IVORY

IVORY
Ivory, kesalahan, dan permintaan maaf.



...Tinggalkan Like dan komentar yang membangun. Follow akun dan favorit jika suka ceritanya....


...Thanks....


...—...


...Part ini dilarang ngakak....


...Kasihan yang diketawain....


...•...


Terkadang, hidup harus diperjuangkan keras. Tidak peduli raga yang akan lelah, bahkan terluka. Nyatanya, dunia memang tidak selalu berpihak baik kepada seseorang, dan lebih memilih menyediakan panggung megah dimana manusia tersebut menjadi pemain utamanya.


Hidup yang didapat Ivory mungkin bisa dikatakan beruntung jika dilihat dari sisi yang berbeda. Namun, siapa sangka, jika pihak yang paling terlihat bahagia, adalah pihak yang paling terluka.


“Raja meminta saya untuk segera menguji pengetahuan anda, tuan putri.” tutur nyonya Mar. Wanita yang menurut Ivory lebih kejam dari ibu tiri itu, memang beberapa waktu lalu tidak bisa hadir untuk membimbingnya. Fucia bilang jika nyonya Mar sedang menemui raja Harllotte dan membicarakan tentang ujian khusus yang akan disegerakan bagi Ivory.


Setelah sempat mengangkat wajah karena terkejut akan pernyataan nyonya Mar, Ivory kembali meletakkan kepalanya di atas meja belajarnya. Memainkan pena diatas kertas, dengan ekspresi masam.


“Apa itu artinya, aku akan segera dinikahkan dengan pangeran Grey?”


“Benar, tuan putri.”


Dari tempatnya duduk, nyonya Mar bisa melihat kegelisahan menyelimuti hati gadis remaja dihadapannya. Maria memang terkenal tegas dimata setiap orang yang menghuni istana, dia selalu berhasil menyembunyikan sisi lain dirinya yang lembut, sabar dan juga penyayang. Kali ini, dia berinisiatif membuat Ivory mencurahkan isi hatinya.


“Anda harus bersiap mulai dari sekarang. Selain saya, Raja sendiri yang akan datang sewaktu-waktu dan menguji wawasan anda.”


Ivory hanya diam, dia menyibukkan diri dengan membaca baris demi baris kalimat yang tertulis di dalam buku. Tapi, tiba-tiba satu pertanyaan terbesit dalam benak Ivory.


“Nyonya Mar, apa anda pernah patah hati?”


Nyonya Mar seketika itu juga mendelik lebar. Bibirnya yang merekah itu membentuk garis lurus. Ia geram sekali saat ini. Geram karena pada kenyataannya dia belum pernah merasakan hal seperti itu. Dia sudah bersumpah untuk setia pada kerajaan tanpa harus melakukan pernikahan.


“Tidak ya?” celetuk Ivory tanpa dosa dibarengi wajah kecewa. Pasalnya, dia ingin berguru kepada Nyonya Maria tentang cara mengobati luka hati. “Kalau begitu aku ke dayang Fu saja. Bisa jadi dia memiliki solusi.” ucapnya, menutup buku dan menyudahi jam belajar secara sepihak.


Maria yang sudah kepalang kesal, melarang Ivory pergi. Ingin sekali dia mengikat bibir gadis itu agar tidak bisa bicara sembarangan begitu.


“Memangnya siapa yang membuat anda patah hati, tuan putri? Apa ada pria lain selain pangeran Grey?”


Ivory menggeleng tanpa berfikir panjang. Nyatanya memang tidak ada.


“Aku hanya sedang tidak bisa menerima diriku sendiri.”


Dayana.


Wajah Ivory tiba-tiba berubah ekspresi menjadi ingin tau. Lalu dia menatap wajah Nyonya Mar dan bertanya, “Nyonya Mar, siapa itu Dayana?”


...***...


Pagi-pagi sekali, istana sudah dibuat heboh oleh Ivory yang sedang memanjat pohon gingko yang berada disalah satu lapangan panah. Dia tanpa ragu memanjat hampir di bagian teratas pohon demi mengambil anak panah miliknya yang tersangkut disana.


Beberapa dayang—termasuk dayang Fucia—yang melihat putri mereka memanjat, tidak berhenti membuat suara agar gadis itu segera turun, sebab perilaku seperti itu sama sekali tidak dibenarkan didalam istana, dan juga tidak mencerminkan sikap yang patut untuk seorang calon pendamping pangeran.


“Iya, Fu. Aku hampir meraihnya. Bersabarlah sebentar, dan bilang pada yang lain untuk tidak membuat gaduh.” cerocos Ivory sambil mencoba meraih anak panah yang tinggal beberapa centi lagi bisa ia gapai.


