IVORY

IVORY
Terkaan dan keputusan.



...Bagaimana kabar kalian hari ini?...


...Hai, IVORY kembali update nih....


...Sebelum baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan like, komentar, favorit, serta rate kalian ya ......


...Thank you....


...Happy Reading......


...•...


Harusnya, hari ini adalah hari peresmian untuk memperkenalkan kereta sebagai alat transportasi baru yang bisa digunakan masyarakat, selain kuda. Namun semua harus tertunda karena masalah pelik yang sedang menerpa Geogini, berikut Amber sebagai pemicunya.


Setelah menolak permintaan Murdock membawa Rose dan Rontge ke Amber, Grey memohon dan meminta maaf kepada orang tua Ivory agar mau ditempatkan di penjara untuk sementara setelah mendapatkan pengobatan dari tabib kerajaan. Setidaknya, sampai keadaan kembali kondusif.


Tidak ada pilihan lain, Grey juga sedang mencari solusi dan mencari bukti bagaimana bisa Rose dan Rontge terlibat dengan kasus sepelik dan serumit ini, sedangkan keduanya yang sedang tertuduh menyangkal akan tuduhan yang diberikan kepada mereka.


Grey rasa, semuanya mungkin hanya kesalah pahaman semata. Ia juga tidak yakin jika Rose dan Rontge adalah orang yang baik dan tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Mencuri putri kerajaan Amber, Grey yakin mereka tidak melakukannya. Bahkan sebelum dia pergi dari penjara tadi, Rose berkata dan berpesan kepada Grey, jika dia harus melindungi Ivory, karena Ivory tidak tau apapun tentang masalah ini.


Lalu, apakah mengirim Ivory ke Denham merupakan pilihan yang tepat?


Astaga. Mengapa Grey bisa mengambil keputusan gegabah seperti itu? Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada Ivory dan dayangnya ketika melakukan perjalanan ke Denham? Mengingat hutan itu—medan yang harus mereka berdua lewati—merupakan hutan terlarang yang tidak pernah dijamah nafas manusia.


Grey memijat Kepalanya yang sangat pusing. dia sama sekali tidak ingin hal buruk terjadi kepada Ivory. Terbesit kembali keputusannya yang telah mengirim istrinya tanpa pengawalan apapun, apa sudah benar? Pertanyaan itu terus berputar-putar didalam kepalanya.


Raja Harllotte menegur Grey supaya lebih fokus pada pembicaraan mereka. Tapi, seluruh kepalanya terisi penuh oleh Ivory. Tentang bagaimana nasib wanitanya itu saat ini.


“Berikan surat itu kepada pangeran.” ucap raja Harllotte kepada perdana menteri yang langsung saja diiyakan tanpa ragu.


Dan Grey, menerima tabung berisi surat dari kerajaan Nobul itu dengan perasaan campur aduk. Ia mengeluarkan isi tabung tersebut, dan sebuah rasa bersalah kembali menyergah. Fikirannya sedang tidak fokus.


“Mereka melihat Murdock dan meminta penjelasan kepada kita tentang bagaimana bisa dia berada disana.” suara raja Harllotte kembali menggema, membuat Grey mengangkat wajahnya sejenak untuk menatap sang kakek, kemudian kembali membuka surat dalam genggaman. Membacanya dengan seksama dan teliti. Dan ya, seperti yang dikatakan oleh raja Harllotte, kerajaan sekutu mereka—Nobul—meminta penjelasan.


“Kita harus terbuka kepada mereka, yang mulia. Saya sendiri yang akan kesana untuk memberi jawaban.” jawab Grey tegas. Dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman yang akan berakibat fatal dengan hubungan bilateral mereka. Raja Nobul adalah raja yang bijaksana, jadi Grey yakin beliau akan mengerti maksud dan tujuannya memberi akses kepada Murdock.


“Suasana sedang tidak kondusif. Kita kirim saja surat sebagai balasan. Dan tentang orang tua putri Ivory,” raja Harllotte menjeda, ia juga terkejut dengan keadaan Rose dan Rontge ketika ia sampai di ruangan pertemuan tadi. Murdock juga sudah pergi kembali ke Amber tanpa sepengetahuannya. “—apa mereka baik-baik saja di penjara bawah tanah?”


Grey mengangguk memastikan. Lantas ia menggulung dan memasukkan kembali surat dari Nobul kedalam tabung dan berkata. “Saya sedang mencari informasi, dan mengutus beberapa detektif untuk menyelidiki kecurigaan Amber kepada mereka.” karena Grey yakin, tuduhan yang diberikan kepada mereka, tidaklah benar. Dan Ivory adalah putri kandung Rose dan Rontge.


Lagi-lagi Ivory. Nama itu seolah tidak mau putus dari ingatannya. Grey Mendes*ah frustasi. Kalut kembali membanjiri isi kepalanya. Ia ingin sekali memacu kuda dan segera menyusul Ivory ke Denham. Ia berharap Ivory sudah berada disana dan...baik-baik saja.


