
...Hai, selamat pagi......
...Sebelum membaca, luangkan waktu untuk memberikan Grey dan Ivory like juga komentar, serta hadiah jika tidak keberatan ya...🤩...
...Terima kasih....
...Oh, hampir lupa....
...Bab ini agak 🌚, jadi aku saranin untuk yang sedang puasa, bacanya nanti malam saja....
...đź¤...
...Happy Reading......
...•...
Grey pernah berfikir, jika mencintai Dayana adalah hal mutlak yang akan menjadi kebahagiaan dalam kisah percintaan dalam hidupnya. Namun semua itu salah setelah Ivory hadir dalam hidupnya, menyerahkan diri dan juga satu hal paling berharga yang ia miliki untuk Grey. Saat itu Grey sadar jika Ivory adalah kebahagiaan sesungguhnya yang dikirim untuk menemani kesendirian yang sudah lama ia tapaki seorang diri.
Ivory selalu ada, memberikan senyuman hangat, menyalurkan energi kebahagiaan yang selalu ia harapkan, dan menjawab apa yang selama ini menjadi kebutuhan batin untuknya. Ivory adalah bagian terpenting dalam hidup Grey, dan ia bersumpah akan menjaga Ivory seumur hidup.
Dua minggu berlalu. Grey yang saat itu mendapat perawatan karena patah tulang rusuk, bergantung kepada gadis yang selama itu pula menemaninya berbaring tidak berdaya diatas tempat tidur. Hingga hari ini, ketika luka itu dinyatakan sembuh dan pulih, Ivory masih bersamanya, menemani dan memberikan segenap perhatian untuk dia.
Grey tersenyum manis kala membuka mata dan menemukan Ivory pulas disisi tempat tidur yang sama dengannya. Lengan kekar Grey terulur dan mengusap anakan rambut Ivory yang sedikit berantakan.
Dalam sunyi, benak Grey kembali terputar pada masa dimana takdir pertama kali mempertemukan mereka. Sayembara, pernikahan, dan sekarang, mereka bahkan menjadi sepasang suami istri yang mungkin paling berbahagia didunia karena perasaan mereka yang semakin hari semakin bersemi, terutama Grey. Rasa cintanya untuk Ivory seperti mawar yang mekar, harum dan indah.
“Aku beruntung bertemu dengan gadis seperti dirimu.” ucapnya, mengusap rambut dan tersenyum lembut kepada Ivory yang masih terlelap. Dan hal pertama yang ingin ia lihat ketika membuka mata, adalah Ivory. Dia ingin Ivory selalu berada dalam jangkauan penglihatannya.
Sesaat kemudian, Ivory yang merasa terusik akhirnya membuka mata. Ia tersenyum mendapati Grey mengusap kepalanya penuh perhatian. Ia menyukai kebersamaan dengan Grey seperti ini. “Selamat pagi. Bagaimana keadaanmu hari ini, pangeran?” sapa Ivory dengan suara khas bangun tidurnya.
Grey tersenyum dan bangkit untuk menyarangkan satu kecupan di kening Ivory. “Baik. Sangat baik.”
“Syukurlah kalau begitu.“ jawab Ivory sembari menyamankan diri dalam dekapan Grey yang sangat ia rindukan. Sejak menikah, pergi meninggalkan istana untuk mengungsi, peperangan, dan berakhir Grey yang terluka, Ivory tidak pernah merasakan bagaimana Grey memperlakukannya seperti ini. Dan pagi ini, mendengar Grey berkata jika dia baik-baik saja, Green merasa lega. “Ah, aku harus segera bangun.” lanjutnya, kemudian meronta melepaskan diri dan bangkit.
Jangan salahkan Grey, salahkan hormon laki-laki dipagi hari yang sedikit...menyusahkan.
“Kemana?” tutur Grey sembari menahan tubuh Ivory agar tidak meninggalkannya.
“Aku harus segera mandi dan menemui Green. Oh, apa kamu lupa? Hari ini kita harus bertemu dengan raja Aruchi untuk membicarakan Green.”
Benar, dan itu membuat Grey menghela nafas frustrasi. Baru saja ingin menghabiskan waktu berdua bersama wanitanya, Grey harus kembali dihadapkan dengan tugas yang tiada habis-habisnya. Seolah semua sudah bersekongkol untuk menjauhkannya dengan wanita yang sangat ia cintai itu.
“Aku tidak lupa. Tapi, bisakah kamu memberiku satu kali permainan ranjang?”
Ivory sampai mengerjap tidak percaya. Bibir sewarna Cherry itu ternganga mendengar keinginan Grey yang diminta laki-laki itu secara gamblang. Dan Grey, sama sekali tidak bisa menahan hasr*at nya lebih lama karena melihat lekuk tubuh dan kulit putih Ivory yang terbalut gaun tidur transparan yang membangkitkan gair*ah.
“Pangeran. Matahari sudah terbit. Kita bisa terlambat jika melakukannya sekarang.” protes Ivory, tak mau menanggung malu jika sampai nanti ia terlambat dengan banyak sekali jejak kemerahan yang ditinggalkan Grey di sekujur tubuhnya.
“Aku akan melakukannya dengan cepat.”
Bagaimana pun cara Ivory mengelak dan menghindar, Grey tetap menjadi pemenang. Ia menarik tubuh Ivory dalam sekali sentak dan langsung jatuh kedalam pelukan, kemudian mencumb*unya penuh kasih. Sudah sekian lama Grey menanti momen ini, mengesampingkan gejolak yang ia tahan mati-matian karena harus menyelesaikan kewajibannya sebagai calon raja Geogini.
