IVORY

IVORY
Setangkai mawar.



...Jangan lupa like, favorit dan Komentarnya ya, readers yang baik hati....


...Happy Reading....


...•...


Katanya, bunga merupakan salah satu media atau simbol yang dipercaya bisa menyampaikan suatu perasaan seseorang terhadap orang lain. Entah itu cinta, perasaan marah, atau juga sebuah permintaan maaf.


Grey memicing menahan sakit ketika hendak membawa dirinya merebah untuk beristirahat. Akan tetapi, semuanya urung lantaran bunga mawar putih yang diletakkan Ivory di atas meja tadi belum sempat ia buang. Ya, dia tadi sempat berfikir untuk membuang setangkai bunga mawar putih yang sudah sering ia jumpai di halaman belakang istana. Grey yakin, Ivory pasti memetiknya dari sana.


Dari pada itu, Grey lebih fokus pada maksud gadis itu memberinya bunga mawar putih. Sebuah permintaan maaf yang tulus. Kira-kira begitulah arti mawar putih tersebut.


Mendadak, dua sudut bibir Grey ditarik membentuk sebuah senyum. Dibalik sikap aneh dan konyolnya, gadis yang mendapat julukan tarzan imigran itu ternyata lebih baik dari pada dirinya, dari pada orang lain. Setidaknya, Ivory mau mengakui kesalahan dan meminta maaf. Sikap rendah hati yang tidak ia jumpai dalam diri Dayana.


...***...


Tiga hari sudah berlalu, Grey berniat melatih tubuhnya yang terasa sudah agak membaik, walaupun rasa nyeri di perut masih terasa ketika di pergunakan untuk membuat gerakan tertentu.


Ia berniat melihat-lihat pemandangan dari bingkai jendela dulu, hal yang ia rasa paling mudah.


Sebuah pemandangan mengejutkan tertangkap pupil matanya. Disana, Ivory terlihat sedang membantu para pekerja yang bertugas memerah susu sapi. Dengan wajah bahagia yang tulus, yang bahkan dapat Grey lihat dari kejauhan. Seulas senyum kembali terbit membingkai wajah tampannya.


“Benar kata kakek. Dia gadis yang baik. Hanya tingkah lakunya saja yang tidak bisa ditolerir.”


Grey terus menyorot setiap gerak-gerik Ivory yang terlihat natural. Gadis itu diam-diam bisa melakukan banyak hal. Seperti memanjat, memetik teh, menanam sayuran, memanen buah, cepat membaur, berlari kencang seperti angin, duduk dalam waktu lama, membuat orang lain naik pitam, dan sekarang, memerah susu sapi.


Luar biasa. Ajaib.


Grey mengusap tengkuk lehernya, kemudian menoleh ketika mendengar daun pintu kamar dibuka oleh seseorang. Junot berjalan mendekat setelah kembali mengatupkan daun pintu, di iringi sebuah senyuman lebar dibibirnya.


“Sudah membaik, pangeran?”


“Seperti yang kamu lihat.” sarkasnya, tidak mau beramah tamah dengan Junot.


Katakan saja semua masalah yang pernah melibatkan mereka sudah berlalu. Junot yang memang tidak bersalah saat itu, sampai harus dipindah tugaskan karena keinginan Grey. Alasannya tidak masuk akal. Grey mengetahui Dayana menaruh hati kepada Junot, sedangkan dirinya, juga mempunyai perasaan kepada Dayana. Semacam cinta bertepuk sebelah tangan. Atau, cinta segi tiga?! entahlah. Tapi, pada akhirnya, Dayana takhluk dan berubah haluan untuk menerima pernyataan cinta dari Grey.


“Ternyata, banyak sekali hal yang aku lewatkan selama pergi bertugas.” celetuk Junot, memulai pembicaraan.


Grey sendiri tidak begitu menggubris. Menurutnya, Junot itu manusia paling menyebalkan dan terlalu banyak bicara.


“Lalu, gadis bernama Ivory itu, dia unik.”


Tiba-tiba wajah Grey berubah dingin ketika Junot menyebut nama Ivory.


