
...Selamat hari Jum'at berkah......
...Happy Reading....
...•...
Junot berdiri diam dipondok kecil yang berada tidak jauh dari tempat memanah. Pandangannya kosong menerawang ke alam terbuka. Ia tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan. Semuanya sudah terlanjur dan tidak akan bisa disesali.
Langit sore semakin menggelap, dan itu terasa seperti terjadi hanya dalam hitungan detik.
“Sedang memikirkan sesuatu?”
Suara mendayu milik Dayana memecah keheningan Junot. Kedua tangan yang sebelumnya bertumpuk dibalik punggung, kini terarah ke dada sembari membungkuk, memberi salam hormat kepada Dayana.
“Apa sesuatu sedang terjadi di Geogini?”
Dayana diam-diam sering memperhatikan ekspresi Junot. Dan untuk kali ini, dia menebak dengan percaya diri jika sedang terjadi sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah.
Junot tersenyum. “Anda benar. Sebaiknya anda segera berkemas untuk meninggalkan Geogini.”
Dahi Dayana berkerut karena terkejut. “Apa maksudmu?” tanya Dayana tidak percaya dengan perkataan Junot.
Junot menghela nafas berat. Ia menatap lekat manik Dayana penuh perhatian, lantas berkata. “Sesuatu yang buruk akan menimpa Geogini.” katanya, lalu menundukkan kepalanya penuh sesal karena tidak bisa mencegah pangeran Grey mengambil keputusan memberi akses kepada Amber saat itu. Junot juga tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri. ”Pangeran Grey membuat kesalahan. Dan aku tidak menghentikannya hari itu. Aku juga bersalah.”
...***...
Hampir tengah malam, Grey baru kembali menginjakkan kaki di istana kedua. Hal pertama yang ingin netranya lihat ialah Ivory. Namun nyatanya gadis itu sudah tertidur lelap dikamar, mungkin karena terlalu lama menunggu ia kembali dari istana utama. Lantas Grey memilih memutar diri, kembali menutup pintu kamar dan pergi keruang tengah yang gelap.
Disana, ia kembali merenungkan apa yang dikatakan sang raja tentang kemungkinan buruk yang akan terjadi jika sampai Murdock terlihat atau tertangkap basah berada dikawasan kerajaan Nobul—salah satu kerajaan besar yang menjadi sekutu Geogini—lalu menunjuk Geogini sebagai penghianat.
Ini kesalahannya. Ia terlalu gegabah mengambil keputusan, dan sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Kemungkinan besar Murdock telah diketahui keberadaannya oleh raja Nobul.
Grey memijat pelipisnya yang terasa berat. Pikirannya kalut ketika membayangkan Geogini berubah menjadi lautan darah dan api penghangusan yang membakar sisa kehidupan, lalu melihat kejadian mengerikan lainnya yang tentu saja tidak bisa ia ungkapkan dengan apapun. Terlalu mengerikan.
“Astaga, aku harus bagaimana?” desisnya frustasi, meletakkan lengannya diatas mata yang tertutup. Otaknya benar-benar buntu dan tidak satupun ide muncul disana. Ia bahkan seperti seorang buron yang terpojok dan tidak menemukan jalan keluar untuk sekedar lari menyelamatkan diri.
Saat kepalanya berdenyut nyeri, seseorang mengetuk pintu, menuntun Grey untuk bangkit, kembali melangkah dan membuka pengait pintu. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat putri Dayana sedang berdiri di ambang pintu. Wajahnya sedikit pucat, dan kedua maniknya berwarna merah.
Lantas ia terkejut kala Dayana memeluknya begitu saja tanpa meminta izinnya. Grey hanya diam tanpa membalas.
“Aku tau, Geogini sedang diambang kehancuran.”
Grey membolakan kedua matanya. Sebenarnya dia bertanya-tanya apa tujuan Dayana tiba-tiba datang, memeluknya, dan mengatakan jika Geogini berada dalam keadaan buruk.
Sesaat kemudian, Dayana melepas pelukannya dan menarik Grey keluar dari istananya menuju tempat rahasia yang mereka gunakan untuk bertemu. Sebuah bunker bawah tanah yang memiliki udara sedikit pengap, dan gelap gulita jika tidak diberi cahaya. Lalu, Dayana dengan berani mendaratkan satu ciuman dibibir Grey yang mendapat penolakan dari si pangeran.
