
...WARNING 21+...
...•...
...•...
...•...
Dalam perjalanan menuju rumah pengasingan, Ivory dan Grey yang diikuti beberapa dayang dan pengawal merasa canggung setengah mati. Mereka bahkan hanya saling diam tanpa membicarakan apapun, hingga kini mereka sudah sampai di teras rumah pengasingan.
Bangunan kali ini tidak lebih besar dari tempat tinggal sementara Ivory ketika masih belajar beberapa waktu lalu. Bangunan berpilar besar dan berpintu kupu-kupu itu terlihat lebih aesthetic, dan Ivory sangat menyukainya.
Begitu daun pintu kupu-kupu itu terbuka, ruangan kosong bebas benda menyambut. Hanya ada satu meja ditengah karpet tebal berbulu.
Ada dua ruangan berpintu sama, yang Ivory yakini sebagai tempat melakukan tradisi 'Ngarumi', dan satu lagi adalah kamar yang akan menjadi saksi bisu penyatuan mereka nanti.
Seorang dayang mengajak Ivory masuk ke dalam salah satu ruangan terlebih dahulu. Aroma theraphy dari lilin yang menyala, sebuah bak besar yang terbuat dari kayu berplitur coklat tua berisi air hangat yang sedikit mengepulkan asap dan taburan kelopak bunga, serta sepasang handuk dan pakaian hangat tersedia disamping bak.
Ivory membiarkan dayang tersebut melepas gaun simple yang ia kenakan, kemudian melepas stagen yang membuat sesak, dan menggantinya dengan selembar kain tipis berwarna putih tulang, membiarkan sekali lagi dayang tersebut melilitkan kain pada tubuh polosnya.
“Tunggu sampai pangeran masuk, tuan putri. Baru setelah itu, kalian bisa masuk kedalam bak berisi air hangat itu bersama-sama.”
Ivory mengangguk paham. Dia memilih duduk ditepian bak ketika dayang tersebut pergi meninggalkan dirinya, lantas berganti dengan Grey yang masuk dengan bertelanjang dada dan lilitan kain sama tipis di pinggang dan berjalan menuju bak mandi. Ivory membelalak sebelum menutup mata. Ia begitu terkejut ketika melihat bagian atas tubuh Grey tanpa busana. Terlihat padat, dan kokoh.
“Kenapa? Kamu belum pernah melihat laki-laki tanpa pakaian?” kelakar Grey dengan senyuman sinis diujung bibir.
“Te-tentu saja tidak pernah. A-aku gadis baik-baik.”
Grey menaiki anakan tangga dan bersiap masuk kedalam bak kayu berisi air hangat.
“Tunggu.” titah Ivory. Dia ingat betul jika dayang tadi mengatakan jika mereka harus masuk kedalam bak bersama.
Tidak membuang waktu, keduanya saling berhadapan. Sekilas Grey memeta bagian dada Ivory yang seketika membuat gadis itu menyilangkan kedua tangan.
“Apa yang kamu lihat. Dasar pangeran mesum.”
“Jangan bodoh. Sebentar lagi, kita berdua akan kehilangan diri kita masing-masing.”
Benar. Ivory sempat melupakan itu, dan pada akhirnya dia perlahan menurunkan tangan. Hingga tanpa sengaja, matanya turun kearah lilitan kain di pinggan Grey kemudian menelan ludah kasar, membayangkan...
Ah, tidak. Aku tidak boleh memikirkan hal-hal seperti itu dalam situasi seperti sekarang.
Kepala Ivory menggeleng samar, dan Grey yang melihat itu tersenyum sumbang. Kaki panjang Grey kembali mengambil langkah, lalu perlahan naik dan masuk kedalam bak air hangat yang beraroma harum. Bulu roman Grey tiba-tiba bergidik ketika permukaan kulitnya tersapu air. Satu sisi dalam dirinya sedang bekerja tidak sesuai dengan apa yang ia perintahkan melalui otak.
“Cepat masuk.” titah Grey sambil membawa bobot tubuhnya untuk duduk di satu sisi bak, kemudian mununjuk dengan dagu kepada satu sisi lain yang masih kosong dan bisa ditempati Ivory untuk segera membasuh diri dan segera menyelesaikan ritual 'ngarumi' ini.
Mendengar perintah Grey, Ivory berdecak kesal sambil menghentakkan kaki, lalu menyusul Grey yang sudah terendam air sebatas bahu.
Sama seperti Grey, Ivory juga mulai merasa aneh ketika tubuhnya menyentuh air. Ia merasa tidak nyaman pada dirinya sendiri.
Hingga beberapa menit setelah membenamkan diri didalam air dalam hening, Ivory merasakan dirinya semakin tidak terkendali. Otot-otot tubuhnya seperti menegang, kulitnya terasa ingin sekali selalu disentuh, dan yang paling mengerikan, pusat tubuhnya terasa begitu nyeri, sakit dan juga ngilu secara bersamaan.
