IVORY

IVORY
Segera menikah.



...Hai readers yang baik hatinya. Berapa prosentase rasa bangga terhadap usaha kalian sendiri hari ini?...


...Jangan menyerah, dan cobalah hargai diri sendiri. Semoga kalian semua selalu berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa....


...Sebagai dukungan, jangan lupa follow, favorit, like, dan komentarnya ya......


...Happy Reading....


...•...


Tubuhnya menggigil, demam, hidungnya tersumbat, kepala berdenyut nyeri, dan sesekali terbatuk. Ivory sedang tidak baik-baik saja, ia sakit, dan sekarang sedang terbaring lemah diatas tempat tidurnya, ditemani Fucia tentu saja.


Malam hari setelah kejadian itu berlalu, Grey datang ke kamar Ivory untuk melihat keadaan gadis tersebut. Dengan dalih bertanggung jawab penuh atas keselamatan seorang calon putri kerajaan, Grey berhasil mendapat izin dan akses dari Ivory untuk masuk ke kamarnya.


“Pangeran sangat mengkhawatirkan anda, tuan putri.” kata Fucia, mencoba meyakinkan Ivory agar menyudahi rasa kesalnya terhadap pangeran Grey yang memang sempat bersikap tidak semestinya.


Bagaimana tidak sebal. Grey yang datang semalam hanya mempunyai misi untuk memarahi Ivory habis-habisan karena pergi ke tempat itu tanpa izin dan pengawasan. Bahkan Grey tidak mau mendengar alasan yang sudah ia katakan panjang lebar jika dia pergi ke sana karena putri Dayana yang mengajaknya.


Ivory kesal bukan main ketika Grey malah menuduh balik jika dia hanya mencari alasan.


“Aku tidak yakin. Dia pandai memainkan perannya, Fu. Jangan mudah percaya dengan orang seperti itu.” jawab Ivory dengan penuh keyakinan. Dia terus menepis semua pertanyaan yang akan menggoyahkan pendiriannya untuk tidak menyakiti siapapun. Ivory membuka lebar mulutnya ketika Fucia menyodorkan satu sendok besar ramuan penyembuh demam dan flu.


“Ah, sejak kemarin, aku tidak melihat panglima Junot.”


“Kamu menyukainya?” tuduh Ivory dengan mata menyipit penuh telisik. Ia beranggapan jika Fucia sedang menaruh hati pada panglima tampan rupawan itu. Tidak bisa dipungkiri, karena Ivory juga pasti akan tertarik jika dia masih menjadi gadis desa biasa, bukan seorang putri yang akan dinikahkan dengan pangeran kerajaan.


“Bukan begitu. Setelah panglima menemukan anda, dia berniat memberikan pertolongan dengan memberi nafas buatan untuk anda. Tapi, pangeran Grey melarang, kemudian memukul wajah panglima Junot hingga bibirnya berdarah.”


Tunggu. Jadi yang menyelamatkan dirinya bukan pangeran Grey? Melainkan panglima Junot? Lalu, apa ia salah lihat saat masih didalam sungai? Punggung itu, hampir tidak ada bedanya dengan punggung milik Grey.


“Jadi, yang menolongku itu panglima Junot?”


Fucia mengangguk mantab. “Lebih tepatnya, panglima Junot dan pangeran Grey yang menyelamatkan hidup anda.”


Ivory masih menunggu apa yang akan dikatakan Fucia selanjutnya. Karena jujur, ia memang tidak percaya jika hanya pangeran Grey yang menyelamatkannya. Laki-laki itu tidak menyukainya, selalu membuatnya kesal dan—


“Panglima Junot berenang di sungai dingin yang dalam itu untuk menyelamatkan Anda. Sedangkan pangeran Grey, dia membantu mengembalikan kesadaran anda ketika panglima Junot sudah membawa anda ke daratan. Jadi, bagaimana anda bisa sampai disana? Membuat onar sekali lagi, dan kali ini lebih parah dari sebelumnya.” cerocos Fucia menelisik.


Hanya untuk sekedar mengingat, sekitar dua hari yang lalu, Ivory pergi ke lapangan terbuka dan membantu beberapa peternak sapi memerah susu. Tapi, salah satu sapi yang diperah Ivory marah karena Ivory menarik ****** sapi tersebut terlalu keras. Al hasil, Ivory ditendang keras tepat dikepala, jatuh tersungkur dan menimpa milk can yang saat itu penuh dan baru saja diperah. Ivory tidak menangis, ia hanya meringis kesakitan sembari menahan malu, dan sakit dikepalanya itu masih terasa sampai hari ini.