Keduanya larut dalam ritme permainan, dan begitulah. Grey dan Ivory pun melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, membayar lunas hasr*at yang mungkin begitu membelenggu mereka berdua dalam bentuk rindu.
“Sudah, bukan?” gumam Ivory, masih dengan rasa letih yang begitu terasa disetiap engsel tubuh yang beberapa menit lalu digempur habis oleh Grey. “Kita harus segera bangun dan berkumpul diruang pertemuan untuk membicarakan tentang Green, bersama raja Aruchi.”
Grey menggeliat, ia menarik Ivory semakin rapat hingga permukaan kulit mereka kembali bertemu. “Iya, iya. Aku tidak lupa. Sebentar lagi.”
Sebentar lagi,
dan Ivory harus menanggung akibatnya, sebab Grey tidak melepas dan membiarkan dia pergi begitu saja. Grey kembali menggempurnya dengan beberapa gaya berbeda dari sebelumnya. Grey berubah lebih aktif dan lebih agresif karena beberapa hari tidak bisa menyentuh Ivory.
“Dasar pangeran mesum.” kesal Ivory, berjalan cepat terburu-buru sambil mengangkat gaun berwarna putih tulang yang ia kenakan menuju ruang pertemuan untuk melihat Green sebelum temannya itu meninggalkan Geogini. Dan ternyata, disana sudah ada raja Aruchi dan beberapa pasukan yang menemani raja arogan itu membicarakan kesepakatan untuk menjemput Green dari Geogini.
Green memutuskan untuk memberi kesempatan kepada Aruchi setelah mendengar beberapa kalimat Junot yang memberinya pengertian tentang makna sebuah keluarga. Tatapannya bertemu dengan manik milik Green, lantas mereka saling melempar senyuman.
Beberapa hari lalu, Ivory sempat mendengar Green yang menolak lantang untuk ikut ke istana Amber dan bersikeras ingin kembali ke hutan. Tapi hari ini, Ivory melihat temannya itu terlihat lebih bisa menerima, dan penampilannya begitu cantik dalam balutan gaun selutut berwarna hijau pastel dan anggun, yang ia berikan beberapa hari lalu sebagai hadiah.
“Hai,” sapa Green ketika telapak mereka bertemu dan saling bertaut. Bagi Ivory, Green adalah teman terbaik yang pernah ia miliki selain Monic, Retrina, dan juga Fucia. Green adalah gadis mandiri yang baik hati, dan berwajah cantik dengan raut dingin yang selalu menjadi cirinya. “Jangan lupakan aku. Sering-seringlah mengirim kabar ke Geogini, dan juga, berkunjunglah kesini jika ada waktu senggang.” lanjut Ivory, membawa bantalan duduknya untuk mendarat disamping temannya itu.
Green mengangguk. Dalam lubuk hatinya, dia tidak ingin melakukan ini. Dia ingin tetap hidup bebas, namun kalimat Junot kembali berkelebat dalam ingatannya.
Keluarga adalah segalanya. Kamu lebih beruntung dariku.
Green merotasikan bola matanya, mencari keberadaan Junot di setiap sudut dan penjuru ruangan. Dan pada akhirnya dia menemukannya. Pria yang sudah berani menghancurkan pertahanan dan hatinya yang keras. Green menatap tajam seolah ingin mengajaknya berperang, membuat Junot seketika menurunkan pandangan kikuk dan berdehem keras beberapa kali.
Apa itu? Apa dia sedang gugup?
Wow. Luar biasa.
Hingga suara langkah mengetuk lantai kembali menyita perhatian seluruh presensi didalam ruangan itu. Grey dengan wibawanya memasuki ruangan, dan duduk di kursi puncak menggantikan raja Harllotte yang tidak bisa menghadiri pertemuan ini karena sedang kurang sehat.
“Selamat pagi, raja Aruchi.”
Aruchi berdiri. Memberi hormat untuk Grey dan menjawab sapaan itu dengan ramah. “Selamat pagi, pangeran. Senang melihat anda sudah kembali sehat.”
Kurang ajar. Siapa juga yang membuat Grey harus menderita patah tulang rusuk dan tidak bisa menyentuh Ivory? Ah, Grey berjanji tidak akan melepas Green dengan mudah, agar rasa sakit hatinya terbalas. Haha, lucu bukan?
“Ya. Terima kasih. Bisa kita mulai? Membicarakan inti dari pertemuan ini?”
Aruchi mengangguk dengan senyuman lebar. Karena ia sudah tidak sabar membawa Green pulang ke istana dan melepaskan rindu kepada putrinya itu setelah dua puluh tahun berpisah.
“Nona Green—” Grey sengaja menjeda, memberi kesempatan kepada Green untuk berdiri dari tempat duduknya. “Apa keputusan yang akan kamu ambil?”
Green melihat ke arah Ivory yang mengangguk memberinya kekuatan, keadaan pangeran Grey, kearah Junot, dan berlabuh pada raja Aruchi yang sedang memperhatikannya dengan manik lembut dari seorang ayah kepada putrinya.
“Saya akan ikut bersama raja Aruchi ke istana Amber.”
Mendengar kalimat itu keluar dari bibir Green— putrinya, Aruchi merasa lega dan juga bahagia.
“Tapi dengan beberapa syarat yang harus raja Aruchi penuhi.”[]
Bersambung.