Ivory muncul kembali ke permukaan karena stok oksigen di paru-parunya sudah habis. Dan ia tersentak ketika suara berat Grey tiba-tiba menyapa perungunya.
“Sudah terasa? Efek ramuan itu?”
Karena malu, Ivory memilih diam dan kembali menenggelamkan dirinya. Mengusap permukaan kulitnya sekali lagi, kemudian muncul kepermukaan lagi. Hal itu ia lakukan secara berulang-ulang, sampai Grey kembali membuka mulut dan berkata. “Mendekatlah kepadaku.”
Apa? Tidak.
Kepala yang sudah terasa sibuk mencari cara agar rasa tidak nyaman itu segera berakhir, kini semakin riuh akan ajakan Grey untuk menyatukan permukaan kulit mereka.
“Ti-tidak. Aku baik-baik saja.”
Tanpa banyak bicara, Grey meraih salah satu lengan kecil Ivory dan menariknya mendekat. Ada sengatan aneh yang seperti mampu membayar lunas ketika telapak besar Grey menyentuh pergelangan tangannya. Ivory mendekat karena tarikan kuat Grey, dan wajah mereka saling berhadapan.
Dari jarak sedekat itu, Grey maupun Ivory dapat merasakan hangat nafas mereka saling menyapa. Sama-sama memburu, dan terasa begitu menggoda.
Tatapan Grey berubah sayu ketika melihat bibir ranum Ivory yang sedikit menganga, wajah dan rambutnya yang basah, juga perpotongan leher berkulit putih bersih yang terlihat mengkilat karena basah pun turut membuat pusat tubuh Grey meronta.
“Berbalik.” titah Grey yang disanggupi Ivory tanpa banyak bicara. Dalam hitungan detik, tubuh kecil Ivory sudah berada dalam rengkuhan lengan kokoh Grey, dan semakin membuat tubuh Ivory ingin menggelinjang.
Aroma vanilla yang menguar dari rambut dan tubuh Ivory membuat Grey memejam. Kulitnya yang tersentuh punggung terbuka Ivory seperti tersengat gairah membuncah. Satu geraman berat lolos dari bibir Grey ketika lengan kokohnya melingkari pinggang kecil Ivory untuk memberikan pelukan. Kemudian, dia meletakkan fitur wajah disalah satu bahu Ivory dan membuat gadis itu terkejut.
“Apa kita sudahi saja berendamnya?”
Ivory diam memaku. Ia tidak tau hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Otaknya yang polos kini berubah liar ketika didalam sana, kaki Grey mengungkung kedua kakinya. Lalu, Grey dengan sengaja mengecup singkat bahu terbuka milik Ivory. Satu desisan melecut begitu saja ketika lagi-lagi satu sisi diri Ivory menginginkan lebih dari itu.
“Aku yakin kamu sedang tidak baik-baik saja, tuan putri.” bisik Grey seduktif, penuh godaan ditelinga Ivory.
“To-tolong lepaskan aku, pangeran.”
Tidak menggubris, Grey menambah intensitas pertemuan bibirnya dengan kulit pualam Ivory. Gadis itu menggeram dengan bibir sedikit terbuka dan kepala mendongak menatap langit-langit bangunan yang sialnya, begitu indah dimata Grey. Telapak tangannya tiba-tiba mengusap perut rata Ivory, menggerus seluruh kewarasan yang tersisa dalam diri Grey.
“Aku rasa cukup. Kita harus segera menyelesaikan ritual selanjutnya.” kata Grey yang buru-buru bangun, dan keluar dari bak mandi, meninggalkan Ivory sendirian yang membeku ditempat.
Punggung lebar dan kokoh, lengan kekar dan padat, juga kaki panjang dengan paha sekal, semua terlihat jelas oleh Ivory karena kain yang dikenakan oleh Grey kini menempel dan mencetak bentuk tubuh laki-laki itu dengan sempurna. Ivory meringis menahan desiran panas darahnya menuju ke pusat tubuh, kemudian menggigit bibir bawahnya sebagai pelampiasan. Ivory ingin sekali menyentuhnya, rasa penasaran akan tubuh pangeran Grey memuncak sampai di ubun-ubun. Efek ramuan itu bekerja tidak main-main, dan kini Ivory harus bergegas mengakhiri semuanya. Keinginan menyentuh dan menyatukan tubuh sangat kuat, seperti yang sudah ia dengar sebelumnya.
Lantas, kaki indah itu berdiri, keluar dari tempat bersuhu hangat, meraih baju ganti dan segera menyusul Grey yang sudah lebih dulu keluar. Rasanya sangat menyakitkan, Ia rasa, ia harus segera menyelesaikan semuanya sekarang. Tentu saja bersama pangeran Grey. []
Bersambung.
...🍃🍃🍃...
...Terima kasih sudah mampir dan membaca IVORY....
...Jangan lupa tinggalkan like, dan juga tambahkan cerita IVORY kedalam bacaan 💙 readers sekalian. Dan juga follow jika berkenan...
...Thanks....