“Aku mohon hentikan, putri Yana. Dan kita kembali ke—”
Grey semakin terkejut ketika Dayana mulai merapatkan tubuhnya dan menyandarkan kepala pada dada bidangnya. Aroma yang masih sama yang ia sukai, seperti campuran bunga dan Pinus segar.
“Aku mohon kepadamu, pangeran. Ayo kita pergi dari—”
“Aku tidak akan kemana-mana. Geogini adalah tanggung jawabku.” tegas Grey, kemudian menarik Dayana dari dirinya. Ada sebongkah besar rasa bersalah ketika bersama Dayana seperti ini. Ia seperti bertransformasi menjadi seorang pengkhianat ulung. “Maaf, tapi aku harus kembali ke istana ku. Aku takut Ivory melihat kita seperti ini.”
Dayana tidak tau sejak kapan Grey berubah dan berusaha menjauhi dirinya. Detik selanjutnya, Dayana menatap lekat pada Grey, mencoba meyakinkan jika dugaannya itu tidak salah. Grey menjauhinya.
“Cium aku.” titah Dayana yang justru membuat Grey terbelalak, terkejut setengah mati karena tidak bertemu dengan Dayana beberapa hari, justru membuat wanita itu terlihat seperti unjuk sebuah tuntutan. “Aku bilang, cium aku.”
Grey melihat manik berkabut milik Dayana, dan tanpa berfikir panjang, dia mendaratkan bibirnya pada bibir penuh Dayana. Menyesapnya tanpa berfikir tentang apapun didalam otaknya. Dia hanya melakukan itu karena Dayana menyuruhnya, tidak lebih.
Ciuman perpisahan. Apa pantas disebut seperti itu? Sebab Grey tidak lagi punya keinginan untuk mengulanginya lagi. Dia akan kembali pada Ivory seutuhnya, memulai semua dari awal hingga akhir hayat.
“Pergilah ke timur. Selamatkan dirimu dan jangan pernah menengok kembali kebelakang.”
Dayana menggeleng. Dia tidak ingin pergi dari Geogini, terutama berpisah dari Grey.
“Aku mohon.” pinta Grey dengan sungguh.
...***...
Daun pintu ia buka kasar. Tidak ada penjaga pagi ini. Ivory sontak berlari mencari-cari keberadaan Grey. Hingga akhirnya, dia bisa bernafas lega ketika mendapati Grey berdiri memunggungi dimana dirinya sedang berdiri saat ini.
“Syukurlah. Ternyata aku hanya mimpi buruk.”
Semalam, Ivory melihat bagaimana peperangan terjadi di Geogini. Kemudian, sesekali berpakaian yang entah dari kerajaan mana, menghunuskan pedang tepat ke arah dada dan perut Grey. Ivory menangis dalam tidur, dan keesokan harinya—yaitu pagi ini—dia tidak mendapati Grey berada dikamar dan mimpi itu seolah berubah menjadi kenyataan dan menakuti benak Ivory.
“Pangeran,” panggilnya serak, menarik atensi Grey yang membuat sosok bertubuh tinggi tegap itu memutar tubuh, lalu tersenyum hangat. Senyuman yang begitu dirindukan dan dipuja oleh Ivory akhir-akhir ini. “—sejak kapan kamu berdiri disini?”
“Belum lama.”
Tapi, pada kenyataannya sudah hampir semalam suntuk dia berdiri bak patung disana. Pikirannya kosong, hanya dipenuhi rasa gusar dan khawatir karena tidak kunjung mendapat jalan keluar dari masalah berat yang mengancam kerajaan Geogini.
“Apa tidak dingin?”
“Oh, Ada apa dengan keningmu?” telisik Grey melihat kening yang berjarak dekat dengan pilipis Ivory memerah, bahkan hampir berubah biru.
“Hanya tidak sengaja jatuh ketika bangun tadi.”
Grey menggeleng sebagai jawaban pertanyaan lugu Ivory. Tentu saja dingin. Bahkan tubuhnya seperti berubah menjadi sebalok es, dan juga, bisa-bisanya Ivory terjatuh.
“Aku...” Ivory menjeda ucapannya, lantas menilik manik Grey yang terlihat sangat lelah. Ada lingkaran hitam yang muncul samar dibawah kelopak matanya. “...bermimpi buruk, semalam.”
