
...Hai, Ivory update untuk menemani Reader baik hati sekalian mengisi waktu senggang. Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberi like, komentar, favorit, juga Vote bagi IVORY. 🤩...
...Happy Reading......
...•...
Burung elang gagah bermata tajam, mengepakkan sayap, mencengkeram erat busur panah pada kedua kakinya, adalah simbol keperkasaan dan kekuatan kerajaan Geogini. Seluruh pasukannya dikenal sebagai pemanah yang mematikan, tidak pernah meleset dan selalu membuat jantung musuhnya berhenti berdetak.
Selain itu, Geogini juga dikenal sebagai perunding terbaik. Raja Harllotte memiliki segudang cara agar peperangan tidak pernah terjadi. Ia akan berusaha sekuat tenaganya untuk membuat perdamaian, dan menjalin persekutuan yang menguntungkan.
Namun kali ini, pagi yang sedikit mendung dan berkabut, mereka berdiri bersama pasukannya. Mereka tidak menyambut, juga tidak mengibarkan bendera perang. Mereka hanya ingin memastikan tujuan kedatangan Amber ke Geogini. Grey dan raja Harllotte yang berada dibarisan terdepan setelah barikade pasukan memanah, melihat bagaimana raja Aruchi dengan pongahnya tertawa di sisi depan. Junot berada disisi kanan raja Harllotte dan satu lagi panglima perang selain Junot adalah Orlando, yang berada disisi pangeran Grey. Lalu, di belakang mereka, ada pasukan dengan jumlah besar yang memiliki keahlian mumpuni dan kuat. Ivory dan Green berada di antara perlindungan mereka.
Ya. Meskipun dilarang, Ivory dan Green tetap bersikeras untuk ikut menyaksikan perundingan yang akan dilakukan raja Harllotte dan raja Aruchi. Dua gadis itu mengenakan pakaian besi yang terasa berat ditubuh kecil mereka, persenjataan lengkap, dan rambut yang diikat keatas.
“Oh hai, raja Harllotte. Lama tidak bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu, yang mulia?” sapanya, masih dengan tawa lebar di bibirnya yang lebih terlihat seperti sedang menyemburkan bisa berbahaya yang jauh lebih mematikan dari milik seekor ular Echis carinatus.
Raja Harllotte menjawabnya dengan sebuah senyuman khas seorang renta dan mengangkat satu telapaknya menghadap depan. “Aku hidup dengan baik selama ini, Aru.”
“Ah, pasti kamu terkejut dengan kedatanganku, bukan? Tapi melihat pasukan yang berada dibalik punggungmu, sepertinya kamu sudah menduga kedatanganku, ya?” tanya raja Aruchi dengan nada bicara yang sama sekali tidak ada sopan santun dan ramah tamahnya sama sekali. “Aku juga tidak ingin mengirim surat terlebih dahulu kepadamu. Jika aku lakukan, kamu pasti akan menolak kedatanganku lagi, seperti beberapa waktu lalu, dan berakhir seperti ini.” sindirnya. Aruchi memang memiliki kalimat-kalimat yang mampu memancing lawan bicaranya terbakar emosi dan membuat kesalahan fatal hingga dia mampu mengambil kesempatan akan itu.
Tapi itu tidak berlaku untuk raja Harllotte. Dia sudah tau peringai Aruchi dan tidak mau terpancing. Tenang adalah kunci dari pertemuan ini.
Raja Harllotte menatap lurus ke arah raja Aruchi, mencoba menebak apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu. “Jadi, katakan. Apa tujuanmu datang kesini dengan pasukan sebesar itu?”
Aruchi tersenyum remeh, seolah apa yang keluar dari bibir laki-laki tua itu adalah lelucon paling lucu didunia. Basa-basi adalah hal yang paling tidak dia sukai. “Coba pikirkan sendiri jawaban atas pertanyaanmu itu.”
“Mengambil paksa rakyatku?” tanya raja Harllotte dengan penuh penekanan. “Aru, kamu salah paham tentang mereka.”
Disisi lain, Ivory yang melihat bagaimana kecongkakan raja bernama Aruchi itu, mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Hatinya terbakar emosi, dan dia ingin sekali berlari kesana dan mencekik lehernya. Bahkan dia bersumpah akan mencabik orang itu dengan pedang dalam genggamannya.
“Salah paham? Oh ayolah kakek tua, jangan mempermainkan aku. Kau tau rasanya kehilangan bukan? Tapi, lebih dari pada itu, yang lebih menyakitkan dari semua ini adalah aku yang tau jika putriku masih hidup.”
Grey yang mendengar itu, menarik tali kekang kuda yang ia naiki, lantas memangkas jarak hingga sampai pada barisan barikade panah. “Jaga cara bicaramu, raja Aruchi White Amber. Raja Harllotte adalah orang yang seharusnya kamu hormati disini.”
Aruchi terkekeh dan menyemburkan tawa. Ia bahkan terpingkal menyaksikan Grey yang seperti sedang membuat lelucon lain yang tidak kalah lucu. “Hormat ya? Jadi, bagian mana yang harus aku hormati? Katakan.”
Grey meremat tali tebal yang terbuat dari kulit sapi itu dengan kesepuluh jarinya. Rahang tegasnya mengeras. “Rose, dan Rontge bukan orang yang kalian cari. Dua penyusup yang kalian tuduhkan kepada mereka itu, sudah lenyap.”
Aruchi menghapus sisa tawa dibibirnya. Wajahnya berubah serius, maniknya menyorot tajam ke arah Grey yang dengan percaya diri menyampaikan hal yang menurutnya konyol. “Ch...Kambing hitam, begitu maksudmu?”
