IVORY

IVORY
Menemukan gadis kecil yang telah lama hilang.



...Hai,...


...Ivory update nih. Berapa prosentase kebahagiaan kalian hari ini?...


...Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan....


...———...


...TRIGERRED WARNING....


...20+...


...Bab ini mengandung unsur kekerasan, penggunaan senjata tajam, dan beberapa unsur yang berhubungan dengan darah, yang perlu disikapi secara dewasa....


...Bagi yang tidak nyaman dengan semua hal yang disebut diatas, harap bersikap bijak. Atau Skip....


...untuk perhatiannya, Vi's ucapkan terima kasih....


...Happy Reading......


...•...


“Aku akan mendapatkan apa yang aku mau, karena aku adalah raja dari Amber.” ucap Aruchi keras, yang terdengar sayup-sayup karena teredam suara perjuangan dua kubu yang saling bertahan. “Ivory!” teriaknya kencang, membuat langkah cepat Grey terhenti seketika. Ia kembali berputar dan melihat Aruchi sedang tersenyum meremehkannya disana. “Selamatkan dia, atau aku akan membawanya pergi dari Geogini!”


Grey menatap Aruchi dengan rahang mengeras sempurna. Matanya berkilat penuh amarah oleh ancaman Aruchi. Dan Grey bukanlah raja Harllotte yang memiliki pengendalian diri yang baik. Grey termakan hasutan, dan berlari menerjang Aruchi.


Segala usaha untuk menyentuh laki-laki itu sudah ia upayakan. Pedang yang ia ayunkan sekuat tenaga itu nyatanya tidak mampu menghentikan gerakan kaki kuda yang menapak di dadanya. Menyakitkan, tapi memalukan jika dia menyerah begitu saja. Maka Grey memutuskan untuk mencari cara lain agar bisa menyentuh permukaan kulit raja Aruchi yang congkak itu.


Grey bangkit dengan bobot tubuh yang tidak seimbang. Sesekali ia harus mengimbangi tubuhnya yang hendak roboh ke kanan karena menahan dadanya yang terasa begitu nyeri. Tendangan kaki kuda itu tidak tanggung-tanggung, sakitnya.


Akan tetapi, alih-alih menemukan ide untuk menyerang Aruchi muncul, Grey sudah lebih dahulu dikejutkan oleh suara Aruchi yang kembali menyapa perungunya.


“Pangeran Grey. Coba lihat kesana.”


Grey mengikuti telunjuk Aruchi yang kini sedang menunjuk dua presensi yang sedang mencoba melakukan perlawanan.


Oh astaga, bagaimana bisa Grey memilih meladeni Aruchi dan melupakan dua wanita itu begitu saja. Grey yang panik hendak mengambil langkah seribu, namun harus kembali tertahan oleh ucapan profokasi dari Aruchi yang memang benar-benar licik.


“Kira-kira, siapa yang akan sampai disana terlebih dahulu. Aku, atau kamu?”


...***...


Green mengangkat busur miliknya dan melepaskan satu anak panah yang mengenai sumber kehidupan pasukan yang sedang mencoba menyakiti Ivory. Green mempunyai tanggung jawab besar tak kasat mata ketika berada disekitar ivory. Ia benar-benar seperti harus melindungi temannya yang bahkan tidak bisa melayangkan pedang yang digenggamnya dengan benar.


“Oh astaga, Ivory. Apa kamu tidak pernah belajar menggunakan pedang?”


“Tidak.” sahutnya cepat tanpa berfikir. Ia hanya menyampaikan apa yang menjadi kebenaran.


Jawaban itu menjadi pukulan telak untuk Green. Dia harus menjadi penyelamat Ivory jika tidak ingin kepalanya dipenggal oleh Grey karena tidak bisa melindungi wanita itu dengan benar.


Green kembali berjalan mundur dibelakang punggung Ivory. Ia masih terus berusaha melesatkan anak panahnya, sebab keahlian Green memang mahir menggunakan anak panahnya untuk melindungi diri. Sedangkan Ivory, dia juga sudah berupaya sebisa mungkin lengannya terayun untuk menangkis serangan musuh, namun berakhir Green yang harus bekerja keras mengakhiri semuanya.


“Aku melihat pangeran Grey.”


“Benarkah?” sahut Ivory hampir kehilangan fokus dan terkena tebasan pedang dari prajurit Amber.


“Jangan menoleh dan fokus melindungi diri hingga sampai di pintu gerbang.”


Dan anehnya, Green melihat pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat. Ia melihat bagaimana Grey harus menerima serangan bertubi-tubi dari orang yang tadi ia ketahui bernama Aruchi.