“Apa putri Ivory tau tentang semua masalah yang melibatkan kedua orang tuanya?”


Raja Harllotte mengangguk, lantas menatap Junot yang sedari tadi tidak membuka suara sedikitpun. Panglimanya itu juga terlihat gusar.


“Panglima Jun, apa yang sedang kamu pikirkan?”


Seketika itu fokus Junot kembali. Ia membungkuk lima belas derajat dengan telapak menyentuh dada, kemudian berbicara tanpa melihat wajah sang raja. “Saya hanya sedang memikirkan sesuatu tentang Murdock dan Amber, yang mulia”


Sang Raja mengerutkan kening. Sedikit banyak, Harlotte juga sama dengan Junot. Memikirkan kemungkinan buruk yang akan dibawa Murdock untuk Geogini.


“Murdock meninggalkan Geogini dengan perasan murka. Apa ini tidak akan menjadi dampak buruk bagi Geogini? Saya tau peringai raja Aruchi yang sering mengambil tindakan gegabah dan membenarkan pendapatnya sendiri.”


Grey terdiam. Ia juga memikirkan hal yang sama, sejak melepas kepergian Murdock. Laki-laki itu juga memberikan ancaman kepadanya. Kepada Geogini.


Kemudian, dengan suara rendah Junot melanjutkan. “Saya takut, jika hal buruk dan petaka bukan datang dari sekutu kita yang merasa di khianati, melainkan Amber yang murka karena tujuan mereka tidak tercapai dan terealisasi sesuai keinginan yang raja Aruchi harapkan.”


...***...


“Mereka melarang saya membawa dua orang penyusup itu, dan menyuruh saya kembali ke Amber dan memberitahu kepada anda, jika mereka akan mencari tau terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menyerahkan dua penyusup itu kepada kita.”


Raja Aruchi mengeratkan kepalan tangan, rahangnya juga turut mengerat sebab tidak terima dengan keputusan Geogini. Ini masalah hidup dan mati putrinya, tapi Geogini selalu menjadi pihak yang mempersulit semuanya. Ia tidak terima. Ia sakit hati. “Lalu, informasi apa lagi yang kamu dapat dari dua orang itu?”


“Mereka tidak mengatakan apapun. Mereka keukeuh menyangkal jika mereka adalah penculik putri Honey. Dan yang lebih mengejutkan, mereka memiliki seorang putri.”


“Apa?” pekik raja Aru dengan suara menggelegar saat mendengar satu informasi yang baru saja disampaikan oleh Murdock.


“Mereka memiliki putri seusia putri Honey, namanya Ivory. Tapi, putri mereka sudah dipersunting oleh kerajaan, dan menjadi istri pangeran Grey Yohansen.”


“Kurang ajar!!” geram raja Aruchi tidak suka. Bagaimana bisa ia tidak tau tentang hal penting itu. Bukankah tidak menutup kemungkinan jika gadis bernama Ivory itu putrinya?


“Apa kamu melihat wajah gadis itu?” tanya raja Aruchi, menatap dengan sorot tajam sarat marah.


Dengan penuh penyesalan, Murdock menggelengkan kepala. “Tidak yang mulia. Saya tidak melihatnya.”


Apa ini sebuah keberuntungan bagi raja Aruchi ketika tau gadis bernama Ivory itu adalah putrinya? Ia ingat betul dimana dia akan mengenali gadis tersebut sebagai anaknya. Tanda lahir. Honey memiliki sebuah tanda lahir berupa titik hitam yang membentuk seperti segitiga pada tengkuk leher tepat dibawah daun telinga. Aruchi akan mendatangi Geogini sekali lagi dan memastikan hal itu.


Raja Aru berjalan meninggalkan singgasana, melangkah begitu yakin menuruni setiap anak tangga dan meraih pedang miliknya yang ada di atas meja. “Aku tidak mau membuang waktu lebih lama dan tinggal diam disini begitu saja.”


Murdock mengerti maksud ucapan rajanya. Ia membungkuk untuk kesekian kali, membenarkan ucapan Aruchi, lantas berdiri tegap dibalik punggung raja Aruchi yang terlihat sedang di gelung oleh rasa ingin tau, menyerupai sebuah rasa antusias yang menjelma menjadi luapan emosi. Ia adalah perisai, apapun yang dilakukan rajanya adalah sebuah titah mutlak dan ia akan menyerahkan seluruh hidupnya untuk melindungi. Itu adalah sumpahnya. Sumpah yang ia pegang ketika Aruchi sudah menolongnya dari keterpurukan saat itu.


“Siapkan pasukan inti dalam jumlah besar. Dan kita datangi Geogini.” titahnya, menatap lurus kearah pintu satu-satunya yang menjadi tujuannya ingin beranjak. Wajah berkerutnya mengerat hebat, kemudian melanjutkan kalimatnya. “Jika mereka menolak menyerahkan dua orang penyusup, atau putriku, kita hancurkan Geogini. Rata dengan tanah, tanpa sisa.” []


Bersambung.