IVORY

IVORY
Situasi yang mengejutkan.



...Hallo......


...Selamat akhir pekan ya Readers terlope. Ivory update lagi nih......


...Semoga hari ini berkesan dan menyenangkan untuk kalian semua....


...Happy Reading......


...•...


Langit seolah turut berduka. Kelabu menjadi bagian krusial hari ini. Tentang perasaan, tentang hati, tentang sebuah keinginan yang mungkin tidak akan bisa lagi terwujud.


Ivory mengusap punggung lebar Grey, mencoba menyalurkan rasa tenang dan tegar untuk menjalani hari esok yang masih terus berganti, berputar dengan suasana baru yang tentu saja masih dilingkupi duka mendalam atas kepergian raja Harllotte untuk selamanya.


“Ayo kembali ke istana, yang mulia. Langit semakin gelap.” pinta Ivory lembut, tidak ingin semakin membuat Grey merasa buruk.


“Aku masih ingin disini lebih lama. Kembalilah terlebih dahulu, aku akan menyusul nanti.”


Ia melihat Ivory berdiri tanpa memaksanya untuk ikut. Bukannya tidak peduli, tapi Ivory hanya ingin membiarkan Grey berada disana lebih lama untuk bisa menerima dan melepas kepergian sang kakek yang selama ini merawatnya.


Tatapan mata Grey mengantar Ivory sampai di sebuah pintu gerbang kecil yang menjadi pembatas antara istana dan pemakaman yang letaknya berada di kaki gunung gletser. Dan Grey hampir kembali menangis ketika ia tinggal seorang diri. Lengannya terulur mengusap nisan bertulis nama raja Harllotte disana. Hatinya serasa kembali diremas paksa mengingat bagaimana kakeknya itu berjuang untuk membesarkan dirinya diantara semua beban dan tanggung jawab yang bergelayut dipundak ringkihnya. Ia bahkan merasa bersalah karena merasa belum bisa membalas semua kebaikan sang raja yang diberikan kepadanya. Grey menyesal karena tidak bisa menciptakan sebuah memori indah yang bisa ia jadikan kenangan paling berkesan bersama raja Harllotte.


“Kakek, maafkan aku.” Getirnya, menatap sendu pada kelopak bunga yang berceceran diatas tanah menggunung yang masih basah. Grey menggenggam tanah tersebut sembari berkata, “Restu kakek, akan menjadikan aku raja yang bijaksana seperti kakek. Menjadi panutan rakyat Geogini, tentu saja aku akan menjadi seorang suami yang menyayangi istri serta anak-anaknya, seperti kakek mencintai nenek dan kami semua.”


...***...


Mendengar berita wafatnya raja Harllotte, Rose dan Rontge yang sudah bebas tanpa syarat itu datang untuk berkabung ke istana Geogini. Mereka berdua menunggu Ivory dan Grey diruang tengah istana utama. Para dayang yang mendampingi turut berdiri mematung disana sesuai titah sang ratu, untuk memastikan jika Rose dan Rontge tidak pergi sebelum Ivory datang.


Hingga manik Rose dan Rontge mendapati presensi yang sama sekali belum pernah ia lihat di istana Geogini. Wajah ayu rupawan bak dewi, bermata jernih seperti milik Grey. Ah, mereka sadar, wajah itu mirip sekali dengan grey.


Langkah wanita bergaun Hitam selutut itu berhenti tepat disisi tempat duduk Rose dan Rontge. Tatapan yang dibuat begitu dingin, dan aura yang menguar begitu mendominasi dan sedikit menakutkan. Rose dan Rontge membungkuk sebagai salam sapa, yang kemudian dibalas dengan senyuman kaku dibibir wanita itu.


“Kalian, orang tua Ivory?”


Rontge mengangguk meng-iyakan. Sedangkan Rose, menundukkan sedikit kepalanya sembari telapak menyentuh dada kemudian berkata, “Ya, kami orang tua Ivory.”


“Berkabung?” tanyanya sekali lagi, Rose bahkan Rontge berani bersumpah jika wanita didepannya itu terlihat lebih mengerikan saat bicara. Nada bicaranya kaku dan tidak bersahabat.


“I-iya.” balas Rontge menjawab pertanyaan yang janggal itu. Mereka tidak tau nama wanita itu, dan wanita itu sendiri sepertinya tidak ingin memperkenalkan diri.


“Perlu kalian ingat, apa yang dimiliki putri kalian saat ini, bukanlah milik kalian. Jadi, jangan pernah meminta apapun pada ratu Ivory hanya karena kalian orang tuanya.”


Rose dan Rontge saling tatap. Mereka berdua tidak pernah terpikirkan akan hal itu. Yang terpenting bagi mereka, Ivory bisa hidup bahagia bersanding dengan Grey. Itu saja.


“Apa maksud anda, tuan putri?”


Mungkin itu hanya sebuah kesalah pahaman, mengingat Rose dan Rontge juga pernah difitnah lebih kejam dari pada ini. Mungkin juga, wanita muda nan cantik itu hanya mendengar desas-desus sepenggal tentang mereka yang memiliki hutang.


