
...Jangan lupa tinggalkan Like dan jadikan IVORY sebagai salah satu list đź’™ readers baik hati sekalian....
...Thanks...
...Happy Reading....
...•...
Aroma kuat petrikor yang menyapa penghidu, membuat Dayana sedikit merutuki kebodohannya sendiri untuk datang ke taman bunga ketika matahari hampir bersembunyi di balik cakrawala. Ia mengedarkan pandangan, sesekali mengingat momen menyenangkan bersama Grey, tentu saja sebelum sikap laki-laki itu terasa berbeda kepadanya.
Hujan yang masih menyisakan rintik kecil gerimis, menyapa setiap helai rambut Dayana yang tergerai hampir mencapai panggul. Ia menunduk, tersenyum getir, dan sadar jika sejak awal Grey memang bukan untuknya. Dia tidak mau menjadi wanita jahat dan egois, setelah menerima kebaikan Ivory. Dayana merasa berhutang nyawa, untuk itulah dia berusaha melepas Grey untuk gadis itu, meskipun terasa begitu sulit diterima oleh hati kecilnya.
“Sedang melamun apa, putri Yana?” tanya seseorang dibalik punggungnya. Begitu mengetahui sosok yang mendekat disampingnya, Dayana tersenyum sembari menunduk guna menyembunyikan wajahnya yang gelisah.
“Tidak ada, panglima Jun. Hanya ingin menikmati udara dingin setelah hujan.” kilah Dayana, menutupi kebohongan yang sengaja ingin ia simpan sendiri tanpa membaginya kepada siapapun. “Sedang patroli?” tanya Dayana balik, berharap topik mereka akan menukik tajam kearah pembahasan lain.
“Tidak. Aku tidak sengaja melihat dari sana.” jawab Junot sambil menunjuk satu bangunan tinggi mercusuar yang tidak jauh dari taman bunga tempat mereka berada saat ini. “Lalu aku kesini. Apa anda keberatan saya berada disini?”
Dayana menyemburkan tawa. “Hei. Jangan bicara seformal itu denganku. Tidak ada siapapun disini. Cukup panggil namaku, dan berbicaralah seperti biasa.”
Junot tersenyum, menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sama sekali, kemudian berdehem sedikit keras membuat Dayana terkejut.
“Baiklah, Yana.”
Dayana suka sekali ketika Junot memanggil namanya seperti itu. Rasanya membuat debaran yang masih sama seperti dulu. Namun itu semua hanya dulu, tidak untuk hari ini atau besok, atau selamanya. Mungkin tidak akan, karena Dayana masih menyimpan rapat perasaannya tanpa diketahui oleh Junot.
“Orang tua putri Ivory, apa mereka sudah sampai?”
Junot mengangguk membenarkan. “Sebelum matahari tenggelam tadi. Lalu, mengapa anda disini sendirian?”
Dayana kembali menatap luasnya taman bunga yang berwarna-warni didepan mata. Warna yang sebentar lagi akan menghilang karena hari berubah gelap. “Bukankah tadi sudah aku katakan? Aku hanya ingin menikmati udara dingin, dan juga melihat bunga yang bermekaran.”
Junot tau Dayana sedang tidak mengatakan hal yang sesungguhnya.
Dibawah langit yang semakin menggelap, Junot masih bisa menangkap wajah sendu Dayana. Mungkin sesuatu sedang mengganggu pikiran gadis itu hingga harus membuat dirinya sendiri terkena siraman gerimis yang biasanya selalu ia hindari. Dayana tidak suka hujan dan sejenisnya, termasuk gerimis. Jadi mustahil jika dia tiba-tiba saja membiarkan dirinya seperti itu tanpa satu alasan.
“Apa ini tentang Grey?” tanya Junot, mencoba menerka isi kepala Dayana yang tidak bisa ia raba secara terang-terangan.
“Mudah sekali ditebak ya? Atau, di keningku terdapat tulisan kasat mata yang bisa kamu lihat, Jun?” kelakar Dayana sambil mengusap air matanya yang kembali jatuh. Mungkin, keberuntungan sedang tidak berpihak kepada dirinya.
Seolah ditampar kenyataan, Junot merasa bersalah sudah bertanya itu kepada Dayana, mengingat ia pun tau, seperti apa hubungan antara Grey dan Dayana yang bisa dikatakan rumit. Dan entah mengapa, lengan Junot terulur dibahu Dayana. Mengusapnya lembut penuh afeksi, mencoba menyalurkan ketenangan yang belum tentu bisa dirasakan gadis tersebut.
“Maaf. Seharusnya aku tidak bertanya demikian.”
...***...
“Apa maksud nyonya Rose meminta akses tanpa pemeriksaan?” gumam Grey sambil memutar alat tulis antara jari tengah, jari telunjuk dan ibu jari. Isi kepalanya sedang memutar arti ucapan ganjil yang sempat diucapkan Rose sebelum kemudian diralat. “Akses tanpa...”
Tiba-tiba seseorang mendorong pintu kamarnya, membuyarkan semua teka-teki yang sedari tadi sedang Grey coba untuk pecahkan. Ivory muncul, dengan wajah konyol yang membuat Grey gemas ingin meremas.
“Ada apa?” ketus Grey, tidak ingin beramah tamah. Ivory itu menyebalkan.
“Aku ingin bicara." jawab Ivory diikuti cengiran diwajah cantiknya.
“Cepat. Aku tidak punya banyak waktu.” sahut Grey sembari pura-pura menulis, namun pada kenyataannya, dia tidak sedang melakukan apapun. Hanya mengelabui.
Ivory berjalan mendekat ketempat Grey berada. Rasa khawatir membuat kesepuluh jari lentiknya saling meremat satu sama lain. Tatapan Grey sedikit menakuti Ivory, membuat gadis itu bungkam sesaat untuk menyusun ulang kalimat yang beberapa menit lalu ia susun.
“Terima kasih.”
Ucapan itu melesat begitu saja dari bibir Ivory. Padahal dia sudah menyusun kalimat yang lebih panjang dan berkesan untuk Grey yang mengabulkan keinginannya untuk bertemu sang ayah dan ibu. Tapi, apa? Hanya karena gugup, semua kalimat didalam kepalanya menghilang, menguar bersama udara.
“Untuk apa berterima kasih? Lagi pula aku melakukan itu karena terpaksa. Jika Fucia tidak memberitahu jika kamu menangis semalaman, aku tidak akan memanggil mereka.”
“Bagaimanapun, terima kasih. Terlepas dari terpaksa atau tidak, aku akan tetap berterima kasih.” tutur Ivory memaksa, yang pada akhirnya disanggupi Grey dengan sebuah anggukan.
“Baiklah jika kamu memaksa. Ya, terima kasihmu aku terima.”
Dengan degup jantung yang tidak keruan, juga langkah ragunya, Ivory berjalan lebih dekat ke sisi Grey yang kali ini harus mendongak guna menengok wajah Ivory yang posisinya lebih tinggi. Lantas, gadis itu membawa tubuhnya sedikit condong dan sebuah kecupan singkat mendarat di pipi kanan Grey. Singkat sekali, namun mampu mematik gairah yang menggelora dalam benak Grey. Wajah laki-laki itu memanas seketika, pipinya merona dan tubuhnya membeku ditempat.
“Sekali lagi, terima kasih.” lirih Ivory dengan nada canggung. Ia tidak bisa memberi sesuatu sebagai hadiah ucapan terima kasih, kemudian dia melanjutkan. “Sampai bertemu besok, di upacara pernikahan kita.” []
Bersambung.