
Berkuda, memanah, bela diri, permainan pedang—anggar, dan beberapa olah raga lain adalah kegiatan wajib yang harus dikuasai setiap anggota kerajaan, dengan tujuan mampu untuk membela diri disaat genting, selalu di terapkan di kerajaan Geogini. Raja tidak mau jika sampai penghuni istana tidak bisa melakukan salah satu diantara banyak olahraga tersebut.
Pangeran Grey sedang fokus membidik titik pusat sasaran agar anak panah yang hendak ia lesatkan, tepat pada titik yang ia inginkan. Begitu anak panah pangeran Grey berhasil mendarat pada titik yang ia inginkan, sebuah tepukan meriah terdengar di kejauhan. Suasana yang biasanya begitu tenang, dan khidmat, tiba-tiba berubah riuh membingungkan. Beberapa pengawal yang mendampingi pangeran Grey berlatih, turut menoleh ke sumber suara.
“Wah, pangeran hebat ya?”
Fucia memejamkan mata, menyesal sudah memberitahu Ivory tentang kegiatan sore sang pangeran, yang berakhir dengan drama gadis itu merengek minta diantar menuju tempat pangeran berada.
Lapangan yang digunakan tidak kalah indah dengan tempat belajar, hanya saja, ini adalah tanah lapang yang benar-benar berada di alam terbuka, di kelilingi Padang rumput hijau yang asri, dan terlihat jelas gletser pada gunung-gunung tinggi berjejer yang menjadi bingkai indah dibalik bangunan megah istana.
“Mengapa dia ada disini?” jelas, pertanyaan itu ditujukan untuk dayang yang mendampingi Ivory, Fucia.
Mendengar pertanyaan tersebut, Ivory langsung saja menjawab sebelum Fucia membuka mulut. “Saya yang meminta dan memaksanya. Jadi jangan salahkan Fucia, pangeran.”
“Maksudku, mengapa kamu kesini? Bukankah seharusnya kamu belajar—”
“Sudah. Saya sudah melakukannya tadi bersama nyonya Mar.”
Grey tidak suka spontanitas yang dimiliki Ivory. Terkesan tidak sopan dan lancang ketika menyela seseorang yang sedang berbicara.
“Bukan hanya bersama nyonya Mar, kamu seharusnya juga giat belajar mandiri.”
Ivory tidak menggubris dan memilih untuk berlari mengitari lapangan. Ivory akan betah tinggal disini. Dan ada sebuah pohon yang menarik perhatian Ivory sejak pertama kali melihat tempat ini.
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Ivory tersenyum dan melambaikan tangan kearah Fucia, mengajak dayang sekaligus temannya untuk bergabung di bawah pohon tersebut. Ivory seperti menemukan hoby baru disini. Dia akan berlarian di pagi hari keliling lapangan, lalu berhenti dan mengajak Fucia untuk belajar di bawah pohon rindang ini sebelum kelas belajar nyonya Mar dimulai.
“Tapi anda akan dihukum jika melakukan itu, tuan putri.” protes Fucia, sebab setaunya, para wanita yang tinggal di istana ini, dituntut untuk bersikap anggun dan santun. Bukan malah sebaliknya.
“Tapi, lari kan juga olahraga? Bagaimana bisa itu menjadi sebuah masalah?”
Fucia menggelengkan kepala tidak mengerti. Akan tetapi, ia juga sadar sepenuhnya jika semua harus dijalani dan dijelaskan secara perlahan kepada Ivory. Gadis itu terlahir dengan kebebasan seperti dirinya dulu, dan semua sikap bebasnya bisa ia ubah secara perlahan.
“Tuan putri, lingkungan yang anda maksudkan itu berbeda. Dan disini, semuanya terikat, tidak bisa melakukan semua hal sesuai keinginan kita. Semua di lakukan tidak boleh keluar dari peraturan yang sudah dibuat raja.”
Ivory menatap sebal. Semua orang yang tinggal di istana ini terlalu kaku. Bahkan Ivory sendiri sudah membatin, akan tetap merealisasikan keinginannya meskipun akan terkena masalah. Dan itu artinya, dia akan dianggap sebagai pembelot, dan... pernikahan itu akan dibatalkan.
Senyuman merekah terbit di bibir semerah cherry milik Ivory. Mengapa ide brilian ini baru muncul?
“Fu, bantu aku untuk sekali saja.”
...***...
Pangeran Grey tidak tau, mengapa raja tidak memilihkan saja calon istri untuknya, dari pada mengadakan sayembara dan berakhir mendapatkan gadis liar seperti tarzan untuk disandingkan dengannya.
Grey menghela nafas berat. Berendam air hangat beraroma therapy memang sangat menyenangkan. Otot-otot yang kaku akan segera kembali relax, otaknya yang tak kalah lelah juga setidaknya akan tenang sebelum ia menikmati istirahatnya nanti.
Setelah lama berendam dan bahkan hampir saja tertidur jika tidak mendengar ketukan keras, Grey bergegas keluar dari tempatnya berendam. mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh dayang, dan memicing dalam karena menyadari sesuatu. Ketukan keras itu bukan berasal dari pintu, melainkan jendela.
Ia berjalan mendekat kesana, bersumpah akan menebas habis siapapun yang muncul dari balik jendela tersebut.
