IVORY

IVORY
Perjalanan menuju Geogini.



Green menepuk jidatnya sendiri saat sadar sudah salah mengambil keputusan. Bagaimana bisa dia mengiyakan keinginan Ivory untuk mengantar teman barunya itu kembali ke tempatnya, Geogini. Sedangkan dirinya harus menjaga kerahasiaan diri dan juga tempat tinggalnya? Wah, ini tidak benar. Tidak benar sama sekali. Green dalam bahaya—setidaknya itu yang ada dipikiran Green sekarang. Mengantar Ivory ke Geogini, sama saja mengarahkan dirinya sendiri menuju kandang buaya dan siap menjadi mangsa.


Green memimpin, sesekali menengok kebelakang guna memastika Ivory masih berada disana dan tidak dimangsa harimau. Kakinya yang terkilir dua hari lalu sudah jauh lebih baik, dan semua itu berkat Green yang merawatnya secara telaten. Green benar-benar tumbuh menjadi gadis yang baik hatinya. Ya, meskipun terkadang nada bicaranya suka menyebalkan.


Dengan kemampuan amatirnya, Ivory membawa busur yang dipinjamkan oleh Green kepadanya sebagai senjata jikalau tiba-tiba ada hewan buas yang menemukan mereka. Beberapa anak panah yang memenuhi tabung dibelakang punggungnya juga membuat Ivory tidak habis pikir jika semisal dirinya hidup sendiri seperti Green. Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk dirinya sendiri, dan tentu saja ia juga harus menjaga Green. Gadis itu adalah satu-satunya penunjuk arah untuk dirinya yang buta kiblat.


“Perjalanan masih jauh. Aku harap kamu tidak merengek seperti bayi dan mengeluh seperti anak manja.” ketus Green tidak mau menutup-nutupi perasaannya kepada Ivory. Mereka berdua layaknya teman yang sudah mengenal lama. Dan Ivory bersyukur karena Green adalah orang baik, seperti Fucia. Hanya saja, tutur kata Green lebih kasar, namun itu masih tergolong aman dan menyenangkan bagi Ivory.


“Iya. Aku tidak akan menyusahkan kamu, nona Green yang baik hatinya.” cebik Ivory dengan bibir maju seperti bebek.


“Awas kalau tiba-tiba berubah pikiran.”


Keduanya tetap berjalan. Melewati jalanan setapak yang ditumbuhi alang-alang setinggi kepala orang dewasa. Green seorang pengamat jeli, dia memiliki tingkat kepekaan yang luar biasa terhadap suara dan bunyi-bunyian asing yang bahkan tidak bisa Ivory dengar.


Butuh waktu seharian penuh untuk sampai pada tujuan mereka ke Geogini. Dan tentu saja Medan yang mereka lewati sangatlah jauh dari kata mudah dan bersahabat. Ivory melihat beberapa kali, ada ular besar yang melilit diatas ranting pohon, sesekali suara serigala mengaum, dan yang lebih menakutkan, harimau sedang bersantai dan menjilati bulu-bulunya dengan mata terpejam—khas hewan yang perutnya sudah kenyang. Hatinya meringis dan berdenyut sakit. Ia menghentikan langkah sejenak, lalu menepuk dadanya sendiri dengan kepalan tangan.


Green yang menyadari tidak ada langkah dibelakang punggung, sontak menoleh dan kembali berjalan mendekati Ivory yang terlihat terpukul. “Ada apa?” tanyanya, menatap Ivory dengan wajah khawatir.


Sedangkan Ivory sendiri, mencoba menetralisir perasaannya, menenangkan diri agar mereka bisa melanjutkan perjalanan. “Tidak.” tuturnya sambil menggelengkan kepala, meyakinkan Green untuk tidak perlu mengkhawatirkan dirinya, dan kembali memimpin perjalanan.


Matahari yang tadinya setinggi tombak sudah semakin naik, dan suasana hutan yang tadinya gelap berkabut, kini sudah terlihat lebih terang.


“Apa yang akan kau lakukan jika pangeran dan rajamu tidak menyukai kehadiranku?”


