuh lantai, rambut digulung tinggi dengan dua helaian menjuntai disisi kanan dan kiri wajah, polesan bedak yang tidak tebal serta bibir peach yang hari ini berwarna sedikit kemerahan, Grey sangat menyukainya. Ivory terlihat begitu cantik dan anggun. Seketika, penat yang bersemayam dalam diri Grey pergi entah kemana. Dia tersenyum, lalu mengecup singkat kening Ivory saat wanitanya itu sudah berdiri tepat didepan tubuh tegapnya.


Ivory menyambut pedang dalam genggaman Grey, lalu berjalan mengekor di belakangnya.


“Bagaimana hari ini, pangeran? Apa berjalan dengan baik?”


Tidak. Tidak sama sekali. Murdock sempat menyerang beberapa warga, dan bahkan membuat keonaran di salah satu titik kumpul masyarakat yang sedang melakukan transaksi jual beli hasil perkebunan mereka. Semua itu terjadi karena—


Grey menghentikan rentetan kalimat dalam batinnya begitu mengingat siapa penyebab dan dalang dibalik semua kekacauan yang terjadi dua hari ini.


Terkaan dari pihak Amber kepada kedua orang tua Ivory itu sama sekali tidak bisa disampaikan Grey kepada wanita yang ia cintai itu. Ia takut Ivory akan berbuat nekad saat tau posisi orang tuanya sedang terancam.


“Memangnya, ada hal sulit apa yang sedang pangeran hadapi hingga membuat pangeran harus turun tangan?”


Lagi-lagi, Grey tidak bisa memberikan jawaban. Ia hanya tersenyum, lalu meminta Ivory untuk duduk di pangkuannya.


“Kamu tidak perlu tau. Aku pasti bisa menyelesaikan semua ini.” kata Grey, lalu menerima ciuman lembut dari bibir Ivory. “Hari ini, apa yang kamu lakukan di istana?” lanjut Grey melayangkan sebuah pertanyaan pengalihan agar Ivory tidak lagi membahas hal yang tidak bisa ia berikan jawaban.


“Hari ini? Hari ini aku belajar memanah bersama Fucia. Besok, aku ingin belajar berkuda bersamamu, pangeran. Apa pangeran ada waktu, besok?”


Grey menatap lembut wajah cantik istrinya, lantas menangkup kedua sisi fitur Ivory dengan kedua telapak tangan.


“Aku sibuk. Tapi aku janji akan mengajarimu berkuda setelah menyelesaikan tugasku.”


Ivory mengerucutkan bibir kedepan. Ia kecewa dengan jawaban yang ia terima, tapi ia tidak bisa memaksakan keinginannya sebab Grey mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dari pada menurutinya untuk belajar berkuda.


Namun disisi lain, benak Grey menyesal karena tidak bisa memenuhi permintaan pertama Ivory yang ia dengar dari bibir wanita itu. Ia menatap sendu dan kembali mengusap satu sisi wajah Ivory penuh kelembutan.


“Aku berjanji, akan mengajarimu berkuda setelah semuanya selesai. Jadi tunggu aku.”


Hanya itu yang bisa ia katakan ketika tidak bisa menahan rasa kecewanya pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengabulkan keinginan kecil Ivory.


“Lagi?” protes Ivory, tidak terima jika dia harus menunggu kedatangan pangeran Grey dengan dilingkup rasa khawatir sekali lagi.


“Eumm. Aku akan kembali dan menuruti keinginanmu untuk belajar berkuda.”


Ivory turun dari pangkuan pangeran Grey, berjalan tiga langkah dan duduk di samping Grey yang terlihat memutar bola mata mengikuti pergerakan Ivory.


“Berbalik.” titah Ivory sambil menggerakkan telunjuk membentuk gerakan berputar.


Tanpa berkata lebih banyak, Grey memutar tubuhnya, lantas menoleh kesamping ketika menunggu hal konyol apa yang akan dilakukan istrinya itu. Kemudian, bola mata Grey terbelalak ketika telapak tangan Ivory mendarat dikedua bahu dengan remasan sedikit kuat. Grey memicing dan menggeliat, yang mendapat tepukan kasar dipunggung oleh Ivory.


“I-itu, geli.”


“Alasan. Diam, atau aku akan mencubit punggungmu.”


Grey diam dan kembali mengatur posisi seperti semula. Mencoba menikmati hal yang dilakukan Ivory sesuai keinginan wanita itu.


“A'—ah. Aku tidak tahan. Kamu membuatku geli.” Dan satu cubitan mendarat di pinggangnya. “Aww.”


Grey berbalik menatap sengit kearah Ivory. Lantas wanita itu membalas tatapan Grey tak kalah sengit, sampai bola matanya seperti mau menggelinding keluar dari tempatnya berada.


“Kalau ditempatku, itu namanya pijat. Untuk menghilangkan lelah. Aku memijatmu agar besok tubuhmu terasa lebih ringan, pangeran Grey yang terhormat. Apa pangeran tidak pernah dipijat?”


