IVORY

IVORY
Sumpah.



...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk like cerita IVORY....


...Serta tidak lupa, Vi's ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan....


...And then...


...Happy Reading......


...•...


Grey yang masuk tergesa kedalam sebuah ruangan pertemuan untuk menemui raja, semakin dikejutkan oleh kehadiran Murdock dengan dua orang yang terikat dan bersimbah darah. Mereka yang ia kenali sebagai orang dekat untuk wanita yang dicintainya—Rose dan Rontge, orang tua Ivory.


“Lihatlah mereka.” tegas Murdock dengan senyuman sarkas tercetak jelas pada birainya. “Dua orang tidak tau diri yang sudah berani mengambil apa yang bukan menjadi hak mereka, dan lari ketakutan seperti seekor keledai ketika melihat serigala.”


Astaga, Grey tidak sampai hati mendengar kalimat kasar yang keluar dari bibir Murdock.


“Tolong berbicara yang baik. Mereka juga manusia, sama seperti kita.” pinta Grey dengan nada datar. Ia tidak menduga jika kedua orang tua Ivory harus terlibat dengan masalah serumit ini.


“Dua manusia tidak beradab dan tidak berperasaan, apa pantas dihargai dan disebut sebagai manusia?” sahut Murdock tanpa mau segan sedikitpun.


“Sudah aku katakan, aku tidak mengambil putri raja Aru—” potong Rose mencoba membela diri, namun kembali terdiam oleh gelegar suara Murdock.


“Tutup mulutmu!” teriak Murdock sangat keras sembari mengarahkan ujung mata pedangnya ke arah wajah Rose. “Kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal setelah ini. Mati. Ya, kalian pantas mati.”


Grey berjalan mendekat dan menyingkirkan pedang Murdock dari wajah Rose, lantas berjongkok untuk bertanya dan mengetahui satu hal.


“Lalu, siapa yang menculik putri raja Aru?” ucapnya, datar sekali hingga membuat bulu kudu Rose berdiri seketika. “Dan juga, siapa Ivory.”


...***...


“Fu, aku tidak mau pergi sebelum tau alasan sebenarnya mengapa kita harus meninggalkan Geogini. Katakan, ada apa. Masalah apa yang sedang terjadi disini?”


Fucia tidak menjawab dan bergegas mempercepat gerakan tangannya memasukkan beberapa pakaian Ivory kedalam bungkusan kain yang akan mereka bawa selama perjalanan menuju kerajaan Denham, kerajaan milik sepupu jauh raja Harllotte.


“Fu, tolong jawab aku.” pinta Ivory dengan nada sendu. Ia bahkan menangis dan berlutut disisi Fucia.


Dayang bernama Fucia itu sontak turut menjatuhkan tubuhnya, lantas meraih pundak Ivory dan membawanya kembali berdiri tegak, meskipun Ivory terlihat rapuh dan hancur.


“Tolong, saya mohon dengan sangat, tuan putri. Kita turuti apa yang dikatakan pangeran. Dan beliau akan menjemput kita jika urusan di Geogini sudah selesai. Kita akan hidup tenang kembali di Geogini.” bujuk Fucia agar Ivory mau mendengar dan segera pergi dari tempat ini sebelum sesuatu yang buruk benar-benar terjadi.


Pangeran juga sudah memberikan pengumuman darurat kepada seluruh penduduk Geogini, terutama wanita dan anak-anak untuk segera meninggalkan Geogini untuk sementara, sampai semuanya sudah kembali normal.


“Setidaknya, beri aku alasan jelas mengapa aku harus meninggalkan pangeran Grey.” ucap Ivory ditengah senggukan tangis. Ia tidak bisa membendung rasa sesak di dadanya ketika mimpi yang terjadi semalam seperti menjelma menjadi sebuah petaka. Ya, dia menganggapnya petaka.


“Saya akan memberitahu anda setelah sampai di kerajaan Denham.”


Fucia mengikat kuat kain berisi pakaian dan beberapa makanan lalu menyarangkan dipundak. Menarik pergelangan tangan Ivory dengan terburu-buru. Namun Ivory menahan Fucia, kakinya terpaku ditempatnya. Ia tidak mau beranjak.


“Putri, aku mohon. Waktu kita tidak banyak.” ucap Fucia memohon, sebab Grey sudah mempercayakan keselamatan Ivory kepadanya. Tapi Ivory sulit sekali untuk diyakinkan.


“Pertemukan aku dengan pangeran Grey sebelum pergi dari Geogini.”


Tanpa membuang banyak waktu, Fucia berlari dari istana kedua menuju istana utama. Sesampainya disana, ia ditahan oleh penjaga yang sedang bertugas. Keadaan terlihat begitu mengerikan. Para prajurit seolah sudah bersiaga disana, dan Fucia masih belum berhasil membujuk Ivory pergi dari tempat ini.


“Tidak ada yang boleh masuk kesana.” ujar salah satu penjaga yang menghadang pergerakan Fucia dengan tombak di genggaman.


“Katakan kepada pangeran Grey, aku dayang tuan putri Ivory datang untuk menyampaikan sesuatu.”


“Sudah aku katakan, tidak ada yang boleh kesana. Kami juga dilarang masuk dan diperintahkan untuk berjaga.”


