
...‼️📌Peringatan📌‼️...
...Hai readers baik hati sekalian. Cuma mau memperingatkan, jika mulai chapter ini, cerita akan banyak mengandung beberapa kalimat dewasa bersifat implisit maupun eksplisit yang perlu ditanggapi secara bijak. Bagi pembaca yang tidak nyaman, atau masih berusia dibawah 18 tahun, silahkan skip ke paragraf lain yang menurut pembaca sekalian sudah berada di zona aman....
...Tidak lupa juga, untuk selalu meminta dukungan Like, serta tambahkan IVORY ke dalam rak buku agar tidak ketinggalan jika Vi's update bab selanjutnya....
...Terima kasih banyak atas perhatiannya....
...Happy Reading....
...•...
Ivory berharap, degup jantungnya tidak terdengar sampai ke telinga beberapa orang yang ada diruangan sama dengannya. Saat ini dia, pangeran Grey, raja Harllotte, kedua orang tuanya, serta dua orang dayang sedang berada di sebuah tempat yang merupakan bangunan khusus yang sudah ada sejak raja Geogini ke 2 masih hidup. Bukan tanpa alasan tempat ini dibangun. Tempat ini sudah memiliki fungsi yang sama sejak dulu. Tempat yang dipergunakan untuk melakukan acara tradisi pengantin baru, yakni meminum ramuan khusus untuk membangkitkan ketertarikan satu sama lain, dengan kata lain membangun gairah.
Grey sempat berfikir dia pasti bisa menahan semua yang akan terjadi nanti, setelah meminum ramuan tersebut. Tidak akan ada penawar, mungkin tidur lelap adalah jalan satu-satunya, sebab ia juga sudah terlalu lelah hari ini. Dia yakin akan tidur cepat dan semuanya berlalu, menghilang ketika ia kembali membuka mata esok harinya.
“Bisa kita mulai, yang mulai?” tanya dayang bertubuh kecil yang terlihat sudah berusia setengah abad lewat memecah suasana hening.
Raja Harllotte mengangguk, yang kemudian membuat dayang itu segera mengambil nampan teko dari tangan dayang yang duduk di belakang punggungnya, lalu meletakkan nampan tersebut diatas meja yang ditempati raja Harllotte dan pasangan pengantin Grey dan Ivory. Sedangkan kedua orang tua Ivory, duduk tidak jauh dari sisi meja tempat putrinya itu berada guna menyaksikan prosesi meminum ramuan.
Dayang bernama Juana itu menuang ramuan berwarna hijau gelap kedalam gelas kayu berdiameter sempit yang ada didepan Ivory dan Grey dengan gerakan santun. Aroma yang menguar begitu pekat, terhirup dan terasa aneh, membuat Ivory menahan mual yang tiba-tiba bergejolak di dalam perutnya.
Tatapan raja Harllotte beralih ke arah dua presensi dihadapannya secara bergantian. Kemudian berseru. “Lakukan tugas kalian sebagai sepasang suami istri. Ramuan ini hanya membantu kalian untuk saling tertarik dan menginginkan satu sama lain.”
Ivory yang mendengar penuturan raja Harllotte, menelan salivanya. Kalimat yang disampaikan oleh raja adalah perintah, dan Ivory tidak bisa lagi mundur. Dia akan benar-benar menjadi milik Grey hari ini.
“Baik, yang mulia.” jawab Grey, patuh. Sedangkan Ivory yang sibuk dengan isi kepalanya sendiri, harus menahan malu ketika raja Harllotte tersenyum ke arahnya.
“Ba-baik, yang mulia.” susulnya setelah Grey berhasil mendahului bicara. Ah, dia saja yang tidak hati-hati. Bagaimana bisa dia melamun saat raja Harllotte sedang berbicara kepadanya.
“Sekarang, silahkan mendengar arahan dari dayang Juana.”
Juana yang disebut namanya bergerak maju. Dia membungkuk sekilas, kemudian mulai bersuara setelah raja mempersilahkan.
“Minuman herbal ini terbuat dari beberapa jenis tumbuhan yang bisa membuat hasrat seseorang bekerja lebih agresif. Minuman ini akan bekerja setelah kalian membasuh diri di genangan air hangat selama beberapa menit, dan semakin memuncak ketika kulit kalian bersentuhan.”
Apa itu alasan mengapa aku dan pangeran Grey harus berendam bersama?
Ivory menebak dalam hati. Ia mungkin tidak pandai dalam hal-hal yang harus menggunakan otak kiri dan kanan secara bersamaan, tapi Ivory cukup pandai dalam menerka, katakan saja ia hanya terlalu peka.