Akan tetapi nahas, salah seorang dayang sudah berlari untuk memberitahukan kejadian ini kepada pangeran Grey, hingga laki-laki itu melompat turun dari kursi tempatnya membaca. Ia berjalan cepat menuju lokasi dimana Ivory sedang membuat ulah. Wajahnya geram, dan dia bersumpah akan menyeret Tarzan imigran itu dan memberikan hukuman setimpal dengan kelakuan anehnya.


Terdengar suara jeritan saat pangeran sudah memasuki area lapang tempat berlatih memanah.


“Astaga. Apa yang dia lakukan.” pekik Grey, lalu berlari tunggang-langgang tanpa memikirkan status dan etika kesopanan seorang pangeran ketika berjalan. Yang ia pikirkan hanya segera sampai disana sebelum terlambat. Sebelum Ivory jatuh dari tempatnya bergelayut, atau paling buruk ranting yang ia gunakan untuk usaha menyelamatkan diri itu patah dan gadis itu akan jatuh dari ketinggian yang lumayan mengerikan.


“Tarzan gila! Apa yang sedang kamu lakukan huh?” teriak Grey ketika berhasil berdiri dibawah kaki Ivory yang tergantung diudara. Grey menengok ke atas, tak peduli jika stocking yang dikenakan gadis itu terlihat jelas dari bawah.


Semua orang yang ada disana terkejut ketika mendengar kalimat kasar yang meluncur dari bibir pangeran mereka.


“Pangeran. Tolong selamatkan anak panah ku dulu. Dia akan patah jika tidak di tangkap.”


Dasar manusia langkah, mana mungkin disaat seperti itu, dia lebih memilih anak panahnya yang selamat dari pada dirinya sendiri?


“Apa kamu bodoh? Kamu akan jatuh dan tulangmu akan patah jika kamu mempertahankan anak panah itu. Lepaskan bodoh!”


Ivory yakni dia akan mendarat sendiri dengan selamat tanpa bantuan siapapun. Jadi dia memutuskan untuk menyelamatkan anak panahnya dulu, atau dia akan dihukum Grey karena merusak anak panah yang biasa dipergunakan untuk ia latihan.


Tubuhnya yang bergelantungan diudara itu terlihat baik-baik saja, sampai—


“Arrrghh...”


Beberapa orang pengawal yang sempat ditugaskan untuk mengambil matras, terbelalak dan mematung di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat kejadian. Lalu, salah seorang pengawal yang bertugas melindungi pangeran itu segera menyingkirkan Ivory dari atas tubuh pangeran hingga gadis itu jatuh terlentang tanpa belas kasihan diatas tanah berumput. Dia dapat melihat saat ini pangeran Grey sedang mengerang kesakitan sambil menggenggam perutnya.


Dan dengan suara tertahan menahan ngilu, Grey mengumpati Ivory terang-terangan didepan banyak orang.


“Dasar Tarzan sialan. Kamu akan menerima akibatnya setelah aku sembuh nanti.”


Seketika itu Ivory panik. Dia akan dimarahi raja karena sudah mencelakai pangeran, dan tidak menutup kemungkinan, jika dia juga akan menerima hukuman berat atas perilakunya, kali ini.



Karena insiden itu, pangeran Grey harus menerima perawatan serius dari tabib selama beberapa hari karena pencernaannya mengalami masalah berat akibat tertimpa bobot tubuh Ivory.


Sedangkan Ivory, merasa sangat bersalah dan ia berencana akan meminta maaf kepada pangeran Grey. Meskipun ia sebenarnya takut sekali menampakkan diri di depan pria itu.


Langkah kaki dibalik gaun panjang menyentuh tanah itu sedikit limbung. Sesekali dia menendang kerikil yang tidak bersalah ketika memikirkan cara untuk menemui pangeran Grey serta meminta maaf tanpa harus merasa takut akan diusir.


Seorang dayang melewati Ivory. Dayang yang terlihat seusia dengan Fucia itu membawa sekeranjang bunga mawar warna warni. Satu ide tercetus dari otak Ivory. Senyumannya mengembang, lalu berlari kecil mengejar si dayang yang terlihat tidak peduli akan kehadirannya itu. Ya mau bagaimana lagi, siapapun pasti akan membencinya karena kejadian nahas yang diterima pangeran akibat ulahnya. Ivory sadar dan maklum.


“Permisi.”


Dayang berkulit tan itu berhenti, lalu berbalik dengan wajah mengernyit tidak suka.


“Boleh...saya...minta setangkai bunga mawar putihnya?” tanya Ivory ragu-ragu karena raut tidak bersahabat dayang tersebut terlihat semakin mengerikan. Salah-salah, Ivory bisa dijambak tanpa ampun jika salah bicara.


