
...Terimakasih untuk Like dan komentar positifnya ya Readers tercinta... Vi's merasa begitu di hargai ketika melihat notifikasi dari kalian di beranda....
...Tetap dukung Ivory dengan Like, favorit, rate, tinggalkan pesan di kolom komentar dan vote jika berkenan. Komentar masuk, sebisa mungkin akan dibalas....
...Oh ya. Tidak lupa Vi's ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan....
...Happy Reading......
...•...
Kata ibunya dulu, jangan pernah membawa orang asing memasuki rumah. Karena kita sama sekali tidak pernah tahu tujuan mereka ketika sudah berada di dalam tempat ternyaman kita. Entah baik, atau malah sebaliknya, intinya jangan pernah membawa siapapun. Tapi ini pertama kalinya Green membawa orang lain singgah digubuk kecil tempatnya tinggal seorang diri—karena ibunya telah tiada—dan mempersilahkan masuk. Letaknya tepat di pedalaman hutan yang tidak pernah dijamah manusia karena terkenal penuh dengan binatang buas. Warga yang tinggal disekitaran hutan juga sama sekali tidak berani masuk kedalam jantung hutan, karena selain terkenal dengan kebuasan hewan didalamnya, hutan ini juga disebut-sebut angker.
Green menggantung busur dan anak panah disebuah tiang penyangga rumah setelah mendudukkan Ivory di kursi kayu. Ia juga sempat berpesan agar Ivory diam dan tidak banyak bergerak, karena dia akan mengambil air hangat untuk mengompres bengkak yang diderita Ivory.
“Siapa namamu tadi? Ivory?” teriak Green dari arah dapur. Sepertinya gadis itu sedang memasak air, sebab Ivory dapat mencium aroma khas kayu terbakar. Ia jadi teringat akan ayah dan ibunya. Bagaimana nasib mereka berdua sekarang.
“Eumm.”.
“Kenapa kamu bisa sampai di hutan? Kamu sendirian?”
Kenangan bersama Fucia kembali membayang. Ivory bahkan tertunduk sendu ketika mengingat bagaimana kejadian nahas itu menimpa Fucia, dayangnya yang setia. “Sebenarnya, aku bersama seorang dayang sedang menuju suatu tempat.”
“Dayang?” dahi Green berkerut. Ini akan menjadi masalah jika Ivory adalah salah satu penghuni istana. Orang-orang akan mencarinya, dan tentu saja akan membuat keberadaan Green diketahui oleh orang lain. “Siapa kamu sebenarnya?” tanya Green yang tiba-tiba muncul dari balik tirai pembatas dapur. Wajahnya terlihat datar, nada bicaranya juga tidak seramah sebelumnya.
“Aku, putri kerajaan Geogini, istri pangeran Grey.”
Gawat. Seharusnya dia mendengar nasehat ibunya untuk tidak membawa siapapun masuk kerumah lantas mengetahui tempat tinggal mereka. Dan sekarang, sudah terlanjur, Green harus bersiap untuk meninggalkan rumahnya, atau para prajurit kerajaan akan menangkapnya, di anggap sebagai penyusup karena tidak pernah memberitahu dan melaporkan keberadaannya di sana.
“Kenapa?” lanjut Ivory dengan nada dan raut bingung.
“Setelah mendapat pertolongan, cepat tinggalkan tempat ini. Dan jangan pernah memberitahukan kepada siapapun tentang keberadaan ku disini.”
Ivory memiringkan kepala sekilas.Ia tidak mengerti mengapa Green tiba-tiba terdengar sedang mengusir dan merasa tidak nyaman dengan kehadirannya disini. Gadis itu terkesan aneh dan misterius. Mengapa orang lain tidak boleh tau keberadaannya?
“Memangnya, ada apa?” tanya Ivory, ingin sekali memastikan jika Green bukanlah seorang buronan atau perampok yang sedang berada didalam daftar pencarian penduduk bermasalah oleh kerajaan.
“Kamu tidak perlu tau.” jawabnya yang sudah kembali dari tungku perapian dapur dengan air hangat, kemudian meletakkan baskom berisi air hangat didekat kaki bengkak Ivory. Dengan gerakan perlahan, dia membasuh dan menekan-nekan kaki Ivory.
