
”Fu—”
“Dayang Fu.” koreksi Fucia dengan nada tegas dan tepat sasaran.
“Ah, baiklah. Baiklah.” sahut Ivory kesal karena Fucia lebih gencar menegur setiap ucapannya. Apa sebuah keputusan salah menganggap Fucia sebagai teman?
“Apa aku akan tinggal di istana kedua bersama pangeran, jika kami sudah menikah nanti?”
Fucia memiringkan posisi tidurnya untuk menghadap Ivory. Ya, Ivory ingin gadis itu menemaninya sampai tertidur.
“Tentu saja tuan putri. Memangnya kenapa?”
“Pangeran Grey sangat menakutkan. Dia tadi hampir saja menebas putus kep—” Ivory menghentikan dongengnya untuk Fucia, lantas menutup mulut dengan kedua telapak tangan karena terlanjur mengatakan sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia pribadi.
“Tuan putri datang ke kamar pangeran? Tanpa izin?”
Ivory memanyunkan bibir. Nasi sudah menjadi bubur, jadi terpaksa ia harus memakannya.
“Iya. Aku datang ke kamarnya, dan masuk melalui jendela.”
Oh tuhan. Fucia akan mendapat hukuman pancung besok pagi, karena dinilai tidak becus mengurus gadis yang seharusnya menjadi tanggung jawab untuk dirinya. Lagi pula, mengapa Ivory ini bertingkah seperti penyusup? Tidak ada anggun-anggunnya sama sekali.
“Aku diusir. Dia marah.”
Memangnya siapa yang tidak terpatik emosinya, jika bertamu bukan dengan sikap sopan, santun dan baik-baik, di hari yang sudah hampir malam. Masuk melalui jendela pula. Jika Fucia yang menjadi pangeran Grey, mungkin Ivory sudah ada di alam baka, sekarang.
“Aku tidak ingin berada di sini, Fu. Aku ingin pulang.” tutur Ivory sendu ketika tiba-tiba teringat akan rumah.
Melihat itu, Fucia turut iba. Ia juga pernah berada di titik ini, dimana ia ingin sekali pulang dan bertemu dengan keluarga yang selama ini menjadi rumah. Ragu, Fucia memberanikan diri untuk meraih telapak tangan Ivory dan menggenggamnya erat.
“Saya yakin, tuan putri hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri di istana. Jika nanti semua sudah terlewat, saya yakin, tuan putri akan senang berada disini. Semua orang disini baik.”
Tapi tidak menurut Ivory. Yang terlihat baik hanya Fucia.
“Kamu tidak berhasil meyakinkan aku dayang Fu. Aku masih ingin pulang.” keluhnya, lantas menangis tergugu seperti anak kecil didepan Fucia yang masih terus berusaha memberikan ketenangan.
...***...
Sudah satu Minggu sejak kedatangan Ivory, Grey yang penasaran dengan ide konyol gadis itu tidak berhenti mengamati sekitaran istana. Gadis itu tidak benar-benar berbuat konyol dengan mencari masalah, atau melakukan hal-hal diluar nalar. Tidak. Suasana masih kondusif, dan terkendali.
“Baguslah. Dia tidak serius dengan ucapannya hari itu.”
Grey berjalan menuju lapangan berkuda. dari tempatnya berjalan kali ini, ia bisa melihat Ivory sedang mendapat bimbingan belajar dari nyonya Mar. Gadis itu terlihat bosan. Kepalanya ia letakkan diatas meja sembari membaca buku tebal berwarna merah. Mendadak, Grey menarik sudut bibirnya membentuk sebuah tawa, yang ia sendiri tidak tau mengapa senyuman itu terjadi begitu saja.
Sadar akan sikap aneh yang muncul dari dirinya sendiri, Grey berdehem canggung dan melanjutkan perjalanan menuju gelanggang dengan langkah cepat seperti angin.
Dan sesampainya disana, seorang rekan berkudanya sudah duduk manis diatas punggung kuda miliknya sembari menyuguhkan senyuman paling menawan sejagad raya. Grey mendekat, dengan senyuman tidak kalah bahagianya.
“Maaf membuatmu menunggu, Yana.” ucapnya sembari menerima tali kekang Bruto dari salah satu pengurus kuda kesayangannya itu.
Bruto, kuda hitam berpostur tinggi besar, dengan Surai dan ekor panjang, membuat Grey terlihat semakin gagah ketika sudah duduk diatas punggung kuda kesayangannya.
“Tidak apa-apa, asal kamu membayarnya dengan impas, hari ini.”
“Seperti yang kamu harapkan, cantik.” jawab Grey sembari mengerling genit pada sosok Dayana yang masih belum memudarkan senyuman dibibir merah merekahnya.
Grey menarik kekang Bruto, dan kuda itu mulai berpacu, diikuti Dayana yang memacu kuda putih berponi dengan kecepatan seimbang untuk menyamakan posisi.
...***...
“Aku bosan, nyonya Mar. Beri aku waktu istirahat sebentar.” rengek Ivory dengan wajah memelas minta belas kasihan kepada nyonya Mar yang sudah hampir tiga jam menahannya dengan kitab tebal berwarna coklat dan merah diatas meja.
“Putri, anda akan menjadi pendamping Pangeran. Jadi jangan mengeluh dan merengek seperti anak kecil, tidak elok seorang putri berprilaku seperti itu.”
