
...Hai, Ivory update nih......
...Sebelum mulai baca, luangkan waktu untuk memberi apresiasi kepada penulis dengan cara like, favorit, komentar, hadiah, dan juga Vote ya......
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
Tabib bilang, usia kandunganku menginjak dua bulan. Dan aku begitu sulit menghadapi ini sendirian. Mual dan pusing yang menyiksa, juga sakit seperti di remat habis di area perut yang datang tiba-tiba. Tapi, aku bahagia, karena aku menjadi wanita beruntung yang mengandung calon penerus kerajaan Geogini.
Sekarang, usia kandunganku sudah berada pada angka tiga. Mual masih sering datang, dan juga pusing, masih selalu menjadi masalah satu-satunya yang membuatku sulit meninggalkan tempat tidur. Kata tabib, bobot tubuhku menurun drastis. Wah, aku sudah tidak sabar ingin melihat anakku.
Aku mulai merindukannya. Merindukan ayah dari anak yang sedang aku kandung. Usia janin dalam kandunganku saat ini sudah memasuki angka empat. Aku sering sulit mengingat sesuatu, dan nafasku sering memburu. Aku tidak tau mengapa dan sebab hal itu terjadi. Tapi aku akan tetap berusaha menjadi sosok ibu yang baik untuk anakku.
Lima. Ya. usia janinku sekarang lima bulan. Dan aku sangat merindukan Grey.
Enam. Kata tabib, aku sama sekali tidak boleh melakukan sesuatu, meski ringan sekalipun. Ritme jantungku sering berdetak tidak teratur. Aku takut itu berpengaruh pada janinku. Bobot tubuhku turun drastis karena nafsu makanku hilang. Aku selalu memuntahkannya bahkan sebelum makanan itu sampai dilambung. Dan aku, sangat, sangat merindukan yang mulia raja.
Tujuh. Seharusnya, hari ini aku mengikuti upacara tujuh bulanan seperti yang sudah di jadikan tradisi sejak dulu. Tapi, karena keadaan dan kondisiku yang tidak memungkinkan, jadi upacara itu menjadi pengecualian untukku. Tolong, siapapun, beritahu pada yang mulia raja, aku sangat merindukan dan membutuhkan dia disini.
Delapan. Yang mulia, tolong maafkan dan lihatlah aku meskipun sejenak. Aku janji, tidak akan memintanya lagi.
Sembilan...
Suamiku, aku sangat merindukanmu. Untuk itulah aku memaksa dayang untuk mengantarku ke sana, ketempat dimana kamu berada untuk menjauhiku.
Aku tidak meminta apapun selain sebuah pengakuan.
Tolong. Jika kamu melihat tulisan ini, kabulkan permintaan maaf dan juga aku mohon, sayangi anak yang lahir dari rahimku ini tanpa memandang siapa aku. Kamu boleh membenciku semau mu, sebesar yang kamu inginkan. Tapi ingatlah satu permintaanku ini. Anak ini adalah darah dagingmu. Dia butuh seorang pendamping yang mengakui keberadaannya. Jika perlu, aku mengiba untuk itu, untuk sebuah pengakuan.
Dan jika aku benar-benar harus pergi dari dunia ini, aku harap kamu bahagia. Dan jika memang ada presensi lain yang hadir dalam benakmu, tolong sayangi anakku. Anak yang aku lahirkan. Sekali lagi, tanpa melihat siapa aku (—)
Tulisan itu terpotong. Tidak ada tanda titik penutup ataupun kalimat selanjutnya yang bisa menjadi pertimbangan untuk Grey. Sembilan, angka yang terlalu jauh untuk Grey mengakui kebodohannya. Tulisan pada bulan ke sembilan itu tidak teratur, berantakan, seperti anak kecil yang baru saja belajar membuat abjad membentuk dan menyusun sebuah kata.
Penuh kejutan. Ivory selalu seperti itu.
Ada rasa nyeri yang teramat sangat menyakitkan ketika Grey menatap nanar pada lembaran surat yang ditulis Ivory, yang saat ini berada dalam genggamannya. Satu persatu ia baca, dan membuat kabut dimata jernihnya berubah menjadi rintikan tangis.
Hatinya begitu teriris miris ketika membaca isi curahan hati Ivory yang pilu, setiap masa kehamilannya bertambah usia. Wanita itu membutuhkan dirinya untuk tegar dan bertahan, tapi dia pergi menjauh dalam rangkulan keegoisan. Grey memang keras kepala, dan tidak pernah ragu atau menyesali setiap keegoisannya itu. Tapi kali ini, dia salah langkah. Dia sudah membuat Ivory harus menjalani kesulitannya seorang diri.
Namun kali ini, ia seperti dihancurkan oleh badai yang memporak porandakan bangunan megah sebuah cinta didalam hatinya. Ivory nya yang berharga telah pergi untuk selamanya, dan dia bukanlah orang yang berada disampingnya ketika nafas itu menghilang.
