
...Katakan pada diri kalian sendiri, jika kalian sangatlah berharga....
...Hai. IVORY update untuk menemani waktu senggang kalian para readers yang baik hatinya....
...Happy Reading......
...•...
“Halangi dia jika terus melewati batas.”
Grey yang mendengar titah sang kakek, membenarkan, dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi perang kecil jika mereka terus menolak pergi.
Ia memutar otak, mencari cara bagaimana menyuruh mereka pergi dari perbatasan Geogini karena hal tersebut bisa disebut tindakan ilegal. Memasuki kawasan orang lain, merupakan suatu tindak ilegal.
“Baik, yang mulai. Saya akan menuju kesana dan menghentikan mereka.”
Grey bersiap undur diri. Namun raja kembali menahannya. “Berhati-hatilah, pangeran. Raja Aru itu licik.”
...***...
Setelah menempuh perjalanan dengan jarak yang cukup jauh, kini Grey, Junot dan juga beberapa pasukan inti bentukan panglima Junot itu sampai disebuah tempat yang disinyalir menjadi lokasi raja Aru berada. Grey yang mulai mengamati, teringat akan satu hal. Tempat dan jalan yang ia lewati sangat tidak asing. Kalau tidak salah jalan ini adalah jalan menuju desa tempat tinggal Ivory. Grey bahkan mengingat dengan jelas meskipun hanya sekali berkunjung kesana.
Telapak tangannya terangkat, memberi isyarat agar mereka berhenti. Kemudian Grey menoleh kearah Junot yang berada disisi kanannya.
“Bukankah ini lokasi desa putri Ivory tinggal dulu?”
Junot tidak tau, sebab saat itu dia belum kembali dari tugasnya dan tidak bisa mengantar Raja dan pangeran melamar gadis itu.
“Saya tidak tau, pangeran. Saya belum pernah pergi ketempat ini bersama anda.”
Akan tetapi, satu orang prajurit membenarkan terkaan pangeran. Sebab dia adalah satu dari dua prajurit yang saat itu diberi tugas untuk mengawal putri Ivory bersama dua temannya untuk kembali kerumah mereka setelah mengikuti sayembara.
Kepala Grey kembali memunculkan banyak sekali pertanyaan praduga. Jadi, penyusup itu ada disana?
Grey kembali memacu kuda dan diikuti oleh semua prajurit.
Sesampainya dipusat desa, tidak ada transaksi apapun dipasar desa tersebut. Seluruh bangunan rumah disana tertutup rapat. Grey terlihat semakin khawatir jika rombongan raja Aru sudah melakukan sesuatu kepada rakyat Geogini. Lalu ia kembali menarik tali kekang kudanya dan kaki kuda itu berlari cepat. Hingga akhirnya, maniknya yang tajam bak elang itu menangkap presensi segerombolan orang berpakaian prajurit.
Begitu jarak yang tercipta antara dua kubu berbeda itu telah terpaut tidak terlalu jauh, Grey bersuara untuk menarik perhatian mereka.
Dan seorang berpakaian lengkap kerajaan berlambang singa dan ular phyton itu muncul dari barisan kerumunan prajuritnya. Laki-laki paruh baya itu terlihat biasa saja. Tapak kuda yang dinaiki terdengar tenang.
“Ah, pangeran Grey.” sapanya, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Grey yang merasa harga dirinya terluka, menyuguhkan seringai tajam di salah satu sudut bibirnya. Ia menatap lurus raja Aru dan panglima Murdock secara bergantian.
“Apa pantas, seorang raja memimpin prajuritnya untuk memasuki kawasan orang lain tanpa izin?”
“Aku sudah meminta izin pada raja Harllotte,”
“Tapi raja tidak memberi anda izin tersebut dan meminta anda tetap di tempat anda. Biarkan kami yang akan mencari penyusup itu, karena wilayah ini adalah teritorial kami.” sahut Grey cepat dan membuat suara raja Aru tercekat.
Raja Aruchi tertawa keras. Menertawakan penuturan Grey yang terdengar tidak tau diri bagi raja Aru. Bagaimana bisa dia membiarkan penyusup yang mencuri putrinya itu bisa lari sekali lagi?
“Aku tidak berniat membuat keonaran disini. Aku hanya ingin mencari seorang penghianat, dan kalian masih sama seperti dulu. Ck! Benar-benar menyebalkan.”
Keadaan berubah mencekam setelahnya. Grey yang diam-diam menggenggam Grip pedangnya. Sebuah ancang-ancang spontanitas ketika seseorang merasa terancam, dan Grey merasa jika keadaan tidak akan berakhir baik. Akan terjadi sedikit pertumpahan darah untuk mengusir mereka dari sini.
“Saya minta anda segera meninggalkan Geogini.” titah Grey dengan suara rendah dan tegas penuh intimidasi. Raja Aru memang terkenal menyebalkan sejak dulu, dan Grey yang sering diperingatkan oleh raja Harllotte, refleks melakukan hal yang seharusnya dilakukan olehnya. Mempertahankan apa semestinya harus mereka pertahankan. “Geogini yang akan mencari dan menyerat mereka ke Amber jika memang terbukti mereka berada disini ”
Raja Aruchi menyorot tajam. “Bagaimana aku bisa percaya kepada anak muda seperti dirimu?”
Grey memicing. Otaknya seperti dibakar. Ia menahan emosinya kuat-kuat agar sebisa mungkin tidak mengorbankan apapun.
“Kamu masih muda dan pengalamanmu tidak sebanyak aku dalam melacak seorang penyusup. Bahkan, kakekmu yang tua renta itu saja tidak akan pernah bisa menandingi ketajaman instingku.”
“Berhenti bicara omong kosong, atau aku akan mengusir kalian dari sini dengan cara paksa.”