Grey masih mengusap pinggangnya yang terasa nyeri akibat cubitan Ivory sambil menggelengkan kepala. Bibirnya melengkung kebawah dan memasang wajah manja agar Ivory tidak menyakitinya lagi.


“Aku tidak apa-apa. Aku tidak berbohong.”


Oh baiklah. Ivory sudah kehabisan akal. Lihat saja kalau nanti malam dia mengeluh lelah setelah meminta melakukan hubungan suami istri. Ivory akan memukul *********** agar tidak lagi berbuat seenaknya. Ups, tidak. Ivory akan menyesali hal itu suatu hari nanti jika sistem repsroduksi pangeran tidak lagi bisa bekerja dengan semestinya, karena tidak akan melihat lagi tatapan memuja pangeran Grey untuknya. Jadi Ivory akan memukul punggungnya saja.


Belum hilang penat di tubuhnya, seorang penjaga muncul dan memberi salam hormat didepannya.


“Raja ingin bertemu anda, pangeran.”


Grey menghela nafas. Ia benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama Ivory. Tapi ada saja yang mengganggunya.


“Baiklah. Katakan aku akan segera kesana setelah membersihkan diri.”


...***...


“Kenapa kamu tidak memberitahuku jika Murdock berada disini? Pangeran, kamu tau dampak dari keputusanmu itu?” cerca raja Harllotte kepada pangeran Grey yang memang tidak memberitahunya tentang hal yang sangat penting itu. Ia bahkan tidak habis pikir, mengapa Grey justru membuat pilihan dengan memberikan akses kepada Amber untuk masuk ke dalam wilayah Geogini. Dampak dari semua ini akan sangat mengerikan, jika sampai salah satu kerajaan sekutu mereka tau.


“Tidak ada pilihan lain, yang mulia. Saya juga sudah memerintahkan beberapa prajurit kepercayaan Junot untuk menjaga rahasia ini.”


“Bodoh!” hardik raja Harllotte yang sontak membuat jemari Grey mencengkeram lututnya sendiri. “Kamu pikir semudah itu? Lalu bagaimana jika seseorang yang membenci kita secara diam-diam membuat konspirasi? Bagaimana kalau mereka mengadu domba kita?”


Grey diam tertunduk saat raja Harllotte meluapkan kemarahannya. Ia memang salah tidak mengatakan itu sejak awal, dan hari ini sudah hari kedua Murdock berada di Geogini.


“Sudah aku katakan untuk mengusir mereka jika terus memaksa. Tapi mengapa kamu mengambil keputusan bodoh yang justru akan menjatuhkan Geogini, huh?!”


Grey masih diam, hingga raja Harllotte melanjutkan ucapannya. “Aku tidak mau tau. Usir mereka berdua dari sini sekarang juga. Aku tidak mau mengambil resiko buruk untuk rakyatku.”


Duduk permasalahannya tidak seperti yang raja Harllotte kira. Grey bahkan sama tidak percayanya ketika tau kebenaran berita tentang penyusup itu.


“Mungkin berita yang saya bawa akan mengejutkan anda, yang mulia. Namun saya ingin anda merahasiakannya dari siapapun, termasuk putri Ivory.”


Kerutan diwajah raja Harllotte terlihat semakin jelas. Dia tidak tau maksud ucapan cucunya itu.


“Murdock membawaku menuju kediaman rumah orang tua putri Ivory. Penyusup itu adalah kedua orang tua putri Ivory.”


“Apa?” tanya raja Harllotte dengan manik terbelalak karena kejut.


“Meskipun masih dugaan, tapi rasanya semua menjadi jelas ketika mereka berdua tidak ada dirumah mereka setelah mendengar kedatangan raja Aruchi dihari sebelumnya.”


Raja yang semula terlihat marah, kini terlihat gusar. Jadi Ivory... putri dari raja Aruchi yang diculik 20 tahun lalu?


“Mereka melarikan diri, dan sekarang Murdock sedang mengejar mereka entah kemana.”


Raja Harllotte kehabisan kata-kata. Mungkin, ini akan menjadi akhir dari masa kejayaan Geogini. Raja Harllotte terus menerka dengan perasaan campur aduk. Bagaimana jika mereka berlari ke arah barat, dan menemukan Murdock berada disana? Bukankah jalur satu-satunya bisa sampai disana adalah akses Geogini?


“Kemana Murdock mencari mereka?”


Dengan penuh penyesalan, dan wajah tertunduk lesu, Grey menjawab. “Barat.”


Dan jawaban Grey menjadi titik puncak ketakutan raja Harllotte. Semua keburukan akan bermula. Geogini akan menerima bayarannya. Mereka pasti akan musnah. []


Bersambung.


...🍃🍃🍃...


...Mohon luangkan waktu untuk Rate, Like, Favorit, komentar, jika perlu beri hadiah dan juga Vote....


...Terima kasih....