Grey hanya memaku pandangan kepada Aruchi, memastikan jika pria itu mempercayai apa yang ia katakan.
“Jangan bicara omong kosong. Cepat serahkan dua penyusup itu atau aku akan—”
“Jangan pernah ada pertumpahan darah lagi, raja Aruchi yang terhormat. Aku mengatakan yang sebenarnya, dan aku ingin kau percaya dengan semua informasi yang aku katakan ini.” sahut Grey tegas sebelum Aruchi berhasil mengakhiri kalimatnya. “Aku hanya ingin kita semua tetap hidup dengan damai.”
“Berhenti membual. Cepat serahkan orang itu dan aku akan pergi dengan perdamaian untuk kita. Atau, kau memilih untuk mengibarkan bendera perang?”
Grey menengok kebelakang. Disana, ada orang yang ia cintai dan tidak mungkin membiarkan peperangan terjadi. “Tidak. Aku hanya menawarkan perdamaian, dan aku akan membantu mencari putrimu.”
Sekali lagi Aruchi tertawa remeh. Dia bahkan tidak mengingat kapan seseorang bisa merundingnya dengan kalimat sesimple itu? Ah, Mungkin mereka harus berunding lebih lama. Atau, memang harus mengakhiri semua ini dan memaksa menyeret dua orang yang selama ini ia cari-cari.
“Pangeran Grey. Sudahlah, jangan terlalu banyak bicara dan serahkan kedua orang itu.”
“Jadi, kamu memilih untuk mengorbankan banyak pasukan dari pada menyerahkan dua orang itu?”
“Aku sudah katakan. Semuanya salah paham. Rose dan Rontge tidak pernah menculik putrimu. Mereka hanya dipaksa untuk memberikan susu ketika bayi yang di bawa dua penyusup itu yang saat itu sedang menangis. Mereka tidak tau apapun, dan sekarang, kamu menganggapnya penyusup? Raja Aruchi, seharusnya anda mencari informasi yang benar terlebih dahulu. Jangan semena-mena mengambil keputusan yang akan berakibat buruk kepada orang lain seperti ini.”
“Brengs*ek!! pernyataan apa lagi sekarang? Tunjukkan saja dimana jalan yang bisa aku lalui untuk menjemput dua kepar*at itu tanpa pertumpahan darah.”
Grey menengok kebelakang sekali lagi. Kali ini hatinya begitu sakit ketika mendapati Ivory yang sedang menunduk.
“Kenapa kamu menoleh kesana? Apa ada seseorang disana? Ivory?”
Sial. Darimana dia tau tentang Ivory?
“Ah, jangan-jangan kamu ingin menutupi kebenaran jika Ivory itu putriku? Bukan begitu?”
Harllotte yang mendengar nama Ivory disebut pun tidak tinggal diam. Dia memacu kaki kudanya untuk mendekat pada Grey, lantas menunjuk arah dimana Aruchi dan pasukannya bisa mengangkat kaki dari Geogini dan kembali ketempat mereka.
“Jangan pernah mengusik kedamaian kami lagi.”
“Untuk itu serahkan kedua penyusup itu, brengs*ek!” teriak Aruchi sangat keras hingga siapapun bisa mendengarnya dengan jelas.
Mendengar raja Harllotte dihina seperti itu, emosi Grey semakin tersulut. Dia turun dari punggung kudanya dan menarik pedang dari selosong. Lantas menunjuk ke arah wajah raja Aruchi penuh geram.
Pergerakan Grey mendapat reaksi dari seluruh pasukan yang dibawa Aruchi. Tombak, panah dan pedang mereka siaga dan terangkat tinggi, bersiap untuk menyerang. Tidak terkecuali Murdock yang langsung menyusul Aruchi di daratan. Namun langkah panglima perang terhenti ketika telapak tangan Aruchi diangkat memberi titah. Murdock diam ditempatnya.
“Ingin membunuhku?” tanya Aruchi seolah nyawanya bukan apa-apa, dan Grey hanya diam tanpa menjawab. “Lalu, jika kau ingin membunuhku, bukankah kau ingin membunuh orang tua wanitamu?”
“Ivory bukan putrimu.”
“Buktikan. Bawa dia ke hadapanku, supaya aku bisa melihat dan memastikan dengan mata kepalaku sendiri jika dia bukan putriku. Berani?”
Namun, siapa sangka. Seseorang dari barisan prajurit barikade tiba-tiba mengerang kesakitan. Sebuah anak panah mengenai dadanya, dan suasana pun berubah tegang.
Raja Aruchi menatap geram ke arah pasukannya. Bagaimana bisa pasukannya seceroboh itu melesatkan anak panah? Lantas dengan suara menggelegar, dia berteriak. “Siapa yang bertindak bodoh seperti itu, Huh?!”
Grey yang berharap acara berunding berhasil seperti sebelumnya, tidak menyangka dan memprediksi hal seperti ini terjadi begitu cepat. Namun disana, ketika sekali lagi ia menoleh ke belakang, ia mendapati Ivory terkejut, dan terlihat ketakutan. Emosi Grey menggelegak naik.
“Jadi, kamu ingin benar-benar ada pertumpahan darah?”
Aruchi kembali menatap Grey. “Itu ketidak sengajaan.”
“Nyawa, harus dibalas dengan nyawa.”[]
Bersambung.
...🍃🍃🍃...
...Terima kasih untuk yang sudah membaca dan meninggalkan like nya....
...Sudah siap dengan bab selanjutnya?...
...See you....