Demi apapun, suasana berubah mencekam. Tuduhan yang dikatakan wanita itu tidak berdasar, dan tentu saja tidak benar. Rose dan Rontge tidak memiliki niat seburuk itu kepada putri dan menantu mereka sendiri.


“Kalian—”


Ivory muncul, senyuman diwajahnya memudar perlahan ketika mendapati presensi Lilac disamping kedua orang tuanya. Sekelebat ingatan ketika hari pertamanya tiba di istana saat itu kembali datang.


Jangan berharap banyak tentang pernikahan kalian. Kau tidak lebih dari benalu yang harus di singkirkan dari pagar istana agar tidak merusak mawar-mawar yang sedang berbunga.


Ivory masih mengingat betul ucapan dan kalimat tidak pantas yang ia terima sebagai hadiah kedatangannya ke istana untuk pertama kali saat itu. Mendadak, kepalanya seperti berputar hingga menimbulkan mual yang mendadak naik ke lambung. Perutnya seperti diaduk-aduk namun Ivory masih mencoba untuk menahan gejolak itu dan menyapa sang kakak ipar.


“Putri Lilac? Sejak kapan anda sampai di Geogini?”


Karena setau Ivory, Lilac mengirim utusan untuk memberitahu jika ia tidak bisa hadir di pemakaman kakek karena ada suatu kepentingan yang tidak bisa ia tinggalkan.


“Kenapa? Terkejut dengan kedatanganku?”


Ivory menggeleng. Tujuannya bertanya hanya ingin memastikan jika Lilac datang bersama suami serta putrinya. Tapi ternyata tidak, sang kakak ipar datang seorang diri dan memperkuat dugaan yang sempat diceritakan Grey beberapa waktu lalu tentang kondisi pernikahan sang kakak. Namun terlepas dari itu, sejak awal Lilac adalah orang yang paling tidak setuju dan menentang pernikahan Grey dan Ivory.


“Saya senang anda bisa hadir dan melihat pemakaman raja Harllotte, tuan putri Lilac.” jawab Ivory bersama seulas senyuman tulus merekah di bibirnya.


Lilac memang tidak bisa menutupi jika dia tidak suka dengan keberadaan Ivory diistana. Strata mereka tidak sama. Ivory lebih pantas hidup bersama pemuda desa dari pada Grey, satu-satunya keluarga yang ia miliki.


“Katakan pada kedua orang tuamu untuk tidak mengganggu kehidupan raja Grey.”


Apa maksudnya? Dahi Ivory berkerut dalam, tatapan matanya berubah nanar, telapak tangan mengepal erat, bibir bawahnya ia gigit, pun rasa mual di perutnya semakin menjadi-jadi.


“Jangan coba-coba mengeruk harta kekayaan Geogini—”


“Tidak akan. Orang tuaku bukan orang jahat yang suka mengeruk harta orang lain. Mereka orang tua yang baik, dan beretika lebih baik dari anda. Saya mohon, jaga sikap anda didepan orang yang lebih tua.”


Sebuah pukulan telak untuk Lilac, hingga wanita itu memutar tumit dan pergi dari hadapan mereka bertiga. Tepat saat itulah, Ivory berlari menuju kamar mandi. Memuntahkan semua isi perutnya hingga lemas. Kepalanya semakin pusing, tubuhnya limbung.


“Kamu kenapa, Vo?” tanya ibunya ketika berhasil menyusul Ivory ke kamar mandi yang terbuka. Ia mengusap bulir keringat di kening putrinya yang terlihat memucat. “Kamu sakit?” lanjut Rose sembari meraba kening Ivory. Suhunya normal, akan tetapi Ivory terlihat lemah . “Ayo, ibu bantu ke tempat tidurmu.”


Rose memapah Ivory menuju ranjang. Merebahkan sang putri diatas matras, lalu menaikkan selimut sebatas dada. “Apa kamu telat makan?”


Ivory menggeleng. Ia merasakan perutnya kembali diaduk, lalu menutup mulut ketika gejolak itu datang.


“Pasti kamu kelelahan, atau masuk angin.” tutur Rose, memijat lengan Ivory penuh kelembutan, lalu menyibak anakan rambut yang jatuh didepan wajah cantik yang dianugerahkan oleh sang Pencipta kepada putrinya itu. Hingga satu terkaan terbesit didalam kepala Rose. Dia pernah mengalami hal yang sama dengan yang di alami Ivory. Dulu, setelah beberapa bulan ia menikah dengan Rontge, Rose harus berjuang sangat keras ketika mengandung Ivory sejak bulan pertama kehamilan, hingga bulan ketiga.


“Jawab pertanyaan ibu dengan jujur. Kapan terakhir kali kamu mendapat tamu bulanan?”


Ivory terlihat berfikir. Namun tampaknya Rose tidak bisa untuk menahan rasa penasaran dan juga bahagianya. Hingga sebuah kalimat tidak terduga melecut begitu saja dari bibirnya. “Atau jangan-jangan, kamu sedang mengandung anak raja Grey?”[]


Bersambung.