Grey menarik Ivory mendekat, memeluknya erat dan sedikit mencari kehangatan untuk tubuhnya yang menggigil dingin. “Mimpi buruk?”
Sebuah anggukan Ivory berikan. “Mimpi yang menakutkan. Aku sampai menangis.”
“Oh, benarkah?” Grey menjauhkan diri, memirsa wajah Ivory yang saat ini begitu cantik meskipun tanpa polesan make-up sedikitpun. Lantas ia mencubit gemas satu pipi Ivory yang memerah, dia seperti sedang kedinginan. “Memangnya mimpi apa? Melihatku mati?”
Jari telunjuk Ivory mendarat tepat dibibir Grey. Memberi isyarat agar kalimat itu seharusnya tidak pernah diucapkan. Ekspresi Ivory yang tadinya antusias berubah sendu. “Jangan katakan itu, aku takut jika suatu saat akan menjadi kenyataan. Aku tidak ingin itu terjadi.” kesal Ivory, menunduk lesu dengan bibir cemberut.
“Hei, dengarkan aku.” Grey mengangkat dagu Ivory, memaksa gadis itu melihatnya kembali. “Aku seorang pangeran. Banyak orang yang menyukaiku, tapi tidak menutup kemungkinan jika banyak yang membenciku.” tuturnya, mengusap lembut pipi Ivory, wanitanya yang begitu ia sayangi dan kasihi, terlepas dari siapa kedua orang tuanya. “Jadi, sudah resiko jika seseorang tiba-tiba mengancam nyawaku. Dan, bukankah semua kehidupan akan kembali pada penciptanya?”
Mendengar hal itu, hati Ivory berdenyut sakit. Apa yang dikatakan Grey tidak ada yang salah, semuanya benar tanpa bisa dielak sedikitpun.
“Tapi tidak untuk sekarang atau beberapa tahun kedepan. Aku ingin bersama pangeran lebih lama. Membesarkan anak-anak kita nanti bersama, lalu menua bersama dan saat itulah aku akan rela melepas siapa yang lebih dulu pergi.”
Grey membawa kembali Ivory kedalam dekapan. Maniknya membuatmu, dan rasa sedih tidak dapat ia sembunyikan lebih lama. Setetes airmata jatuh dari pelupuk mata Grey untuk pertama kalinya, dan jatuh tepat diatas bahu Ivory tanpa wanita itu ketahui.
“Aku mencintaimu.” ungkap Grey.
“Aku juga mencintaimu, pangeran.”
Keduanya memejamkan mata, menghirup aroma satu sama lain untuk mereka simpan dalam memori dan bersumpah tidak akan pernah menghapus atau melupakannya.
Hingga lagi-lagi harus berakhir karena seorang prajurit datang dan mengatakan sesuatu.
“Pangeran, raja memanggil anda. Ada sebuah surat yang diterima raja, dan anda harus mengetahuinya.”
Saat itulah Grey tau apa maksud mimpi Ivory dan apa yang harus ia lakukan kepada wanita tercintanya itu sebelum terlambat.
“Dengarkan aku, putri. Segera kemasi barang-barang milikmu, dan ajak dayang Fucia untuk menuju tempat yang sudah aku jelaskan semalam.”
“A-ada apa?” tanya Ivory. Rasa takutnya bertambah berkali-kali lipat. Ia tau sesuatu yang buruk sedang terjadi hingga dia harus meninggalkan Geogini.
“Percayalah padaku. Aku akan menyusul kesana setelah semuanya selesai. Aku janji.” Grey mengangkat jari kelingking, yang diabaikan oleh Ivory. Kali ini, wanita itu tidak mau lagi mengiyakan satu janji dari Grey yang bahkan belum menepati janji sebelumnya. Karena tak kunjung disambut, Grey menurunkan kelingkingnya, dan meraih kedua bahu Ivory yang saat ini sudah menitihkan airmata. Grey mengusapnya lembut. “Aku janji, aku akan datang. Jadi, tunggu aku disana. Tidak akan lama, sama sekali tidak lama.”[]
Bersambung.
...🍃🍃🍃...
...Nulis part ini bikin sesak. :(...
...Apakah Grey benar-benar akan datang dan memenuhi janji-janjinya kepada Ivory?...
...See you soon....