IVORY

IVORY
Amber kingdom's side.



Amber. Satu dari empat kerajaan besar yang memiliki kekuatan perang tidak kalah kuat dari kerajaan Geogini, yang tidak lain adalah musuh bebuyutan mereka.


Akan tetapi, dibalik megah dan kuatnya kerajaan Amber, mereka pernah mengalami sebuah kejadian tidak terduga sekitar dua puluh tahun silam. Seorang penyusup berhasil mengadu domba kerajaan Amber dengan kerajaan Hungo, hingga peperangan besar tidak terhindarkan. Hungo adalah kerajaan sekutu Geogini, namun dua puluh tahun lalu sudah rata dengan tanah karena kurangnya pasukan ketika berperang dengan kerajaan Amber yang memiliki pasukan berkali-kali lipat. Sedangkan pasukan perbantuan yang dikirim Geogini juga tidak tersisa karena jumlah pasukan dari Amber yang dikirim untuk berperang saat itu, jumlahnya diluar dugaan. Semuanya gugur dimedan perang, dan itulah sebabnya Geogini tidak pernah mau menerima Amber menjadi sekutu.


Yang lebih memilukan dari pada itu, raja Aruchi White Amber, harus kehilangan putri kecil mereka yang baru berusia dua Minggu. Bayi perempuan itu diculik ketika kerajaan sedang riuh mempersiapkan segala perlengkapan dan strategi perang. Istri dan putra pertamanya dibunuh, sedangkan putra kedua mereka yang saat itu berusia lima belas tahun, melarikan diri untuk bersembunyi karena ketakutan.


“Sudah mendapatkan kabar tentang putriku?” tanya raja Aru kepada salah satu detektif yang ia bayar mahal untuk mencari sang putri.


Selama dua puluh tahun ini, tidak ada satu orangpun yang bisa menemukan dimana putrinya berada. Padahal, mereka sudah berhasil menemukan putra kedua raja Aru dengan mudah.


“Kami masih memastikan jika orang yang menculik tuan putri benar berada disana, jika memang itu mereka, kami akan memaksa mereka untuk memberitahu keberadaan putri Honey.”


Raja Aru mengepalkan tangan, rahangnya menegas, dan giginya bergemelutuk. Sudah selama ini, dan dua penyusup itu masih belum juga bisa ditangkap. Mereka begitu pandai dalam menyembunyikan diri mereka.


“Baiklah. Lanjutkan pekerjaan kalian, dan jangan membuatku kecewa.”


Laki-laki yang bergelar detektif itu membungkuk lima belas derajat dan undur diri dari hadapan raja Aru yang kini semakin gelisah.


Sudah tidak ada harapan kah untuk bertemu putri kecilnya? Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya sama sekali selama dua puluh tahun yang tentu saja mungkin dilalui putrinya itu dengan tidak mudah diluar sana.


Raja Aru tertunduk lesu. Aura tegas yang biasanya ia pertontonkan kepada semua orang, kini berubah sendu dalam kesendirian. Ia merutuki takdir yang menimpa putri malangnya itu. Ia bahkan bersumpah tidak akan membiarkan orang yang sudah membuat hidup putrinya terlunta itu, tenang. Ia akan memberikan hukuman terberat dari yang paling berat kepada mereka. Ia bersumpah atas nama tetuanya untuk itu.


Tiba-tiba pintu ruangan kembali diketuk. Muncul seorang pria tegap berpakaian prajurit lengkap. Ia adalah Murdock, ajudan sekaligus panglima perang yang sudah dipercaya oleh raja Aru selama bertahun-tahun.


Laki-laki itu menyentuh dada dan membungkuk lima belas derajat guna memberi salam hormat. Kemudian kembali berjalan mendekat kearah raja, menyerahkan sebuah gulungan ke tangan orang nomor satu di Amber.


“Orang saya menemukan sesuatu.” tukasnya dengan nada berat. Lantas membuat tangan berkerut raja Aru bergegas membuka gulungan itu dan membacanya. Maniknya membola ketika tau isi dari surat tersebut.


“Orang itu berada di dalam kawasan Geogini.”


Raja Aru mengepal kuat telapak tangannya. Wajahnya mengeras dan sorot matanya menajam bak sebilah pedang yang siap menghunus siapapun yang sudah berani mengusik ketenangannya.


“Panggil perdana Mentri Kerry untuk menghadap kepadaku. Dan untukmu, siapkan beberapa pasukan terbaikmu untuk menemaniku menuju Geogini.” titahnya tak terbantahkan yang tanpa menunggu barang sedetik langsung di laksanakan oleh Murdock.


“Baik, yang mulia.”


...***...


PM Kerry sudah berada diruangan tempat raja Aru berada. Dia sedang bersiap untuk menggores tintanya diatas kulit domba sebagai surat untuk raja Geogini.


“Katakan kepada raja Harllotte jika aku akan berkunjung kesana untuk satu kepentingan.”


