IVORY

IVORY
Sebuah Pengorbanan berharga.



...Bab ini panjaaaaaang banget....


...Happy Reading......


...•...


Suram. Keadaan semakin mencekam ketika pangeran Grey meninggalkan ruangan untuk bertemu dayang dari tuan putri nya. Murdock tersenyum disudut bibir, lantas berjongkok didepan Rose, menumpu kedua sikunya diatas lutut.


“Jadi, kalian orang tua Ivory? Istri pangeran Grey?”


Rose diam tak menanggapi. Dalam benaknya, tidak ingin menimpali suara manusia kejam dihadapannya itu. Rose juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan putri mereka.


“Lalu, apa putri Ivory adalah putri Honey yang kalian culik dari Amber?”


Sumpah demi apapun. Ingin sekali Rose mencabik wajah dan mencongkel bola mata laki-laki bernama Murdock ini. Dia iblis berwujud manusia.


“Jawab aku, wanita sialan!”


Rose membuang muka dengan tawa sinis. Apa ia harus memperjelas jawabannya dengan melakukan test agar Murdock mengerti ucapannya?


“Aku sudah mengatakannya berulang kali, Ivory itu putriku. Dia anakku.”


“Ya. Dia anakmu. Anak yang seharusnya bukan milikmu.” ucapnya dengan suara rendah.


Pangeran Grey kembali. Dia membawa sebilah pedang yang tadi sempat ia pungut dari istana kedua setelah Ivory pergi bersama Fucia. Tatapannya berubah menghunus, dan ia menunjukannya untuk semua orang yang membuat kekacauan di wilayah kekuasaannya. Geogini.


“Dimana Ivory. Aku ingin bertemu dengannya.” ucap Rose. Dia bersungguh-sungguh, dia ingin bertemu dengan putri semata wayangnya itu dan mengetahui keadaannya.


Tidak ada jawaban. Namun Grey berdiri didepannya, seolah membuat benteng untuk menyelamatkan dan menahan semua yang ingin dilakukan Murdock.


“Aku akan mengirim mereka ke penjara. Jadi tinggalkan Geogini sekarang juga.” titah Grey, tidak sungkan mengungkapkan ketidak sukaannya pada kehadiran Murdock. “Raja Harllotte yang akan menghukum mereka.”


“Tidak. Biarkan aku membawa mereka ke hadapan raja Aru. Dia yang lebih berhak menentukan hidup dan mati mereka berdua.”


“Tidak! Mereka adalah penduduk Geogini, jadi mereka akan menerima hukuman mereka disini jika memang terbukti bersalah.”


Murdock berjalan mendekatkan wajahnya pada Grey. Lalu menyunggingkan sebuah seringai tajam yang mengerikan.


“Kalian, akan hancur ditangan Amber jika sampai memberikan kebebasan kepada mereka.”


...***...


“Fu, pangeran pernah mengancam akan menghukum ku setelah menikah. Lebih tepatnya, ketika aku menolak menjadi pemenang sayembara dulu. Apa ini hukumannya? Diusir dari kerajaan seperti seorang pengembara yang menyusup karena kehilangan arah.” tanya Ivory yang mengekor dibelakang punggung Fucia. Sedangkan dayangnya itu sibuk menyibak rerumputan tinggi dengan kayu yang ia pergunakan sebagai alat perlindungan diri.


“Saya tidak mengerti maksud anda, tuan putri.”


Dua-duanya berjalan kaki. Tidak ada pengawal, kuda, atau bahkan pemanggul tandu yang membawa mereka. Fucia hanya mengikuti arahan Grey untuk membawa Ivory melewati jalan pintas yang bisa mangantar mereka tanpa ada orang lain tau. Akan tetapi, Grey meminta mereka untuk berhati-hati dan bersembunyi jika saja binatang buas yang bisa tiba-tiba muncul tanpa mereka sangka.


Ivory berdecak. Mengapa membicarakan Grey itu seperti menarik tali tambang yang menggantung di jurang? Tidak ada habisnya, namun mampu membuat siapapun yang membicarakannya hanyut begitu saja kedalam pesona yang dimiliki laki-laki berusia 35 tahun itu.