Pertanyaan yang tepat. Ivory memikirkan jawaban dari pertanyaan Green. Ia diam beberapa saat, dan Green menunggu jawaban. “Tentu saja aku akan meminta mereka untuk memberikan izin tinggal untukmu, Green.”


Birai Green berdecih dengan seringai disudut bibir. Jawaban naif dan terkesan bodoh. Green saja tau jika sebuah kerajaan tidak akan dengan mudah menerima kehadiran orang asing, kecuali jika orang itu membawa izin dan pesan penting yang hendak disampaikan kepada pihak kerajaan.


“Kau pikir semudah itu? Hei, tuan putri. Apa kamu sudah belajar sungguh-sungguh tentang kehidupan istana? Mengapa jawabanmu kolot sekali?”


Ivory yang kepalang sebal karena disebut kolot, menarik sejumput rambut gadis dihadapannya. “Aww. Hei! Apa kamu gila?” pekik Green tak kalah sebal. Dia tak terima, wajahnya mengerut tidak bersahabat.


“Ya, aku gila. Dan aku akan membiarkan dirimu diarak keliling Geogini, kemudian digantung di pusat kota agar jadi tontonan warga dan dikenang sebagai seorang penyusup yang tertangkap karena tidak memegang izin.” cebik Ivory, lantas berjalan mendahului Green dengan wajah ditekuk kesal setengah mati. Mana mungkin dia akan membiarkan Green ditangkap dan diperlakukan seperti itu. Ivory baru tau, jika Green juga bisa berfikir sempit.


Mata Green melotot lebar. Apa Ivory sedang bicara serius? Green menciut dan berniat mengurungkan keinginannya berbaik hati mengantar Ivory kembali ke Geogini. Green berlari mengejar Ivory yang sudah berjarak beberapa meter.


“Serius? Hei, Ivory. Apa kamu serius dengan ucapanmu?”


...***...


Butuh waktu sekitar dua hari bagi raja Aruchi beserta para pasukannya untuk sampai di Geogini. Rombongan besar pasukan terbaik yang ia bawa kali ini bertujuan untuk menggertak raja Harllotte dan pangeran Grey untuk menyerahkan dua penyusup atau putrinya.


Hari sudah gelap, raja Aruchi memerintahkan para pasukan untuk beristirahat terlebih dahulu. Ia juga perlu membicarakan lagi tentang rencananya ketika sampai di Geogini nanti bersama Murdock.


Sebuah tenda besar tempat raja Aruchi berada, dijaga ketat. Dan malam ini, Murdock kembali duduk berhadapan dengan raja Aruchi membicarakan beberapa informasi yang mereka dapatkan dari orang suruhan.


“Jadi, putri Ivory sedang berada di Denham?”


“Lebih tepatnya, Grey mengirimnya kesana, yang mulia.”


Aruchi diam. Menatap tepat di jari telunjuknya, lantas sebuah pemikiran muncul. “Untuk menyembunyikannya dariku?”


Murdock hanya diam tidak menanggapi. Ia tidak bisa menyimpulkannya begitu saja, sebab kabar yang ia terima hanya sebatas itu, sebatas tentang Ivory yang dikirim ke Denham oleh Grey.


“Apa kamu juga mengirim orang ke Denham?” tanya Aruchi memecah hening yang sempat terjadi.


“Saya tidak bisa mengusik mereka, yang mulia.”


Ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan Murdock. Denham negeri yang makmur dan tidak pernah membuat masalah dengan mereka. “Baiklah. Kita hanya perlu meminta penjelasan dua manusia tidak beradab itu terlebih dahulu.” Aruchi menjeda kalimatnya, kemudian menatap bola mata Murdock dengan tatapan tajam. “Dengan begitu, kita punya alasan ketika menginjakkan kaki di Denham untuk menjemput Honey.” lanjutnya dengan keyakinan kuat akan segera menemukan putrinya yang hilang.


...***...


“Bagaimana jika suatu saat kamu dibertemu dengan orang tua kandungmu?” tanya Ivory, posisinya sudah berganti, ia sudah kembali berjalan dibelakang Green.