“Aku bertemu dengan dia sekali, dan akhir-akhir ini memperhatikan tingkah lakunya. Dia benar-benar gadis apa adanya.”


Grey membenarkan pendapat Junot. Tentu saja hanya ia suarakan dalam hati. ia tidak mau kalau sampai Junot merasa mereka sudah bisa kembali seperti semula. Apalagi, kini Junot mengatakan secara gamblang jika sedang memperhatikan Ivory. Grey rasa dia tidak lagi bisa tinggal diam.


“Dia calon istriku, asal kamu tau. Dan jangan pernah mendekati dia.”


Junot terkekeh geli hingga bahunya bergerak naik-turun. Junot bahkan tidak pernah melihat Grey seperti ini. Kecuali untuk Dayana.


Jika perhatian dan kasih sayang selalu ditunjukkan Grey untuk Dayana sebagai ungkapan sayang, untuk Ivory caranya sedikit berbeda. Lebih aneh dan tidak masuk akal, menurut penilaian Junot pribadi.


“Iya aku tau. Tapi, aku sempat menaruh rasa penasaran pada gadis itu lho, pangeran.”


Tatapan Grey berubah dingin. Ia sama sekali tidak ingin Junot kembali merusak suasana.


“Jika tidak ada hal penting yang harus dibicarakan, silahkan keluar dari kamarku.” ketus Grey, penuh dengan aura mendominasi.


“Serius kamu mengusirku? Padahal aku membawa kabar baik untuk kerajaan kita.”


“Aku sedang tidak berminat. Katakan saja kepada raja.”


Grey ini lucu sekali. Dia seperti anak remaja yang baru saja jatuh cinta. Junot sadar perubahan sikap Grey setelah mereka membicarakan Ivory. Kemungkinan besar, Grey sedang jatuh cinta pada gadis itu.


Mengalihkan topik, Junot berkata. “Raja sudah melakukan tes wawasan untuk putri Ivory.”


“Tapi,”


Oh tapi?


Grey terus memperhatikan, dan menjawab beberapa kali didalam hati. Memang, selama beberapa hari ini, Grey tidak bisa pergi kemanapun. Tapi setidaknya, raja akan memberitahu dia dengan cara mengirim seseorang.


“Sepertinya, calon tuan putri kita itu masih mempertimbangkan pernikahan kalian, ya?”


Mendengar hal itu, membuat sebagian ego Grey seolah sedang di bangunkan. Gelegak emosinya seperti perlahan naik ke ubun-ubun. Junot masih pandai membuat dirinya terbakar emosi.


“Jangan pernah ikut campur dalam hal ini.” tegas Grey memperingati.


Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada satu tangkai bunga yang masih tergeletak layu diatas meja. Semua tentang Ivory kembali berputar dalam ingatan yang sedari tadi ingin ia tepis.


“Tapi aku tertarik pada gadis itu.”


***


Ivory masih tidak menyangka, jika dirinya bisa mengikuti ujian khusus dengan lancar tanpa hambatan. Ia pikir, dia akan gagal dan harus mengulang, karena ia tidak pernah bersungguh-sungguh untuk mempelajari buku-buku kitab yang diberikan kepadanya.


Pandangannya mengedar ke arah pegunungan yang menjadi sebuah pemandangan yang selalu ia sukai. Semua yang terjadi dalam hidupnya terlalu mengejutkan. Datang ke sayembara lalu dikejutkan oleh pemberitahuan jika ia terpilih. Kemudian dilamar oleh pihak kerajaan, berpisah dari kedua orang tuanya yang begitu ia sayangi dan hidup seorang diri, beradaptasi pada semua kegiatan yang ada di istana dan menjadi gadis mandiri. Dan tentang pangeran Grey yang menyebalkan sampai dia kehilangan kata-kata.


Satu helaan nafas kelewat besar dari paru-paru ia hembuskan melewati hidung. Ia berperang dengan dirinya sendiri, dengan dua sisi berbeda yang saling berebut untuk menjadi pemenang. Hingga akhirnya, dia bertekad bulat mengambil keputusan untuk menjalani apa yang sudah ditulis dalam garis takdir hidupnya.


“Fu, menurutmu, apa aku bisa menjadi seorang putri yang baik kepada rakyatku nanti?”


