
...Selamat hari Rabu......
...Ivory Update untuk menemani waktu senggang dan melepas penat....
...Happy reading......
...•...
“Aku akan pergi dari sini. Tapi izinkan Murdock tetap tinggal. Dia yang akan membantu kalian melacak keberadaan dua penyusup itu.”
Grey mempertimbangkan permintaan raja Aruchi, kemudian menyorot Murdock yang kini menatapnya tajam.
“Baiklah. Aku beri waktu satu Minggu. Jika dalam waktu itu kalian tidak bisa membawa penyusup itu keluar dari Geogini, maka pergi dan jangan pernah mengusik ketenangan kami.”
Sebuah kesepakatan yang dibuat hari itu seperti sebuah Boomerang. Grey tidak bisa tenang dengan keputusan yang ia ambil, sebab ia sendiri seperti berkhianat kepada kerajaan sekutunya.
Andaikata Grey tidak mengambil keputusan tersebut dan memilih mengusir paksa raja Aruchi dan para pasukannya, Grey juga merasa khawatir, sebab Murdock berada disana. Bukannya meragukan panglima Junot, tapi Murdock memang dikenal dengan julukan panglima sembilan nyawa. Dia tidak bisa dikalahkan dengan mudah.
“Sedang memikirkan apa, pangeran?” tanya Ivory khawatir. Sebab setelah kembali ke istana sore tadi, Grey terlihat gelisah.
Grey tersenyum, lantas memeluk Ivory yang mencari posisi nyaman di lengannya. “Tidak ada apa-apa.”
Ivory mengusap dada Grey. “Jangan menyimpan masalahmu sendirian. Siapa tau aku bisa membantu. Aku tidak sebodoh yang pangeran pikirkan.”
Ada kekehan kecil yang tergelak dibibir Grey. Ia mengecup puncak kepala Ivory dan memeluknya erat. Kali ini, dia takut kehilangan wanita dalam pelukannya saat ini.
Hari semakin larut, dan Grey masih belum bisa memejamkan matanya setelah berhasil mengantar Ivory menuju alam mimpi. Dipandanginya wajah cantik yang sedang memejam erat dengan dengkuran halus di bibirnya yang sedikit terbuka. Satu gelak tawa tanpa suara kembali muncul dibibir Grey. Rasanya seperti mimpi bisa bersama Ivory, gadis yang ia anggap seperti gadis liar dan banyak perilaku minus itu kini berada dalam rengkuhan penuhnya, terlihat nyaman dan tidak terusik sama sekali ketika jari telunjuknya menyelipkan anakan rambut dibelakang telinga.
“Jika suatu saat nanti aku harus pergi dari sisinya, aku harap dia selalu menerima banyak kasih sayang dari siapapun. Dia gadis baik, dan tentu saja sangat manis.” gumam Grey sembari mengusap lembut pipi Ivory dengan ibu jarinya. “Dan aku harap, dia juga bisa menerima apapun resiko dan konsekuensi dari kehidupan yang aku jalani.” Grey memejam sejenak, sekali lagi menyarangkan kecupan singkat pada kening Ivory lantas berusaha memejam untuk menyusul Ivory ke alam mimpi.
...***...
Debu beterbangan karena pacuan beberapa pasang kaki kuda yang menggesa jalanan sepi tersebut. Daerah ini termasuk pedesaan yang lumayan gersang, berpenghuni minim, dan juga sering mengalami kekeringan. Mereka tinggal tidak jauh dari laut—hanya beberapa kilo meter, tapi anehnya, desa ini benar-benar seperti desa kering yang sulit mendapatkan air. Dan juga, mereka tidak bisa mengkonsumsi air laut untuk kebutuhan hidup mereka. Desa Tawaruna. Desa dimana Ivory tinggal sejak kecil hingga melangkah kaki ke istana.
“Apa petunjuk yang kamu dapatkan dari orangmu, panglima Murdock?” tanya Grey, mencoba meyakinkan jika mereka tidak gegabah dan salah dalam mengambil keputusan.
Ya. Murdock benar-benar tinggal di Geogini setelah kesepakatan itu terjalin, bersama satu orang kepercayaan yang sedang membantu raja menyelidiki keberadaan dua orang penyusup yang kemungkinan besar sekarang sedang menyusun rencana untuk meninggalkan Geogini.
