IVORY

IVORY
Tarzan.



Dari berbagai jenis peperangan besar yang pernah dibaca dan diketahui Grey dari buku sejarah ensiklopedia, bertempur mental dengan sosok Ivory nyatanya lebih sulit dari dugaan. Gadis itu penuh kejutan yang tidak pernah sama sekali pangeran sangka kapan akan dilesatkan. Misalnya hari ini, setelah selesai dengan urusan belajar, Ivory menolak mengikuti jadwal yang sudah disusun untuknya, dan lebih memilih mengekor pada pangeran Grey ke istana ke dua, lebih tepatnya rumah tinggal pria tampan tersebut.


Sejak sampai hingga waktu selanjutnya, Ivory tidak berhenti memandang kagum setiap sudut ruangan dengan mulut menganga, dan sesekali berteriak heboh saat menanyakan sesuatu kepada pangeran Grey.


Benar-benar definisi tarzan wanita yang baru saja lepas dari hutan.


Setidaknya, begitulah anggapan Grey kepada sosok Ivory.


“Pangeran, sudah satu minggu aku berada disini. Sesuai janji raja, aku bisa pulang untuk mengunjungi orang tuaku, 'kan?”


Pangeran Grey mencoba abai. Ia masih fokus membaca sebuah buku di tangannya. Berhubung tidak digubris, Ivory mencoba mencari topik pembicaraan lain.


“Sebenarnya, apa tujuan raja mengadakan sayembara itu?”


Grey tersentak. Pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan oleh siapapun. Atau lebih tepatnya, tidak ada yang berani bertanya.


Menyadari keberanian Ivory berada di level berbeda dengan yang lainnya, Grey menjatuhkan atensi penuh kepada gadis pemilik kulit pualam tersebut.


“Sekarang aku bertanya, apa tujuanmu menanyakan hal itu kepadaku.” tanya Grey dengan nada datar.


Bahu Ivory dikedikkan samar, bibir sewarna Cherry nya terlihat mengerucut kedepan. “Tidak ada. Aku hanya ingin tau.”


“Bukankah sudah jelas, tradisi ini memang sudah dilakukan sejak dulu, secara turun temurun.” balas Grey tanpa mau berfikir susah payah untuk memberikan penjelasan kepada Ivory.


“Ya, aku tau. Maksudku, mengapa harus kaki?mengapa tidak otak saja? Barangkali pangeran bisa menemukan gadis yang lebih baik dari aku.”


Ada benarnya, jika raja lebih memilih otak, mungkin Grey tidak akan terjebak berada satu ruangan dengan tarzan imigran ini. Sebuah anggukan menjadi jawaban untuk Ivory yang sekarang menatapnya serius.


“Kenapa?” ketus sang pangeran, tidak mau berkompromi. Karena bagi Pangeran Grey, berkompromi dengan Ivory, sama saja mencari masalah, atau paling buruknya, menggali lubang kubur sendiri. Gadis itu banyak omong, selalu mengatakan hal konyol yang tidak masuk akal dan menguras kewarasan, juga mampu membuat kacau suasana hati yang semula bermekaran sebab bahagia bertemu sang pujaan hati. Akan tetapi, satu hal yang sedikit membuat gadis itu unggul. Dia selalu berkata jujur dan apa adanya. Seperti sekarang, pangeran Grey sedang pusing oleh pertanyaan yang terus bermunculan dari bibir Cherry Ivory.


“Ada cicak diatas kepalamu.” kata Ivory, mengejutkan, dengan jari telunjuk yang menunjuk kepala bersurai hitam legam milik pangeran Grey.


Sumpah demi pantat Bruto yang penuh kotoran, Grey melompat dari tempatnya duduk dan berusaha menyingkirkan objek yang dimaksud Ivory.


“Cepat singkirkan dia dari kepalaku.” pinta Grey sambil berjingkrak menahan geli ketika bayangan cicak itu menempel dikepalanya.


Menurut kepercayaan yang di yakini semua masyarakat Geogini, jika seekor cicak jatuh tepat diatas kepalamu, maka jangan berharap sesuatu yang baik akan terjadi. Karena cicak dianggap membawa sial. Memangnya siapa yang mau terkena sial?