“Aww... pelan-pelan, Green.”
“Jangan manja—”
“Memang sakit. Aku tidak bohong.” potong Ivory sebelum Green menyelesaikan kalimatnya.
Green menghela nafas sebal. Apa semua orang yang terlahir kaya memiliki sifat lembek seperti ini? Dia saja yang pernah diterkam serigala di area pinggang dengan luka menganga hampir dua puluh sentimeter tidak merengek seperti itu.
“Tahan sedikit, tuan putri.” selorohnya sebal. Green memang bukan pribadi cengeng, untuk itu dia tidak suka melihat orang lain cengeng dihadapannya. “Tadi kamu bisa lari dihutan. Kenapa sekarang mendadak cengeng setelah menemukan penolong?”
Penolong? Ivory ingin menjadikan Green salah satu orang kepercayaan dan mengangkatnya menjadi pengawal pribadinya nanti, ketika kembali ke istana. Gadis itu benar-benar tangguh, tak kalah tangguh dari panglima Junot.
“Iya. Iya. Aku cuma terkejut karena kamu menekannya terlalu keras.”
Mungkin, mereka merasa cocok karena usia mereka terlihat sama. Tapi Ivory sedikit miris melihat penampilan Green yang seperti tidak terawat. Pakaiannya lusuh, dan wajahnya juga seperti tidak pernah dirawat sama sekali. Padahal, kalau dilihat dari dekat dengan durasi lama, Green adalah gadis yang sangat cantik. Ivory mengakuinya.
Ivory mulai menelisik tempat tinggal Green. Matanya berputar melihat seluruh penjuru ruangan. Sudut-sudut ruangan yang terlalu biasa, hanya ada beberapa benda tergantung didinding. Diantaranya busur lain—selain yang gadis itu gunakan tadi—dengan model berbeda, lampu minyak tempel sebagai pencahayaan, sebuah alat musik yang entah Ivory tidak tau namanya, dan sebuah pakaian bayi yang di simpan didalam kotak kaca dengan bingkai kayu mahoni dan di cat coklat.
“Baju bayi? Bayi kamu?”
Green menoleh kebelakang, pada objek yang sedang menjadi topik pembicaraan Ivory dengannya. Lantas kembali melihat kain yang menempel di kaki Ivory.
“Apa kamu bodoh? Apa kamu mendengar suara bayi sekarang? Dan mana mungkin aku memiliki bayi, jika mengenal laki-laki saja tidak pernah aku lakukan.”
“Lalu?” tanya Ivory menelisik.
Warnanya hijau, namun terlihat usang dan, ah, bagaimana ya Ivory mengatakannya? Yang ia lihat dari jarak sejauh itu, baju bayi itu terlihat mahal. Tidak seperti baju bayi dari orang-orang biasa seperti dia dulu. Baju itu terlihat berkilau seperti terbuat dari sutra mahal. Lalu, ada sebuah logo kecil di bagian dada, terlihat seperti lambang kerajaan, namun Ivory sama sekali tidak tau itu lambang dari kerajaan mana.
Akan tetapi, Ivory tidak mau berpikir terlalu panjang yang akan membuatnya diusir saat itu juga karena pertanyaan-pertanyaan konyol yang menyinggung Green.
“Jadi ibumu dimana sekarang?”
Green menghentikan gerakan kelima jarinya, lantas tatapan yang tadinya terlihat secerah matahari pagi, berubah berkabut. Ada satu rasa menyesal dalam benak Ivory setelah mengatakan itu. Sepertinya ia sudah membangkitkan kenangan buruk dari ingatan Green.
“Ibu, sebenarnya dia lebih dari sebutan itu, dia adalah malaikatku.”
Ivory masih diam tidak mengatakan apapun. Menunggu Green mengatakan kalimat yang ia jeda. Apa maksudnya?
“Dia yang menyelamatkan aku dari ganasnya kehidupan hutan.” Ada senyuman sendu yang muncul di bibir Green. “Ibu bilang, orang tuaku membuangku dihutan. Beliau menemukanku dalam keadaan sekarat, kehausan dan tentu saja kedinginan.”