Dengan nada ketus, dayang tersebut mengatakan sebuah kalimat menohok untuk sang putri. “Menyesal sudah membuat pangeran terluka? Dasar aneh.”


Oh ya Tuhan. Jika Ivory boleh marah, dia akan meladeni mulut pedas dayang ini. Ivory yang tertegun hanya bisa menganga, lalu menerima sekuntum bunga mawar putih dari tangan dayang bermulut pedas itu.


“Terima kasih.”


Sebesar apapun kebencian kita kepada seseorang, ucapkan terima kasih jika dia sudah berbuat baik atau membantu kita.


Ivory masih membeku ditempat ketika dayang itu sudah melenggang pergi tanpa membalas ucapan terima kasih yang sudah ia ucapkan, benar-benar etika rendahan. Sampai-sampai Ivory yakin, jika gadis itu diterima sebagai dayang istana melalui jalur tikus.


Sebenarnya, selain ingin meminta maaf kepada Grey, Ivory ingin melihat keadaan Grey dengan mata kepalanya sendiri. Dan disinilah dia berada, didepan pintu kamar Grey yang tidak dijaga, dan lorong sepi yang membuat bulu kuduk bergidik ngeri.


Pintu beraksen pahat itu didorong pelan, tidak berderit, namun mampu membuat dua presensi didalam sana menoleh begitu pintu berhasil melebar.


Merasa waktunya tidak tepat. Ivory yang sudah menyembulkan kepala, berniat pergi, serta mengurungkan niat atau menunda, bahkan pilihan lain yang tersedia adalah tidak dilakukan saja. Batal.


“Ada apa?” tanya Grey menghentikan langkah Ivory yang hampir terayun pergi.


Didalam sana, pangeran tidak sendirian, ada presensi lain yang sedang duduk tidak jauh dari pangeran yang juga sedang duduk bersandar di kepala ranjang.


“Ti-tidak ada. Aku salah tempat.” Ivory bergerak seolah-olah sedang menghitung dan mencoba mengingat sesuatu.


“Kamu memang pandai berbohong. Tapi, masuk saja. Aku penasaran, apa yang akan kamu lakukan disini.”


Ivory sudah menyembunyikan setangkai bunga mawar putih yang ia bawa itu dibalik punggung. Lantas ia memutuskan untuk tetap melangkah masuk dan menemui pangeran, karena tujuannya sejak awal memang ingin menilik dan memastika keadaan laki-laki bernama Grey itu baik-baik saja.


Sesampainya di dekat ranjang tempat pangeran beristirahat, Ivory menyempatkan diri untuk melirik sosok yang duduk disisi Grey. Wajahnya cantik juga manis, anggun, serta dikaruniai bentuk tubuh yang padat berisi.


“Aku hanya ingin meminta maaf.” ucap Ivory sembari memilih meletakkan mawar putih yang ia bawa itu diatas meja tempat lampu menyala.


Grey tersenyum kaku, lantas mematik tatapan tajam kearah Ivory. “Aku tidak perlu ucapan maaf dan bungamu itu. Keluar dari sini, bawa, dan buang bunga itu ditempat sampah. Aku sama sekali tidak ingin melihatnya”


Untuk ukuran seorang gadis desa yang pernah diajarkan sopan santun begitu kental, Ivory terluka dengan ucapan Grey yang terdengar begitu egois. Jika memang tidak suka dengan kehadiran Ivory, seharusnya pangeran hanya perlu mengacuhkannya saja. Bukan malah membuat sakit hati begini—pikir Ivory yang saat ini menahan geram dan kabut dimatanya.


Kemudian, tanpa sepatah katapun, Ivory berbalik, berjalan keluar meninggalkan dua manusia yang tidak berniat menghentikannya.


Ivory menyesal sudah datang. Dia akan menyimpan memori ini pada laci yang sama dengan ingatan kelamnya yang menakutkan.


“Iya. Aku memang salah. Tapi aku hanya bermaksud menjenguk dan mendapatkan maaf dari pangeran.” gumam Ivory, keberatan dengan sikap Grey. Lantas, Ivory mendongak menatap langit-langit istana. Mendesah pelan membuang rasa benci, sebab percuma, bagaimana dan seperti apa sikap Grey, Ivory akan hidup bersama dengan pria itu kedepannya.


Ivory hanya bisa membisikkan harapan tulusnya kepada angin.


“Aku harap, pangeran lekas sembuh dan bisa kembali menjalankan tugasnya dengan baik, seperti biasanya.” []


Bersambung.


Ps: Bonus visual Junot.