Sesak menyergah dada Grey. Dia menepuk keras dada bidang yang dulu selalu menjadi tempat favorit Ivory ketika bersamanya. Namun sekarang, dada itu nyaris tak berbentuk luar dalam. Ia hancur.
Disana, diatas sebuah tandu yang akan mengantar kepergian Ivory kembali ke pangkuan sang kuasa, Grey masih bisa melihat wajah cantik alami wanita yang ia cintai itu meskipun begitu kurus. Gaun yang menjadi pengantar tidur panjang Ivory berwarna sama seperti namanya, Ivory. Warna putih sedikit pudar itu begitu cantik tanpa Grey ketahui betapa berharganya makna dibalik semua itu.
Grey tersenyum getir ketika langkahnya yang menggema di lorong ruangan kini dipenuhi oleh manusia yang juga mencintai wanita yang sedang berbaring tenang dalam tidur panjang disana. Grey menatap sendu wajah Ivory, melukisnya dengan baik didalam memori terindah didalam laci ingatan. Menguncinya rapat-rapat agar tidak ada orang lain yang bisa membuka dan menggantikannya dengan memori baru.
“Kamu egois.” tukasnya, tajam.
Lucu. Ucapan itu seharusnya lebih pantas ia katakan untuk dirinya sendiri, dari pada harus diutarakan kepada Ivory yang tidak bisa membalasnya dengan sebuah penyangkalan.
“Kamu tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan.”
Ada sebuah retakan keras dari sisa-sisa hatinya yang masih memiliki kepingan cukup besar. Ia akan hancur tak bersisa bersama kalimat-kalimat yang akan ia katakan.
“Sekarang, lihatlah. Kamu meninggalkan aku. Bahkan tidak memberiku izin untuk mengucapkan sepatah katapun—”
Kalimat Grey menggantung. Ini salahnya. Dia sendiri yang tidak memberi izin untuk dirinya berkata apapun di akhir nafas Ivory. Untuk yang kesekian kalinya, Grey menyesal. Dia terlalu egois.
“Maaf.” ucapnya tiba-tiba. Maniknya sudah menganak sungai tanpa bisa ia tahan. Grey menangis.
Tepat pada saat itu, suara tangis bayi menyita atensi Grey. Sejak ia menginjakkan kakinya disini, dia hanya digulung ombak bersalah tanpa menyadari ada presensi lain yang harus ia perhatikan. Bayi cantik berkulit bersih, berhidung mancung, berbibir tipis sewarna Cherry. Ivory ada dalam diri bayi mungil itu.
Grey tersenyum mengulurkan lengan untuk mempertemukan permukaan kulit mereka untuk yang pertama kalinya.
“Anda ingin menimangnya, yang mulia?”
Grey mengangguk dan menerima bayi itu dari gendongan salah satu dayang, memperhatikan lamat-lamat untuk memastikan jika dirinya juga ada didalam diri gadis kecil jelita dalam dekapannya. Bibir mungil itu mengulu*m senyum, seketika membuat tangis Grey pecah. Ia membawa bayi kecil dalam gendongan itu mendekat kepada Ivory. Tergugu dan tertawa dalam waktu bersamaan, dan membuat seisi ruangan turut menitihkan airmata.
“Lihatlah betapa cantiknya dia, ratuku.” ucapnya dalam gugu tangis yang tidak lagi terkontrol. “Mengapa kamu tega meninggalkan gadis kecil secantik dia, hemm? Mengapa?”
Semua mata yang menyorot pemandangan pilu itu ikut hancur. Tak terkecuali kedua orang tua Ivory yang hadir disana.
Grey jatuh terduduk dibawah tubuh Ivory. Ia mencium putrinya penuh kasih, lantas kembali melihat pada Ivory yang tetap tidak bergerak. Mustahil, tapi Grey berharap jika Ivory akan membuka matanya, tersenyum, dan memeluk mereka berdua.
“Maafkan aku...” ucap Grey yang menyerupai sebuah bisikan. “Seperti yang kamu inginkan, aku akan menjaga, menyayangi, dan membesarkannya penuh kasih sayang. Aku juga akan mencintainya seperti mencintaimu, sebesar rasa cintaku padamu. Aku berjanji akan mengakuinya sebagai anakku, karena memang dia adalah putri kita. Putri yang seharusnya kita rawat dan besarkan bersama-sama.” Grey menjeda kalimatnya, ia bangkit, lantas mencium kening Ivory sembari memejamkan matanya. Merasai aroma Vanilla dan segar apel yang lembut di rambut indah yang digerai. Setitik air mata jatuh di sisi pipi kurus Ivory. “Ivory, kamu adalah warna kehidupanku. Selamanya.” []
...—FIN—...
...See you....
...Green Waiting you all guys....
...Silahkan mampir, baca dan ramaikan ceritanya ya Readers baik hati kuuuh.......
...Thank you....
...Big love,...
...Vi's...