“Ish!!” kesal Ivory sebagai respon atas jawaban yang diberikan dayangnya.


Fucia tersenyum. Ia hanya menggoda, sebenarnya dia sudah pernah mendengar cerita itu dari Ivory, namun ia berpura-pura tidak tau untuk mencairkan suasana yang sempat membuat perih hati mereka berdua. Ya, kenyataan jika siapa saja bisa kehilangan nyawa ketika berperang atau berseteru antar kerajaan—tak terkecuali pangeran Grey—tidak bisa dipungkiri. Dan Fucia, yang notabenenya sudah dibentuk untuk menjadi perisai bagi Ivory, harus bisa menjaga wanita itu dengan baik, meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri.


“Anda tidak lelah tuan putri? Jika lelah, kita bisa beristirahat sebentar untuk sekedar minum atau makan sebelum melanjutkan perjalanan.” ucap Fucia, ingin meyakinkan jika Ivory baik-baik saja dan tidak kelelahan.


“Apa masih jauh?”


Fucia mendongak melihat posisi matahari yang saat ini masih setinggi ujung tombak di ufuk timur, hutan masih belum disapa penuh oleh matahari. Masih dilingkupi kabut asap yang membuat wajah terasa kaku. “Eumm. Mungkin sampai matahari berada diatas kepala kita, atau, bisa juga menjelang malam.”


“Baiklah. Kita istirahat dulu.”


Fucia menyanggupi, ia duduk disamping Ivory yang sudah lebih dulu menyamankan diri dibawah sebuah pohon rindang berukuran raksasa dan ditumbuhi sulur-sulur yang belum terlalu panjang. Akar pohonnya menyembul dibeberapa titik, dan daun-daun kering yang jatuh dibawahnya sudah mulai membusuk dan beraroma khas.


Manik Ivory mengedarkan pandangan ke penjuru hutan. Suara derik hewan menyerupai serangga yang menghasilkan dengung nyaring, suara cuitan burung-burung kecil di antara dahan, suara gemerisik daun yang tertiup angin, dan juga beberapa tupai terlihat berlarian mencari biji-bijian Pinus untuk mereka makan. Ivory tersenyum. Hutan ini menyimpan sebuah keindahan yang mungkin tidak pernah orang lain ketahui.


Lantas maniknya mendapati sebuah gelang bergambar burung merpati dan mawar yang sangat cantik. Benda tersebut membuat rasa penasaran dalam benak Ivory muncul begitu saja. “Gelang milikmu bagus, Fu. Kamu membelinya dimana?”


Fucia menurunkan kain yang sempat tersibak keatas ketika menurunkan bingkisan yang ia bawa. Lalu tersenyum kepada sosok Ivory yang sedang menatap lekat pada gelang yang melingkari pergelangan tangannya.


“Itu, hadiah dari seseorang yang berharga untukku.”


“Orang tua?”


Fucia menggeleng. “Teman.”


“Aku tebak, kekasih.” ucap Ivory membuat dua sisi pipi Fucia merona.


Ivory menghela nafas, melepas kasar melewati hidung lantas menyandarkan tubuhnya yang terasa sedikit letih pada batang pohon berukuran dua kali lipat pelukan manusia dewasa. Ia memejam sejenak, mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia bahkan mencari-cari, meraba, dan membuka kembali gulungan kenangan selama ia tinggal di istana.


Tidak ada.


Tidak ketemu.


Dia tidak membuat kesalahan fatal selain pernah menjatuhi pangeran dengan tubuhnya hingga patah tulang punggung.


“Fu,”


“Eumm.”


“Jika sampai terjadi sesuatu kepada pangeran Grey, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.”


Fucia menengok kearah Ivory berada. Keningnya berkerut, tidak mengerti dengan jalan fikir yang dimiliki Ivory. Gadis itu berbeda dengan kenyataan. Jika dia terlihat begitu liar, tingkah lakunya tidak masuk akal, itu mungkin hanya upaya dirinya menyembunyikan sisi dirinya yang rapuh, tidak sekuat yang diperlihatkan.


“Aku akan menyalahkan diriku karena pergi meninggalkannya disaat seperti ini.”