Ya Tuhan, mengapa Grey hanya diam dan berlari. Dan sialnya, satu hantaman keras menimpa bahu Green ketika fokusnya teralihkan selama satu detik. Nyeri yang timbul mampu membuat kepala Green terasa pening. Dia bahkan jatuh tersungkur ditanah dengan keadaan tidak baik-baik saja. Kesadarannya hampir hilang, semuanya berubah berkunang, dan perlahan menggelap.


Satu hal yang pernah diajarkan oleh ibunya dulu. Jika kamu merasakan dirimu akan kehilangan kesadaran, tarik nafas dalam-dalam, kemudian memukul-mukul dirinya sendiri hingga denyutan dikepala dan gelap di kedua penglihatannya memudar. Green bisa melihat bagaimana perjuangan Ivory melindunginya. Dia juga melihat bagaimana Ivory menjadi tameng untuk dirinya yang hampir kehilangan kesadaran.


Hingga dia berhasil melawan kelemahan itu, dan Green kembali bangkit. Ia meraih busur panahnya yang sempat jatuh terlempar dan membuat pertahanan sekali lagi untuk dirinya dan juga Ivory.


“Kamu baik-baik saja, Green?”


Green mengangguk dengan nyeri di bahu yang ia tahan mati-matian. Maniknya kembali menangkap sosok Grey yang masih berjuang. Keadaannya terlihat tidak baik-baik saja, dan seperti sedang dipermainkan oleh manusia kejam bernama Aruchi itu.


“Iblis.” gumamnya dengan wajah dingin dan sorot penuh kebencian yang menggebu-gebu.


Saat itulah, Green kembali mengangkat busurnya didepan dada, membidik pada kaki kuda yang dinaiki Aruchi, dan melesatkannya dengan cepat. Namun tidak berhasil karena fokusnya yang terganggu oleh nyeri di bahunya. Ia meringis samar dan kembali menangkis serangan yang datang kepadanya secara bertubi-tubi.


...***...


Junot yang tidak berfokus pada satu musuh, melihat bagaimana Grey diperlakukan dengan tidak adil. Rahangnya kembali mengeras. Sebisa mungkin ia memacu kudanya, menebas habis siapa saja yang berani menghalanginya. Dia hanya ingin menyelamatkan Grey yang sepertinya sedang mendapat sebuah ancaman dan tekanan.


Perasaannya semakin tidak terkendali ketika disana, tempat dimana Ivory dan Green berada, Murdock berdiri. Junot memacu kudanya semakin cepat dan berhenti tepat waktu untuk menangkis pedang yang hendak menebas tubuh Green. Keduanya bergulat sengit. Saling menyerang satu sama lain dan saling bertahan karena keduanya sama-sama kuat.


“Bawa putri Ivory pergi dari sini, Green.”


Mendengar nama itu disebut, Murdock menghentikan pergerakan. Ia seperti membeku beberapa saat ketika menatap wajah seorang gadis yang ada disisi gadis lainnya. Wajahnya begitu familiar, dan tentu saja mengingatkan dia pada seseorang. Putri Honey.


Melihat keterkejutan diwajah Murdock, Junot tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk melepas laki-laki itu. Junot mengayunkan pedang, mengarahkan pada satu titik yang bisa menghilangkan kehidupan Murdock. Sayang, pergerakan Junot terbaca, dan Murdock menepisnya dengan keras hingga tubuh Junot jatuh terjerembab ke arah belakang.


Green yang melihat hal tersebut justru tidak bisa membiarkannya saja. Ia bergerak mendekat, membabi-buta menyerang Murdock, akan tetapi tubuh kecil dan nyeri di bagian bahunya tidak cukup kuat untuk menumbangkan laki-laki yang memiliki julukan Manusia sembilan nyawa itu. Green jatuh terpelanting dengan luka gores yang cukup serius di lengan kirinya oleh pedang Murdock.


“Sialan.” umpat Green keras-keras menatap wajah Murdock sambil meringis dan menahan lelehan darah dari lengannya yang kini terasa begitu nyeri.


Laki-laki itu mendekat, memangkas jarak pada Green yang mendorong tubuhnya mundur. Ia ingin memastikan sesuatu, tapi tidak berhasil. Junot bergerak lebih cepat, dia menancapkan pedangnya di punggung hingga tembus ke perut depan panglima perang Amber. Murdock menatap pedang yang menancap ditubuh dan dialiri cairan pekat miliknya, menyentuh dengan tubuh mematung. Tidak ada rintihan yang terdengar keluar dari bibirnya, hanya wajah laki-laki itu yang semakin memucat, lututnya yang berubah lemah hingga jatuh ketanah, dan ia tumbang sembari mengulurkan tangan kearah Green, seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak bisa tersampaikan. Telapaknya yang basah akan darah itu meremas segenggam pasir sebelum ia menutup mata saat itu juga. Murdock kalah di tangan Junot.


