IVORY

IVORY
Kita.



...TRIGGERED WARNING!!...


...FULL NC*....


...MOHON PERHATIANNYA SEBELUM MEMBACA....


...PART INI TIDAK BERTUJUAN UNTUK MENYINGGUNG ATAU MEMBERI PENGARUH BURUK KEPADA SIAPAPUN....


...VI'S INGATKAN, BAGI PEMBACA DIBAWAH 21 TAHUN ATAU YANG MERASA TIDAK NYAMAN DENGAN BAB BERISIKAN ADEGAN ATAU BAHASA DEWASA, DIHARAPKAN SKIP....


...THANK FOR ATTENTIONS....


...HAPPY READING....


...•...


...•...


...•...


Sebuah rengkuhan kelewat kuat menyambut pinggang kecil Ivory yang saat ini merangkak dan memposisikan diri untuk duduk berhadapan diatas pangkuan pangeran Grey. Laki-laki itu sudah terlebih dahulu sampai di ruangan lain yang memiliki cahaya temaram dari lilin aroma theraphy yang memang sengaja ditata sedemikian hingga oleh para dayang. Grey berada di atas ranjang, duduk santai disana. Tubuh Ivory yang semula terasa aneh setelah meminum ramuan yang ia dan pangeran Grey minum bersama tadi, semakin terasa menyiksa. Dalam benaknya Ivory bertanya-tanya, apa pangeran Grey juga merasakan hal yang sama?


Untuk beberapa kemungkinan, Grey tidak pernah mengira jika efek dari ramuan yang diminumnya tadi begitu kuat. Dia tidak bisa melawan rasa yang timbul dalam dirinya. Grey memejamkan mata dengan desisan samar dibibirnya ketika tubuh Ivory mendarat sempurna diatas pangkal pahanya. Ia merasa seperti tidak bisa lagi menahan rasa sakit di bagian intimnya yang sudah menegang penuh tuntut.


Ramuan sialan!!


Grey mengumpat dalam hati dengan sangat keras. Ia juga tidak bisa untuk tidak mengecup bibir Ivory yang sedikit terbuka itu. Ia menerka jika Ivory merasakan hal yang sama dengannya. Hasratnya meminta untuk segera dituntaskan.


“Aku harus memanggilmu apa?” tanya Grey sembari menyelipkan anakan rambut basah Ivory yang jatuh didepan wajah cantik yang kini terlihat sayu, dan penuh peluh itu dibalik telinga.


Ivory yang tidak paham, hanya menjawab singkat. “Nama.” setelah mengucapkan itu, desiran aneh merambat ke pusat tubuhnya hingga ia meringis. “Pangeran,” panggilnya sendu, lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Grey. Ivory tidak mengerti mengapa ia begitu bergairah untuk menyentuh permukaan kulit pangeran Grey.


“Eumm.” sahut pangeran Grey dengan suara tak kalah serak dan sendu.


“Mari kita selesaikan ini dengan cepat.” pinta Ivory, lantas mengangkat wajah dan mengecup singkat bibir Grey yang tentu saja menyambutnya dengan senang hati. “Ini sangat menyiksa. Sakit.” keluh Ivory mendesa*h sembari menatap kearah bawah, dimana dia bisa merasakan tubuhnya seolah ingin segera dipuaskan.


“Baiklah. Kita selesaikan dengan cepat.”


Saat itu juga, Grey membalik tubuh kecil Ivory. Membuka lilitan kain yang menutupi tubuh polos sigadis dengan gerakan tidak sabaran. Nafas keduanya menderu dengan desisan tiada henti. Mereka merasakan tubuh mereka seperti haus akan sentuhan gila yang akan membawa keduanya untuk mencapai kepuasan. Mereguk indahnya surga dunia bersama-sama.


Grey menatap penuh puja setiap inci tubuh Ivory, lantas mulai menyentuhnya. Memberi stimulasi agar Ivory siap menerimanya.


Tiba saatnya pada inti permainan, sengga*ma yang sesungguhnya. Grey menyamankan posisi Ivory agar gadis itu tidak akan merasa kesakitan nanti.


“Maaf, aku harus melakukan ini kepadamu.” bisik Grey seduktif dengan nafasnya yang terasa menggelitik pada pembuluh darah dibalik telinga Ivory.


Gadis bersurai coklat madu itu mengangguk. Dia juga tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan tubuh mereka bersatu demi menghilangkan efek ramuan yang begitu menyiksa.


Grey menekan kuat pusat tubuhnya yang sejak tadi tidak bisa ia tahan. Ivory memejam, menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi kesakitan luar biasa. Dia sudah membatin jika akan sesakit itu, sebab Grey memiliki ukuran yang tidak tanggung-tanggung.


Percobaan kedua, Ivory yang tidak bisa berteriak bebas, mengangkat kedua tangan dan memeluk punggung Grey yang lebar, meremasnya kuat-kuat hingga sang empu meringis menahan sakit.


“Apa terlalu menyakitkan?” bisik Grey diatas Ivory.


Gadis itu mengangguk meng-iyakan. Kemudian ia kembali memejam dengan bibir terbuka karena Grey kembali mencoba. Kuku-kuku Ivory yang tidak panjang itu masih bisa menyakiti punggung Grey. Laki-laki itu yakin jika besok pagi punggungnya akan terasa perih jika tersentuh air.


Mmmph...