Keberadaan Murdock dan satu orang pengawalnya itu dirahasiakan oleh Grey dari kerajaan sekutu Geogini. Untuk saat ini, ia masih bernafas lega karena tidak ada satupun yang mengendus, curiga atau memergoki Murdock berada di dalam istana Geogini, dan berharap tidak akan ada yang tau hingga misi raja Aruchi berakhir. Karena jika sampai itu terjadi, akan ada hal fatal yang lebih mengerikan dari pada pemutusan hubungan sekutu dan bilateral antar kerajaan. Kemungkinan terburuk, Geogini akan diserang tanpa boleh melakukan perlawanan, Itu yang tertulis dalam perjanjian sekutu. Aneh, tapi memang begitu adanya. Dan mereka semua menyetujui perjanjian yang terdengar sama sekali tidak menyentuh sisi kemanusiaan itu.
“Sebelumnya, aku mau bertanya kepada anda, pangeran.” suara Murdock memecah keheningan dan kemelut didalam kepala Grey.
Grey menarik tali kekang kudanya ketika mendengar suara Murdock menginterupsi, dan seketika itu juga tiga orang lainnya turut berhenti.
“Apa anda sudah menutup semua akses di wilayah Geogini? Apa anda bisa menjamin dua orang itu tidak akan lari keluar dari sini?” lanjut Murdock penuh penekanan. Ia mempunyai tugas besar dari rajanya, dan tentu saja tidak ingin mengecewakan raja Aruchi sebagai bentuk kesetiaan.
“Kamu meragukan aku? Hei, panglima Murdock, aku tidak bodoh, dan panglima serta para prajurit Geogini tidak sebodoh yang kamu pikirkan.”
Murdock mengedikkan bahu tak mau meminta maaf atas kalimat sarkasnya. Ia hanya memastikan jika tidak terjadi kesalahan atau kesalahan komunikasi antara dia dan sang pangeran.
“Lalu, apa kau pikir mereka tidak akan mencari sekutu? Membayar 'orang dalam' untuk membuka akses, misalnya?”
Itu sudah tergambar jelas dalam otak Grey. Semalam suntuk dia memikirkan strategi agar siapapun orang dari Geogini tidak sedang berkonspirasi dan membuat kesalahan dengan membantu penyusup itu melarikan diri.
“Aku yang akan bertanggung jawab jika itu terjadi.”
Kuda mereka kembali berpacu, mereka menuju salah satu tempat yang dianggap sebagai tempat bersembunyi oleh dua orang penyusup yang menculik putri raja Aruchi dua puluh tahun yang lalu.
Tadi, sebelum pergi bertemu pangeran Grey, Murdock sempat memahami dan menghafal peta serta tata letak desa Tawaruna. Ia adalah pengamat jeli. Dan disinilah mereka berada. Angin berembus panas, matahari terik seperti membakar kepala, dan tanah kering berdebu yang terhirup membuat sesak. Mereka sampai di Tawaruna.
Murdock memimpin di depan, mengedarkan pandangan ke arah rumah penduduk sekitar. Grey mengikuti langkah kuda yang dinaiki Murdock. Hingga satu hal yang membuat Grey terbelalak lebar dengan tatapan tidak percaya. Murdock berhenti didepan sebuah bangunan yang tidak asing baginya. Tempat yang tidak pernah ia duga akan menjadi tujuan Murdock, tempat yang sangat ia tau dan ia kenali. Grey kehabisan kata-kata. Dia membeku di atas tumpuan tubuhnya yang terasa seperti goyah. Rumah itu, rumah yang saat ini sedang tertutup rapat seperti tidak berpenghuni, adalah rumah orang tua Ivory. Bagaimana bisa mereka adalah penyusup?
Jika memang benar,
Jadi, Ivory...[]
Bersambung.
...🍃🍃🍃...
...Jadi Ivory......
...Silahkan tulis kelanjutannya di kolom komentar menurut pendapat readers sekalian....
...Jangan lupa luangkan waktu untuk sekedar menekan tombol like, karena like itu gratis-tis. Gak bayar....
...Terima kasih....