
...How are things?...
...Happy reading....
...•...
Ivory sudah dinyatakan sembuh tiga hari yang lalu. Dan sekarang, dia sedang berada disalah satu ruangan yang digunakan para dayang untuk menata rambut cantik berwarna cokelat madu milik Ivory.
Gadis itu menekuk wajah masam karena harus benar-benar menikah muda, lusa. Wajah dan rambut Ivory sudah ditata sama cantiknya. Fucia sedang memasang dan mengikat tali stagen satu persatu.
“Apa ayah dan ibu lusa juga datang ke acara pernikahanku?”
“Iya tuan putri. Anda bisa menemui mereka setelah mengenakan gaun pengantin anda.” tutur Fucia memberi penjelasan kepada Ivory.
“Aku ingin melarikan diri, Fu.”
Jemari Fucia yang semula bergerak gesit mengikat tali stagen milik Ivory, kini terhenti lantaran terkejut jika Ivory akan melakukan hal nekad demi mewujudkan apa yang baru saja ia katakan.
“Jangan pernah melakukan itu tuan putri. Raja akan marah dan menghukum anda, kedua orang tua anda juga pasti akan terkena imbas dari perbuatan anda jika anda benar-benar melarikan diri.”
Bagaimanapun juga, Ivory menyayangi ibu dan ayahnya. Dia tidak mungkin membuat orang tuanya harus turut andil dalam masalah yang ia timbulkan. Benar kata Fucia, dia tidak boleh melakukan hal konyol yang akan menggemparkan Geogini.
...***...
Hari ini, Ivory berencana menghabiskan waktu untuk berkeliling istana, sembari mencari Junot—jika panglima itu memang masih berada di istana—untuk meminta maaf dan berterima kasih.
Sepanjang lorong depan istana, Ivory masih tetap menyukai pemandangan yang beberapa bulan ini selalu berhasil membuatnya jatuh cinta. Dulu, didesa, dia hanya mampu bermimpi dalam angan untuk mempunyai taman seindah ini. Namun, berkat kakinya yang indah, ia mendapatkan mimpinya itu secara tak terduga. Ia harus segera berterima kasih kepada kedua kaki yang saat ini sedang menopang tubuhnya dibalik gaun berwarna peach blossom yang indah ini.
“Terima kasih, kaki.” gumamnya sambil menganggukkan kepala beberapa kali, lalu tertawa sendiri seperti orang hilang kesadaran.
Ah, bicara tentang kaki, Ivory kembali teringat dengan dua sepatu pemberian dari raja sehari yang lalu. Sepatu berwarna cream model terbuka, dengan heels yang cukup tinggi, serta aksen ikatan berliuk yang cukup rumit, terlihat indah dan tentu saja elegan. Dan sepatu lainnya, berwarna hitam legam model tertutup dan simple, masih menggunakan heels yang sedikit lebih pendek dari yang pertama. Ivory jadi ingin mencoba memakainya nanti.
Tiba-tiba, fokusnya teralihkan oleh sosok yang sedari tadi ia harapkan muncul. Junot sedang berjalan diikuti dua pengawal yang mungkin menjadi kaki tangannya.
Ivory mengambil langkah cepat, kemudian berlari sambil mengangkat gaunnya setinggi lutut hingga menarik perhatian beberapa dayang yang sedang berlalu-lalang, karena perilaku itu dianggap tidak patut.
“Panglima Jun.” panggilnya, cukup keras karena Junot seketika itu juga berhenti ditempat. Ivory melempar senyuman dan kembali memangkas jarak hingga kini mereka saling bersitatap. Nafas Ivory sedikit terengah dan menimbulkan batuk.
“Jangan berlari begitu, tuan putri. Nanti anda terjatuh.”
Ivory tertawa, lalu melayangkan satu pukulan ringan dilengan Junot ketika sudah berada disamping Junot berada. seperti kawan lama yang tidak pernah atau jarang bertemu. “Panglima sibuk?”
Junot menggeleng, ia sangat menyukai interaksinya bersama Ivory seperti ini. Junot selalu merasa nyaman. “Hanya harus mengontrol beberapa tempat yang jarang dijangkau orang.”
Ivory mengangguk paham. Dia juga tau benar tugas berat yang dibebankan istana untuk laki-laki tampan bertubuh tinggi tegap dengan dada bidang itu.