Gadis itu tertawa singkat, lantas menengok ke bahu kanan demi mendapati presensi Ivory. “Bagaimana, bagaimana? Ya, tidak bagaimana?”


Sumpah demi belalang yang sedang menari, Ivory sebal sekali dengan Green. Gadis itu minim bicara, tapi sekalinya bicara, selalu berhasil membuat Ivory menderita hipertensi yang luar biasa. Rahang Ivory mengetat, dia ingin sekali menjambak rambut Green dari belakang seperti yang ia lakukan tadi. “Maksudku, apa yang akan kamu lakukan?”


“Tidak ada.”


“Ha?” sahut Ivory tidak percaya dengan bibir menganga.


Green menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Ivory yang berjalan dibelakangnya terantuk kepala Green dan mereka mengaduh bersama-sama. “Bisa tidak kamu berhenti bertingkah konyol, putri Ivory?” kesal Green tidak tertahan.


“Memangnya apa yang salah? Aku bersikap wajar-wajar saja kok?” protes Ivory lugu. Dia sama sekali tindak merasa dirinya bersikap aneh, dia bersikap wajar seperti dia biasanya.


Green menghela nafas lamat-lamat, percuma saja berdebat dengan wanita didepannya itu, tidak akan ada putusnya. Lantas Green kembali berjalan, dan menjawab. “Aku tidak peduli. Aku akan kembali ke rumah ibu.”


Ditengah hutan? Ah, jika pangeran Grey tau, dia akan lebih terkejut karena aku membawa Tarzan yang sesungguhnya dari hutan.


Ivory diam-diam terkikik, lalu kembali menegakkan punggung Sebelum Green menangkap basah dirinya yang sedang menertawakan bayangan lucu dalam benaknya sendiri.


“Lalu, bagaimana jika kamu bertemu seorang laki-laki tampan di Geogini? Apa kamu akan—”


“Diam! Atau aku akan membuat gaduh dan menjadikanmu santapan harimau.”


“Iya. Aku akan diam.” jawab Ivory dengan suara serendah mungkin, takut jika ucapan Green benar-benar menjadi nyata. Dia masih ingin hidup lama, bertemu pangeran Grey, memiliki anak dan membesarkan mereka bersama-sama. Juga ingin bertemu ibu dan ayahnya. Ya. Dia akan mengunjungi ibunya setelah sampai nanti.


Langit sudah mulai berubah oranye, suara derik di dalam hutan kini berubah mencekam, sebab sesekali terdengar lolongan serigala, dan dengkuran burung hantu.


“Itu—” Ivory mengangkat wajah, terkejut karena Green tiba-tiba berseru. Ia takut jika sesuatu muncul secara mengejutkan, lalu menerkam mereka berdua tanpa perlawanan telak.


Akan tetapi tidak seperti yang ada dalam benak Ivory. Kini hatinya berubah senang bukan kepalang, wajahnya penuh antusias dan bibirnya melebarkan tawa. Tidak jauh disana, dia melihat tembok tinggi yang ia kenali. Tembok berornamen membentuk burung yang melebarkan sayap sembari mencengkeram busur panah dibawah kedua kakinya. Geogini, ia dan Green sampai di Geogini.


“Green cepat. Aku ingin segera sampai.” pinta Ivory, menggeret lengan Green tidak sabaran. Ia ingin segera bertemu pangeran.


Namun, bukannya berjalan mengikuti dan membuat langkahnya seimbang dengan milik Ivory. Green memaku kakinya, berhenti ditempat dia berpijak, dan itu sempat membuat Ivory hampir terjerembab ke belakang.


“Kenapa berhenti? Ayo.”


“Cukup disini. Kembalilah ke tempatmu,” Green menjeda, yang tentu saja membuat Ivory bertanya-tanya dalam kepalanya sendiri. Kenapa?


“—dan aku akan kembali ke tempatku. Aku akan kembali ke rumah. Dan tolong, jangan pernah mengatakan kepada siapapun tentang aku. Berjanjilah.” []


Bersambung.