“Cepat singkirkan dia.”


Ivory yang tidak menyangka jika pangeran Grey takut terhadap hewan kecil yang biasanya menempel didinding itu, hanya bisa melihat dengan bibir menganga tidak percaya. Kemudian menyemburkan tawa lantang sambil memegang perut.


Pangeran Grey yang sadar sedang dipermainkan, seketika itu juga memasang wajah marah. Ia berjalan mendekat dan menjepit bibir Ivory dengan jari-jarinya yang panjang. Sontak, tawa Ivory yang tadinya menggema keseluruh penjuru ruangan, mendadak senyap. Manik mereka bertemu.


“Kamu berbohong lagi?”


Ivory menggeleng, bibirnya yang masih diapit jari Grey sama sekali tidak bisa digunakan untuk berbicara.


“Ck!” decak pangeran sambil melepas kasar apitannya pada bibir Ivory yang kini terlihat memerah, hingga kepala gadis itu sedikit terdorong dan terhuyung mundur. “Dasar tarzan.”


“Apa? Tarzan?”


“Ya. Kamu seperti tarzan yang baru terbebas dari hutan.”


Seingat Ivory, dari cerita yang pernah ia dengar disekolah wajib masyarakat, yang disebut Tarzan itu laki-laki tanpa baju, hanya mengenakan kain penutup tepat diarea pribadi laki-laki tersebut, rambutnya panjang sebahu dan ikal, kulitnya kecoklatan, serta hanya berbicara dengan gerakan, karena tumbuh besar bersama hewan-hewan didalam rindangnya alam.


“Aku wanita, bukan—”


“Kamu tarzan wanita.” sahut Grey cepat sebelum Ivory menyelesaikan kalimatnya


Bibir Ivory terkatup rapat, lantas maju kedepan sebagai upaya protes. Ia tidak menduga jika Grey akan menganggapnya demikian. Karena kesal, Ivory lantas berjalan menjauh.


“Mau kemana?” tanya Grey datar sekali. Tidak bermaksud mencegah Ivory pergi. Benar-benar hanya bertanya dan ingin tau.


Grey menahan mati-matian tawa yang hendak meledak. “Ide bagus.”


Akhirnya, dia akan terbebas. Ternyata Ivory bisa pergi dengan cara seperti itu. Grey bangga bisa membuat sebutan baru bagi Ivory. Tarzan wanita.


...***...


Salah satu hiburan yang bisa didapatkan gratis tanpa dipungut biaya apapun oleh Grey adalah mengganggu Ivory hingga gadis itu sebal dan meninggalkannya. Sejak kembali dari mengunjungi orang tuanya beberapa hari yang lalu, Ivory terlihat sedih. Ia mendengar dari Fucia, jika Putri Ivory sebenarnya tidak mau kembali, atau paling tidak masih bisa menginap beberapa hari untuk melepas rindu. Dan berakhir kesal karena tidak mendapat izin dari pihak istana, terkhusus Grey.


Hari ini tidak ada jadwal khusus, selain bertemu dengan petinggi kerajaan tetangga dan membicarakan kerja sama mereka di bidang pertanian. Geogini memang terkenal sebagai wilayah yang subur dan makmur. Masyarakatnya tidak pernah kekurangan bahan pangan, dan mereka bisa memutar hasil penjualan padi atau sayur-sayuran untuk menyambung perekonomian mereka.


Masyarakat juga sering menjual hasil panen mereka ke istana. Mereka selalu bersyukur hidup di wilayah yang juga dipimpin oleh raja yang baik hati kepada seluruh masyarakat, baik itu masyarakat biasa, ataupun masyarakat yang memiliki kedudukan.


Grey melintasi pendopo tempat Ivory mendapat bimbingan nyonya Mar. Dan masih sama seperti yang ia lihat sebelum-sebelumnya, Ivory meletakkan kepalanya diatas meja belajar, lantas membaca buku dengan kepala miring. Tipe pemalas.


“Dia memang gadis unik.”