“Siapa juga yang mau jadi putri kerajaan. Kalau boleh, aku ingin lari saja dari sini, kembali ke kehidupan asalku berada.” dumal Ivory, yang tentu saja menarik geram nyonya Mar.
“Cukup. Silahkan lanjutkan belajar anda.” tuturnya dingin.
Ivory kesal, kali ini, dia tidak ingin mengalah dari nyonya Mar. Sebuah ide brilian dari otak konyolnya tiba-tiba berdenting.
“Tidak mau.” jawabnya angkuh, yang seketika membuat sosok Maria geram tiada tara.
“Tuan putri. Lanjutkan belajar anda, atau saya akan memanggil—”
“Pangeran?” sahut Ivory tanpa ragu. “Panggil saja.”
Nyonya Mar yang sudah terlampau emosi sampai di ubun-ubun, meremas kuat penggaris kesayangannya, lalu menoleh dimana Fucia berada.
“Cepat panggil pangeran. Katakan jika tuan putri tidak mau belajar.”
Oh ya Tuhan. Fucia akan berendam di kolam ikan selama tujuh hari tujuh malam demi menghilangkan kesialan pada dirinya. Sumpah, tuan putrinya itu benar-benar menyebalkan sekali.
Ivory tersenyum penuh makna. Idenya berhasil, dan ya, setidaknya dia tidak akan mati bosan seorang diri karena tekanan nyonya Mar. Akan ada pangeran Grey yang juga akan merasakan kebosanan yang sama dengannya nanti.
...***...
Pangeran Grey sedang asyik menunggangi Bruto, mengejar Dayana yang berjarak sedikit jauh darinya. Wanita itu tidak pernah gagal membuat senyuman dibibir sang pangeran mengembang dengan sempurna. Apalagi, hari ini, Dayana memilih pakaian yang lebih seksi dari biasanya. Belahan dadanya sedikit terlihat menyembul ke permukaan, dan tubuh sintalnya tercetak jelas dibalik pakaian khas menunggang kuda.
Lalu pandangan Grey tiba-tiba dibuat bertanya-tanya akan kehadiran seorang dayang disini. Dayang yang wajahnya familiar sekali. Pangeran Grey memicing untuk mengingat wajah itu.
Ah, dayang putri Ivory. Ada apa dia kesini?
Fucia terlihat gusar. Gadis itu juga terlihat takut. Grey membawa langkah kaki kudanya mendekat. Lalu bertanya tanpa turun.
“Ada apa?”
“Ma-maafkan saya sudah mengganggu waktu berkuda anda, pangeran. Tapi nyonya Mar meminta saya datang kesini untuk memanggil anda.”
“Ada perlu apa?” tanya Grey memicing. Tidak biasanya wanita berwajah tegas dan ketus itu memintanya untuk datang menemui—kecuali ada hal mendesak.
“T-tuan putri tidak mau belajar.”
Benar. Itu sangat mendesak. Grey memasang wajah sebal sembari membuang muka. Gadis itu, benar-benar memeras habis kewarasan. Benar-benar seorang Tarzan wanita.
Tanpa diminta, Grey turun dari saddle dan menyerahkan Bruto kepada pengurusnya. Grey yang masih lengkap mengenakan seragam khas berkuda itu segera meninggalkan gelanggang untuk menuju tempat Ivory belajar.
Dan disinilah pangeran Grey sekarang. Berdiri sembari melihat gadis itu melambai kepadanya dengan cengiran tanpa dosa. Dan itu sangat, sangat menyebalkan.
Grey menaiki lantai pendopo tanpa melepas boots setinggi lutut yang membungkus kaki jenjangnya. Nyonya Mar membungkuk memberi hormat.
“Kenapa?”
“Tuan putri menolak belajar, pangeran. Saya juga sudah berusaha semampu saya untuk membuat tuan putri kembali belajar, tapi tuan putri terus menolak dan mengatakan jika belajar itu membosankan.”
Grey merotasikan bola mata pada Ivory, lantas menyorotnya dengan tatapan seolah mengibarkan bendera perang antara dua kubu yang berseberangan.
“Katakan kenapa? Apa kamu sedang mencoba mencari masalah?” seloroh Grey, tanpa basa-basi sedikitpun.
Ivory mengangguk dengan kedipan lambat, dan satu telapak tangan terangkat ke udara tepat didepan dada yang ia gerak-gerakkan naik turun. Menyetujui pendapat Grey. Kemudian, bibir Ivory bergerak mengatakan sesuatu tanpa suara.
“Aku sedang berusaha.”
Kesabaran Grey sudah terkuras habis. Dia juga kehilangan kata-kata untuk sekedar menanggapi sikap konyol Ivory yang pastinya akan berakhir merugikan bagi dirinya, Grey memilih ikut bersimpuh disana. Duduk disisi nyonya Mar, dan ber-misi untuk menemani wanita berusia setengah abad itu menyelesaikan tugas memberikan bimbingan pelajaran kepada Ivory.
Ivory kembali tersenyum. Kali ini menatap jenaka dan menahan tawa untuk Pangeran Grey. Kemudian sekali lagi berbicara tanpa suara.
“Terima kasih sudah mau datang menemaniku belajar. Aku tidak akan mati bosan sendirian disini.”[]
Bersambung.