“Baik, yang mulia.”


Laki-laki itu mulai menyusun kalimat demi kalimat sesuai keinginan raja. Tulisan tegak bersambung itu begitu memukau, bahasa dan huruf mereka lebih lugas dari kerajaan manapun. Ditulis dengan tinta hitam sedikit kemerahan, yang menandakan sebuah keberanian dan keinginan kuat.


“Sampaikan juga kepada raja Harllotte, jika aku hanya ingin mencari dua penyusup yang sedang bersembunyi di kawasan mereka. Bukan untuk menyakiti warga, apalagi mengangkat bendera peperangan.”


Semua yang diinginkan raja Aru tercurah dalam surat yang ditulis oleh PM kepercayaannya untuk kemudian disampaikan oleh seorang pembawa pesan yang akan mengantar surat tersebut ke kerajaan Geogini, tentu saja dengan dampingan panglima perang tak terkalahkan dari kerajaan Amber.


Hingga...


Sesampainya Murdock dan pembawa pesan di perbatasan paling luar istana Geogini, Junot yang sedang memeriksa keadaan disana melihat kedatangan orang yang paling ia benci dalam hidupnya. Murdock, laki-laki pemilik sembilan nyawa yang tidak akan pernah bisa tumbang oleh tebasan pedang.


“Panglima Jun. Aku datang kesini membawa pesan untuk raja Harllotte.” katanya, dengan suara rendah dan dalam yang sudah sering Junot dengar.


Sang pembawa pesan turun dari kudanya, menyerahkan sebuah gulungan dalam tabung berwarna hitam bersimbol kerajaan Amber. Seekor singa dan ular phyton besar yang membelit.


Barisan prajurit dibalik punggung Junot bersiaga. Wajah Junot yang terlihat tidak bersahabat itu semakin menegas ketika membaca isi surat tersebut.


“Raja Aru ingin mencari mereka. Dua penyusup yang mencuri putri Honey sedang bersembunyi di Geogini. Dan raja Aru ingin meminta kebaikan hati raja Harllotte untuk menemukan dua penyusup itu dan mencari putri kecilnya yang di culik.”


Suara tongkat para prajurit terdengar bersiaga. Namun Junot memberi perintah agar mereka tidak perlu melakukan itu.


“Ikut aku.”


Junot menaiki kuda yang diikuti dua orang dari Amber. Sesampainya, Junot meminta Murdock dan pembawa pesan itu menunggu disebuah ruangan yang ketat penjagaan ketika ia memanggil raja Harllotte.


Beberapa menit berlalu, dan raja Harllotte muncul. Murdock dan si pembawa pesan memberi salam hormat dan kembali duduk sesuai titah raja.


“Ada pesan penting apa yang ingin disampaikan Aru kepadaku?”


Murdock menoleh kepada si pembawa pesan, memberinya perintah untuk menyampaikan surat tersebut kepada raja Harllotte.


Raja membuka penutup tabung dan membacanya. Dia begitu terkejut ketika membaca isi surat itu. Dia bahkan tidak pernah mendapatkan laporan apapun dari perbatasan tentang dua orang yang memasuki wilayahnya tanpa izin.


“Mereka penyusup ulung. Mereka adalah si pengadu domba kerajaan Amber dan Hungo. Si penyusup pembuat onar itu kemudian memanfaatkan situasi lengah dan menculik putri satu-satunya kerajaan Amber. Putri Honey.” terang Murdock yang memperkuat isi pesan rajanya.


Harllotte tidak bisa percaya begitu saja dengan kabar yang mencengangkan itu. Lalu bagaimana jika kerajaan sekutu mendengar ia memberi akses bagi Amber untuk masuk kewilayahannya dengan mudah?


“Panggil Rwey kesini. Aku ingin membalas surat raja Aru.”


...***...


Raja Aru merasa kecewa dengan balasan raja Harllotte yang akan mencari penyusup itu dengan prajuritnya sendiri. Dia hanya ingin segera mencari putrinya, mencabik dua orang kejam itu tanpa ampun, kemudian membawa putri kesayangannya kembali ke istana.


“Mengapa dia menghalangi permintaan kecilku? Apa dia raja yang bodoh?” geram Aru, dia sudah berada dititik amarah. “Si tua Bangka itu masih saja keras kepala seperti dulu.”


Murdock hanya diam mendengarkan kemarahan rajanya.


“Aku tidak peduli. Siapkan perjalanan untukku. Bawa pasukan terbaik. Kita harus tetap datang kesana, meskipun tanpa izin darinya.”


Raja Aruchi tidak peduli. Dia hanya ingin segera mendapatkan putrinya kembali. []


Bersambung.


...🍃🍃🍃...


...Tolong, luangkan waktu kalian untuk meninggalkan Like. Karena dukungan dari readers sekalian adalah dukungan dan semangat untuk semua penulis, tidak terkecuali Vi's....


...Terima kasih....


...See you soon....