Ivory tersenyum, meraih satu telapak tangan Fucia dan menggenggamnya erat. Maniknya terlihat lebih sendu dari sebelumnya. Dia benar-benar berada dalam situasi yang tidak baik.


“Terima kasih sudah membuatku bertahan dan mampu berjalan sampai sejauh ini. Kamu pantas menerima balasan yang lebih dari sekedar sebuah penghormatan.”


Fucia membalas genggaman tangan Ivory, menumpuk telapaknya diatas milik Ivory sembari tersenyum tak kalah hangat.


“Untuk itu, tetaplah hidup. Dan tunggu pangeran Grey menepati janjinya.”


Tiba-tiba suara gemerisik terdengar mendekat. Melewati jalan yang sebelumnya mereka berdua tapaki.


Baik Ivory maupun Fucia, tidak melakukan pergerakan atau bersuara sedikitpun. Mereka tidak ingin memancing sesuatu itu untuk datang unjuk diri. Tapi, rumput-rumput itu tidak berhenti bergemerisik, dan jarak mereka semakin dekat.


Ini bahaya. Fucia menebak seekor hewan besar berada dibalik rerumputan itu. Mereka berada dalam bahaya. Kemudian, Fucia memberi isyarat kepada Ivory untuk naik keatas pohon terlebih dahulu, lalu dia akan menyusul setelahnya.


Ivory yang terlihat panik mengikuti instruksi Fucia. Dia memanjat pohon dengan gerakan pelan dan hati-hati dan berhenti disalah satu batang yang berukuran besar dan ia yakini kuat. Kemudian, Fucia menyusul. Tidak seperti Ivory yang bisa memanjat dengan mudah, gadis itu terlihat kesulitan. Sesekali terperosok jatuh.


“Hati-hati. Injak bagian pohon yang terlihat kasar.” titah Ivory berbisik.


Fucia mengangguk dan mencobanya sekali lagi. Namun nahas, sesuatu yang tadinya berada dibalik rerumputan itu sudah terlebih dahulu muncul, menatap lurus kearah Fucia yang bergerak-gerak menaiki pohon.


Seekor harimau.


Manik Ivory membulat, dan memberi isyarat agar Fucia mempercepat gerakan kakinya. Ivory juga bergerak turun untuk mengulurkan tangan kepada Fucia untuk memberikan bantuan. Tapi semuanya terlihat mustahil dan terlambat. Harimau itu memacu keempat kakinya untuk berlari cepat kearah Fucia yang masih sangat mudah dijangkau.


Ivory berhasil menangkap tangan Fucia, namun harimau itu juga berhasil menangkap satu kaki Fucia, menariknya kuat hingga Fucia menjerit kesakitan.


Melihat itu, Ivory terus berupaya menarik Fucia agar bisa lepas dari gigitan Harimau dan menyusulnya ke tempat yang lebih tinggi. Sekali lagi, terlambat. Darah sudah merembes dari balik celana yang dikenakan Fucia. Ivory turut berteriak, menjerit lantang berharap ada orang yang bisa menyelamatkan mereka berdua. Suara Ivory mulai melemah dalam gugu tangis ketika Fucia seolah sudah pasrah dan rela menjadi santapan harimau demi keselamatan Ivory.


“To-long le-paskan sa-ya tuan pu-tri.” tutur Fucia terbata, menahan sakit yang begitu luar biasa pada salah satu anggota tubuhnya yang sedang dijadikan mangsa oleh sang harimau.


Ivory menggelengkan kepala. Masih terus berupaya menyelamatkan Fucia sebisa mungkin ia lakukan.


“To-long, ting-galkan tempat i-ni dan se-lamatkan di-ri anda, Empph...”


Wajah Ivory memucat melihat bagaimana Fucia mulai melemah. Kaki yang masih bersarang di taring harimau itu terus mengucurkan cairan merah pekat tanpa henti.


“Saya mo-hon. Le-paskan sa-ya dan sege-ra lari men-cari perto-longan. Mpph...” Fucia menangis. Ia yang semula menggenggam telapak tangan Ivory, mulai mengendurkan eratannya.