Akan tetapi, jangan harap Aruchi diam saja melihat panglimanya tewas. Jaraknya yang memang sudah tidak terlalu jauh, bisa menangkap bagaimana Junot menyerang panglima kesayangannya itu. Aruchi marah, dan Junot adalah sasaran kemarahannya.


Gerakan mengayun pedang di tangannya terlihat mengarah kepada Junot. Lantas mengenai tameng baja yang di genggam Junot hingga berdenging nyaring. Junot jatuh ke belakang dan pedang dalam genggaman satu telapak tangan lain, terlempar agak jauh dari posisinya terjatuh. Ia bergegas bangkit dan hendak mengambil pedang tersebut, tapi Aruchi bergerak lebih cepat. Raja Amber itu di gelung emosi atas kepergian panglima perangnya. Dan semuanya harus dibayar impas. Junot harus menyusul Murdock ke alam baka.


Namun sayang. Gadis cantik yang berada tak jauh dari orang yang begitu dibencinya itu menahan serangan Aruchi. Geram, Aruchi berbalik arah dengan kudanya, lalu menatap tajam pada sosok gadis disisi Junot.


Rambutnya berantakan, wajahnya mirip dengan seseorang yang sangat ia cintai dulu hingga sekarang. Gadis yang tidak ia ketahui namanya itu, mirip dengan wajah istrinya.


“Honey?” gumamnya tanpa suara, lantas ia turun dari punggung kuda. Waktu seolah berjalan lambat ketika langkah kakinya bergerak mendekati gadis tersebut.


Aruchi melihat dengan jelas bagaimana nafas gadis itu terengah, dan lelehan darah di tangan kanannya membuat hati Aruchi bagai disayat. Apakah gadis itu adalah putri yang selama ini ia cari? Aruchi ingin memastikan, hingga kini langkahnya berhenti tepat didepan dua orang yang masih pada posisi mereka, terlentang diatas pasir kering yang menguarkan debu.


Junot mengangkat pedang, namun Aruchi memberi isyarat jika dia tidak akan menyakiti siapapun kali ini. Rasa penasarannya begitu kuat, hingga lengannya terulur untuk menyibak anakan rambut yang jatuh didepan wajah gadis itu.


Jantungnya berdegup kacau. Airmatanya memaksa keluar, dan bibirnya ternganga melihat apa yang ada didepan matanya kali ini. Sebuah tanda lahir yang begitu ia ingat sejak gadis itu hadir kedunia.


Saat itu juga, Aruchi berdiri. Mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berteriak keras dengan suara menggelegar untuk pasukan perangnya.


“MUNDUR!!!”


Semua seolah membeku. Suasana riuh pertempuran mendadak senyap. Bahkan Grey yang tidak berdaya dengan luka yang begitu serius itu harus memaksa tubuhnya untuk bangkit dan memastikan jika Aruchi tidak sedang menahan Ivory.


Ivory yang berada tak jauh dari Aruchi, Green, dan juga Junot, dan terlihat baik-baik saja itu membuat nafas Grey terhembus lega.


Sedangkan Junot yang kembali harus menahan diri ketika Aruchi kembali menyentuh Green, menatap tak percaya ketika airmata laki-laki arogan itu jatuh membasahi pipi berkerutnya.


“Putriku...” bisiknya disela sendu.


Namun Green yang sama sekali tidak mengerti duduk permasalahan peperangan ini, lebih mengenal pria tua didepannya itu adalah sosok yang harus ia jauhi. Sosok menakutkan dan arogan. Green menarik tubuhnya mundur menjauh. Raut wajahnya datar tanpa ekspresi ketika menatap Aruchi. Dan sebuah gelengan tegas ia berikan kepada Laki-laki tua itu, ketika kalimat selanjutnya yang tidak pernah ia duga, melesat dari bibirnya.


“Ini ayah.” []


Bersambung.


...🍃🍃🍃...


...Maaf jika feel-nya kurang dapat. IVORY adalah genre romansa istana berbumbu peperangan pertama yang Vi's buat. Jadi semisalnya kurang berkenan, mohon dimaklumi....


...Jangan lupa luangkan waktu untuk memberikan Like, vote, favorit, komentar dan hadiahnya jika tidak keberatan, untuk Ivory ya......


...Green juga akan aku post disini, tapi setelah Ivory tamat. Dan ya, Ivory memang akan segera tamat. Tinggal beberapa bab saja yang menjadi ******* dari cerita ini....


...Terima kasih untuk yang setia memberi dukungan hingga sejauh ini....


...Sampai jumpa di bab selanjutnya....


...Oh ya, kira-kira menurut Readers sekalian, apakah Green mau mengakui Aruchi sebagai ayahnya?...


...See You....


Bonus Visual Green.