Ivory memberi atensi untuk Junot, lalu tersenyum manis hingga dua lesung Pipit di kedua sisi pipinya terlihat. “Aku hanya ingin berterima kasih, karena panglima Jun sudah rela menolongku tanpa mempedulikan keselamatan sendiri.”
Junot mengulurkan tangan penuh hormat, mempersilahkan Ivory untuk berjalan terlebih dahulu, kemudian menyusul dan berdiri disisi kanannya. Tanpa berbicara apapun, Junot memberi isyarat agar dua pengawalnya meninggalkan mereka berdua.
Jalan setapak yang tidak begitu luas, langit sedikit kelabu, serta udara yang semakin dingin, membuat Ivory sesekali mengusap dan menggosok lengannya.
“Dingin ya? Kenapa putri keluar tanpa mengenakan baju hangat?” tanya Junot, sebab tidak tega melihat tuan putrinya kedinginan. “Sebaiknya anda kembali ke kamar anda. Anda baru sembuh dan tidak baik terkena cuaca dingin seperti ini.”
“Tidak apa-apa.”
Keduanya kembali mengambil langkah, Ivory menggosok lengannya sekali lagi. “Sebenarnya, saya merasa tidak enak padamu, panglima.”
Junot memicing. Memangnya kenapa?
“Aku dengar dari dayang Fu, kalau pangeran memukul wajah anda hingga berdarah.”
Oh, itu...
Junot menunduk dan tersenyum. Sebenarnya, tidak apa-apa. Itu bukan masalah sebab dia pernah merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan dari itu. “Tidak masalah. Itu memang salahku yang tidak meminta izin terlebih dahulu kepada pangeran Grey.”
Ivory berdecak sebal. Grey benar-benar keterlaluan, dia bahkan tidak habis pikir jika waktu itu, dirinya tidak bisa selamat karena terlambat mendapatkan pertolongan.
“Terima kasih sudah menolongku. Dan aku akan meminta maaf atas nama pangeran Grey. Jadi, tolong maafkan pria tidak tau diri itu ”
...***...
Grey tidak pernah merasa terhina meskipun ia pernah dicaci habis-habisan oleh seorang petani cabai karena mengatakan cabai petani itu berkualitas rendah. Tapi hari ini, entah mengapa, harga dirinya seolah diinjak tanpa sisa oleh seorang gadis yang baru saja hadir di istana dan sering membuat onar.
Tarzan saja masih menghargai pasangannya, tapi gadis itu? Mengapa dia malah bertemu dan berani menyentuh laki-laki lain disaat hari pernikahan mereka sudah ditetapkan dan tidak lama lagi, tinggal menghitung hari pernikahan tersebut akan berlangsung.
Kepalan kuat telapaknya membuat buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras dengan gigi yang saling bertabrakan karena geram. Jika boleh memilih, Grey lebih baik membatalkan pernikahannya dari pada harus hidup dengan gadis yang tidak tau norma dan tidak bisa berprilaku santun.
Ia berjalan memutar arah. Lantas menuju sebuah tempat yang selama ini selalu ia datangi tanpa orang lain ketahui. Sebuah ruangan kecil yang berada dibalik lemari pakaian. Disana, terdapat beberapa benda unik dan beberapa lainnya adalah lukisan yang selama ini ia pelajari diam-diam didalam sana.
Ia mendekati sebuah kanvas yang sudah digambar pola membentuk garis wajah seseorang. Grey tidak tau mengapa objek yang ia gunakan untuk melukis kali ini begitu aneh. Wajah yang ada dalam lukisan itulah yang akhir-akhir ini selalu membayangi ingatannya, bahkan sering sekali membuatnya tersenyum seperti orang tidak tau malu.
“Sialan.” umpatnya terang-terangan, karena ia yakin tidak ada orang lain yang akan mendengar kalimat kasarnya tersebut.
...***...
Ivory mengetuk pintu kamar Grey. Seperti biasa, dia sedang mengadakan kunjungan dadakan dan memberi kejutan yang tentu saja akan membuat laki-laki itu kehabisan kata-kata. Kali ini, Ivory membawa seekor bunglon yang ia masukkan kedalam kandang kecil yang dibuatkan oleh Junot.