Aruchi menahan pasukannya, memberikan titah agar semua kembali tenang dan tidak gegabah. Mengingat ini memang bukan tempat mereka.
“Sekali lagi aku peringatkan. Cepat tinggalkan Geogini.”
...***...
Hari sudah berubah oranye. Matahari yang tadinya berada tepat diatas ubun-ubun, kini sudah bergerak jauh ke barat dan bersiap untuk bersembunyi dibalik cakrawala. Ivory tak putus-putus menilik pintu ruangan dan berharap segera terbuka, lantas ia bisa menyaksikan pangeran Grey tersenyum kearahnya dengan keadaan baik-baik saja.
Satu helaan nafas besar berhembus dari hidung Ivory. Rasa takut dan khawatir terus menghantuinya. Ia takut terjadi sesuatu kepada pangeran Grey.
“Fu, cepat cari tau ke istana utama. Pastikan pangeran Grey sudah kembali atau belum.”
Namun, ditengah kalutnya pikiran dan rasa cemas yang memenuhi setiap inci sel otak, pintu didorong oleh seseorang. Dan pange, Grey muncul di sana. Senyuman Ivory mengembang sempurna, dan dia pun segera bangkit dari tempat duduk dan berhambur memeluk tubuh Grey.
“Kenapa lama sekali?” tanya Ivory dengan nada manja dan terdengar tulus. Satu sudut hatinya merasa lega melihat Grey kembali.
Tanpa diperintah, Fucia segera keluar dari kamar dimana Ivory sedang melepas rindu kepada sang pangeran, suaminya.
Grey tersenyum, hatinya terasa menghangat karena mendengar kekhawatiran Ivory. Lantas dua lengan kekar miliknya segera membalas pelukan wanita itu, mengusap punggungnya sambil mendaratkan satu kecupan di puncak kepala beroma Vanilla lembut.
“Maaf.” Ya. Grey hanya ingin meminta maaf karena membuat Ivory menunggu dengan perasaan khawatir. “Ada sesuatu yang membuatku tertahan disana sedikit lama disana.”
“Dimana?”
Grey mengurai pelukan, lalu mengusap pipi Ivory dan menyelipkan anakan rambut yang jatuh didepan wajah cantik rupawan sang istri. “Suatu tempat. Jauh, dan membutuhkan waktu beberapa jam untuk sampai disana.”
Ivory kembali menyamankan diri, meletakkan kepalanya di dada Grey dan menghirup lamat-lamat aroma Grey yang masih sama meskipun seharian beraktifitas di luar istana. ”Kenapa? Apa kamu merindukan aku?”
Terdiam, sang lawan bicara memilih diam dan mengusap dadanya yang sudah tidak mengenakan rompi baja.
“Putri. Aku ingin memberitahu sesuatu kepadamu.”
Dada Grey bergerak karena anggukan kepala Ivory yang memberi izin untuk laki-laki itu melanjutkan kalimatnya. Dan hati Ivory mencelos mendengar penuturan yang menjadi sumber ketakutannya. “Jika suatu hari terjadi sesuatu disini, segera lari dan mencari tempat aman untuk bersembunyi.”
Ivory menarik diri, memperhatikan wajah rupawan Grey yang berjarak beberapa centi dengan wajahnya, lantas bertanya.“Tidak. Tidak akan terjadi apapun di kerajaan ini.”
“Hanya seumpama. Tapi tidak menutup kemungkinan juga hal itu akan terjadi suatu hari nanti. Dan jika terjadi sesuatu kepadaku—”
Ucapan Grey menggantung diudara ketika Ivory tiba-tiba saja berjinjit dan meraup bibirnya, menciumnya kasar meskipun terasa amatiran, hingga Grey tidak kuasa untuk tidak menelusupkan jemarinya di tengkuk leher Ivory untuk membalas ciuman tersebut. Keduanya larut dalam sapuan bibir yang saling berbalas itu hingga salah satu pihak menyudahi karena mereka juga membutuhkan oksigen agar tetap hidup.
Nafas mereka berdua memburu, kening mereka bertemu, dan juga bibir mereka yang memerah. Ivory sama sekali tidak ingin Grey membuat ketakutannya semakin bertambah berkali-kali lipat dengan mengatakan jika Grey benar-benar akan pergi dari sisinya. Ivory tidak menginginkannya. Tidak untuk hari ini, besok atau kapanpun. Tidak.
“Jangan pernah mengatakan apapun.” pinta Ivory dengan suara rendah dan bergetar.
Baiklah. Grey harus mengakuinya, mengakui jika Ivory adalah gadis yang sangat manis.
Meskipun mengangguk, Grey tidak pernah memungkiri jika dirinya tidak bisa berada diposisi aman setiap saat. Dia mencintai Ivory dan tidak ingin kehilangan gadis itu, tapi takdirnya menjadi seorang pangeran adalah jalan hidupnya. Ia juga tidak bisa memprediksi kapan bahaya akan datang dan merenggut jiwanya. Tapi satu hal yang membuat Grey merasa sedikit lega, bahwa Ivory sudah mengetahui perasaannya.
Grey menuntun Ivory untuk kembali kedalam pelukannya. Mengusap punggungnya penuh afeksi.
“Aku mencintaimu, tuan putri dan calon ratu Geogini. Aku sangat mencintaimu, ratuku, Ivory.” []
Bersambung.
...🍃🍃🍃...
...Terima kasih untuk yang sudah dan masih setia membaca IVORY. Dukungan kalian adalah semangat untuk Vi's tetap berkarya disini....
...Tolong tinggalkan Like dan simpan Ivory dalam rak favorit readers semua agar tidak ketinggalan jika IVORY update bab baru....
...Thank you....