Ivory tidak tau mengapa Fucia mendadak irit bicara. Tapi dia yakin, gadis itu sedang mendengarkannya, lalu Ivory melanjutkan. “Aku kadang berfikir, jika orang lain lebih pantas berada diposisi ku saat ini. Orang yang sudah mengerti tentang seluk beluk kerajaan, orang yang sudah mengerti dan mengenal pangeran luar dalam, dan orang yang sempurna seperti putri Dayana.”


Mendadak nama itu disebut begitu saja oleh Ivory. Ingatan tentang seorang putri Dayana yang pernah digambarkan oleh nyonya Mar berhasil menyita seluruh pikiran Ivory dan membandingkan strata antara dia dan gadis cantik yang sudah menjadi teman bagi pangeran sejak kecil.


“Aku tidak tau, mengapa istana melarang orang yang terikat hubungan kekerabatan dilarang menikah. Padahal, apa salahnya jika mereka berdua saling mencintai.”


Ya, nyonya Mar menceritakan sebagian hal yang perlu diketahui Ivory sebelum akhirnya dia akan terjerembab pada sebuah penyesalan. Nyonya Mar melakukan tugasnya dengan baik, pikir Ivory.


“Aku pikir, aku tidak pantas berada disisi pangeran Grey, Fu.” sekali lagi Ivory menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Bukan karena cemburu atau apapun. Ivory hanya merasa tidak seharusnya dia menjadi orang jahat yang akan memisahkan dua orang yang saling mencintai. Itu bukan gayanya, sama sekali.


“Aku kesal sekali, Fu.” lanjutnya, memasang ekspresi cemberut dan kesal. “Kesal sekali mengapa kamu diam sa—”


Kalimat Ivory tertahan di kerongkongan ketika ia melihat orang yang berdiri di balik punggungnya bukan lagi Fucia. Orang yang pernah ia lihat beberapa hari yang lalu. Orang yang selalu dipuji orang lain karena kebaikannya, dan orang yang berhasil memiliki hati atau bahkan hidup pangeran Grey.


Dayana.


Gadis itu tersenyum manis alih-alih marah ketika Ivory menyebut-nyebut namanya. Seperti yang dikatakan nyonya Mar saat itu, putri Dayana memang terlihat anggun dan berwibawa. Berbeda dengan dirinya yang tentu saja tidak bisa disandingkan dan dibandingkan dengan sosok cantik itu. Bahkan, pangeran saja memanggil dirinya Tarzan imigran, sebuah julukan yang mungkin pantas disematkan kepadanya lantaran berasal dari luar kerajaan dan bertingkah seperti kebanyakan gadis liar yang hidup diluar istana.


“Pu-putri Dayana? Se-sejak kapan anda—” Ivory merutuki kebodohannya sendiri. Berbicara sembarangan tanpa melihat situasi dan kondisi terlebih dahulu.


Dan senyuman manis itu kembali di suguhkan oleh Dayana kepada Ivory. Kali ini terlihat berbeda, ada sebuah maksud yang tidak terbaca pada mimik wajah putri Dayana.


“Sejak beberapa menit yang lalu.”


Ivory semakin panik. Itu artinya, Dayana mungkin saja mendengar apa yang ia katakan tadi. Semuanya.


“Maaf tidak menyadari kehadiran anda, tuan putri Dayana. Dan maaf, sudah menyebut nama anda tanpa izin.” kata Ivory, mencari celah untuk dimaafkan.


“Tidak apa-apa. Tidak masalah. Aku datang untuk mengajakmu ke suatu tempat.” Jawab Dayana, sembari mengulurkan setangkai mawar kuning kepada Ivory.


Lantas, Ivory berdiri, mengibas daun-daun kering yang menempel pada gaunnya dan menerima pemberian Dayana. Kemudian, dengan wajah berbinar penuh tanya, ia berkata. “Kemana?”


Dayana memang cantik ketika tersenyum. Mungkin itu sebabnya pangeran jatuh cinta, serta sikapnya yang lembut dan bisa menenangkan, Ivory saja merasa dihargai.


“Kami akan tau. Ikut saja denganku.” []


Bersambung.