“Kemudian, efeknya akan berangsur hilang jika melakukan persetubuhan, kemudian berakhir jika kalian mencapai puncaknya.”
Oh astaga. Membayangkannya saja, Ivory sudah merinding bukan main. Efek minuman ini tidak main-main. Apa dia berpura-pura meminumnya saja? Lalu bagaimana dengan Grey? Bagaimana jika dia tidak setuju dan memilih melaksanakan semua tradisi yang memang sudah tertulis di Geogini?
Mendadak keringat dingin kembali mengucur didahi Ivory, membuat raja Harllotte yang melihatnya tertawa lebar.
“Putri, apa anda sedang khawatir?”
Pertanyaan raja Harllotte mampu membuat beberapa pasang mata itu menuju pada Ivory. Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri dengan tatapan polos.
Grey yang sejak awal tidak menduga pertanyaan seperti itu dilesatkan kepadanya, menjawab kikuk dengan debar jantung yang menggila disertai rasa malu juga gugup.
“Te-tentu saja, yang mulia.”
“Untuk itu, segera lakukan tradisi minum ini, dan segera menuju rumah pengasingan.”
...***...
Ruangan yang kini ia tempati sudah tidak asing. Ivory sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini, tempat yang berada di istana kedua, tempat tinggal Grey.
Setelah meminum ramuan tadi, memang tidak ada atau belum ada efek apapun, kecuali perutnya yang sedikit mual karena efek aroma pekat aneh yang tertinggal di rongga mulut.
Kedua orang tua Ivory juga sudah diperkenankan pulang, dan diberikan kebebasan untuk berkunjung kapanpun yang mereka inginkan jika merindukan Ivory, sesuai permintaan yang mereka ajukan kepada raja Harllotte sehari yang lalu.
Kedua kaki indah Ivory yang kini terlihat jelas dimata Grey karena mengenakan dress sebatas lutut, mengayun diudara. Gadis itu duduk ditepian ranjang milik pangeran Grey, dan melihat laki-laki itu sedang memilah beberapa pakaian yang ingin ia kenakan sebelum melakukan ritual mandi bersama dirumah pengasingan, nanti.
“Apa disana tidak disediakan pakaian?” celetuk Ivory ringan tanpa beban. Masih mengayunkan kaki dengan riang.
“Ada, tapi aku ingin memakai baju pilihanku sendiri.”
“Aku juga.” seru Ivory menanggapi, melompat turun dari tepian ranjang dan hendak kembali ke kamarnya untuk berkemas. Dia juga tidak mau rugi jika nanti hanya Grey mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.
“Mau kemana?” tanya Grey, tidak mengerti apa yang sedang ingin dilakukan Ivory.
“Kekamar, mengambil baju.”
“Untukmu, sudah disediakan disana.”
Lihat, pangeran Grey memang tidak mau kalah. Dia akan tetap menjadi sosok egois dan ingin membenarkan dirinya sendiri.
Seruan Grey itu membuat Ivory mengayunkan langkahnya kembali menuju kursi yang ada disudut ruangan kamar. Hingga laki-laki tersebut sudah mengganti pakaian dan bersiap menuju rumah pengasingan, Ivory kelelahan dan hampir tertidur.
“Hei, Tarzan imigran. Cepat bangun. Kita harus segera menuju tempat pengasingan, matahari sudah hampir tenggelam dan langitnya semakin gelap.”
Ivory tersentak. Ia reflek bangun dan berdiri, lantas bergegas menuju pintu kamar Grey untuk meninggalkan ruangan ini tanpa sepatah katapun yang ia ucapkan. Sedangkan Grey, hanya bisa menggelengkan kepala karena bingung sendiri melihat tingkah laku Ivory yang menurutnya aneh dan sedikit...menggemaskan. Ya, menggemaskan. Dua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Gadis itu akan segera menjadi miliknya malam ini. Mereka akan bersatu malam ini, dan Grey akan memiliki Ivory seutuhnya. Untuk dirinya seorang. Dia bahkan bersumpah dalam hati, jika dia akan memperlakukan dan menjaga Ivory dengan baik. Dengan seluruh jiwa dan raganya. Sebab Ivory adalah dirinya. Ivory adalah bagian dalam hidupnya, dan Ivory adalah wanita yang sudah membuatnya jatuh hati tanpa alasan, meskipun tingkah lakunya sedikit aneh dan konyol. Grey mencintainya, dan dia akan mengatakan itu nanti.[]
Bersambung.
...🍃🍃🍃...
...Terima kasih sudah membaca....
...See You Soon....
...regrets,...
...Vi's...