“Kalian tidak dengar siapa aku, huh?! Aku penyampai pesan dari tuan putri Geogini untuk pangeran Grey!!” teriak Fucia kehilangan kesabaran. Waktu sudah terasa semakin terpenggal, tapi dia masih saja berputar-putar tidak tentu arah dan berdiri ditempat yang sama. Ia benar-benar lelah. “Tolong,” pinta Fucia, suara yang tadi begitu kacau terdengar kembali rendah. ” Tolong sekali saja tolong aku. Sampaikan pada pangeran Grey jika aku menunggunya disini. Aku akan menunggu sampai dia datang.”


Penjaga yang terlihat panik itu sekilas berunding, dan memutuskan untuk berlari menuju istana. Dan Fucia bisa menghela nafas lega karena akhirnya perjuangannya berujung sebuah keberhasilan.


...***...


Murdock semakin murka. Dia berdiri dibelakang Rontge dan menarik tubuh laki-laki yang sudah penuh luka lebam dalam ikatan simpul yang membelit tubuhnya itu, lantas menjambak rambutnya hingga mendongak.


“Disaat sudah berada diujung nyawa pun, kalian masih bisa membual?” cerca Murdock penuh intimidasi. Dia tidak habis pikir mengapa dua orang ini masih saja membuat kebohongan yang jelas-jelas terlihat tidak masuk akal.


“Kami tidak membual. Tuduhan anda tidak benar. Meskipun kami mati sekalipun, tetap tidak membuat kami lantas mengakui kesalahan yang tidak kami perbuat.”


Murdock mendorong keras Rontge hingga tersungkur dilantai tanpa bisa bangkit kembali. Rose menatap sendu pada suaminya yang diperlakukan seperti hewan oleh panglima kejam bernama Murdock itu.


“Aku bersumpah, Amber akan menerima ganjaran yang setimpal karena sudah membuat kami seperti ini. Kami bukan hewan, kami manusia.”


Murdock meludah diwajah Rose, dan Grey bangkit begitu saja. Murdock sudah keterlaluan.


“Hentikan. Atau aku akan menghabisi mu disini, panglima Murdock. Kamu sudah membuat keonaran di Geogini, dan sekarang, apa kamu tau siapa mereka?”


Murdock hanya diam.


“Mereka adalah orang tua putri Ivory, calon ratu kerajaan Geogini.”


Bersamaan dengan kemarahan Grey, pintu ruangan dibuka. Nampak sosok penjaga yang terlihat terkejut dengan keadaan didalam ruangan yang kacau dan begitu mencekam itu membungkuk sekilas.


“Sudah aku katakan, jangan ada yang masuk kesini!!” teriak Grey semakin marah. Kesabarannya sudah diambang batas.


“Ma-maaf. Tapi dayang tuan putri datang kesini. Dia bersikeras ingin bertemu anda, pangeran.”


Grey memijat pelipisnya sekilas, lantas berjalan keluar begitu saja. Ia berjalan setengah berlari untuk menemui Fucia yang terlihat menunggu penuh kecemasan di depan pintu gerbang.


“Cepat katakan ada apa.”


“Tuan putri menolak pergi sebelum bertemu anda.”


“Astaga. Dia keras kepala sekali.” Grey mendesis frustasi. Dia mengarahkan kepalan tangannya kearah kening sembari berkacak pinggang. Kemudian berlari tunggang langgang untuk menemui istri tercintanya. Dia tidak ingin Ivory melihat semua hal mengerikan ini. Dia tidak ingin Ivory melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana orang tuanya disiksa oleh Murdock.


Sesampainya, Ivory memeluk erat tubuh Grey yang sedang mengatur nafas sebab berlari. Ivory memejam merasakan deru nafas dan degup jantung Grey yang kacau.


“Kenapa belum pergi?” tanya Grey lembut, seolah tidak terjadi apapun dan dia hanya berlari karena panggilan Ivory.


“Aku, aku tidak ingin pergi jika tidak dengan pangera—”


“Tolong. Tolong dengarkan aku sekali saja dan jangan membantah.”


Grey mencengkeram bahu Ivory dengan pandangan berkabut. Ia hampir menangis didepan wanitanya itu.


“Tolong, segera tinggalkan Geogini. Aku akan menyusul ke Denham setelah semuanya berakhir.”


Janji yang tidak memiliki kepastian. Grey tidak bisa memastikan ia bisa atau tidak untuk menemui Ivory setelah ini.


“Apa aku membuat kesalahan?”


“Tidak. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun disini. Hanya tinggalkan tempat ini sebentar, lalu—”


“Katakan alasan mengapa aku harus pergi tanpa pangeran.” Rentetan airmata jatuh dari pelupuk mata Ivory, dan Grey dengan sigap mengusapnya.


“Putri, aku sangat mencintaimu. Aku berjanji akan menjemputmu di Denham. Aku akan menepatinya.”


Ivory menggeleng lemah. Ia masih belum bisa percaya dengan ucapan Grey yang terdengar gamang. Laki-laki itu juga terlihat tidak yakin pada ucapannya sendiri. “Aku mohon.” tubuh pangeran Grey luruh didepan lutut Ivory. Dia menangis dengan kepala tertunduk. Dia hanya tidak ingin melihat Ivory terluka, atau bahkan kehilangan nyawa jika tidak segera pergi.


Ivory turut menjatuhkan tubuhnya persis didepan Grey yang sedang tergugu, mengangkat wajah laki-laki itu dengan satu telapak tangan bersemayam di pipi basahnya, kemudian bersumpah. “Aku menunggu. Ingat janjimu dan temui aku di Denham.” airmata Ivory kembali lolos. “Jika sampai kamu mengingkarinya, aku akan mengejar mu, di akhirat sekalipun. Aku akan mengejar dan menyusulmu kesana. Ingat itu.”[]


Bersambung.