Grey melanjutkan langkah. Pakaian khas kerajaan yang ia kenakan membuat laki-laki itu terlihat gagah perkasa. Kain berwarna hijau botol gelap berlengan panjang memeluk tubuh, dengan aksen tali-temali yang saling tertaut pengganti kancing, juga warna merah kontras yang disambung diujung lengan. Bahu kanan dan kirinya dilengkapi dengan pangkat dan lencana emas yang menandakan jika ia adalah pangeran mutlak yang akan menggantikan raja kelak. Celana warna senada yang juga pres, memperlihatkan kakinya yang jenjang, panjang, dan sekal. Sepatu boot sebatas lutut dengan besi berlapis emas yang membingkai tepiannya. Tidak lupa, sebuah pedang sebagai perisai dan penanda jika dia juga memiliki kekuasaan sama besarnya seperti raja.


“Ada sesuatu yang anda lupakan, pangeran?” tanya penasehat kerajaan yang mendampingi Grey melakukan pertemuan hari ini.


Grey merotasikan mata untuk menatap tuan Doppler, kemudian menggeleng dan kembali berjalan menuju ruang pertemuan.



Angin berhembus lamban. Suara gemerutuk pohon bambu yang bertabrakan menjadi hiburan tersendiri untuk Ivory. Seperti menghasilkan sebuah melody rahasia, Ivory antusias menatap Nyonya Mar ketika ia menginginkan sesuatu.


“Apa disini ada kelas musik, nyonya Mar?”


Nyonya Mar menatap tajam sejenak, kemudian memukul buku berwarna merah yang sedang dipelajari Ivory dengan penggaris besi kesayangannya. Ivory sampai heran, mengapa nyonya Mar sangat menyayangi penggaris tersebut dari pada dirinya.


“Baca dengan baik. Saya tidak akan menjawab sebelum jadwal belajar anda selesai.”


Ivory menarik keatas sudut bibirnya. Ia kesal sekali jika Nyonya Mar menyuruhnya belajar dan menghafal tanpa henti. Wanita itu juga tidak pernah memikirkan tekanan batin yang diderita oleh Ivory karena desakannya itu.


“Tolong panggil pangeran kesini. Aku sedang bosan.” titahnya, dengan nada mendumal.


Nyonya Mar yang semula ingin diam, kini kembali bersuara karena permintaan konyol Ivory.


“Tuan putri. Anda pikir pangeran itu hanya diam tanpa melakukan apapun?” tanyanya. “Pangeran memiliki tugas yang jauh lebih berat dari anda. Memikul tanggung jawab dari setiap keputusan yang ia buat, dan juga, tidak bisa setiap saat menemani anda dan hanya duduk diam disini.”


“Kalau begitu, aku tidak mau belajar. Besok saja jika pangeran memiliki waktu luang untukku.”


Baiklah, nyonya Mar sudah kehilangan kesabaran.


“Tujuan anda diberikan pendidikan ini, agar jika suatu saat pangeran ada pertemuan yang mengharuskan membawa pasangan, anda bisa berbaur dengan putri lainnya dengan berbekal ilmu.”


Ivory terdiam, menatap lurus pada nyonya Mar.


“Jika anda tidak belajar rajin mulai dari sekarang, anda hanya akan mempermalukan pangeran dengan sikap anda yang terlihat tidak terdidik.”


Hati Ivory mencelos. Kata-kata nyonya Mar tajam menghujam. Begitu menyakitkan.


Sebenarnya, Ivory bukanlah gadis bodoh. Dia selalu mendapatkan nilai sempurna hampir di setiap mata pelajaran, hanya saja tingkahnya yang terlampau bebas itu memang menjadi nilai minus yang dipandang sebelah mata oleh orang lain, termasuk ibunya sendiri.


“Baiklah. Aku akan belajar giat. Tapi untuk kali ini saja, izinkan aku menyudahi jam belajar dan melihat pangeran.” pinta Ivory dengan wajah memelas yang dibuat-buat.


“Putri, pangeran sedang ada pertemuan penting sekarang. Anda tidak bisa mengganggunya.”


“Aku tidak mengganggu. Aku hanya ingin melihat.”[]


Bersambung.