“Iya, maaf.” sesal Ivory karena membuat kepala peternak memarahi salah satu pemerah susu yang memberi izin kepadanya saat itu. “Tapi, kamu tidak salah kan? Panglima Junot yang menyelamatkanku dari sungai?”


Sekali lagi Fucia mengangguk membenarkan.


“Aku akan berterima kasih kepadanya jika berpapasan nanti.”


Tiba-tiba pintu kamar diketuk sedikit keras. Fucia bergegas berdiri untuk membuka pintu, dan betapa mengejutkannya ketika raja, pangeran Grey, serta beberapa dayang kerajaan datang berbondong-bondong membawa banyak sekali barang diatas nampan. Dari sudut matanya, Ivory dapat melihat ada beberapa potong baju berbagai warna, aksesoris, jepitan dan bandana rambut yang berfariasi motifnya, serta tidak luput dari penglihatan Ivory, dua pasang sepatu yang begitu indah. Apa itu alasan mengapa Fucia meminta ukuran kakinya beberapa hari lalu?


“I-iya, yang mulia. Sa-saya sudah lebih baik. Demamnya juga sudah sedikit menurun.”


Raja tersenyum lebih lebar, lantas mengikuti arah pandangan Ivory.


“Ah, itu. Berhubung anda sudah menyelesaikan pelajaran dengan nyonya Mar, dan dinyatakan lulus, seperti apa yang sudah pernah dijelaskan kepada anda, pernikahan akan segera dilaksanakan.”


Sontak mata Ivory membola. Wajah yang tadinya terlihat lesu tidak bertenaga, seketika bangkit dengan tenaga penuh dan nyawa terkumpul sempurna. Lantas, wajahnya berputar untuk memohon agar pangeran menunda pernikahan mereka, entah, dengan alasan apapun terserah.


Tapi, tidak sesuai harapan. Pangeran Grey justru membuang muka acuh, membuat Ivory geram dan meremas gemas selimut yang menutupi kaki hingga pangkal paha. Ivory kembali memutar arah pandang kepada sang raja, kemudian tersenyum canggung dengan suara mencicit seperti tikus tercekik. Ah, Ivory dapat menebak, pasti aneh sekali dirinya saat ini.


“Me-menangnya, ka-kapan pernikahan itu akan dilaksanakan, yang mulia?”


“Secepatnya, paling lama hari Minggu, atau paling tidak setelah aku mendengar berita kesembuhan anda dari tabib istana yang memeriksa anda, tuan putri.”


Jantung Ivory berdebar tidak karuan. Sekali lagi ia melirik ke arah pangeran Grey, berharap untuk terakhir kalinya agar laki-laki itu mau mengerti keadaan dan maksudnya. Tetap nihil. Pangeran itu tidak waras. Ivory kesal sekali.


“Baiklah. Beri mereka waktu untuk berbicara berdua.” titah raja tak terbantahkan, semua pergi meninggalkan ruangan Ivory dan raja turut undur diri. Pintu terkatup rapat dan mendadak suasana ruangan berubah mengerikan.


“Jadi, anda tidak berniat untuk menunda pernikahan kita?”


Grey diam memperhatikan Ivory. “Memangnya kenapa? Besok atau lusa, kita akan tetap menikah. Jadi untuk apa mencari-cari alasan untuk menundanya?”


“Aku belum siap.” pekik Ivory sedikit tertahan, takut diluar ada yang mendengar percakapan mereka.


“Belum siap? Siap untuk apa?”


Wajah Ivory memanas, rona dikedua pipinya timbul tanpa diminta. “Jika kamu berkata belum siap untuk upacara penyatuan, kita bisa mengelabui orang-orang. Tapi bagaimana kita bisa mengelabui raja? Katakan bagaimana caranya, beri aku solusi.”


Benar. Dari pernikahan ini, raja ingin mendapatkan generasi penerus. Pangeran Grey yang akan mewariskannya nanti.


“Jika tidak ada. Kamu cukup diam dan ikuti alurnya.”


“Aku masih dibawah umur.” dalihnya yang tentu saja tidak bisa diterima oleh Grey.


“Umur bukan patokan. Lagi pula, aku sudah pernah mencium dan menyentuh dadamu yang rata itu.”


Sialan.


Ivory mengumpat keras dalam hati. Pangeran Grey benar-benar menguji kesabaran dan kewarasan Ivory. Bagaimana dia bisa mengatakan hal memalukan itu dengan gamblang didepan orangnya. Wajah Ivory seketika seperti dibakar. Panas tidak terhingga.


“Kita menikah, dan mari kita ikuti semua proses dan semua ketentuannya.” []


...Bersambung....