Grey menurunkan badan dan hampir menghimpit Ivory tanpa berhenti menekan kuat dibawah sana. Ia meraih dada Ivory dengan bibirnya. Hingga usahanya berhasil. Ivory memekik tertahan, matanya yang memperhatikan wajah sayu dan penuh peluh milik Grey, mengerjap cepat sambil meringis menahan sakit dengan menggigit kuat bibir bawahnya. Sedangkan Grey, merasakan sensasi yang luar biasa pada pusat tubuhnya yang terapit. Ia sedikit mengangkat tubuh dan melihat kearah dimana penyatuan itu telah terjadi. Mereka sudah bersatu.


Sebuah anggukan menjadi jawaban dari Ivory. Rambut basah dan lembab Grey yang terjuntai ke bawah itu membuat lengan Ivory terarah kesana untuk mengusapnya penuh afeksi, lantas menyibakkan dibalik telinga karena masih ingin melihat wajah rupawan Grey dalam rengkuhan hasrat. Mereka saling melempar senyum dan kembali menyematkan satu ciuman panjang ketika manik mereka bertemu. Keduanya larut dalam irama penyatuan yang baru mereka rasakan untuk pertama kalinya. Grey tidak berhenti menyebut nama Ivory, dan gadis itu sesekali mencicit sakit dan meremas punggung Grey ketika kejanta*nan laki-laki itu mendesak terlalu dalam. Hingga pada akhirnya mereka mencapai titik puncak secara bersamaan. Nafas mereka menderu, bibir mereka kembali beradu dalam getar, dan keringat mereka membaur. Mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Dan saat itulah, Grey mengungkapkan perasaanya.


“Aku mencaintaimu, putri Ivory. Aku akan menjadikan dirimu segalanya untukku.”


Ivory tersenyum bahagia mendengarnya. Grey yang menyebalkan sudah takhluk kepedanya. Ivory juga bersumpah dalam hatinya, jika Grey adalah satu-satunya.


...***...


Pagi ini langit sedikit berkabut. Udara yang turun dari gunung semakin membuat suhu Geogini seperti berada dimusim dingin.


Ivory membuka mata, memperhatikan pinggang kecilnya yang masih berada dalam pelukan Grey. Ia tersenyum, dan masih belum percaya sepenuhnya jika semalam dia menyerahkan dirinya begitu saja kepada Grey.


Sebuah usaha kecil untuk melepaskan diri dari pangeran Grey ia lakukan. Bergerak seminim mungkin agar Grey tidak terbangun adalah tujuan awalnya. Tapi, sepertinya Grey termasuk orang yang sensitif oleh gerakan. Matanya tiba-tiba terbuka lebar, dan menatap Ivory yang saat ini meringis kesakitan.


“Mau kemana, tuan putri?”


Ivory berusaha bangkit, ia bahkan kesulitan membawa bobot tubuh hanya untuk sekedar duduk. Selimut masih menutup sempurna sebatas dada, dan saat itulah Ivory sadar, jika semua sudah terjadi.


“Ingin mandi, tapi sekujur tubuhku rasanya sakit.”


“Kalau begitu, tidur saja lebih lama. Aku akan memberitahu raja untuk menunda tradisi penyambutan hingga kamu merasa lebih baik.” tutur Grey sembari bergerak menopang kepalanya dengan lengan yang membentuk siku.


“Tapi—”


“Mereka akan paham. Jadi tidak perlu khawatir.”


Ivory mengangguk patuh. Dia menyibak selimut untuk segera merealisasikan keinginannya untuk membersihkan diri di kamar mandi. Tapi, lagi-lagi rasa sakit itu tidak mau diajak berkompromi. Grey yang melihat itu merasa sedikit bersalah, kemudian bangun dan meraih tubuh kecil Ivory dalam gendongan, meskipun ia juga merasa tubuhnya sangat kelelahan.


Sebuah rasa kejut membuat kedua bola mata Ivory membelalak lebar dan seketika itu juga kedua lengannya refleks melingkar di sekitaran perpotongan leher dan bahu lebar Grey.


“Pangeran, apa yang kamu laku—”


Suara Ivory kembali tenggelam di kerongkongan sebab Grey mengecup bibirnya sedikit kasar. “Sudah, diam saja. Aku sedang berbaik hati.”


Oh, baiklah. Katakan saja ini sebuah keberuntungan. Namun semua itu nyatanya tidak gratis. Grey yang semula tenang, kini kembali memancing Ivory untuk melakukan kegiatan mereka semalam karena permukaan kulit mereka yang kembali bertemu. Ivory pasrah dengan apa yang akan dilakukan Grey kepada dirinya.


Hingga satu kalimat yang begitu menyenangkan dan menggelitik kupu-kupu di dalam perut Ivory kembali terdengar oleh perungu si gadis ditengah kegiatan panas mereka didalam kamar mandi.


“Kamu milikku. Aku mencintaimu.”[]


...Bersambung....


...—————...


...Hai readers sekalian. Vi's sudah berusaha membuat bab NC* ini bisa diterima sebaik mungkin untuk dibaca readers sekalian. Ingat, sekali lagi, bab ini bukan bertujuan untuk memberikan pengaruh buruk. Jadi mari saling menghargai....


...Jangan lupa, tinggalkan like dan simpan sebagai cerita Favorit di rak buku readers semuanya....


...Bab selanjutnya akan memasuki konflik, menegangkan, dan menguras emosi. Tentu saja dibarengi pasangan putri dan pangeran yang semakin... *nanti jadi spoiler....


...Jadi jangan sampai ketinggalan. Ikuti terus cerita IVORY ....


...See You....


*foot notes:


NC/ Not for Children: sesuatu yang tidak diperuntukkan bagi anak dibawah umur.