Green mencoba mengingat-ingat kembali cerita lama ibunya. Dari mana asal usulnya, dan juga seperti apa kehidupan yang mereka lalui setelahnya, hingga sang ibu menutup usia. “Ibu membawaku pulang karena iba. Ya. Beliau iba karena gadis kecil sepertiku harus di tinggal sendirian didalam hutan yang bahkan bisa kapan saja menjadi santapan hewan buas.”
Green menarik nafas lalu menghembuskannya dengan sangat berat, seperti ada batu besar yang sedang bergelayut di dalam hati dan kedua bahunya. Gadis yang terlihat ceria itu, kini menjadi dirinya sendiri. Rapuh dan menyedihkan.
“Ibu juga pernah berkata, dia akan mengembalikan ku jika ada orang yang mencari. Namun sampai pada bulan, bahkan tahun berganti, tidak ada orang yang menjemput, atau bahkan sekedar mencari ku. Dan saat itu, ibu menjadikan aku putrinya. Ia melarangku membawa siapapun kerumah, atau hanya sekedar memberitahu keberadaan kami disini.”
Ivory turut merasakan denyutan hebat dihatinya. Ternyata, kehidupannya selama ini tidak ada apa-apanya dengan perjalanan hidup Green. Gadis itu seperti dipaksa menerima keadaan dan menjalaninya tanpa harus meminta imbal balik yang setimpal dari dunia yang ia pijaki. Green gadis yang tulus dan baik hati. Dia juga pandai memanah dan memiliki pertahanan hidup luar biasa. Mungkin juga, itu adalah hal yang diajarkan ibunya dulu, sebagai bentuk perlindungan diri.
“Kita berada ditempat dan derajat yang berbeda, Ivory. Maksudku, putri Ivory. Kita terlahir dari dunia yang berbeda.”
Ivory menggelengkan kepala. Ia rasa, Green juga harus tau jika dia terlahir bukan dengan darah bangsawan. Dia hanya gadis biasa yang disebut-sebut 'beruntung' oleh orang lain.
“Kamu salah. Kita sama. Dan aku juga tidak pernah menyangka jika hidupku akan menjadi seperti ini. Menikah dengan seorang pangeran, lalu harus pergi meninggalkannya setelah beberapa hari menikah.”
Green mengernyitkan dahi, ia sama sekali tidak mengerti maksud Ivory mengatakan hal itu.
“Aku juga tidak tau mengapa pangeran menyuruhku pergi dari istana bersama... dayangku.”
Hati kecil Ivory bak dicabut paksa dari tempatnya ketika kembali mengingat Fucia. “Tapi, dia selalu bilang dan selalu mengumbar janjinya. Dia berjanji akan menjemputku disana. Tapi aku rasa itu tidak akan pernah terjadi.”
“Kenapa?” kini giliran Green yang penasaran.
“Aku tidak tau. Dan juga, aku terjebak didalam hutan ini, tidak tau arah dan kemana aku harus pergi.”
“Kemana tempat yang kau tuju?”
“Kerajaan Denham.”
Green tau tempat itu. Kerajaan yang ada dibalik bukit. Kerajaan yang tergolong makmur dan tentram. Green sering pergi membeli sesuatu dipasar yang letaknya tidak terlalu sulit dijangkau.
“Aku tau dimana kerajaan itu berada.”
Ivory hanya diam, menatap lurus penuh harap.
“Aku bisa mengantarmu kesana. Agar kamu bisa menunggu orang yang kamu sayangi itu disana.”
Ivory tersenyum. Ia bersumpah akan menjadikan Green sebagai orang yang begitu luar biasa dalam hidupnya, selain ibu, ayah, pangeran Grey, dan Fucia.
Lantas, tangannya terulur begitu saja. Menawarkan sebuah hubungan yang sama sekali belum pernah Green rasakan selama hidupnya.
“Mari berteman. Aku yakin kamu bisa mengubah sebuah keburukan karena kebaikanmu.”
Green mendecih terang-terangan. Lantas menyunggingkan senyuman sedikit angkuh namun membuat hatinya begitu tersentuh akan satu ajakan yang ditawarkan Ivory kepadanya.
Ia menyambut telapak tangan Ivory dengan rengkuhan erat, dan berkelakar. “Baiklah. Mari kita perbaiki dunia, dan berteman.” []
Bersambung.