Para penjaga yang bertugas di depan pintu kamar Grey sempat melarang Ivory masuk, namun gadis itu tetap memaksa dan pada akhirnya mengancam. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk mereka tetap menahannya berdiri didepan pintu.
“Pangeran.” panggilnya pelan, sembari mencari-cari keberadaan si tuan rumah. “Pangeran, kamu di mana?” panggil Ivory sekali lagi, kini berjalan menuju meja yang letaknya ada disudut ruangan. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat beberapa buku bacaan masih terbuka, sebuah gambar dengan struktur panah yang menunjuk satu sama lain dan Ivory tidak paham maksudnya, ada lembaran berisi laporan keluar masuk barang ke daerah Geogini yang terlihat perlu di stempal oleh Grey, dan juga, ada sebuah kertas bergambar wajah seseorang yang ia yakini, itu adalah dirinya.
“Ini aku?” Ivory mengambilnya, memandangnya dari jarak dekat, lalu dengan percaya diri dia menyetujui jika itu adalah dirinya, gadis yang ada dalam gambar dua dimensi itu tidak lain adalah dirinya.
Lalu, terdengar bunyi gesekan yang cukup mengejutkan dari balik punggung Ivory. Gadis itu menoleh seketika, dan melihat Grey keluar dari sana, dari balik lemari baju yang semula terlihat wajar-wajar saja. “Oh astaga. Pangeran? Kamu mengejutkanku.” cerocosnya sebal tanpa merasa bersalah. Bahkan, Grey sampai terjingkat tak kalah terkejut saat mendapati Ivory berada didalam kamarnya tanpa suara sedikitpun.
Menyadari ada sesuatu yang di pegang oleh Tarzan wanita itu, Grey bergegas cepat memacu langkah penuh kepanikan . Lantas merebut kertas yang ada dalam genggaman tangan Ivory dengan gerakan kasar.
“Apa yang kamu lakukan disini? Cepat keluar!”
Ivory menatap sengit, kemudian dia mengangkat kandang kecil berisi bunglon yang tentu saja cukup mengejutkan bagi Grey.
“Aku hanya ingin menunjukkan hewan lucu ini kepadamu. Tapi kamu menyebalkan, jadi aku mengurungkan niat baikku memperkenalkan teman baruku ini.”
Grey tersenyum sinis, menggelengkan kepalanya tidak percaya jika gadis itu semakin aneh. “Teman? Dasar aneh.”
“Aneh? Aku?” tanya Ivory geram sambil menunjuk-nunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk mengarah ke hidung kecilnya yang bangir.
“Tidak salah aku menyebutmu Tarzan. Ternyata kamu memang seorang Tarzan didunia nyata.”
Menyebalkan sekali. Mulut Grey selalu berhasil membuat Ivory geram.
“Baiklah, ayo pergi dari hadapan orang kikir ini, Big. Pria ini menyebalkan.” cebik Ivory dengan ekspresi menyebalkan dimata Grey.
“Jadi namanya Big? Bodoh. Nama itu tidak sesuai dengan ukuran badannya. Hewan yang malang.” batin Grey yang sedang merutuki Ivory, sebab tanpa sadar gadis itu sudah memperkenalkan hewan kecil malang yang dianggap teman itu. “Ah, aku juga ingin berkunjung kerumah ibu, sebelum pesta pernikahan di selenggarakan.”
“Tidak. Kamu tidak bisa pergi kemanapun.” tegas Grey.
Ivory menatap sengit. “Mengapa aku dilarang bertemu orang tuaku? Apa aku salah jika merindukan mereka?”
Grey diam tidak memberikan alasan. Ia yakin pembahasan ini akan semakin panjang jika dia bersuara.
Berbanding terbalik dengan Ivory yang berapi-api marah, Grey hanya diam tanpa banyak bicara menyaksikan kepergian Ivory sampai diambang pintu. Dan dia sedikit terlonjak ketika Ivory berbalik dengan tatapan tajam menghujam kearahnya.
“Satu lagi, Jangan menggambarku tanpa izin. Aku tidak suka.”[]
Bersambung.
...🍃🍃🍃...
...Tidak lupa untuk selalu mengingatkan, jangan lupa Like, favorit, komentar, dan juga follow jika berkenan....
...Big thanks....