Ivory yang menyadari itu, menggunakan satu telapak tangan lainnya untuk berusaha menahan Fucia.


“Selamatkan di-ri an-da, a-gar bi-sa menagih jan-ji ke-pada pangeran Grey.” lanjutnya disemati sebuah senyuman dan rintihan sakit yang ia tahan mati-matian. “Berjan-jilah te-tap hi-dup. Untuk Pa-ngeran, dan a-ku.”


“Tidak. Kamu juga harus—”


Genggaman itu terlepas. Fucia menghilang begitu saja dari pandangannya. Menyisakan Isak tangis dengan tatapan lurus yang terpaku pada tempat dimana Fucia menghilang. Ivory menggigit bibir bawahnya. Ia merasa ketakutan dan kehilangan secara bersamaan. Namun pesan terakhir Fucia menggema dalam perungunya.


Dia harus tetap hidup. Untuk pangeran, dan untuk pengorbanan Fucia.


Dengan gerakan kasar Ivory mengusap air matanya yang masih belum mau berhenti. Ia turun dari pohon tersebut, lalu tanpa sengaja membuat kesalahan. Dia melompat ketika jaraknya masih terlalu jauh, hingga kakinya terkilir.


Langkahnya terseok, namun ia menahan nyeri itu dan berlari entah kemana. Kemanapun. Ia tidak tau arah, dan hanya berlari, dengan kakinya yang sudah mulai membengkak.


Saat sakit itu mulai tidak tertahankan, Ivory berhenti. Menengok kakinya yang nyeri, dan duduk untuk beristirahat. Semua pakaian dan makanan yang disiapkan Fucia tertinggal jauh di tempat, yang entah diarah mana.


Tenggorokan Ivory terasa kering. Ia butuh minum. Tapi tidak terlihat adanya sumber mata air yang bisa ia gunakan untuk membasahi tenggorokannya. Senyuman Fucia kembali terbayang, dan itu sangat menyakitkan. Dan Ivory kembali berdiri, mencari sebuah pertolongan meskipun mustahil.


Hingga langkah Ivory kembali terhenti. Harimau lain berada didepan mata, beradu pandang dengannya. Kaki Ivory berjalan mundur perlahan. Lalu bersiap mengambil ancang-ancang untuk berlari, namun tungkainya tanpa sengaja tertahan oleh sebuah akar pohon yang menyembul dari balik tanah. Ivory terjatuh dan bersiap menerima hal buruk yang akan menimpanya.


Dan semua seolah benar-benar menjelma bagai do'a. Harimau itu berlari mendekat dengan kecepatan tinggi. Ivory memejam bersiap menerima terkaman. Namun ia dikejutkan oleh pekikan hewan buas itu. Matanya terbuka dan melihat harimau itu terkapar meregang nyawa dengan dua anak panah menancap tepat di bagian dada.


Seorang gadis muncul, dengan pakaian seadanya, rambut hitam sepunggung diikat menjadi satu, lengannya menggenggam busur, dan dibalik punggungnya ada beberapa anak panah dalam wadah berbentuk tabung.


“Tepat sasaran.” katanya sambil tertawa bangga.


Senyumannya manis, ada dua lesung Pipit yang muncul di kedua pipi, wajahnya tak kalah cantik dari Ivory.


“Anda baik-baik saja?”


Suaranya lembut dan manis seperti madu. Ivory menebak usia mereka sama.


“Ya. Aku baik-baik saja.” jawab Ivory singkat.


Gadis itu mengulurkan tangan. “Honey Green. panggil saja aku, Green."[]


Bersambung.


...°•°•°•°•°...


...Jariku keriting. Bab ini diketik hampir mencapai 2ribu kata....


...Jadi luangkan waktu untuk memberikan Like ya......


...Untuk yang sudah setia membaca dan memberikan like, Vi's ucapkan banyak terima kasih....


...Tuh, Ivory memang putri kandung Rose dan Rontge. Sedangkan putri Honey adalah orang yang berbeda dengan yang diduga Murdock....


...Lalu bagaimana keadaan istana?...


...Ikuti terus kelanjutan cerita IVORY....


...See you....