Dengan gerakan terlampau pelan, Grey mendorong daun kayu berornamen itu. Lantas Grey yang sangat terkejut, bukannya melayangkan pedang sesuai sumpah, ia malah jatuh terduduk dilantai dengan wajah panik dan baju bawahnya yang tersingkap ke atas.
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanyanya dengan nada cukup keras hingga membumbung seantero kamar.
Ivory hanya memberikan sebuah cengiran, lantas menyingkap gaun dan masuk melalui jendela.
“Hentikan! Apa yang akan kamu lakukan disini?”
“Ssshhh, berisik!” tuturnya tanpa dosa.
Tidak menunggu waktu lama, Grey bangun dengan kasar, dan menarik paksa pergelangan tangan Ivory yang terasa begitu kecil dan lembut.
“Keluar dari sini. Sebelum aku menebas kepalamu.”
“Tu, tunggu. Aku ingin mengatakan sesuatu dengan anda, pangeran.”
Tidak peduli, Grey semakin gencar menarik lengan Ivory yang menolak diusir. Gadis itu meronta hingga tubuh rampingnya terpelanting ke kanan dan ke kiri.
“Kamu bisa mengatakannya besok. Atau kamu akan terkena masalah.”
“Aku ingin membuat kesepakatan.”
Langkah yang hampir mencapai pintu itu terhenti. Kesepakatan? Bukankah itu konyol? Dan juga, kesepakatan yang bagaimana? Untuk apa? Batin Grey masih menerka isi otak gadis dihadapannya itu.
“Kesepakatan untuk pernikahan kita.”
Ah, rupanya dia tidak ingin menikah denganku. Apa dia tertekan?
“Kesepakatan apa?”
Ivory membenarkan posisi gaunnya yang sempat terinjak dan hampir melorot, kemudian mengunci tatapan pada manik Grey. Tentu saja dengan penuh rasa percaya diri yang tangguh.
“Aku, akan membuat pernikahan itu gagal.”
Grey hampir saja menyemburkan tawa melihat ekspresi antusias di wajah Ivory lantas membuang nafas kasar. Jika dipikir-pikir, seharian ini, dia boros dalam memasok udara keparu-parunya.
Grey melepas kungkungan di tangan Ivory, lantas berjalan santai menuju salah satu kursi dengan sandaran kayu jati berplitur coklat.
“Dengan cara apa?”
Ivory yang sudah terlanjut antusias, berlari dengan tawa penuh ceria untuk mendekati pangeran Grey. Lantas duduk disampingnya, dan menepuk sebelah paha sekal milik sang pangeran.
Mendapat serangan mendadak begitu, sontak Grey mebuka mata lebar-lebar karena terkejut.
“Begini. Aku akan membuat tingkah aneh yang menyalahi aturan kerajaan. dengan begitu, aku akan diusir dan kita tidak jadi menikah.”
“Kamu akan terkena masalah jika berprilaku aneh.”
“Tidak masalah. Yang penting kita tidak jadi menikah.” lanjutnya, masih dengan manik bling-bling yang begitu antusias.
Tidak menanggapi, pangeran Grey memilih berdiri dan menjauhi Ivory yang masih nyaman dengan kursi empuknya.
“Lho, lho. Pangeran mau kemana? Pangeran setuju 'kan?” tanya Ivory dengan binar di kedua manik coklatnya yang terlihat indah. Grey tidak akan bisa bertahan dengan bibir gadis itu yang terus mengoceh tanpa diminta.
“Tidak. Jadi sekarang keluar dari kamarku.” titahnya sembari membuka pengait pintu yang terbuat dari baja berukuran sedang.
“Eh? Mengapa tidak setuju? Bukankah pangeran juga tidak ingin menikah denganku?”
“Siapa bilang. Aku ingin menikah.” jawab Grey dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat. Sedangkan Ivory, melongo karena benar-benar terkejut dan tidak menyangka.
“Oh astaga.” desah Ivory dengan kaki menghentak ubin beberapa kali. Dia sungguh tidak menginginkan hal ini. “Apa pangeran menyukai wanita dibawah umur?”
Kali ini, pangeran yang dibuat terkejut dan tak terima dengan pendapat Ivory.
“Apa maksud—” pangeran Grey kehabisan kata-kata ketika tanpa sengaja melihat bibir segar Ivory sedikit terbuka. Menggoda. “Keluar!” titahnya, menarik kasar lengan Ivory setelah menggeser slot dan pintu terbuka.
Sepasang pengawal yang berjaga diluar kamar terkejut karena pangeran menyeret putri Ivory dari dalam kamarnya. Padahal, setau mereka, pangeran tadi sendirian.
“Pergi! Dan jangan pernah kembali kesini!” lalu membanting pintu dengan keras. Membuat tiga nyawa disana berjingkat berjamaah.
Saling tatap, Ivory bisa menebak jika dia akan kembali diseret untuk keluar dari sini.
“Ya, ya. Aku akan berjalan sendiri. Jangan seret aku seperti perampok.”
Dengan wajah kesal dan kecewa, Ivory menyeret langkah melewati lorong temaram yang akan membawanya menuju pintu utama untuk meninggalkan tempat khusus pangeran Grey.
“Kalau tidak mau, kenapa dia bertanya?” gerutunya sebal, sesekali menghentak kaki di lantai.
“Awas saja. Aku akan membuat dia setuju, atau aku akan benar-benar membuat keonaran di istana ini.”[]
Bersambung.