IVORY

IVORY
Peperangan yang tidak terhindarkan.



...TRIGERRED WARNING....


...20+...


...Bab ini mengandung unsur kekerasan, penggunaan senjata tajam, dan beberapa unsur yang berhubungan dengan darah, yang perlu disikapi secara dewasa....


...Bagi yang tidak nyaman dengan semua hal yang disebut diatas, harap bersikap bijak. Atau Skip....


...Terima kasih....


...Sudah siap?...


...Duh, gimana dong? Yang nulis ikut deg-degan sama bab ini....


...But,...


...Happy Reading......


...•...


“Aku akan tetap ikut.”


Grey menghela nafas. Dia juga tidak menyangka jika Ivory akan datang menemui dirinya yang sedang berbicara dengan raja Harllotte.


“Ini hanya sebuah perundingan, putri. Namun akan sangat berbahaya jika sampai perundingan itu tidak mencapai kata sepakat dan malah berakhir dengan—”


“Aku tetap pada keinginanku.”


Sepertinya Grey lupa jika Ivory itu seorang gadis yang keras kepala. Lagi-lagi dia menghela nafas, lalu berjalan semakin dekat ke tempat Ivory berada.


“Jika perlu, aku sendiri yang akan mencabik dan mematahkan tangan orang-orang yang sudah berani menyakiti ayah dan ibuku.” serunya penuh tekanan. Dadanya naik turun, dan wajahnya pias karena emosi yang meluap.


Grey membawa Ivory kedalam pelukan, lalu mencium puncak kepalanya penuh cinta, sangat lembut. “Aku yang akan melakukannya didepan matamu. Jangan pernah mengotori tangan indahmu dengan darah mereka.”


Ucapan tersebut membuat Ivory mengeratkan pelukan, lantas membenamkan wajah didada bidang sang suami. Air mata kembali jatuh. Ivory takut kehilangan semuanya. Terutama Grey dan kedua orang tuanya. “Aku akan berada disana, memastikan dirimu selamat.”


Grey membuka matanya. Ia semakin tersadar jika wanita dalam pelukannya adalah wanita terbaik yang pernah ia kenal. Selama ini, tidak ada yang mengatakan hal itu secara langsung didepannya. Dan sekarang, mendengar Ivory mengatakan hal itu, ia merasa benar-benar dicintai.


Grey menjauhkan tubuh Ivory. Menatap lekat kedua manik wanita itu yang sudah basah oleh air mata, lalu berbicara dengan nada rendah. “Baiklah. Tapi, jika terjadi sesuatu disana, cepat tinggalkan tempat itu. Mengerti.”


Ivory mengangguk. Ya, setidaknya jika perang terjadi, dia bisa mengambil keputusan kepada perasaannya sendiri untuk Grey. Jika Grey harus kalah, dia juga akan melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri. Pergi dari dunia menyusul Grey.


Keesokan harinya, Ivory datang bersama Green ke tempat Grey yang sedang sibuk mempersiapkan diri dan juga strateginya untuk bicara dengan raja Aruchi nanti.


Manik Grey terbelalak. “Mengapa dia juga ikut?”


“Dia ingin tau kehidupan istana jika sedang merundingkan sesuatu.”


Grey memijat pelipisnya. Kehabisan kata-kata menghadapi dua spesies langkah didepan matanya.


...***...


“Nyawa, harus dibayar dengan nyawa.”


Setelah itu, pangeran Grey dan juga raja Harllotte berjalan meninggalkan raja Aruchi yang masih berdiri di tempatnya. Bahkan Grey yang terlihat marah akan hilangnya satu nyawa pasukannya, kini sudah duduk diatas punggung kuda perangnya yang besar dan gagah. Ia menoleh kepada raja Harllotte, meminta persetujuan untuknya memberi aba-aba pada pasukan untuk bersiap menyerang. Sebuah anggukan sebagai jawaban. Kemudian Grey menoleh kearah Ivory dan Green berada. Ia memberi isyarat agar mereka berdua bergerak cepat meninggalkan lokasi mereka, sebab peperangan akan segera terjadi.


Grey sempat mengurungkan niat ketika Ivory menggelengkan kepala. Namun kehilangan satu nyawa prajuritnya tanpa sebuah pembalasan, seperti merelakan harga diri kerajaan diinjak oleh musuh. Dan ya, Grey tidak akan pernah merelakan hal itu.


Dengan bibir bergerak tanpa suara, Grey berkata 'Aku mencintaimu' kepada Ivory, lantas Green menarik paksa Ivory sesuai permintaan dan kesepakatan yang ia buat bersama Grey tadi pagi, setelah Grey memberinya izin untuk ikut bersama Ivory.


Dan setelah melihat Green dan Ivory bergerak samar tanpa dicurigai oleh musuh mereka—yang mana musuh berat yang dihadapi mereka kali ini adalah Amber. Grey mengangkat kepalan tangannya keudara dengan sorot lurus kearah barisan pasukan Amber yang terlihat masih riuh karena kesalahan yang mereka buat. Lalu, dia menatap Aruchi dan Murdock yang tengah berlari untuk memberi peringatan. Tapi Grey sudah membuka kepalan tangannya. Panah melesat bersama angin dan menghancurkan barisan pertahanan depan dari Amber.


Beberapa prajurit mereka terkapar dan meregang nyawa, dan Grey memberi aba-aba sekali lagi untuk menyerang, hingga ribuan anak panah kembali melesat dan tepat mengenai sasaran barikade depan pasukan Amber.


Melihat pertahanannya mulai runtuh saat belum sempat melakukan perlawanan apapun, Aruchi terlihat sedikit panik dan memberikan perintah untuk pasukan pedang berlari kedepan dan menyerang barikade pertahanan pasukan panah Geogini.


Peperangan besar pun terjadi.


Suara pedang beradu, suara anak panah melecut, suara tombak melesat mengenai tubuh satu sama lain, suara teriakan kesakitan, suara rintihan pilu, aroma anyir darah, dan air mata tidak bisa dihentikan dan dihindari. Grey, raja Harllotte dan Junot pun tak luput dari serangan. Sesekali Grey memastikan Green membawa Ivory sampai dibalik pintu gerbang kedua yang akan membawa mereka ke situasi aman. Pikirannya harus dibagi menjadi dua, antara berkonsentrasi terhadap keselamatannya dan raja Harllotte, Grey juga harus memperhatikan dan memastikan Ivory bersama Green tetap aman dan dalam perlindungan pasukan inti.


Grey mengayunkan pedangnya kepada seorang prajurit yang berusaha menyerang kuda yang ia naiki. Dan laki-laki penyerang itu harus kehilangan nyawanya dengan mudah.


“Pangeran,” panggil Junot yang tanpa menunggu barang sedetik langsung mendapat tanggapan dari Grey. “Pastikan putri dan Green sampai ditujuan. Saya akan menghalangi pergerakan mereka.”


Grey mengangguk. Ia akan memastikan itu tanpa berfikir panjang. Ivory adalah hal berharga melebihi nyawanya sendiri. Grey mencintainya begitu dalam, dan sama sekali tidak ingin kehilangan sumber kebahagiaan yang ia miliki itu.


Grey memutar langkah kaki kudanya, kemudian memacu ke arah belakang untuk menyusul Ivory dan Green yang masih terlihat berlari dengan gerakan sedikit meringkuk.


Perlawanan demi perlawanan ia lakukan ketika prajurit dari Amber mencoba meruntuhkan dan menghalangi dirinya. Grey akan tetap hidup sampai ia melihat Ivory dan Green selamat.


“Sial!!” umpatnya keras saat melihat keberadaan Ivory dan Green mulai terlihat salah satu prajurit Amber dan terlihat sedang berlari kearah mereka. Grey semakin memacu kudanya, namun nahas, langkah kaki kudanya harus terhenti saat sebuah anak panah mengenai kaki kuda itu dan membuat Grey tersungkur ditanah.


Aruchi muncul dengan tawa congkak dan tanpa perasaannya.


“Mau lari menyelamatkan diri, pangeran?” tanyanya dari atas punggung kuda.


Dari daratan, Grey harus menangkis serangan demi serangan yang datang kepadanya. Tentu saja masih dalam pengawasan raja Aruchi yang dengan mudah menebas nyawa prajurit Geogini yang hendak menyelamatkan Grey.


“Bagaimana bisa Geogini memiliki pangeran seperti ini. Lari seperti pecundang setelah mengibarkan bendera perang.” katanya, penuh profokasi.


Suara pedang beradu kembali terdengar, Grey menepis serangan musuhnya, dan bergerak memutar tubuh untuk menyusul Ivory tanpa mempedulikan olokan Aruchi.


Namun, tidak semudah yang ia bayangkan, lari dari hadapan Aruchi itu bagai menerjang ribuan duri serta ular berbisa yang terasa mustahil. Grey kembali tersungkur diatas tanah berdebu karena punggungnya didorong dengan sebuah tendangan kuat oleh kaki kuda yang dinaiki Aruchi. Tak kenal menyerah, Grey segera bangkit dan kembali berlari tanpa melakukan perlawanan yang pastinya akan sangat percuma.


Melihat sikap Grey, Aruchi menerka dan mengikuti arah gerak Grey.


Disana, tidak jauh dari pintu gerbang kedua, Aruchi melihat dua orang wanita sedang berlari. Ia berfikir sejenak tentang apa yang ia lihat, dan menggabungkannya dengan Grey. Hingga satu kesimpulan muncul didalam kepalanya.


Aruchi tertawa penuh kemenangan. Ia akan menemukan cara untuk mendapatkan keinginannya.


“Aku akan mendapatkan apa yang aku mau, karena aku adalah raja dari kerajaan Amber.” ucap Aruchi keras, yang terdengar sayup-sayup karena teredam suara perjuangan dua kubu yang saling bertahan. “Ivory!” teriaknya kencang, membuat langkah cepat Grey terhenti seketika. Ia kembali berputar dan melihat Aruchi sedang tersenyum meremehkannya disana. “Selamatkan dia, atau aku akan membawanya pergi dari Geogini!”[]


Bersambung.


...🤏🤏🤏...


...Nah,...


...Bagaimana?😁...


...Jangan lupa luangkan waktu untuk memberi like serta Vote untuk Grey dan Ivory ya......


...Serta tambahkan ke list favorit agar tidak ketinggalan update bab selanjutnya....


...See you.......